Drama #crime #drama

Bayang Bayang Masa Lalu

Penulis sanzfy
27 February 2026

Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Cahaya lampu meja masih setia menerangi wajah Naufal yang tampak lelah dan lesu. Di sekelilingnya, berkas-berkas laporan kasus narkoba tergeletak berserakan di atas meja kerjanya, menjadi saksi bisu dari lembur panjang yang baru saja ia selesaikan. Mata Naufal terasa berat, rasa kantuk menyergapnya dengan ganas, menyerang setiap sel dalam tubuhnya. Ia menguap panjang, menggosok kedua matanya yang terasa perih dan kering.

Ponselnya tergeletak tenang di atas meja, layarnya yang gelap memantulkan cahaya redup dari lampu. Naufal meraihnya dengan gerakan lambat, jari-jarinya yang terasa kaku menekan tombol power. Layar menyala, menampilkan deretan notifikasi yang belum terbaca. Beberapa panggilan tak terjawab, pesan singkat, dan satu pesan WhatsApp dari ibunya. Nama Sinta dan Clara juga tertera di daftar panggilan masuk. Tiga nomor tak dikenal lainnya melengkapi daftar tersebut.

Ia membuka pesan dari ibunya terlebih dahulu. Rasa bersalah menusuk hatinya seperti ribuan jarum yang menghujam. Ia tahu ibunya pasti khawatir karena ia tak mengangkat teleponnya. Dengan cepat, Naufal mengetik balasan:

"Baru selesai dengan pemberkasan, Ma. Maaf abang tadi tidak angkat telepon. Ada kasus yang harus segera diselesaikan."

Ia ragu untuk menelepon balik. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, ibunya pasti sudah terlelap dalam mimpi. Lebih baik ia membalas pesan singkat saja, menambahkan sedikit penjelasan agar ibunya mengerti.

Selanjutnya, ia membuka pesan dari Sinta. Pikirannya langsung melayang pada kemarahan Sinta, kekasihnya. Fotonya bersama Clara yang dikirimkan Sinta masih menjadi sumber masalah di antara mereka. Naufal menghela napas panjang. Ia menduga pesan dari Sinta akan berisi kemarahan atau kekecewaan. Ia bersiap menghadapi badai emosi yang mungkin akan datang, mengingat pekerjaannya yang penuh tekanan dan waktu istirahat yang minim.

Namun, apa yang ia baca selanjutnya membuat senyum tipis mengembang di bibirnya. Pesan dari Sinta jauh dari yang ia bayangkan:

"Sayang, jangan lupa makan ya? Nanti sakit. Istirahat yang cukup juga, ya."

Kata-kata sederhana itu mampu mencairkan ketegangan yang selama ini menggantung di hatinya. Rasa khawatir Sinta terhadap kesehatannya membuatnya merasa hangat dan nyaman. Naufal tersenyum, jari-jarinya bergerak cepat mengetik balasan:

"Makasih, Sayang."

Ia berniat menelepon Sinta, ingin mendengar suaranya langsung. Ia ingin menceritakan betapa lelahnya ia bekerja hari ini, dan betapa berarti pesan singkat Sinta baginya. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol telepon, ponselnya berdering. Nama Clara terpampang di layar.

Naufal menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab panggilan itu. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Halo?" sapa Naufal dengan nada hati-hati.

"Naufal?" suara Clara terdengar sedikit lelah dan cemas.

"Iya, Clara. Ada apa?" tanya Naufal, jantungnya berdebar kencang. "Sesuatu terjadi pada Raisa?"

"Dia merengek lagi. Tadi sudah lelap. Aku sebenarnya tak ingin mengganggumu, aku tahu pekerjaanmu. Tapi mungkin dia ingat ibunya," jawab Clara, suaranya bergetar.

Tanpa ragu, Naufal mengambil keputusan. "Aku kesana," ucap Naufal tegas.

"Ok," jawab Clara singkat, terdengar lega.

Naufal menyimpan ponselnya. Ia meraih jaket yang tergantung di sandaran kursi dan mengenakannya dengan tergesa-gesa. Ia berjalan keluar ruangan, meninggalkan meja kerjanya yang berantakan. Di ruangan lain, Aipda Dimas dan Bripda Wisnu terlihat tidur nyenyak di sofa, tampak lelah setelah berburuan target operasi yang memakan waktu begitu panjang. Di meja lain, Razak terlihat masih menatap layar monitor, menyelesaikan berkas di depannya.

"Bang," sapanya pada Naufal.

"Istirahatlah sebentar, nanti dilanjutkan," jawab Naufal dengan nada prihatin.

"Tinggal sedikit lagi, Dan," balas Razak, matanya tetap fokus pada layar.

"Ok, saya keluar dulu," pamit Naufal.

"Siap, Dan," jawab Razak singkat, tanpa mengalihkan pandangannya.

