“Tadi malam kamu pulang jam berapa?” tanya Adelia, suaranya lembut namun terdengar sedikit tegang. Cahaya lampu ruang keluarga menerangi wajahnya yang tampak lelah, namun matanya tajam mengamati Akhzam yang asyik bercerita pada sang kakek, Ikhwan. Akhzam, bocah berusia delapan tahun itu, tampak begitu riang menceritakan kisah petualangannya bermain di taman dekat rumah.
“Hampir jam 3, Ma,” jawab Naufal. Ia mengusap wajahnya, merasa lelah setelah seharian bekerja. Aroma kopi yang baru saja ia seduh masih terasa harum di udara, namun aroma itu tak mampu menghilangkan rasa kantuknya.
Adelia memandang Akhzam sejenak, lalu pandangannya beralih pada Naufal yang kini duduk di dekatnya. Naufal menarik kursi makan agar ibunya bisa duduk di sampingnya. Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya suara tawa Akhzam dan suara Ikhwan yang sesekali terdengar dari kejauhan. Keheningan itu terasa mencekam, dipenuhi oleh ketidakpastian yang menggantung.
“Nak…” panggil Adelia, suaranya sedikit berat. Ia ragu-ragu, merasa sulit untuk memulai pembicaraan yang akan mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan.
“Ya, Ma,” sahut Naufal, meletakkan cangkir kopi yang baru setengah ia teguk di atas meja. Ia menoleh pada ibunya, menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia merasakan ada sesuatu yang penting akan dibicarakan, sesuatu yang terasa berat dan mencekam.
“Raisa… di mana Raisa tinggal?” tanya Adelia, suaranya terdengar ragu. Pertanyaan itu menggantung di udara, menciptakan ketegangan yang terasa nyata di antara mereka.
Naufal mengurungkan niatnya untuk kembali menyeruput kopi. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit dibaca, campuran antara terkejut dan khawatir. “Mama tahu soal Raisa?” tanyanya hati-hati, suaranya hampir berbisik. “Om Revan yang bilang ke Mama?”
Adelia menggeleng pelan. “Tidak. Mama tak sengaja mendengar pembicaraan kakekmu dengan Om Revan semalam, sebelum Om Revan pulang.” Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan pembicaraan yang terasa berat ini.
Naufal terdiam. Ia tahu bahwa rahasia yang selama ini ia jaga, akhirnya terbongkar juga. “Tidak bermaksud menutupi dari Mama, tapi…” Ia ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Kata-kata seolah tercekat di tenggorokannya. Ia takut akan reaksi ibunya. Ia takut akan konsekuensi dari keputusannya.
Adelia terdiam sejenak, pikirannya melayang ke masa lalu. Bayangan suaminya, Fatar, yang duduk di ruang tunggu bandara berpegangan tangan dengan Chintya, sahabatnya sendiri, kembali menghantuinya. Sahabat yang pernah ia bantu lepas dari masalah KDRT, sahabat yang ia bantu agar bisa pulang ke kota kelahirannya, kini telah membalas kebaikannya dengan cara yang paling kejam. Chintya telah merampas suaminya, ayah dari anak-anaknya, dan membawa lari semua uang mereka. Adelia harus rela meninggalkan rumah yang dibelikan ayahnya sebagai hadiah pernikahan, dan pindah ke kontrakan kecil yang sempit dan sederhana. Kenangan pahit itu masih terasa begitu nyata, menusuk hatinya seperti belati.
Lama ia termenung, diliputi oleh rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia merasakan betapa hancurnya hidupnya, betapa besar pengkhianatan yang telah diterimanya. Namun, ia harus tetap tegar, demi anak-anaknya.
Akhirnya, ia berkata, suaranya bergetar menahan air mata, “Chintya dan papa kamu mungkin salah. Tidak, bukan mungkin.. Tapi memang salah. Meskipun begitu, Raisa tidak. Dia saat ini sendirian di usianya yang masih kecil. Dia bahkan jauh lebih muda dari Akhzam,” ucap Adelia getir. “Tidak ada yang bisa membantah kalau darah yang mengalir di tubuh Raisa adalah darah yang juga mengalir di tubuhmu.” Ia menatap Naufal, mencoba untuk menyampaikan pesan yang tersirat di balik kata-katanya.
