Jumat sore di Jakarta selalu identik dengan kemacetan yang menggila, namun bagi Najwa, kemacetan itu jauh lebih bersahabat daripada kesunyian yang mencekik di apartemennya. Ia sudah menginstruksikan asisten pribadinya untuk membatalkan semua jadwal pertemuan di akhir pekan. Di bagasi mobil SUV putih miliknya, sudah tersusun rapi beberapa koper berisi pakaian dan beberapa bingkisan mewah untuk keluarga besar Al-Hidayah.
Najwa tidak menunggu jemputan. Ia tidak menunggu telepon. Bahkan ia tidak mengirim pesan pada suaminya untuk mengabarkan keberangkatannya.
"Kalau dia bisa pergi tanpa pamit, aku juga bisa datang tanpa izin darinya," gumam Najwa sambil mencengkeram kemudi.
Perjalanan dari Jakarta menuju Jawa Timur memakan waktu belasan jam. Najwa memilih menyetir sendiri, menolak tawaran supir pribadinya. Ia butuh waktu untuk berpikir, butuh waktu untuk menata hatinya yang hancur berkeping-keping setiap kali mengingat suara Umi Fatimah di telepon kemarin.
Di sepanjang jalan tol yang membentang, pikirannya melayang pada sosok Gus Azam. Pria itu mungkin saat ini sedang berada di atas mimbar, dielu-elukan oleh jamaah, sementara istrinya sendiri harus berjuang mencari alasan untuk tetap bertahan dalam pernikahan ini.
Matahari baru saja terbit saat mobil mewah Najwa mulai memasuki kawasan kabupaten tempat Pesantren Al-Hidayah berdiri. Pemandangan gedung pencakar langit berganti menjadi hamparan sawah hijau yang luas dan pepohonan rimbun. Udara pagi yang sejuk mulai masuk melalui celah jendela, namun tidak sedikit pun mendinginkan amarah yang membeku di dada Najwa.
Begitu mobilnya memasuki gerbang besar pesantren yang bertuliskan kaligrafi emas, suasana mendadak berubah. Ratusan santri yang sedang melakukan kerja bakti pagi itu serentak berhenti. Mereka menatap takjub pada mobil SUV dengan plat nomor Jakarta yang tampak sangat kontras di lingkungan pesantren yang sederhana itu.
Najwa memarkirkan mobilnya tepat di depan ndalem kediaman utama Abi Ahmad. Ia turun dari mobil dengan gerakan anggun. Pagi ini ia mengenakan tunik panjang berwarna pastel dengan hijab yang menutup dada, sesuai dengan citra yang ingin ia bangun di depan keluarga mertuanya. Meskipun matanya terlihat sedikit lelah karena menyetir semalaman, aura "Putri Kusuma" tetap memancar kuat.
"Loh, Nak Najwa?"
Umi Fatimah keluar dari pintu depan dengan wajah terkejut sekaligus bahagia. Beliau langsung berlari kecil memeluk menantunya itu. "Ya Allah, Nak... kenapa datang sendirian? Kenapa tidak bilang kalau mau berangkat? Azam Bukannya dia sedang dakwah di luar kota?"
Najwa tersenyum manis, senyum yang sudah menjadi tameng andalannya. "Assalamualaikum, Umi. Najwa ingin kasih kejutan saja. Gus Azam memang masih dakwah, Umi. Najwa pikir daripada menunggu di Jakarta sendirian, lebih baik Najwa segera ke sini untuk menemani Umi dan Abi."
Umi Fatimah mengelus pipi Najwa dengan penuh kasih, namun ada gurat kesedihan di matanya. "Azam itu keterlaluan... istrinya sampai harus menyetir sendiri dari Jakarta. Mari masuk, Nak. Kamu pasti sangat lelah."
Di dalam ndalem, Najwa disambut oleh Abi Ahmad. Suasananya sangat hangat, namun Najwa terus merasa ada yang kurang. Ia merasa seperti tamu agung, bukan seperti bagian dari keluarga. Ia ditempatkan di kamar Gus Azam kamar yang dulu pernah ia lihat sekilas saat hari khitbah.
Kamar itu sangat sederhana. Jauh berbeda dengan kamarnya di Menteng atau apartemennya di Jakarta. Hanya ada ranjang kayu, lemari buku yang penuh dengan kitab-kitab tebal, dan sebuah sajadah yang terbentang di sudut ruangan. Aroma kayu gaharu yang khas langsung menusuk penciuman Najwa aroma yang sama dengan yang ditinggalkan Gus Azam di hotel malam itu.
Najwa duduk di tepi ranjang, menatap foto kecil keluarga Abi Ahmad yang terpajang di meja. Di sana ada Gus Azam yang masih sangat muda, tampak sedikit lebih hangat daripada sekarang.
