Malam itu, Yoyi gelisah. Pikirannya melayang pada sosok gadis tomboi yang telah menolongnya. Gadis itu tak hanya menolongnya dari Satpol PP, tetapi juga memberi Yoyi harapan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Yoyi bahkan tidak tahu siapa nama gadis itu. Ia hanya tahu satu hal: gadis itu berbeda. Ia menertawakannya, tetapi menolongnya dengan tulus.
Yoyi bangkit dari ranjang, lalu menatap bayangan dirinya di cermin. Wajah tanpa riasan, tanpa sumpelan di dada—wajah seorang laki-laki. Yoyi menyentuh rahangnya yang tegas dan hidungnya yang mancung. Wajah ini… kenapa ia tidak bisa menerima dirinya sendiri?
Pagi harinya, saat matahari mulai terbit, Yoyi mengambil keputusan. Ia akan mencari gadis itu. Yoyi tidak tahu siapa namanya, di mana ia tinggal, atau bagaimana cara menemukannya. Ia keluar dari kontrakan, meninggalkan teman-temannya yang masih terlelap. Yoyi berjalan menuju perempatan tempat ia bertemu gadis itu, berharap menemukan petunjuk.
Ketika sampai di perempatan, ia hanya menemukan gerobak kopi yang sudah kosong. Yoyi menghela napas. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Malam demi malam, Yoyi menghabiskan waktu di perempatan itu, berharap keajaiban akan terjadi. Ia duduk di tempat yang sama, sesekali membeli kopi dari gerobak yang sudah kembali beroperasi.
"Bang, gadis yang waktu itu nolong saya belum datang lagi, ya?" tanya Yoyi kepada penjual kopi itu.
"Yang mana?" tanya abang penjual kopi.
"Gadis tomboi yang nolongin saya waktu saya dikejar Satpol PP." Yoyi mengingatkan.
"Oh, si Neng cantik itu." Abang penjual kopi mengingatnya. "Namanya Jo. Dia belum ke sini lagi."
"Jo," gumam Yoyi. Seulas senyum terbit di wajahnya saat ia mengetahui nama gadis itu.
Bayangan wajah Jo, tawanya, dan terutama kalimat ajaib yang dilontarkannya, terus berkelebat di benaknya. Kalimat itu seperti mantra yang membelenggu pikirannya.
Tekad Yoyi untuk berubah semakin kuat. Ia mulai mengurangi pekerjaan mengamen di malam hari. Teman-temannya, Amira, Malika, Maria, dan Yanti, tentu saja heran. Mereka menganggap Yoyi aneh. Amira bahkan sempat menyindir Yoyi sedang jatuh cinta.
"Lu lagi kasmaran sama siapa, Yi? Tumben banget nggak ikut kita ngamen," goda Amira sambil menyenggol lengan Yoyi.
"Males aja," jawab Yoyi singkat.
"Males apa nungguin dia dateng ke sini?" celetuk Malika, disusul tawa dari teman-temannya.
Yoyi hanya terdiam. Ia tidak ingin membahas tentang Jo, bukan karena malu, melainkan karena ia takut impian yang baru saja tumbuh di hatinya akan layu sebelum mekar. Ia memilih untuk menyimpan semua itu dalam diam, melahap sindiran-sindiran teman-temannya yang tak henti.
Malam itu, Yoyi pergi ke tempat biasa ia mengamen. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian waria. Ia memakai kaus putih dan celana jins. Yoyi duduk di trotoar, memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Ia menatap setiap gadis yang lewat, berharap salah satunya adalah Jo. Ia duduk hingga larut malam, sampai akhirnya hujan turun. Yoyi pulang dengan hati hampa.
Kegundahan hatinya semakin menjadi-jadi. Ia merasa seperti pecundang yang tidak mampu menemukan jalan. Ia terus merenungkan perkataan Jo dan janji yang diucapkan dirinya sendiri. Namun, setiap hari yang ia lalui tanpa kemajuan terasa seperti pukulan telak.
Ia tidak pernah menemukan Jo, tetapi tekadnya untuk berubah tidak pernah padam. Kata-kata gadis itu, meskipun terucap sekali, telah menjadi kompas yang menuntunnya, sebuah mercusuar yang bersinar di tengah badai keraguan. Yoyi tahu, ia harus berubah, bukan hanya untuk Jo, tetapi untuk dirinya sendiri.
