Ketika malam reuni berlima di Cafe, mereka sepakat berencana untuk bersepeda bersama esok paginya. Namun seakan semesta merestui keinginan Rama segera menikahi Catur. Migus harus ke kantor ada panggilan kerja mendadak. Fian, jangan tanya lagi. Tak bisa bangun pagi. Dewo ? ah entahlah. Sepertinya ia benar hom*. Rama merasa harus menjaga jarak dengannya. Haha. ....
Keesokan paginya.
Rama penuh semangat dan antusias ketemu bersepeda berdua dengan Catur. Dirinya sudah bangun sejak subuh. Karena momen itu adalah momen yang tidak bisa dilewatkan.
Meskipun tak mandi, Rama berusaha tampil semaksimal mungkin. Selain parfurm yang banyak, deodoran juga harus banyak.
Berbahaya jika nanti sudah berhenti sepedaan, terus Rama dan Catur duduk berdua di taman tiba-tiba...
“ini kok seperti ada aroma virus mematikan ketek seorang jomlo ya?” kata Catur kepadanya.
“ ITU ! SEPERTINYA ABANG ITU!” jawab Rama sambil nunjuk abang-abang supir angkot yang lewat.
....
Sekitar jam 6 pagi Rama mulai keluar mengayuh sepeda menjemput Catur di rumahnya meminjam sepeda si Migus. Dan, ternyata Catur sudah menunggu dan langsung siap bersepeda menyusuri kota bersama Rama.
Mereka berdua bersepeda menyusuri jalan, menuju alun-alun kota Madiun.
Rama merasa mereka sangat mirip seperti iklan minuman penambah ion tubuh (pokari swet) ala jepang dan kebun binatang.
Catur cewek cipit kulit putih bersepeda pagi hari sama persis seperti cewek jepang berangkat sekolah.
Dan Rama.
Cowok rabun jauh kulit sawo matang tidak mandi bersepeda pagi hari. Sama persis seperti manusia setengah monyet nyari kebun binatang.
....
Sekitar 30 menit mereka bersepeda sambil berbincang-bincang, akhirnya di alun-alun kota Madiun. Rama dengan sigap mencari tempat duduk yang terbaik untuk berdua. Mereka duduk di salah satu bangku alun-alun.
Saat itu Rama meliat Catur sepertinya kehausan. Maka sebagai pria sejati, Rama langsung mencari dan membeli minuman untuk Catur. Buat dirinya sendiri juga. Gak lucu kalo nanti dirinya tiba-tiba pingsan kehausan juga.
CEMEN BANGET ! ....
Rama dan catur berbincang banyak hal di alun-alun kota Madiun pagi itu yang sejuk dan cerah. Tentang pekerjaan, tentang mantan, tentang keinginan menikah kapan, dan keinginan punya anak berapa. Nampaknya Rama sangat agresif dan benar-benar ingin memastikan dirinya layak untuk menjadi kandidat calon suami Catur sesegera mungkin. Dirinya tak ingin waktu bersama Catur di bangku alun-alun kota Madiun itu cepat berakhir. Rama ingin meminta bantuan doraemon memberikan mesin berhenti waktu. Namun tetap saja tak terasa matahari semakin tinggi di atas kepala mereka.
Mungkin bagi Catur, panas matahari tidak begitu menciptakan perubahan pada kulitnya yang putih. Sementara Rama, yang berjemur beberapa menit saja dibawah terik panas matahari bisa langsung berubah jadi siluman pantat panci. Hitam pekat.
Maka Rama harus segera meminta pulang ke rumah.
Rama menyadari harus mepersiapkan diri kembali ke Surabaya di siang itu. Maka mau tidak mau, siap tidak siap, malang melintang kutilang, harus mengakhiri iklan minuman isotonik dengan peran tak seimbang bersama Catur.
....
"Balik yuk. Aku harus kembali ke Surabaya siang ini." ucap Rama kepada Catur yang penuh kegalauan dan mengharapkan ciuman perpisahan ke Catur.
Akhirnya mereka kembali mengayuh sepedanya mulai berjalan meninggalkan alun-alun kota Madiun menuju Rumah. Catur ke rumahnya. Rama ke rumah Migus.
