Pulang (bagian III)

01 March 2026

Keesokan harinya di Madiun.

    Rama berinisiatif untuk berjalan-jalan pagi hari sendiri di kompleks RT tanpa Migus. Rama mencoba menikmati suasana pagi kompleks yang udah 8 tahun Ia tinggalkan. 
    Pertama, Rama berjalan menuju rumahnya dahulu yang sekarang sudah dimiliki oleh orang lain. Dari luar, tampak tak banyak yang berubah dari rumah itu. Hanya saja sudah terpagar tinggi dengan cat berwarna hijau cerah. 
    Rama masih bisa merasakan suasana bagaimana rasanya bermain mobil-mobilan di halaman depan rumah yang luas dan masih tanah, namun saat itu sudah di semen. Rama masih ingat suasana main genjot-genjotan di atas motor opa nya dulu yang terparkir di atas lantai teras rumah. 
    Pohon mangga di halaman rumah juga masih ada. Ia ingat kalo dirinya pernah gagal menjadi monyet di pohon mangga itu (di tulisan rujak buah).
    ....

    Rama melanjutkan jalan-jalan pagi saat itu. Ujung ke ujung, rumah ke rumah, tempat demi tempat, hati demi hati telah Ia lewati. Ehh (?)
    ....
    Sampai akhirnya Ia berhenti di perempatan dan duduk sendirian di deker yang ternyata masih ada dari dulu sampai sekarang. 
    Rama yang sendirian duduk di deker itu membuat orang-orang kompleks yang lewat memandangnya dengan curiga. 
    Mungkin mereka mengira dirinya teroris yang berniat meledakkan diri di perempatan itu. Atau mungkin juga mereka mengira Rama adalah anak yang terseat. 
    Lebih tepatnya.
    JOMLO TERSESAT. 
    ....

    Di perempatan itu Rama melihat sosok guru yang tak pernah bisa Ia lupakan, namanya mas Gin (ustad Gin).
    Mas Gin adalah pemilik masjid di kompleks RT 11 dan beliau adalah guru ngajinya selama tinggal di komplekas RT 11 itu. Rama langsung mendekati dan menyapa beliau.
    “assalamualaikum...” Rama menghampiri dan menyapa ustad Gin dan bersalaman.
    “waalaikumsallam...” ustad Gin membalas salam Rama dengan ekspresi bingung.
    “Rama mas Gin, putune pak nurdin seng pindah teng sulawesi mbiyen... (Rama mas Gin, cucunya pak Nurdin yang pindah ke Sulawesi dulu. )” Rama berusaha menjelaskan jika dirinya bukan teroris.
    Rama hanya anak yang terasingkan.
    “Astagfirullah ! Masya Allah ... RAMA !” Balas ustad Gin kaget terpingkal-pingkal. 
    Ehh RALAT. 
    Mas Gin kaget sekaget-kagetnya.
    Heran seheran-herannya. 
    Laki selaki-lakinya. YAIYALAH.
    ….

    Seketika itu juga mas Gin langsung membawa Rama ke warung kopi yang tepat di sebelah perempatan. Dia langsung memperkenalkan Rama ke semua orang yang ada di warung kopi pagi itu.

Suasana warung kopi menjadi ribut dan heboh tentang keberadaan Rama disana. Rama seperti makhluk langka yang sedang jadi trending topik di tipi, kemudian tiba-tiba ditemukan berada di Madiun Kecamatan Wungu Kelurahan Munggut warung kopi perempatan RT 11. Beberapa orang terlihat liar ingin men-kadangkan Rama di rumah mereka untuk dipelihara. SUMPAH INI SEREM. ....

    Akhirnya banyak orang kompleks yang telah tahu siapa Rama sebenernya. Rama pun langsung mendapat banyak tawaran syuting. 
    RALAT. 
    Rama pun langsung mendapat banyak tawaran ngopi di warung kopi itu. Ustad Gin langsung memesan kopi susu untuk Rama, kemudian menginterogasinyaa di warung bersama orang-orang lainnya. Rama di hujani banyak pertanyaan dan pernyataan, seperti acara talkshow satu jam bersama Rama di warung kopi mbak Yuni. Meriah sekali. Membuat Rama terharu. 
    ....

    Setelah merasa cukup acara talkshow satu jam bersama Rama di warung kopi itu, Rama meminta pamit ke ustad Gin mau ke rumah teman lamanya di kompleks itu yaitu Rizky untuk bertemu kangen dengannya dan teman-teman semasa kecil lainnya.
    “ohh iyaa udah gak apa-apa. Nanti malem ke masjid ya rama...” kata ustad Gin kepadanya. 
    “iyaa mas, Insya Allah ... ” balas Rama dengen ganteng. 
    Rama keluar dari warung kopi itu dengan semangat dan selamat. 
    ....

