Bab 23
- Wadah Keabadian
Bagas tidak menurunkan senjatanya. Ujung larasnya tetap mengunci jakun Lukas yang naik-turun karena menelan ludah. "Bukan hanya Sari yang kau 'matangkan', Lukas. Aris juga butuh seseorang untuk membersihkan jejak di luar. Seseorang yang cukup bodoh untuk percaya pada janji restorasi, tapi cukup pintar untuk menjadi algojo."
Sari memegangi dadanya, napasnya terasa pendek. "Apa maksudmu, Bagas?"
"Lukas bukan sekadar kurir, Sari," Bagas melangkah maju, kakinya menginjak serpihan kaca dengan bunyi gemeretak.
"Dia adalah orang yang menarik pelatuk ke arah Raina. Dia yang memasang chip itu di tengkukmu saat kau pingsan di fasilitas karantina setahun lalu. Dia bukan menemukanmu; dia menciptakanmu untuk Aris."
Sari merasa seolah-olah ada lubang hitam yang menghisap jantungnya. Ia menatap Lukas, mencari bantahan, namun yang ia temukan hanyalah mata Lukas yang perlahan meredup, kehilangan sisa rasa bersalahnya.
"Raina mulai tahu terlalu banyak," gumam Lukas datar, suaranya nyaris seperti bisikan hantu. "Dia ingin mencabut chip itu sebelum proses sinkronisasi selesai. Dia akan merusak segalanya, Sari. Aku... aku tidak punya pilihan."
"Pilihanmu selalu tentang dirimu sendiri, Lukas!" bentak Bagas. Ia tiba-tiba bergerak secepat kilat.
Aris yang merasa kendalinya mulai goyah, menekan sebuah tombol di pergelangan tangannya. "Cukup drama ini. Ambil dia!"
Ruangan itu meledak dalam kekacauan. Lukas menerjang Bagas dengan belati taktis yang tersembunyi di balik lengan bajunya. Keduanya berguling di lantai beton, suara hantaman daging dan besi beradu dengan jerit alarm yang memekakkan telinga.
Bagas adalah petarung yang kasar, namun Lukas memiliki presisi seorang pembunuh yang terlatih. Sementara itu, Aris bergerak ke arah Sari. Meskipun fisiknya terlihat sehat, gerakannya memiliki kejanggalan, seolah-olah tubuh aslinya di dalam tabung sedang memaksakan koordinasi pada proyeksi fisiknya.
"Kemarilah, Putri Kecil," desis Aris. Tangannya yang dingin dan kaku mencengkeram lengan Sari. "Jangan biarkan pengorbananku sia-sia. Kau adalah keabadian yang terbungkus kulit."
"Kau jahat!" Sari menjerit, ia meronta, namun cengkeraman Aris sekuat catut besi.
Sari diseret paksa menuju kursi transfer di samping tabung kriogenik. Kabel-kabel tembaga di langit-langit mulai turun seperti tentakel yang lapar, ujung-ujungnya mengeluarkan percikan listrik biru yang siap menembus saraf tulang belakangnya.
Di sudut mata, ia melihat Bagas terdesak. Lukas berhasil menghujamkan belati ke bahu Bagas, membuat senapan serbu itu terlempar jauh."Bagas!" teriak Sari.
Bagas mengerang, darah merembes dari bahunya, namun ia berhasil menghantamkan kepalanya ke hidung Lukas hingga terdengar bunyi tulang patah.
"Hancurkan... tabungnya, Sari! Sekarang!"
Sari tahu ia tidak punya banyak waktu. Ujung kabel pertama sudah menyentuh kulit lehernya, mengirimkan sengatan listrik yang membuat pandangannya memutih.
Aris tertawa, sebuah tawa yang bergema langsung di dalam otaknyainvasi itu dimulai lagi.Jangan lawan aku... jadilah aku...Sari menggigit lidahnya hingga rasa amis darah memenuhi mulutnya.
Rasa sakit itu, seperti kata Lukas sebelumnya, adalah jangkar realitanya.Dengan sisa tenaga, ia tidak mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Aris. Sebaliknya, ia justru menarik Aris mendekat, menggunakan momentum berat tubuh pria itu untuk membanting mereka berdua ke arah tabung kriogenik.
Tangan Sari meraih obeng berat yang tadi sempat terjatuh."Berhenti!" teriak Aris, wajahnya yang muda kini bergetar, menampakkan kilatan wajah mumi di dalamnya.
