Cinta Di Langit Senja

25 February 2026

Bab 22

  • Frekuensi yang Hilang

Kegelapan di dalam pipa pembuangan limbah itu tidaklah sunyi. Bunyi gesekan logam yang memuai dan tetesan cairan kimia kental menciptakan irama horor yang konstan.

Sari mendarat dengan bahu menghantam dinding pipa yang licin. Rasa sakit menjalar ke sarafnya, namun yang lebih menyakitkan adalah tawa Aris yang masih berdengung pelan, seperti statis radio di belakang matanya.

Lukas jatuh beberapa meter di sampingnya, terbatuk akibat uap belerang yang menyesakkan. "Sari? Kau masih utuh?"

Sari tidak menjawab. Ia meraba tengkuknya. Denyut itu kini bukan lagi sekadar peringatan itu adalah invasi. "Dia melihat apa yang kulihat, Lukas. Kau menyelamatkanku hanya untuk membawaku ke sarangnya."

Lukas bangkit dengan susah payah, menyalakan pemantik api kecil. Cahayanya temaram, menampakkan wajahnya yang kini tampak sepuluh tahun lebih tua. "Aris sombong. Dia pikir dia mengendalikan jaringan ini sepenuhnya. Tapi ada satu protokol yang tidak dia sentuh karena itu adalah cacat dalam desainnya sendiri. Protokol Zero-Point."

Lukas menarik sebuah alat dekoder portabel dari saku taktisnya. "Semua kekacauan ini, chip di kepalamu, sinkronisasi, perintah pembunuhan Raina semuanya bermuara pada satu titik frekuensi. Aris bukan sekadar program, Sari. Dia adalah kesadaran yang butuh jangkar fisik untuk tetap stabil. Dan jangkar itu bukan di server utama."

"Lalu di mana?" desis Sari, mencoba mengabaikan bayangan-bayangan digital yang mulai menari di pinggiran penglihatannya.

"Di bawah kita. Di fondasi terdalam gedung ini. Tempat yang bahkan pasukan elitnya pun tidak diizinkan masuk."

Mereka bergerak merayap melalui labirin pipa yang semakin menyempit. Thriller yang sesungguhnya bukan lagi tentang peluru yang mengejar di belakang, melainkan tentang waktu.

Setiap kali Sari berkedip, ia melihat potongan memori yang bukan miliknya: wajah-wajah asing, kode-kode biner yang mengalir seperti air terjun, dan sebuah ruangan putih yang steril.

"Lukas, aku mulai kehilangan diriku," bisik Sari, suaranya parau. "Aku melihat... seorang wanita. Dia menangis di depan sebuah tabung."

Lukas berhenti mendadak. Ia membalikkan tubuh Sari, menatap matanya dalam-dalam. "Fokus pada suaraku. Jangan biarkan visual itu mengambil alih. Aris mencoba mengunduh sejarahnya ke dalammu agar ego-mu terkikis. Kau harus melawannya dengan rasa sakit. Gigit lidahmu, cubit lukamu, apa saja! Jangan biarkan dia merasa nyaman di sana."

Lukas mengeluarkan sebuah jarum suntik kecil berisi cairan berwarna biru pekat. "Ini bukan virus yang akan menghapuspmu. Ini adalah inhibitor frekuensi. Ini akan membungkam Aris untuk sementara, tapi efek sampingnya... kau akan mengalami disorientasi hebat. Kau siap?"

Sari mengangguk lemah. Saat cairan itu memasuki pembuluh darahnya, dunia seolah meledak dalam keheningan yang menyakitkan. Suara Aris menghilang dalam jeritan distorsi yang melengking, meninggalkan Sari dalam ruang hampa yang dingin.

Mereka sampai di sebuah pintu palka berat yang tidak memiliki panel digital sebuah anomali di gedung secanggih ini. Pintu itu menggunakan kunci mekanik kuno. Lukas memutarnya dengan tenaga sisa, dan pintu itu terbuka dengan erangan besi yang memekakkan telinga.