    Pagi itu setelah ketemu ustad Gin, dirinya berhasil ketemu Rizky dan Okik temen sepermainan di kompleks dulu. Mereka sudah gede. Lebih gede darinya. Mereka terlihat tumbuh dengan proses pertumbuhan yang baik. Berbeda sekali dengan dirinya yang berat badan tidak pernah bisa lewat dari 55 kg. Huft. 
    Sekitar 30 menit mereka ngobrol reunian, kemudian Rama langsung menuju ke rumah Fian. Mereka sudah janjian semalam di warung kopi, Fina mau membawa Rama ketemu temen-temen SD lainnya. Karena kebetulan Fian lagi menganggur di rumah pada pagi hari sampai siang. Berbeda dengan Migus yang lebih memilih pekerjaannya dari pada Rama waktu itu. YAIYALAH MAS.
    ....

    Rama meninggalkan Rizky dan Okik dan tiba di rumah Fian pas pukul sembilan. Faktanya ternyata Fian belum bangun pagi itu. Rama harus menunggu Fian dibangunkan dan mandi. Akhirnya lagi dan lagi Rama talkshow bersama keluarga si Fian tentang kehidupannya dan keluarga di Sulawesi. Huft.
    ....

    Sekitar jam 11 lewat, Fian baru siap membawa dirinya berjalan mencari dan menemukan temen-temen Sekolah Dasar yang dulu bersama kini terpisah. Sayangnya, Rama hanya bisa menemukan dua orang temen semasa SD lainnya di waktu itu. 
    Yang pertama Fajar. 
    Anak yang dulu paling gendut di sekolah pada masa itu dan paling banyak uang jajannya dari pada dirinya. Yang paling Rama ingat dari Fajar adalah kesukaan dia pada mobil-mobilan, dan sepertinya sampai sekarang. 
    Kedua adalah Catur. 
    Siang itu Rama berhasil ketemu Catur. Cewek yang pernah jadi idola semua cowok-cowok SD waktu itu. Dan yang memberikan ucapan perpisahan kepadanya ketika penerimaan raport kelas V (baca : pindah). Catuk masih tjakep seperti yang dulu. Catur masih putih seperti yang dulu. Catur masih lebih putih kulitnya dari gue. 
    YAIYALAH MAS SEJAK KAPAN RAMA PUTIH.
    ....

    Catur datang pas Rama dan Fian lagi di rumah Fajar. 
    Perasaan Rama merasa bahwa Catur sengaja datang ke rumah Fajar untuk melihat sosok dirinya yang sudah cukup tampan tapi belum mapan ini. Atau mungkin tuhan telah sengaja mempertemukan dirinya dengan Catur untuk mengakhiri kejomloannya waktu itu. 
    RAMA BAPER FIX.
    ....

    Mereka berempat berbincang-bincang cantik siang itu karena kebetulan ada Catur yang cantik. Kalo gak ada Catur jadinya bincang-bincang gendut karna Fajar. 
    DASAR FAJAR GENDUT !
    ....
    Pertemuan mereka siang itu mengagendakan untuk bisa nongkrong bersama malam hari, kemudian mereka akan menghubungi teman-teman SD lainnya yang masih ada di Madiun untuk diajak bergabung. 
    Mereka janjian jam 8 malam bertemu di suatu Cafe yang Rama lupa namanya hingga tulisan ini terbit sekarang.
    RAMA BAHAGIA. 
    Karna Catur semangat untuk ikut kumpul malem itu bersamanya.
    ....

    Malam harinya.

    Sebelum agenda kumpul bersama, Rama tidak lupa harus melunasi janji kemerdekaannya kepada ustad Gin untuk main ke masjidnya yang sudah terbangun indah dan lumayan mewah, meskipun masih belum selesai di beberapa bagian bagunan. 
    Di masjid, ustad Gin membawanya menelusuri setiap sudut mesjid yang dulu jadi tempatnya mengaji sekarang jadi lebih megah. 
    Suasana masjid itu masih seperti yang dulu. Rama benar-benar jadi merindukan masa kecilnya. Semua memori-memori di masa SD seakan kembali dan membuatnya merasa menjadi anak kecil lagi saat itu.
    Rama di masjid itu dari maghrib sampai selesai sholat Isya. Kemudian bersama Migus harus pamit ke ustad Gin menuju cafe bersama Fian dan Dewo. Dengan harapan bakal ketemu temen SD lainnya disana. 
    ....

