Sekitar pukul setengah 2 siang, bus Rama berjalan keluar dari terminal Purabaya Surabaya menuju Madiun.
Rama duduk di sisi kiri bus bagian belakang pas di pinggir kaca jendela. Tempat duduk yang sengaja Ia ambil untuk menikmati perjalanan agar bisa melihat pemandangan di luar lewat kaca jendela bus.
Rama memandangi setiap rumah-rumah dan bangunan-bangunan di pinggir jalan yang terlewati. Sesekali Ia melihat sesuatu hal yang telah lama dirinya tidak lihat yaitu becak. Becak yang lengkap dengan si bapak tukang kayuh dan penumpangnya. Pemandangan yang sangat amat Ia rindukan.
Selama di Sulawesi, dirinya tidak pernah menemukan sarana transportasi tradisional beroda tiga yang masih sangat tradisional ini. Mungkin ada, tapi Ia tak tau dimana.
Ada becak yang telah di modernisasi. Bukan lagi menggunakan tenaga kaki untuk mengayuh, melainkan tinggal menggunakan tarikan gas dari tangan si tukangnya yaitu BENTOR. Kepanjangannya = Becak Bermotor.
....
Bentor adalah salah satu sarana transportasi yang paling populer di kota Gorontalo. Jika seseorang datang di Gorontalo, entah lewat jalur udara, laut dan darat, pasti bakalan disambut dengan abang-abang tukang Bentor yang agresif.
Rama pernah tiba di pelabuhan Gorontalo dan disambut meriah oleh abang-abang tukang bentor yang berebut desak-desakan minta tanda tangannya.
Ehh. RALAT !
Berebut desak-desakan menawarkan kepadanya untuk menggunakan jasa mereka.
Ada abang tukang bentor yang langsung memegang kopernya. Ada abang tukang bentor yang langsung memegang tas ranselnya. Sampai ada abang tukang bentor yang langsung memegang tangannya.
SUMPAH ABANG INI ROMANTIS BANGET !
....
Begitulah ke agresifan abang-abang tukang bentor di Gorontalo. Rama beruntung belum ada abang tukang bentor yang agresif sampai memegang tititnya. Kalo ada, SUMPAH INI SEREM !
....
Kembali ke bus.
Sekitar setengah jam Rama duduk di dalam bus menikmati setiap hal yang dilewati sepanjang jalan.
Tiba-tiba dirinya tak bisa menahan kantuk.
Butuh waktu perjalanan sekitar 2 jam setengah lagi untuk sampai di Madiun. Maka, apalah daya rasa kantuk itu mengalahkan ambisinya untuk mendapatkan kenalan cewek tjakep di dalam bus. Yang ada dirinya malah kenalan dengan kondektur bus yang nampak kusam, lesuh, tak terawat dan kemungkinan besar asem bau ketek mematikan karena belum sempat pulang ke rumah untuk mandi.
....
“Mas, uang karcis mas ?” Kondektur bus berusaha menghalangi niat tidur dirinya.
“oohh iyaa, berapa mas ?” balas Rama judes. Dengan jurus siap antisipasi serangan virus ketek.
“lima puluh mas ....” dia balik membalas dengan judes juga.
Sepertinya dia tau kalo Rama sedang mengantisipasi serangan bau ketek dia.
Rama langsung segera mengambil uang di dompetnya secepat mungkin. Ia takut akan terjadi pertempuran virus ketek dengan virus jomlo di dalam bus jika berlama-lama interaksi.
“nih mas ...” Rama memberikan selembar uang 50 ribu kepada kondektur. Kemudian langsung dia ambil dengan cepat.
“ENYAHLAH MAS !” dalem hati Rama.
Akhirnya Ia selamat dari serangan virus ketek dan bisa tidur dengan tenang.
....
Rama berhasil tidur kurang lebih 2 jam dengan posisi duduk. Tas ransel miliknya masih ada dalam dipelukan, dan yang paling penting melebihi apapun baginya saat itu adalah dompet.
Rama bahagia gak ada copet di bus itu.
Sebenarnya dirinya sempat mencurigai orang di sampingnya yang sejak pertama seolah berusaha akrab dan melakukan kontak mata yang berlebihan kepadanya. Asumsi Rama ada 2 kemungkinan :
Pertama.
Dia pencopet tipe hipnotis yang gagal.
Kedua.
Dia SUKA kepada Rama.
Tapi ternyata semuanya tidak terbukti.