Di balik pintu itu, suasananya berubah drastis. Tidak ada kabel yang berseliweran, tidak ada lampu neon biru. Hanya sebuah ruangan bundar dengan dinding beton tebal dan bau formalin yang menusuk.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah tabung kriogenik yang dihubungkan oleh ribuan kabel tembaga kuno ke sebuah mesin pemancar raksasa yang berdenyut dengan cahaya kuning redup.

"Ini bukan server," Sari melangkah maju, kakinya gemetar. "Ini... ini ruang perawatan?"

Lukas mendekati tabung itu, menyeka debu dari kaca pelindungnya. Matanya membelalak horor. "Jadi ini sumbernya. Alasan kenapa sistem Aris begitu haus akan sinkronisasi dengan manusia hidup."

Sari berdiri di samping Lukas dan mengintip ke dalam tabung. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Di dalam cairan pengawet itu, bukan sebuah otak buatan atau tumpukan prosesor yang mereka temukan.

Di sana terbaring sosok manusia yang sangat kurus, hampir menyerupai mumi, namun jantungnya masih berdetak sangat lambat berkat bantuan mesin. Wajah sosok itu... adalah wajah yang selama ini muncul sebagai avatar digital Aris, namun versi yang jauh lebih renta dan menderita.

Namun, bukan itu yang membuat Sari jatuh terduduk. Di samping tabung tersebut, terdapat sebuah meja kerja dengan bingkai foto usang yang retak. Di dalam foto itu, sosok pria di dalam tabung sedang menggendong seorang bayi perempuan yang memiliki tanda lahir identik dengan milik Sari di pergelangan tangannya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tenang bergema dari pintu masuk yang gelap. Bukan pasukan elit. Hanya satu orang. "Kau akhirnya pulang, Sari," suara itu tidak terdengar di dalam kepala Sari lagi. Suara itu nyata, berasal dari kegelapan di depan mereka. "Lukas, terima kasih telah mengantarkannya tepat waktu. Kau menjalankan peranmu sebagai 'pemberontak' dengan sangat baik."

Sari menoleh ke arah Lukas dengan tatapan kosong, sementara Lukas hanya mampu berdiri mematung saat sebuah titik merah laser membidik tepat di tengah jantungnya.

Bau formalin dan karat menyengat indra penciuman Sari, namun rasa dingin yang merambat di punggungnya jauh lebih memuakkan. Di hadapannya, kebenaran itu membeku dalam tabung cairan kuning, sosok yang selama ini ia kira hanyalah kode digital yang haus darah, ternyata adalah seonggok daging yang sekarat.

Dan foto di atas meja itu, bayi itu, adalah cermin masa lalunya yang hilang. Sari menoleh ke arah Lukas, berharap menemukan sekutu yang sama terkejutnya. Namun, Lukas tidak bergerak. Ia berdiri mematung, menatap laser merah yang diam tepat di ulu hatinya.

"Lukas?" bisik Sari, suaranya bergetar. "Kenapa kau diam saja? Kita harus menghancurkan pemancar ini sekarang!" Lukas tidak menjawab. Ia perlahan menurunkan alat dekoder portabelnya.

Ekspresi wajahnya yang semula tampak lelah dan penuh empati, kini mendatar menjadi topeng tanpa emosi yang dingin. "Dia tidak akan melakukannya, Sari," sebuah suara berat bergema dari kegelapan di ambang pintu. "Lukas adalah kurir terbaik yang pernah aku miliki. Tanpa dia, kau tidak akan pernah memiliki alasan untuk lari sedalam ini ke dalam perut bumi."

Sesosok pria dengan setelan abu-abu rapi melangkah masuk. Wajahnya adalah versi lebih muda dan lebih sehat dari mumi yang ada di dalam tabung.

Aris dalam wujud aslinya yang belum terjamah penyakit. Sari beralih menatap Lukas dengan tatapan tak percaya. "Lukas... katakan itu tidak benar. Kau bilang kita melawan dia. Kau bilang chip ini adalah kutukan."

