“Sumpah, Bang. Aku ini cuma pesuruh,” ucap Vita, suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca. Wanita muda itu duduk di hadapan Naufal, tubuhnya tegang, tangannya mengepal erat di pangkuan. Usianya baru sembilan belas tahun, seorang mahasiswi yang tertangkap basah membawa 2,4 kilogram sabu-sabu dalam tasnya. Ironis, wajahnya yang cantik, dipoles sempurna dengan skincare mahal, kini tampak pucat pasi di bawah sorot lampu interogasi. Ia menatap Naufal tanpa berkedip, berharap ada secercah belas kasihan di mata polisi muda itu. Harapan yang mungkin terlalu naif.
Naufal, dengan sabar, mengamati Vita. Ia melihat ketakutan di balik riasan tebal dan penampilannya yang mencolok. Namun, ia juga melihat kelicikan yang tersembunyi di balik mata sendu itu. Ia tahu, cerita Vita belum sepenuhnya jujur.
“Kak Maya yang menyuruhku,” Vita menambahkan, suaranya hampir tak terdengar. Ia menggigit bibir bawahnya, seakan menahan air mata yang mengancam tumpah. “Aku terbentur uang kuliah, Bang. Uang kuliahku terpakai untuk banyak hal… kebutuhan.”
Naufal mengernyit. “Kebutuhan apa?” tanyanya, suaranya tegas namun tetap terjaga kesopanannya. Ia menunjuk foto-foto Vita yang tengah berpesta di klub malam mewah, berbelanja di mall ternama, dan berpose di restoran mahal yang bertebaran di layar monitor di hadapannya. “Kamu terlihat keluar masuk tempat makan mahal, mall dengan gaya selebritis. Kamu gunakan uang kuliah yang susah payah dicari orangtuamu untuk berfoya-foya?” Nada geram mulai terdengar dalam suaranya.
Vita tertunduk. Ia tahu, penampilannya selama ini telah membohongi dirinya sendiri. Ia telah terperangkap dalam lingkaran hedonisme yang sulit untuk dilepaskan. “Aku… aku butuh uang, Bang,” jawabnya lirih. “Kak Maya menjanjikan uang banyak jika aku mau membantunya.”
“Bantuan seperti apa?” tanya Naufal, matanya tajam mengamati setiap gerak-gerik Vita.
Vita menghela napas panjang. Ia menceritakan semuanya, mulai dari bagaimana ia bertemu dengan orang suruhan Maya yang bernama Tania, seorang wanita cantik yang selalu tampil glamor, hingga bagaimana ia terjerat dalam jaringan peredaran narkoba. Tania, dengan bujukan dan rayuannya yang manis, telah membutakan mata Vita akan bahaya yang mengintainya. Tania menjanjikan kehidupan yang mewah yang akan ia daoatkan dari Maya, bebas dari kesulitan keuangan, asalkan Vita mau menjadi kurirnya. Uang kuliah yang menumpuk, hutang yang membengkak, dan keinginan untuk hidup mewah telah membutakan mata Vita akan resiko yang harus ia tanggung.
"Orang tua kamu masih lengkap?" tanya Naufal.
"Tinggal ibu. Ayah meninggal saat aku masih 5 tahun."
"Ibumu kerja apa?" tanya Naufal.
"Buruh cuci," Vita menundukkan wajah.
"Ibumu banting tulang untuk biaya kuliahmu dan ini balasanmu??" Nada suara Naufal meninggi.
"Bang," Aretha memandang Naufal. Mencoba mengingatkan akan nada suara Naufal.
Belum pernah ia melihat Naufal semarah itu pada tersangka.
Naufal menghela nafas.
"Jadi kamu belum pernah bertemu dengan Maya?"
"Belum, Bang."
"Benar? Tidak bohong?"
"Tidak berani aku bohong, Bang."
"Kamu tidak kasihan pada ibumu?" tanya Naufal.
Vita menangis.
“Aku… aku takut, Bang,” isak Vita. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya ingin hidup tenang, bisa kuliah dengan tenang, dan membahagiakan orangtuaku. Dengan berjualan ini, aku bisa membantu keuangan ibu. Jadi ibu tidak terlalu capek."
