Suara Sinta masih bergema di telinga Naufal. "Kalau kamu punya rumah sendiri, berarti kamu nggak perlu lagi mengajak Raisa tinggal dengan Mama, kan?" Pertanyaan itu, sederhana namun menusuk, menancap dalam benaknya sepanjang malam. Ia baru saja mengakhiri percakapan telepon yang berat dengan Sinta, percakapan yang mengungkap kompleksitas hidupnya dan beban tanggung jawab yang dipikulnya. Beban yang terasa semakin berat seiring dengan semakin gelapnya malam.
Malam itu, Naufal menghubungi Sinta untuk menceritakan tentang Raisa. Ia bercerita tentang bagaimana Raisa harus tinggal bersama Clara, seorang dokter yang baru dikenalnya, setelah ibunya, Chintya, meninggal dunia akibat bunuh diri dengan cara gantung diri. Kejadian tragis itu telah meninggalkan luka mendalam, tidak hanya pada Raisa, tetapi juga pada keluarga Naufal. Naufal juga menceritakan penolakan keras dari kakeknya, Ikhwan, untuk membiarkan Raisa tinggal bersama Adelia, ibunya. Ia menjelaskan alasan di balik penolakan itu: Raisa adalah putri dari wanita yang telah merebut ayahnya dari Adelia, sebuah luka lama yang masih terasa perih dan menyisakan dendam yang dalam.
"Tapi kan nggak mungkin aku pindah dari rumah Mama hanya karena ingin Raisa tinggal denganku?" ujar Naufal, suaranya terdengar lesu, dipenuhi keputusasaan. Meninggalkan rumah ibunya terasa mustahil, sebuah pengkhianatan terhadap ikatan keluarga yang selama ini ia jaga. Rumah itu adalah tempat berlindungnya, tempat ia merasa aman dan dicintai. Ide untuk meninggalkannya terasa seperti menghancurkan pondasi hidupnya.
"Kenapa tidak? Kamu kan sudah dewasa?" Sinta membalas, suaranya tetap tegas namun diselingi dengan nada pengertian. Ia memahami pergolakan batin yang sedang dialami kekasihnya itu. Ia tahu betapa sulitnya keputusan yang harus diambil Naufal, tetapi ia juga tahu bahwa Raisa membutuhkan tempat yang aman dan nyaman setelah tak punya tempat lagi untuk bergantung selain pada Naufal. Anak perempuan yang masih berusia 5 tahun dan memiliki riwayat penyakit leukimia.
"Tidak bisa begitu, Nta…" Naufal hanya bisa bergumam, tak meyakinkan. Ia tahu Sinta benar, tetapi pikiran untuk meninggalkan ibunya terasa sangat berat. Ia terbelenggu di antara tanggung jawabnya terhadap Raisa dan kesetiaannya pada keluarganya.
Keheningan menyelimuti percakapan mereka, terasa mencekam dan dipenuhi ketegangan. Kemudian, sebuah usul yang tak terduga keluar dari mulut Sinta, menusuk keheningan malam seperti sebilah pisau yang tajam.
"Kalau begitu kita menikah," usul Sinta, suaranya tenang namun penuh tekad. Usul yang tiba-tiba dan mengejutkan itu membuat Naufal terdiam.
Naufal tertegun. "Apa?" Ia hanya bisa mengucapkan satu kata, penuh keterkejutan. Pikirannya masih berputar-putar, mencoba mencerna arti dari kata-kata Sinta. Apakah ini sebuah solusi? Atau hanya sebuah pelarian?
Sinta melanjutkan penjelasannya, sebuah logika sederhana yang terhubung dengan pertanyaan awalnya. "Kalau menikah, kan kamu punya alasan untuk tinggal di rumah sendiri?" Penjelasan Sinta sederhana, namun menyentuh inti permasalahan. Pernikahan akan memberinya alasan yang kuat untuk meninggalkan rumah ibunya dan memberikan Raisa tempat tinggal yang layak.
Usul itu menggantung di udara, sebuah tantangan berani yang mengguncang pondasi hidup Naufal. Ia terdiam, pikirannya berputar-putar, mencoba mencerna implikasi dari usul tersebut. Wajah Raisa, raut wajahnya yang rapuh dan sedih, terbayang jelas di benaknya. Ia tak tega membiarkan Raisa terus hidup dalam ketidakpastian, dalam bayang-bayang kehilangan dan kesedihan.
"Aku tunggu kabar baik darimu ya, sayang," kata Sinta, suaranya melembut, diselingi sedikit nada bercanda. Lalu, sambungan telepon terputus, meninggalkan Naufal sendirian dengan pikirannya yang bercampur aduk.