Naufal berjalan menuju parkiran. Ia bergegas naik ke atas motor dan menyalakannya. Dengan kecepatan sedang, ia membelah jalanan kota yang sepi dan dingin, menuju rumah Clara. Rumah dokter itu tidak terlalu jauh dari kantornya, hanya sekitar 10 menit perjalanan. Tidak lama, Naufal tiba di depan pekarangan rumah Clara yang tampak tenang dan gelap. Hanya lampu teras yang menyala, memberikan sedikit penerangan.

Pintu dibuka oleh Clara, wajahnya tampak pucat dan lelah. Ia mengenakan mukena untuk menutupi kepalanya yang berantakan.

"Aku menelponmu tapi tidak diangkat," ucap Clara, suaranya sedikit bergetar.

"Aku langsung jalan setelah menerima telponmu," ucap Naufal, sambil tersenyum lembut, berusaha menenangkan Clara.

"Aku mau bilang tidak usah kesini. Raisa sudah tidur," jelas Clara, nada menyesal terdengar dalam suaranya.

"Oh.." jawab Naufal.

"Duduklah. Aku buatkan minuman. Masuk yuk," ajak Clara, berusaha menyembunyikan kelelahannya.

"Di luar saja. Tidak enak jam segini masuk ke rumah perempuan. Tadi sudah bilang pada securiti di depan gerbang, mau melihat adik yang rewel di rumah dokter Clara," tolak Naufal, sambil tersenyum kecil. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman.

"Adik? Maksudmu?" tanya Clara, heran.

Naufal menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk mengungkapkan rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Raisa... adalah anak Papa dengan tante Chintya. Sebenarnya tidak ingin mengungkap masalah ini. Tapi kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak membawa Raisa pulang ke rumahku saja."

Naufal terdiam sesaat, menatap Clara dengan tatapan penuh harap. Ia berharap Clara bisa memahami situasinya. "Papaku... ia selingkuh dengan sahabat Mama yang tak lain adalah Mamanya Raisa."

"Apa?" Clara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Ia.. Membawa kabur uang hasil penjualan rumah kami dan tabungan pendidikanku. Setelah itu, ia menikah dengan wanita itu. Aku baru tahu tentang keberadaan Raisa beberapa hari lalu," lanjut Naufal, suaranya bergetar menahan emosi.

Clara terdiam, terkejut dengan pengakuan Naufal. Ia tidak pernah tahu tentang hal ini sebelumnya. Ia tidak bisa membayangkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung Naufal.

Naufal melanjutkan, "Aku... aku masih belum bisa menerima semuanya." Ia menatap Clara dengan tatapan penuh luka. "Bagaimana mereka sudah menggoreskan luka yang sangat perih pada Mama. Namun Raisa tak bersalah. Dia juga korban. Tapi membawa Raisa ke hadapan mama.. Aku harus menyebut dia siapa? Masa harus membohongi mama agar mau menerima Raisa?"

Clara termenung, ia bisa memahami apa yang dirasakan Naufal malam itu. Ia bisa merasakan sakitnya dikhianati, sakitnya kehilangan, dan sakitnya melihat orang yang dicintai menderita.

"Kalau begitu.. Biar Raisa tinggal denganku," ucap Clara akhirnya, memecah keheningan. "Mungkin karena tinggal di rumah Siska berdekatan dengan rumah ibunya.. Membuat Raisa selalu rindu pada ibunya setiap melihat rumah itu. Raisa.. Punya nama mama yang sama dengan nama mamaku." Clara tersenyum getir.

Naufal menatap Clara dengan tatapan penuh terima kasih. Ia tidak menyangka Clara akan menawarkan bantuan sebesar ini.

"Maaf jadi merepotkanmu," ucap Naufal, merasa bersalah.

Clara tersenyum. "Tidak apa-apa. Mulai hari ini, biar Raisa menjadi bagian hidupku. Kami punya nama ibu yang sama. Oya, semua surat-surat penting Raisa masih di rumah ibunya?"

"Masih di kontrakan. Siska yang akan membersihkan semuanya," jawab Naufal.

"Kalau begitu besok biar aku minta pada Siska," kata Clara.

"Ok.." Naufal berdiri. "Aku pulang."

"Mobilmu?" tanya Clara.

"Besok saja aku ambil sambil melihat Raisa. Sekali lagi, terima kasih ya, sudah menampung Raisa," ucap Naufal tulus.

Clara tersenyum. "Aku menyukaimu," ucap Clara tiba-tiba.

"Apa?" Naufal terkejut mendengar ucapan Clara.

"Maksudku, aku menyukai caramu bertanggungjawab atas hidup adikmu," jelas Clara, wajahnya sedikit memerah.

"Oh.. Titip Raisa ya?" ucap Naufal, mengalihkan pembicaraan.

"Siap, komandan," Clara memberi hormat dengan senyum lebar.

Naufal menyalakan mesin motornya.

"Hati hati.." ucap Clara, suaranya lembut.

"Selamat malam."

Naufal menutup kaca helmnya, melambaikan tangannya sebelum meninggalkan tempat itu.

Clara tersenyum, menatap punggung Naufal yang semakin menjauh.

"Selamat sampai di rumah, Perwiraku.." bisiknya pelan, hatinya menghangat.