Naufal mendengarkan dengan sabar. Ia memahami dilema yang dihadapi Vita. Ia tahu, Vita hanyalah korban dari jaringan peredaran narkoba yang begitu kuat. Namun, ia juga tahu, Vita harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
“Vita,” kata Naufal, suaranya lebih lembut sekarang. “Aku mengerti situasimu. Tapi, kamu harus mengerti, apa yang kamu lakukan itu salah. Kamu membawa barang haram yang bisa merusak banyak orang. Kamu tahu resikonya?”
Vita mengangguk, air matanya mengalir deras. Ia menyesali perbuatannya. Ia menyesal telah terbuai oleh janji-janji manis komplotan Maya. Ia menyesal telah mengkhianati kepercayaan ibunya.
“Aku… aku menyesal, Bang,” ucap Vita, suaranya terisak.
Naufal menghela napas. Ia tahu, penyesalan Vita tulus. Namun, hukum tetaplah hukum. Ia tidak bisa melepaskan Vita begitu saja.
“Aku akan memberimu kesempatan untuk bekerja sama dengan kami,” kata Naufal. “Ceritakan semuanya tentang Maya dan jaringan yang terlibat. Jika kamu bersedia membantu kami mengungkap jaringan ini, aku akan mempertimbangkan pengurangan hukumanmu. Intinya, jujur."
Vita terdiam sejenak, memikirkan tawaran Naufal. Ia tahu, ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memperbaiki kesalahannya. Ia harus memilih antara masa depannya yang suram di balik jeruji besi, atau kesempatan untuk menebus kesalahannya dan membangun kembali hidupnya.
“Baik, Bang,” jawab Vita, suaranya mantap. Ia menghapus air matanya dan menatap Naufal dengan tatapan yang penuh tekad. “Aku akan bekerja sama denganmu.”
Naufal mengangguk, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Ia tahu, perjuangan belum berakhir. Masih banyak hal yang harus diungkap, banyak orang yang harus diproses. Namun, dengan kesaksian Vita, ia yakin, ia akan mampu membongkar jaringan peredaran narkoba yang telah menjerat banyak korban, termasuk Vita sendiri.
Vita mulai menceritakan detail tentang jaringan Maya, dari cara mereka beroperasi, siapa saja yang terlibat, hingga tempat-tempat persembunyian mereka. Ia menceritakan bagaimana Maya melaluintangan Tania dengan liciknya merekrut anak-anak muda yang rentan secara ekonomi, menawarkan iming-iming uang dan gaya hidup mewah sebagai umpan. Ia menceritakan bagaimana Maya selalu berhati-hati dan licik dalam setiap aksinya, menghindari pengawasan polisi dengan cerdik.
Naufal mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail informasi yang diberikan Vita. Ia juga mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengklarifikasi beberapa hal yang masih belum jelas. Vita menjawab dengan jujur dan detail, menunjukkan kesungguhannya untuk bekerja sama dengan polisi.
Setelah berjam-jam bercerita, Vita akhirnya selesai. Ia merasa lega, seakan beban berat telah terangkat dari pundaknya. Ia berharap, kerjasamanya dengan polisi dapat mengurangi hukumannya dan memberinya kesempatan untuk memulai hidup baru.
Naufal menatap Vita dengan penuh apresiasi. Ia tahu, perjuangan Vita belum berakhir. Ia masih harus menghadapi proses hukum yang panjang dan berat. Namun, dengan kesediaannya bekerja sama, Vita telah menunjukkan penyesalan yang tulus dan tekad untuk memperbaiki kesalahannya. Itulah yang terpenting. Naufal yakin, dengan bantuan Vita, ia akan berhasil membongkar jaringan Maya dan menyelamatkan banyak orang dari jeratan narkoba. Perjuangan panjang baru saja dimulai. Ia harus memastikan keadilan ditegakkan dan para pelaku kejahatan dihukum sesuai dengan perbuatan mereka. Dan Vita, semoga ia bisa mendapatkan kesempatan untuk memulai hidup baru yang lebih baik.
Ponsel Naufal berdering, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Naufal memanfang Vita sebelum mengangkat telpon itu.
"Hallo," sapa Naufal.
" Hallo, Ipda Naufal Hasbi," suara seorang wanita.
"Siapa ini?"
"Sayangi masa muda, Ipda. Naufal. Kau akan menyesal jika terus berani menggulung aksi kami. Ajukan surat mutasi dan pindahlah dari divisi itu."
"Maya??" tebak Naufal.