Suatu malam, Yoyi pulang ke kontrakan dan melihat Yanti sedang menyantap mi instan.
"Yi, sini makan dulu," ajak Yanti. Namun, Yoyi hanya menggeleng pelan. Ia duduk di samping Yanti dan mengambil napas dalam-dalam. Ia harus bicara, entah bagaimana caranya.
"Yanto," kata Yoyi, menggunakan nama asli Yanti.
Yanti berhenti mengaduk mi-nya dan menatap Yoyi. "Ada apa, Satrio?" jawab Yanti, ia juga menggunakan nama asli Yoyi, seolah mengerti keseriusan Yoyi.
"Gue capek," ucap Yoyi, matanya berkaca-kaca. "Gue capek jadi Yoyi. Gue capek lari-lari kayak gini."
Yanti terdiam, menatap Yoyi dengan sorot mata yang teduh. "Lu kenapa, Yi? Cerita sama gue," pintanya dengan suara lembut.
Yoyi akhirnya menceritakan segalanya, dari pertemuannya dengan Jo, kata-kata yang dilontarkannya, hingga kegundahan hatinya yang tak berujung. Yoyi bercerita tentang keinginan untuk kembali menjadi laki-laki seutuhnya, tentang keinginan untuk memiliki kehidupan normal, menikah, dan memiliki keluarga.
"Gue nggak tahu harus mulai dari mana. Dia cuma bilang, "kalau Abang udah tobat, cari saya. Saya mau menikah dengan mantan banci." Gue nggak tahu harus nyari ke mana, tapi sekarang gue tau namanya 'Jo'," ucap Yoyi, suaranya bergetar. Seulas senyum terukir di bibirnya saat mengucapkan nama gadis itu.
Mendengar cerita Yoyi, Yanti tersenyum kecil. Ia meletakkan mangkuk mi-nya. "Lu tau, Yi? Gue ngerti banget apa yang lu rasain," kata Yanti. "Lu pikir, gue suka kayak gini? Pake daster, rok mini, lari-lari dari Satpol PP? Enggak, Yi. Jauh di lubuk hati gue, gue juga kangen jadi Yanto."
Yoyi terkejut. Selama ini, Yanti selalu tampak ceria dan menikmati kehidupannya. Yoyi tidak pernah tahu bahwa di balik topeng ceria Yanti, ada cerita yang berbeda.
"Di kampung, gue punya anak istri, Yi." Yanti melanjutkan, matanya menerawang. "Anak gue sekarang udah kelas 3 SD. Gue janji sama dia, suatu saat gue bakal pulang, bawa banyak uang, dan bakal buka usaha di kampung. Dia nggak tahu kerjaan bapaknya kayak gini. Dia cuma tau, bapaknya kerja di kota. Setiap malam, gue cuma bisa telepon dia. Istri gue selalu bilang, 'Cepat pulang ya. Anak kita kangen.' Setiap denger itu, hati gue hancur, Yi."
Yanti mengusap air matanya yang jatuh. "Jadi, kalau lu mau berubah, jangan ragu, Yi. Gue dukung lu. Cari dia, jadi diri lu seutuhnya. Gue nggak bakal menghalangi lu. Justru gue senang banget kalau lu bisa keluar dari sini. Lu punya kesempatan yang nggak semua orang punya."
Mendengar dukungan Yanti, Yoyi merasa sedikit lega, tetapi ada kekhawatiran lain yang muncul. "Tapi...."
Yanti tersenyum. "Lu mau jadi diri lu sendiri, 'kan? Teman-teman lu di sini, mereka pasti mendukung. Kalau lu mau, kita bisa barengan. Cari kerjaan yang halal, yang normal, barengan."
Yoyi menghela napas. Jalan di depannya masih kabur, tetapi ia tidak lagi merasa sendirian. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi demi dirinya sendiri, dan demi satu janji yang diucapkan seorang gadis tak bernama.
Tiba-tiba, mata Yoyi tertuju pada sebuah berita di televisi di pojok ruangan. Sebuah berita tentang kecelakaan motor. Tangan Yoyi membeku, matanya terbelalak melihat sebuah kemeja abu-coksu yang dikenakan korban. Di balik jaket itu, terselip sebuah kaus putih. Motor yang hancur itu, warnanya merah—motor sport yang sama dengan motor Jo.