"Semoga kita bisa berjumpa kembali pas aku siap melamar ya tur.." kata Rama ngegombal di depan Rumah Catur sebelum meninggalkannya. Rama ingat, Catur membalas kata-katanya dengan senyuman malu-malu terindah yang seakan mengatakan.
"Demi bulan dan bintang, aku siap menunggumu mas Rama."
....
Akhirnya mereka berpisah. Catur sudah dirumahnya. Rama harus lanjut mengayuh kampret kerumah Migus. Ia sadar harus mengejar waktu bahwa sebentar lagi harus pergi dari kota itu dan meninggalkan teman-teman masa kecil dulu yang masih ada.
....
Di perjalanan pulang menuju Rumah Migus, Rama masih mampir ke rumah salah satu temen lama yang jago main bola, dan punya lompatan paling jauh tiap olahraga lompat jauh. Namanya Kiki. Seorang teman SD yang dulu ngasih nomor telpon rumahnya sebelum perpisahan di waktu penerimaan raport kelas V dulu.
Si Kiki adalah teman cowok yang bisa melompat sampai 3 meter jauhnya. Beda dengan dirinya, lompat terjauh yang pernah dicapai cuman 1,5 meter penuh dengan kotor.
Tapi Rama yakin, sejauh apapun Kiki melompat, dia gak bakal bisa melompat dari lantai 5 mall ke bawah. YAIYALAH MAS.
....
Rama bertemu Kiki di rumahnya, berkat Catur.
Mereka mengobrol beberapa menit saja saat itu dan satu kata yang Rama ingat Kiki bilang kepadanya adalah “WES GANTENG REK Gak kayak dulu.”
“INGUSAN” kata Kiki.
“MAKASIH KI” balas Rama ketus.
....
Rama langsung pamitan ke Kiki dan berharap bisa bertemu lagi di waktu dan tempat yang baik untuk kembali nostalgia masa kecil mereka dahulu.
Rama juga memberikan kontak handphonenya untuk dapat terus terhubung dan menyampaikan bahwa dirinya akan pulang beberapa hari lagi ke tempat tinggalnya sekarang di Luwuk Banggai Sulawesi Tengah.
Pagi itu menjadi sebuah momen romantis sekaligus reuni pertemuan singkat dan perpisahan gue (lagi) bersama Kiki dan Catur dan teman-teman lainnya. Entah kapan Rama akan bisa kembali bertemu lagi mereka.
Teman 10% Manusia nya.
....
Rama melanjutkan mengayuh sepedanya menuju rumah Migus.
Bersiap-siap mulai dari mandi sampai dengan pakai deodoran sebanyak-banyaknya. Kemudian bersiap kembali ke Surabaya.
Sekitar jam 11 Rama berpamitan kepada Bapak Ibu nya Migus dan penuh harap bisa sering ke Madiun, ke rumahnya.
“Semoga umur panjang bisa kesini lagi ya bapak ibu..” ucap Rama pamitan dan meninggalkan bapak ibunya Migus.
....
Kemudian Rama berjalan kaki menuju rumah Fian. Karena Fian adalah teman yang sudah berjanji untuk mengantarkannya ke terminal bus menuju Surabaya. Mereka berangkat menuju terminal bus Madiun siang itu.
Sekitar 15 menit, mereka tiba di Terminal tanpa basa-basi dan langsung dapat bus yang siap berangkat menuju Surabaya.
Rama segera turun dari motor dan pamit ke Fian. Gue juga kirim salam ke semua temen-temen lain yang belum sempet ketemu.
Rama memeluk Fian.
Tanpa ciuman.
Tanpa tangisan.
ITU LEBAY !
….
“Sampai ketemu lagi broo…” kata Rama berpamitan kepada Fian.
Rama langsung naik ke bus tujuan Surabaya yang sudah siap langsung berangkat.
Dalem hatinya.
“Pantes aja bus langsung berangkat.”
Di dalem bus ternyata sudah penuh penumpang dan berdiri desak-desakan. Rama melihat ada Ibu-ibu, bapak-bapak, om-om, tante-tante, anak-anak dan JOMLO-JOMLO.
KAMPRET !
....
Ada satu hal yang belum rama ungkapkan dari romantisme bersepada bersama Catur menyusuri kota Madiun saat itu.
PANTAT KERAM DAN PEGEL.