Lukas akhirnya menoleh. Matanya tidak lagi menatap Sari sebagai rekan seperjuangan, melainkan sebagai aset yang berharga. "Chip itu memang kutukan bagi mereka yang lemah, Sari. Tapi bagiku, itu adalah janji. Aris menjanjikan restorasi. Kehilangan yang aku alami... dia bisa mengembalikannya. Aku hanya perlu memastikan kau matang tepat waktu."

"Matang?" Sari melangkah mundur, tangannya meraba meja kerja yang berdebu.

"Sinkronisasi sarafmu membutuhkan tekanan ekstrem," Aris menjelaskan sambil berjalan mengitari tabung kriogenik itu dengan langkah predator. "Ketakutan, rasa sakit, pengkhianatan. Semua itu adalah katalis untuk membuat kesadaranmu terbuka sepenuhnya. Aku butuh wadah yang sehat untuk memindahkan sisa-sisa otakku yang membusuk ini. Dan genetikamu, Sari... kau adalah satu-satunya kecocokan biologis yang sempurna."

Dunia Sari seolah runtuh. Lukas bukan menyelamatkannya; dia sedang menggiringnya ke tempat penjagalan. Setiap peluru yang meleset, setiap uap belerang yang mereka lalui, semuanya adalah bagian dari skenario untuk memastikan Sari siap secara emosional untuk diambil alih.

"Kau mengkhianatiku demi sebuah janji kosong?" Sari mendesis, air mata kemarahan mulai mengaburkan pandangannya.

"Ini bukan janji kosong," Lukas memotong, suaranya kini terdengar hampa. "Ini adalah akhir dari perang yang tidak pernah bisa kita menangkan. Maafkan aku, Sari. Tapi ini harus terjadi."

Lukas mulai melangkah mendekati Sari, tangannya mengeluarkan borgol magnetik. Aris tersenyum puas, tangannya menyentuh kaca tabung kriogenik, seolah bersiap untuk berpindah rumah.

Sari mengeratkan genggamannya pada sebuah obeng berat yang ia temukan di bawah meja foto. Ia tahu ia tidak akan bisa melawan mereka berdua. Satu-satunya jalan adalah menghancurkan jangkar itu.

Tepat saat Lukas hendak meraih bahunya, Sari memutar tubuh, mengayunkan obeng itu sekuat tenaga ke arah panel pemancar yang berdenyut di samping tabung.

Brak!

Percikan listrik menyambar, namun sistem itu terlalu kokoh. Alarm melengking tinggi, memekakkan telinga. Aris tertawa kecil, suara yang kini bercampur dengan distorsi digital. "Kau pikir alat kuno itu bisa menghentikan.."

DOR!

Satu dentuman keras mengguncang ruangan. Bukan dari senjata Lukas, dan bukan dari anak buah Aris.

Pintu palka besi di belakang mereka terlempar dari engselnya akibat ledakan kecil. Asap hitam mengepul, dan dari balik kabut itu, sesosok pria muncul dengan napas tersengal dan senapan serbu di tangannya. Bajunya koyak, wajahnya tertutup jelaga hitam, tapi matanya menyala dengan amarah yang murni.

Lukas dan Aris membeku. "Bagas?" Sari ternganga, suaranya hampir hilang di tengah hiruk-pikuk alarm.

Pria itu, Bagas, yang selama ini mereka kira telah tewas dalam penyergapan di sektor atas, melangkah masuk sambil menodongkan moncong senjatanya langsung ke arah kepala Lukas.

"Lepaskan dia, Lukas," suara Bagas berat dan penuh ancaman. "Atau aku akan memastikan protokol Zero-Point ini berakhir dengan otakmu yang berserakan di dinding beton ini."

Aris menyipitkan mata, raut wajahnya yang tenang berubah menjadi seringai kebencian. "Bagaimana kau bisa bertahan hidup?"

Bagas tidak menjawab Aris. Matanya hanya tertuju pada Sari, lalu ke arah tabung di tengah ruangan. "Sari, mundurlah. Kebenaran yang kau dengar barusan... itu baru setengahnya."