Naufal masih terpaku di tempatnya, memegang telepon genggamnya. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya, campuran dari keterkejutan, keraguan, dan secercah harapan. Harapan akan solusi, harapan akan masa depan yang lebih baik bagi Raisa dan dirinya sendiri.
"Sinta…" gumamnya, nama itu seperti sebuah doa yang terucap lirih, sebuah harapan yang terpancar dari lubuk hatinya yang terdalam.
Ia melihat jam dinding. Pukul tujuh malam. Semua laporan pekerjaannya sudah selesai. Ia meraih jaketnya, mengenakannya, dan segera melangkah keluar ruangan. Ia perlu waktu untuk sendiri, untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
Lampu-lampu kota tampak berkelebat di luar, memburam saat ia mengemudikan mobilnya. Udara malam yang sejuk terasa menusuk bagi kegelisahan di hatinya. Ia butuh waktu, waktu untuk mencerna badai emosi yang ditimbulkan oleh usul Sinta. Usul yang sederhana, namun berdampak besar pada hidupnya.
Mobil itu berhenti di pekarangan rumah. Naufal turun dan segera masuk ke rumah. Adelia terlihat sedang menonton TV, Akhzam tidur di pangkuannya.
"Ma.." sapa Naufal, suaranya terdengar lelah.
Adelia menoleh, matanya menunjukkan kekhawatiran. "Kamu sudah pulang?"
Naufal mencium tangan ibunya. "Sudah makan?" tanya Adelia, perhatiannya tertuju pada putranya.
"Sudah," jawab Naufal. Ia menggendong tubuh Akhzam, mengantar adiknya itu ke dalam kamar.
Usai membaringkan Akhzam di tempat tidur, ia segera berjalan keluar. Ia menghampiri Adelia, duduk di samping ibunya itu. Ia tahu ia harus memberitahu ibunya tentang usul Sinta, meskipun ia tahu ini akan menjadi percakapan yang sulit.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama," ucap Naufal, suaranya terdengar serius.
Adelia menoleh, matanya menatap Naufal dengan penuh perhatian. "Ada apa? Kelihatannya serius."
"Ini tentang aku dan Sinta, Ma… kelanjutan hubungan kami." Naufal menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk menghadapi reaksi ibunya.
"Kalian mau menikah?" tanya Adelia, suaranya tenang namun dipenuhi ketegangan. Ia menatap wajah putra sulungnya, mencoba membaca pikirannya.
Ia menatap wajah putra sulungnya. Tidak pernah terbayangkan akan tiba masa dimana ia harus merelakan putra kesayangannya itu untuk memulai hidup baru. Sebuah percampuran antara kebahagiaan dan kesedihan memenuhi hatinya.
"Insya Allah, Ma." Naufal menjawab dengan mantap, meskipun masih ada keraguan yang tersembunyi di dalam hatinya.
Adelia tersenyum, sebuah senyuman yang dipenuhi kebijaksanaan dan kasih sayang seorang ibu. Ia mengusap kepala Naufal. "Anak Mama sudah tumbuh dewasa…" Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Ia menerima keputusan putranya, meskipun di dalam hatinya, ia merasakan kesedihan karena harus melepaskan putranya yang telah tumbuh dewasa dan siap untuk membangun keluarganya sendiri. Namun, kebahagiaan Naufal adalah prioritasnya.
"Kapan?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Adelia.
"Belum tahu waktunya. Pastinya harus bertemu papanya Sinta. Lalu juga harus bicara pada kakek, Om Kevin dan om Revan. Mengurus semua berkas juga permohonan izin menikah," jawab Naufal.
"Coba bicarakan besok dengan kakek. Telpon om Kevin dan Om Revan tentang rencanamu. Mintalah saran pada mereka."
"Siap, Ma."
"Istirahatlah.. Kamu pasti capek."
"Mama yang harus istirahat. Aku mandi dulu."
"Ya.. Terima kasih,Ma."
Adelia memeluk Naufal.
"Jadilah suami dan ayah yang baik," ia mengusap punggung Naufal penuh kasih sayang.
"Ya, Ma."
Naufal berdiri.
"Naufal.." panggil Adelia.
"Ya, ma.."
"Ini.. Apakah ini karena kamu ingin membawa adik bungsumu untuk tinggal bersamamu?" tanya Adelia. "Kakek menolak Raisa, tapi dia adalah adik kandungmu terlepas dari semua kesalahan yang dilakukan ibunya.."