....
“Madiun ... siap-siap Madiun ... kami gak masuk terminal ... ” si kondektur teriak-teriak dari pintu depan bus.
Teriakan itu menandakan bahwa Rama dan penumpang lain yang memiliki tujuan sama yaitu kota Madiun harus siap-siap bergegas untuk enyah dari bus.
Rama langsung teringat teman lamanya yang memaksa dirinya pulang kampung ke Madiun dan bakalan menjemputnya jika sudah sampe terminal Madiun.
Migus.
Ya. Migus.
Sekali lagi.
MIGUS.
BUKAN INGUS YA.
....
Rama langsung menelpon Migus.
Dirinya tak mau terlantar sore-sore di pinggir jalan sebagai anak ganteng yang dibuang dari bus tercuci otak oleh kondekturnya dan tak tau lagi ada dimana.
“tuuutt .... tuuuutt .... tuuttt .... Hallo.. Assalamualaikum ?” jawaban dari telpon Rama ke Migus.
“Hallo... waalaikumsallam ... Broo, iki aku wes meh medon terminal. (Broo, ini aku udah mo turun di terminal)”
Rama menyampaikan pesan moral si kondektur bus ke Migus kalo dirinya sebentar lagi bakalan diturunin di pinggir jalan depan terminal Madiun.
“ohh iyoo wes broo, diluk maneh mrono ... (ohh iyaa broo, sebentar lagi kesitu)” balas Migus meyakinkan dirinya tapi Ia gak yakin.
“okee broo, ojo suwe-suwe yoo. (okee broo, jangan lama-lama yaa.)” bales Rama ragu. Kemudian memutuskan hubungan telpon mereka.
"tuuut tuuut tuuuuut".
....
“Madiun... Madiun... Madiun...” si kondektur bus berteriak-teriak lagi.
Beberapa saat kemudian bus pun berhenti. Persis seperti apa yang si abang kondektur sampaikan. Busnya tidak masuk ke dalam terminal. Bus berhenti deket pintu keluar terminal. Rama dan penumpang lain diturunkan di pinggir jalan itu.
FIX. RAMA MERASA MEREKA SEPERTI KORBAN PENCUCIAN OTAK DARI DALAM BUS.
....
Di pinggir jalan itu, satu persatu orang-orang penumpang bus, dijemput oleh keluarga, teman dan ada yang langsung mencari jasa ojek untuk sampai ke rumah tujuan mereka dan beristirahat dengan tenang.
Hingga tersisa Rama bersama satu orang om-om di pinggir jalan itu. Beberapa ojek berhenti menghampiri dan menawarkan jasa ke mereka, tapi ditolak karena mereka sama-sama sedang menunggu jemputan seorang teman.
Kesamaan itu menjadi suasana romantis antara Rama dan om-om itu selama di pinggir jalan.
....
Pucuk dicinta, Migus pun tiba.
Rama melihat sosok pria dengan motor bebek berhenti di seberang jalan menatap ke arahnya. Pria itu menengok ke kanan dan kiri kemudian menyebrang ke arahnya.
“Bro?” sapa Migus kepada Rama dengan tatapan keraguan.
“iyooo, Migus?” bales Rama pun dengan penuh tanya.
“iyoo bro, ayoo wes...” Migus langsung menyuruh Rama naik ke motornya.
Rama langsung naik ke motor Migus dan meninggalkan cerita romantis bersama om-om di pinggir jalan itu.
“sorry bro, aku jek tas muleh kerjo.. wes suwi ngenteni yo ? (sorry broo, aku baru pulang kerja. Sudah lama menunggu ya ?)” kata Migus kepada Rama. Dia menyadari kesalahannya.
“Oalaah, gak kok. Gak opo-opo. Santai aee... (oohh, enggak kok. Nggak apa-apa. Santai saja...)” balas Rama memaafkan Migud dengan ganteng.
“wes mangan urung bro ? (sudah makan belum bro ?)” tanya Migus kepadanya serius.
“belum, mampir mangan sek yo ? (mampir makan dulu ya?)” balas Rama.
“yowes, mampir mangan cedak omah ae yo? (yaudah, mampir makan di dekat rumah saja ya?)” kata Migus
“sakarepmu lah... (terserah kamu lah)” balas Rama yang memang tak tahu mau kemana. Cukup mengikuti tujuan Migus akan membawa dirinya kemana.
Rama pasrah.
Ia lelah.
Butuh Cinta(h).