    Di cafe.

    Rama bersama Migus, Fian bersama Dewo tiba lebih dulu. Mereka langsung mencari meja yang kosong untuk reuni anak SD yang sudah dewasa kini. Kedatangan mereka berempat menjadi perhatian pengunjung-pengunjung di meja-meja lain.
    Mereka berempat kayak pasangan h*m* yang lagi double date. 
    KAMPRET !
    Menu pesenan mereka berempat sama dengan kalimat yang sama. "Aku samain aja (pesanannya."
    MAKIN KAMPRET !
    ....

    Sampai 15 menit kemudian akhrinya Catur datang. Dia datang bersama temannya cewek juga yang mereka berempat tidak kenal. Persetan dengan temannya, Rama fokus ke Catur aja. 
    “wes suwi ? ndi seng liane ? (sudah lama ? mana yang lainnya ?)” tanya Catur langsung bergabung di meja mereka berempat. 
    Rama bahagia. 
    Catur menyelamatkan mereka berempat dari anggapan para lelaki yang sedang double date di malam itu. 
    “gak tau, mana Fian teman-teman lain ?” tanya Rama ke Fian mencari jawaban atas pertanyaan Catur.
    “Fajar, gak iso. Andry kerjo. Kiki jarene nyusul rene (Fajar gak bisa, Andri kerja, kiki katanya bakal nyusul kesini.)” Jawaban Fian. 
    Itu menjelaskan bahwa sepertinya malam itu hanya menjadi malam mereka berlima ditambah 1 orang cewek temennya Catur yang mereka gak tau siapa. Gak penting.
    Akhirnya hanya mereka berlima yang ngobrol di cafe malam itu.
    Mereka berbincang-bincang dengan banyak hal. 
    Mulai dari pertanyaan sudah punya pacar atau belum, jawaban mereka berlima sama. 
    BELUM PUNYA.
    .....

    Sampai dengan pertanyaan kapan nikah keluar dari mulut Rama. Dan, Rama masih ingat jawaban Catur waktu itu.
    “Belom ada yang lamar... hehehe” sambil senyum manyun-manyun malu. 
    Kata-kata itu bagi Rama adalah pertanda sebuah peluang pria manapun, siapapun, makan kalkun, minta ampun yang melamar Catur berarti akan langsung dia terima jadi suaminya. 
    Umur Rama saat itu baru 19 tahun. Di ATM nya cuman ada 400 ribu. Anang dan Ashanty lagi di Jakarta. (GAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN MEREKA)
    OHH.. SUNGGUH TAK BISA TERJADI LAMARAN DADAKAN MALAM ITU.
    ....

    Akhirnya Rama hanya bisa bercanda. 
    “nanti aku lamar mau gak ?” ucapnya ke Catur sambil manyun-manyun.
    “hehe apa sih kamu ini ...” bales Catur malu dengan manyun-manyun. 
    Cukup seru penuh hangat suasana di meja mereka malam itu. 
    Penuh canda dan nostalgia yang terus terang membuat Rama betah bersama mereka. Rama jadi belum ingin cepat kembali ke Surabaya pada esok hari.
    Rama jadi ingat waktu SD dulu. 
    Dimana dirinya, Migus, Fian, dan temen-temen cowok lainnya, kita paling malu dan gak berani buat deketin Catur. Seolah kita beda kasta. Beda kingdom, beda spesies, dan beda kelamin. YAIYALAH.
    ….

    Catur seperti begitu spesial di waktu SD dulu. Mengalahkan spesialnya rasa terang bulan yang dibuat mas Yono. Salah seorang pedagang terang bulan di sekolah waktu dulu. 
    Menurut Rama di waktu SD, orang yang bisa kenal dan pacaran dengan Catur itu, akan merasa bahagia melebihi dari bahagianya dapet juara 1 umum lomba makan pisang tingkat kebun binatang Surabaya.   
    Di malam itu, semua berubah. 
    Mereka berlima sama. Mereka telah dewasa. Mereka bukan lagi seorang anak kecil yang harus malu untuk berteman dan dekat dengan siapapun.  
    Rama merasa bener-benar sudah gede. 
    Malam itu pun selesai.
    ....
    Tetapi ada satu hal yang masih membingungkan di kepala Rama. Yaitu sosok Dewo. 
    Dewo masih sedikit bicara. 
    Dewo hanya senyum-senyum selama mereka ngobrol. Dewo memandang ke Rama terus di cafe itu.  Dewo kayak orang yang jatuh cinta melihat Rama. 
    SUMPAH. GUE MULAI CURIGA DEWO HOM*.

….