"Jika kau menghancurkannya, kau membunuh dirimu sendiri! Frekuensi ini adalah nyawamu!"
"Lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup sebagai budak kodenya!"Sari mengayunkan obeng itu dengan sisa seluruh amarahnya.
Bukan ke arah panel digital, melainkan tepat ke retakan kecil di kaca pelindung tabung, di mana sosok mumi itu terbaring.
PRAAANNGGG!
Kaca setebal sepuluh sentimeter itu pecah berkeping-keping. Cairan kuning kental tumpah ruah seperti air bah, membanjiri lantai beton yang kotor.
Sosok mumi di dalamnya merosot keluar, terkapar seperti ikan yang kehabisan oksigen.Seketika, Aris yang sedang memegangi Sari menjerit histeris.
Tubuhnya bergetar hebat, mengalami kejang-kejang hebat seolah-olah ditarik oleh ribuan benang tak kasat mata. Proyeksi fisiknya mulai memudar, berkedip-kedip antara pria tampan dan bayangan hitam yang terdistorsi.Lukas berhenti menyerang Bagas. Ia jatuh berlutut, memegangi kepalanya saat dekoder di sakunya meledak kecil.
"Tidak... frekuensinya... hilang..."Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara tetesan cairan dari tabung yang pecah dan napas Sari yang memburu.
Aris sang tiran digital kini hanya seonggok daging renta yang megap-megap di lantai, tewas dalam hitungan detik setelah terpapar udara luar.Sari terduduk lemas di antara pecahan kaca.
Ia meraba tengkuknya. Denyut itu hilang. Keheningan di kepalanya terasa begitu asing, begitu damai, namun sekaligus menakutkan.Bagas merangkak mendekatinya, wajahnya pucat karena kehilangan darah, namun ia memaksakan sebuah senyum pahit.
"Sudah selesai, Sari." Sari menatap tangannya yang berlumuran cairan kuning dan darah.
Ia melihat ke arah Lukas yang masih terpaku menatap mayat Aris dengan tatapan kosong.
Di luar sana, suara langkah kaki pasukan elit mulai terdengar mendekat, namun kali ini tidak ada lagi suara yang memerintah di dalam kepala mereka.
"Bagas," Sari berbisik, suaranya parau. "Foto itu... bayi itu benar-benar aku?"
Bagas terdiam sejenak, matanya menatap pintu yang mulai digedor dari luar. "Itu..aku tidak tahu, Sari. Tapi secara jujur aku mengatakan lebih baik hal itu tidak kau ketahui."
Lukas tertawa kecil, suara parau yang pecah di antara isak dan batuk darah. Ia menatap telapak tangannya sendiri seolah baru saja melihat monster yang sangat asing.
Hilangnya frekuensi Aris dari otaknya meninggalkan kekosongan yang merobek kewarasannya."Sudah terlambat untuk menyesal, kan?" Lukas mendongak, menatap Sari dengan mata yang kini kembali manusia, meski penuh dengan kehancuran.
BRAKK!
Pintu baja di ujung ruangan berdentum hebat. Panel kunci mekaniknya mulai melengkung di bawah hantaman godam atau mungkin bahan peledak kecil dari luar.
Pasukan elit itu tidak lagi membutuhkan perintah suara dari Aris, mereka diprogram untuk membersihkan saksi mata.
"Mereka akan membakar tempat ini," Lukas bangkit dengan goyah, menahan perutnya yang terluka
Ia tidak melihat ke arah mayat mumi Aris lagi. Ia menunjuk ke sebuah sudut di belakang mesin pemancar raksasa yang kini mengeluarkan asap hitam.
"Di sana! Di balik panel pendingin itu ada pintu servis darurat. Itu jalur pembuangan gas yang mengarah langsung ke fondasi lama rumah sakit pusat."
Bagas mengernyit, mencoba berdiri sambil menumpu pada bahu Sari. "Kenapa kami harus percaya padamu lagi, Lukas?"
"Karena aku ingin setidaknya ada satu orang yang hidup untuk menceritakan bahwa aku pernah punya pilihan!" Lukas berteriak, suaranya tenggelam oleh bunyi ledakan kecil di pintu masuk.
"Pergi! Cepat!" Sari ragu sejenak. Ia melihat Lukas menarik sebuah pistol dari lantai, bukan untuk menembak mereka, melainkan untuk membidik arah pintu yang mulai jebol.
Di mata Lukas, Sari melihat sebuah kepasrahan, sebuah bentuk penebusan dosa yang terakhir."Ayo, Sari! Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia," tarik Bagas.