(BUKAN DARI MIGUS TAPI YA)
...
Rama dan Migus berbincang-bincang di sepanjang jalan tanpa henti.
Migus membawa dirinya ke masa lalu. Migus bernostalgia tentang jaman mereka masih anak-anak dulu, saat tititnya masih belom ada dan hidungnya belum tumbuh.
Migus bercerita banyak hal.
Dia membawa Rama melewati jalan-jalan dan tempat-tempat yang dulu adalah tempat bermain dan jalan-jalannya bersama temen-temen SD lainnnya di Madiun.
SUNGGUH, RAMA JADI BAPER ATAS SEMUA ITU.
Migus adalah pria yang punya ingatan cukup baik, bahkan dia masih inget nama lengkap Rama dengan fasih dan benar.
Sementara Rama, yang sejak pertama kali Migus temukan di facebook sampai sekarang tetap masih tak bisa mengingat siapa Migus. Rumahnya dimana, nama bapak ibunya siapa, hobby dia apa, kolor favorite dia warna apa, Rama benar-benar lupa.
LUPA.
Padahal mereka sering mandi sungai bareng (baca = telanjang bareng) dulu kata Migus.
Rama sepertinya punya dosa yang begitu banyak, sampai dirinya lupa dengan sahabat kecilnya sendiri. Migus Jumangin.
....
Tak lama, akhirnya mereka berhenti di satu warung makan mie ayam.
Mata Rama berbinar, perut Rama bersinar. Sungguh pilihan yang tepat untuk rasa laparnya. Migus memang paling mengerti perasaannya waktu itu.
“bro, eling ora warung ki ? (bro, ingat gak tempat ini ?)” Migus melempar pertanyaan membingungkan kepada Rama.
“warung iki ? enggak” jawab Rama singkat dan benar-benar tak ingat.
“mbiyen koe traktir aku mangan neng kene. Moso ora eling ? (dulu kamu traktir aku makan disini. Masa gak inget ?)” kata Migus.
Lagi-lagi Migus membawanya ke masa lalu.
Kali ini masa lalu yang menggelikan.
Rama bingung kenapa dirinya bisa mentraktir Migus makan di warung mie ayam itu hanya berdua waktu dulu. Kemudian sekarang Migus membawa dirinya makan berdua lagi disini dengan kondisi telah dewasa.
PERASAAN RAMA MULAI GAK ENAK.
....
Setelah 30 menit makan mie ayam (berdua), mereka langsung menuju kerumah Migus.
Dirinya merasa butuh mandi untuk mengembalikan ketampannya yang telah terenggut oleh angin dan udara di jalanan. Rama merasa selama di dalem bus Ia sedikit terkena virus ketek si abang kondektur bus.
….
Tak perlu istirahat yang lama setelah perjalanan dari Surabaya, di malam hari itu juga Rama diajak ketemu teman-teman anak kompleks RT 11 nya dulu. Kata Migus mereka sering nongkrong di warung kopi perempatan jalan raya dan sudah janjian mo ketemu malam itu.
Rama siap keluar bernostalgia bersama Migus dan temen-temen lama semasa SD nya dulu.
Sebelum ketemu mereka, Rama meminta Migus untuk membawanya ke tempat jual beli oleh-oleh khas Madiun untuk dibawa pulang. Rama takut kelupaan karena menyadari dirinya benar-benar manusia pelupa. Saking pelupa nya, Ia lupa kalo dirinya gak punya pacar waktu itu (baca = jomlo).
....
Migus benar-benar orang yang bisa di andalkan. Dia langsung membawa dirinya ke toko oleh-oleh makanan khas Madiun dan sambil keliling kota Madiun di malam hari. Sungguh suatu suasana yang sangat amat berbeda.
Beberapa tahun yang lalu Rama ingat, dirinya bisa bareng Oma, Opa dan keluarga untuk jalan-jalan malam keliling kota Madiun. Main bom-bom car di plaza kota, kemudian makan sate dan menikmati malam di alun-alun, hingga dirinya terkantuk-kantuk barulah mereka pulang kerumah.
Di saat itu Rama menyadari, jika Ia udah gede. Begitupun tititnya. Eh.
….
Rasanya gak akan mungkin lagi kalo opa oma atau papa mamanya bakalan mengajaknya melewati malam bersama lagi, kemudian menunggu dirinya hingga ngantuk baru pulang kerumah. Yang ada malah mereka yang ngantuk duluan dan dirinya yang membawa mereka pulang ke rumah.