Naufal menunduk, merasa bersalah. Ia tahu bahwa ia telah mengambil keputusan yang besar tanpa sepengetahuan ibunya. Ia takut akan konsekuensi yang harus ia tanggung. Namun, ia juga merasa bahwa keputusannya itu adalah hal yang benar.
“Dia sakit, Ma,” ucap Naufal akhirnya, suaranya lirih. “Rasanya sangat keterlaluan jika aku membiarkan adikku yang sakit berada di panti asuhan.” Ia mengangkat wajahnya, menatap ibunya. Ia berharap ibunya bisa mengerti dan memaafkannya.
Tiba-tiba, suara Ikhwan memecah kesunyian. Ia datang menghampiri mereka dengan wajah dingin dan penuh amarah. “Biarkan anak itu! Jangan pernah berpikir untuk membawanya hidup di tengah-tengah kalian!” Suaranya keras dan tegas, penuh dengan kemarahan yang tak terbendung.
Adelia melihat ke arah televisi, khawatir Akhzam masih berada di sana dan melihat kemurkaan kakeknya. Namun, putra bungsunya itu sudah tidak berada di ruangan itu. Sepertinya Ikhwan telah meminta Akhzam keluar dari ruangan sebelum ia menghampiri Naufal dan Adelia. Adelia merasa khawatir, namun ia juga harus menghadapi kemarahan ayahnya.
"Raisa sakit, kek. Dia tidak berdosa. Dia sendirian menghadapi dunia yang kejam ini."
Ikhwan melayangkan tangannya ke wajah Naufal. "Pa.." Adelia cepat memeluk putra sulungnya itu agar Ikhwan tak lagi melayangkan tangan padaya. Ikhwan kali ini menunjuk Naufal dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Kau durhaka! Anak haram itu bukan tanggung jawab kita!"
"Dia adikku, Kek!" bantah Naufal, memegangi pipinya. "Anak ayahku, saudara kandungku!"
Pertengkaran semakin memanas. Adelia berusaha menenangkan mereka, namun amarah Ikhwan sudah memuncak. Ia tak mampu menerima kenyataan bahwa cucu tirinya itu akan tinggal bersama Adelia, putrinya.
Adelia memandang Naufal, matanya berkaca-kaca. "Kamu ke kantor, Nak. Biar Mama yang bicara pada kakek." Ia harus melindungi Naufal. Ia harus menghadapi ayahnya sendiri.
Naufal ragu, namun ia melihat tekad di mata ibunya. Ia tahu ibunya berusaha melindungi dirinya dari kemarahan kakeknya. Dengan berat hati, ia mengangguk dan beranjak pergi. Adelia menatap punggung anaknya yang menjauh, hatinya dipenuhi kekhawatiran. Ia harus menghadapi ayahnya sendiri, menghadapi badai amarah yang tak terbendung, demi masa depan anak-anaknya dan mungkin, juga Raisa.
"Pa.." panggil Adelia.
"Ingatkan anakmu itu! Dia sudah gila!" wajah Ikhwan terlohat sangat murka.
"Chintya meninggal. Fatar entah berada dimana dengan perempuan lain. Naufal tak mungkin membiarkan Raisa di luar sana sendirian. Bagaimanapun, suka atau tidak suka. Rela atau tidak rela.. Raisa adalah adik perempuan yang tak bisa diabaikan," Adelia berusaha menjelaskan.
"Aku bilang tidak! Dan cukup pembicaraan tentang anak itu! AKU TIDAK INGIN LAGI MENDENGAR NAMANYA! Aku tak mau mengoyak lagi luka lamamu!"
"Tapi.."
"Jika Naufal bersikeras membawa anak itu dalam hidupnya, jangan pernah menginjak rumah ini! Juga jangan lagi tinggal bersamamu dan Akhzam! Kamu sampaikan hal ini padanya!"
"Pa.."
"Dulu kuikuti keinginan anakmu itu untuk melepaskan ayahnya pergi dengan wanita jahanam itu. Meski Revan dan Kevin sebenarnya mampu mencari keberadaannya. Dia benar, tak perlu mencari sampah itu. Ia dan perempuannya adalah sampah yang tak layak. Tapi kali ini.. Tidak ada kata menerima kehadiran anak mereka! Tidak juga dengan alasan sakit sekalipun!"
Ikhwan meninggalkan ruangan itu dengan membawa amarahnya.