"Dimana kamu sebenarnya, Gus?" bisik Najwa sambil menyentuh permukaan meja yang berdebu tipis.
Hampir seharian Najwa menghabiskan waktu bersama Umi Fatimah. Ia membantu memasak untuk para santri, meski tangannya yang halus belum terbiasa dengan peralatan dapur pesantren. Ia mendengarkan cerita Umi tentang masa kecil Gus Azam, tentang bagaimana suaminya itu dulu adalah anak yang sangat ceria sebelum "kejadian itu" mengubahnya menjadi pendiam. Namun, Umi tidak pernah menjelaskan apa "kejadian itu".
Sore harinya, saat Najwa sedang duduk di teras samping sambil melihat santriwati mengaji, sebuah mobil kijang tua masuk ke halaman pesantren. Jantung Najwa berdegup kencang. Ia tahu siapa yang datang.
Gus Azam turun dari mobil itu dengan wajah yang tampak sangat lelah. Debu jalanan tampak menempel di jubah putihnya yang kini tidak serapi biasanya. Saat ia melihat mobil SUV putih Najwa terparkir di sana, langkahnya sempat terhenti. Ia menoleh ke arah teras dan melihat Najwa sedang duduk menatapnya.
Najwa bangkit berdiri. Ia tidak berlari menyambut, ia hanya berdiri tegak dengan tatapan yang tenang namun menuntut penjelasan.
Gus Azam berjalan mendekat. Ia berhenti di depan anak tangga teras. Ia menatap Najwa cukup lama, seolah tidak percaya bahwa wanita kota ini benar-benar nekat datang sendirian ke daerah pelosok ini.
"Assalamualaikum," ujar Gus Azam. Suaranya serak karena terlalu banyak bicara di mimbar dakwah.
"Wa’alaikumussalam," jawab Najwa singkat. "Gus sudah pulang?"
Gus Azam tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap mobil Najwa, lalu kembali menatap istrinya. "Kamu... menyetir sendiri?"
"Iya. Karena suamiku terlalu sibuk berdakwah sampai lupa kalau dia punya istri yang sedang menunggu kabar," sindir Najwa, suaranya pelan namun tajam. Gus Azam terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak meminta maaf, ia tidak juga memberikan pembelaan. Ia hanya menghela napas panjang dan melangkah naik ke teras, melewati Najwa begitu saja untuk masuk ke dalam rumah.
"Gus!" panggil Najwa.
Gus Azam berhenti, namun tidak berbalik.
"Apa seburuk itu keberadaanku sampai kamu bahkan tidak bisa mengirim satu pesan saja? Umi bertanya padaku tadi pagi dan aku harus berbohong lagi di depan beliau. Aku bilang kita berkomunikasi dengan baik. Sampai kapan aku harus jadi juru bicaramu, Gus?"
Punggung Gus Azam tampak menegang. Ia mengepalkan tangannya di balik jubah. "Aku tidak memintamu berbohong," ujarnya dingin tanpa menoleh.
"Aku melakukannya demi Marwahmu! Demi kehormatan Abi dan Umi! Kalau aku jujur, apa yang akan mereka pikirkan tentang putranya yang sholeh ini?" Najwa mendekat, ia berdiri tepat di belakang punggung Gus Azam. "Aku bukan ingin mengemis perhatian kamu Gus. Aku cuma ingin dihargai sebagai manusia. Sebagai istrimu."
Gus Azam akhirnya berbalik. Di bawah cahaya lampu teras yang mulai menyala, matanya tampak sangat lelah namun ada kilatan kemarahan yang tertahan. "Pernikahan ini... kamu tahu sendiri bagaimana awalnya, Najwa. Jangan harapkan sesuatu yang belum bisa aku berikan."
Setelah mengatakan kalimat yang sangat menyakitkan itu, Gus Azam benar-benar masuk ke dalam rumah, meninggalkan Najwa yang kini berdiri mematung di tengah kegelapan sore yang mulai turun.
Air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya tumpah juga. Najwa menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar oleh santri yang lewat. Kalimat "Jangan harapkan sesuatu yang belum bisa aku berikan" terasa lebih menyakitkan daripada kebisuan pria itu selama ini.
Najwa menyadari satu hal yang paling pahit malam itu. Ia mungkin bisa menguasai ratusan karyawan di Jakarta, ia mungkin bisa membangun gedung setinggi langit, tapi ia tidak akan pernah bisa membangun apa pun di atas hati yang memang tidak pernah ingin ditempati olehnya.
Malam itu di pesantren, Najwa tidur di atas sajadah di pojok kamar, karena ia tidak sanggup tidur di ranjang yang sama dengan pria yang baru saja menghancurkan harapannya. Di bawah lindungan langit pesantren yang penuh dengan suara dzikir, Najwa menangis dalam diam, meratapi nasibnya sebagai istri yang dianggap asing di rumah suaminya sendiri.