Dan, taak mungkin lagi jika dirinya dan Migus bakal telanjang mandi di sungai bareng, kemudian lompat-lompatan menceburkan diri dari atas sungai yang bisa membuat mereka begitu berbahagia. Yang ada kami akan dikira orang gila dengan titit yang keliatan mencolok kesana kemari.
Atau kami lebih dikira SILUMAN ULAR HOM*.
....
Setelah keliling kota Madiun dan membeli beberapa oleh-oleh buat Ia bawa pulang, Migus membawa Rama menuju tempat nongkrong temen-temen kompleks semasa SD nya dulu.
Sekitar 10 menit pejalanan, sampailah mereka di depan warung kopi lesehan dekat perempatan lampu merah yang tidak jauh dari kompleks rumah.
Rama melihat ada 2 orang cowok yang tidak asing di mata dan ingatannya. Ada Fian dan Dewo, teman kompleks RT 11 nya dulu.
Mereka sudah gede. Sama seperti dirinya. Ia pikir yang tumbuh berkembang di dunia ini cuman dirinya.
....
Rama dan Migus berjalan langsung dan bersalaman ke Fian dan Dewa (Dewo). Suasana hangat langsung terjadi di meja itu.
“jamput, yo teko temen arek ki ... (sial, datang juga anak ini) ” kata Fian kepadanya sambil memberikan pelukan kangen seorang teman lama yang bertemu lagi. Bukan pelukan cinta. BUKAN.
“iyooo lah, kangen aku ...” bales Rama dengan pelukan ke Fian juga.
Jadi, Fian adalah teman seangkatan Rama namun berbeda kelas di waktu SD dulu. Rumah Fian satu jalur dan tak jauh dari rumahnya dulu di RT 11. Dulu Rama sering sekali kalau malam hari bermain di rumah Fian hingga larut dan sampai dijemput pulang dengan dijewer telinganya sama Oma nya.
Mereka sering ke masjid bersama, mandi hujan bersama, bersepeda bersama, sampai mencuri jambu dan rambutan di masjid bersama. Ya. Fian adalah salah satu tim kriminal Rama di masa kecil dulu.
Pertemanan di kecil mereka belum mengenal dosa.
....
Kemudian si Dewa atau Dewo.
Dewo adalah adik kelas Rama di sekolah waktu SD. Dewo sebenarnya lebih tua dari Rama. Katanya sih dia 2 kali gak naik kelas gara-gara malas ke sekolah, tapi Rama gak tau itu benar atau enggak.
Yang jelas yang dirinya ingat Dewo punya bapak. Bapaknya adalah preman tatoan di kompleks RT 11 yang paling seram untuk Ia liat wajahnya waktu dulu. Rama gak tau apakah bapaknya masih jadi preman atau sudah insyaf yang jelas dirinya gak mau cari masalah dengan dia (Dewo). BAHAYA. ....
“Piye kabare wo ? (bagaimana kabarnya wo?)” tanya Rama ke Dewo.
“apik-apik aae. (baik-baik saja)” bales Dewo singkat, pelan, dengan volume rendah, kemudian senyum-senyum nyengir memperlihatkan giginya kepada Rama.
Entah mengapa, Rama merasa DEWO ANEH malam itu.
...
Akhirnya di warung kopi malam itu mereka berempat berbincang-bincang nostalgia tentang jaman SD dulu. Rama bertanya tentang teman-teman SD lainnya ke Fian dan Migus. Ternyata banyak temen cewek SD nya yang sudah menikah, lainnya ada yang sudah bekerja di luar kota, ada yang kuliah, dan ada yang pengangguran kayak si Fian sendiri.
Dasar Fian. Dari dulu memang pemalas.
....
Tak terasa kami ngobrol sampai tepat jam 12 malam. Rama merasa harus mengakhiri reuni bersama 3 teman lamanya dengan meminta pulang. Ia merasa butuh istirahat setelah terluntang lantung dari Surabaya hingga Madiun.
Ada satu hal yang benar-benar membuat Rama merasa aneh diperbincangan malam itu. Dewo.
Dewo tak pernah bicara. Dewo hanya senyum-senyum terus selama mereka ngobrol. Dewo cuman memandang Rama terus-menerus sejak datang hingga pulang. Dewo seperti orang yang malu-malu pas ketemu Rama. SUMPAH ! DEWO ANEH BANGET. ....