Urban #Ojol #Taksol

Parfum Mantan di Jok Belakang

Penulis djoedo
01 March 2026

Jakarta dari balik kaca film enam puluh persen tampak seperti film bisu yang diputar dengan kecepatan 1,5x.

Aku duduk di balik kemudi Toyota Calya, terbungkus dalam gelembung udara bersuhu dua puluh derajat Celcius. Di luar sana, di aspal Sudirman yang mulai memanas, ribuan motor berebut celah sempit di antara bus TransJakarta dan mobil-mobil SUV hitam mengilap. Keringat, debu, dan sumpah serapah bercampur menjadi satu adonan nasib yang dulu akrab di kulitku.

Namun kini, aku terpisah.

Jean Baudrillard benar. Mobil ini bukan sekadar alat transportasi. Ini adalah Simulacrum. Sebuah ruang simulasi yang meyakinkan penumpangnya bahwa mereka tidak sedang berada di negara tropis yang polusinya bisa dikunyah. Di sini, di dalam kabin beraroma "Stella Jeruk" yang bercampur bau jok sintetis, kemiskinan di luar sana hanyalah tontonan. Sebuah Society of the Spectacle yang tayang live di kaca jendela.

"Mas, AC-nya bisa digedein nggak? Gerah banget, sih."

Suara cempreng dari jok belakang memecahkan lamunanku tentang filsafat sosial.

Aku melirik spion tengah. Seorang pria muda dengan kemeja flanel kotak-kotak dan kacamata bingkai tebal sedang mengipas-ngipas wajahnya dengan handphone. Padahal, bulu tanganku sudah merinding kedinginan.

Inilah spesies pertama hari ini: The Climate Controller.

"Siap, Mas," jawabku singkat. Tanganku memutar kenop AC ke angka tiga. Suara semburan angin menderu, menenggelamkan suara musik jazz lirih dari radio.

Pria itu kembali sibuk dengan ponselnya, mengetik dengan jempol yang bergerak secepat kilat. Mungkin sedang memarahi bawahan, atau sedang berdebat di Twitter tentang privilege. Dia tidak melihatku. Bagi dia, aku hanyalah ekstensi dari setir kemudi. Sebuah NPC (Non-Playable Character) yang tugasnya hanya menginjak gas dan rem.

Aku menurunkan penumpang itu di lobi sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD. Dia turun tanpa mengucapkan terima kasih, hanya membanting pintu sedikit terlalu keras.

Blep.

"Sama-sama, Mas. Semoga harinya menyenangkan," gumamku pada jok kosong.

Ponselku bergetar. Notifikasi masuk.

TING!

Orderan baru. Penjemputan di Lobby Ashta District 8. Tujuan: Apartemen Senopati Suites.

Jarak dekat. Tarif minimum. Tapi kawasan ini adalah ladang ranjau bagi driver pemula. Salah masuk jalur, kau akan dimaki satpam yang seragamnya lebih mahal dari baju lebaranku. Salah berhenti, klakson Alphard di belakangmu akan bernyanyi paduan suara.

Aku memutar kemudi, mengarahkan moncong Calya membelah kemacetan kawasan elit ini.

Di lobi Ashta, manusia-manusia "wangi" berseliweran. Wanita-wanita dengan lanyard Coach menggantung di leher, menenteng tumbler Corkcicle, dan berjalan dengan dagu terangkat. Pria-pria dengan potongan rambut undercut rapi dan sepatu loafers tanpa kaus kaki.

Inilah habitat The Haves. Dan aku, si Prekariat berkamuflase, sedang menyusup masuk.

"Atas nama Mbak Rina?" tanyaku saat kaca jendela turun.

Seorang wanita berdiri di tepi trotoar. Dia mengenakan blazer krem yang membalut kemeja putih sutra. Rok pensil hitam, sepatu hak tinggi yang ujungnya runcing bisa buat nancap paku. Rambutnya dipotong bob pendek, membingkai wajah yang tertutup kacamata hitam besar.

Dia mengangguk tanpa menoleh, sibuk menempelkan ponsel ke telinga.

"Iya, which is gue udah bilang ke tim marketing, kalau budget-nya dipotong, engagement-nya bakal drop, dong. Literally nggak masuk akal," ucapnya ke lawan bicara di telepon saat membuka pintu belakang.

Aroma parfum mahal langsung menyerbu masuk. Wangi bunga, sedikit kayu, dan... entahlah, wangi uang. Aroma ini membunuh bau Stella Jeruk dalam hitungan detik.

Aku membeku.

Suara itu. Intonasi yang agak sengau di ujung kalimat. Dan nama itu. Rina.

Mataku mencuri pandang ke spion tengah saat dia melepas kacamata hitamnya.

Jantungku, yang biasanya cuma berdetak untuk memompa darah, kali ini seperti tersandung batu.

Itu Rina. Rina "Gembul".

Mantan pacarku delapan tahun yang lalu. Saat kami masih sama-sama buruh pabrik di Cikarang. Rina yang dulu suka minta dibelikan cilok bumbu kacang pedas sepulang shift malam. Rina yang dulu menangis di boncengan Honda Beat-ku saat kontrak kerjanya tidak diperpanjang.

Sekarang, dia duduk di jok belakang mobil sewaanku, bicara soal budget dan engagement dengan bahasa campuran Inggris-Jaksel yang fasih. Kulitnya lebih cerah, polesan make-up tipis namun presisi menyamarkan gurat lelah yang dulu sering kulihat.

Dia sudah "naik kelas". Benar-benar naik kelas. Bukan sekadar naik mobil sewaan sepertiku.

"Pak, tolong lewat Gunawarman ya, jangan lewat Wolter Monginsidi, macet parah," perintahnya, masih sambil menatap layar iPad yang baru dikeluarkannya dari tas bermerek.

"Siap, Mbak," jawabku. Suaraku kubuat seberat mungkin, menekan logat bekasi-ku dalam-dalam. Topi baseball kutarik lebih rendah. Masker medis menutupi setengah wajahku.

Jangan sampai dia tahu. Demi Tuhan Digital dan segala algoritmanya, jangan sampai dia tahu sopir taksol ini adalah Bambang, mantan pacarnya yang dulu janji mau melamar kalau sudah jadi mandor tetap.

Mobil meluncur pelan keluar dari lobi. Hening sejenak. Rina sudah selesai menelepon. Dia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke jok.

"Panas banget ya Jakarta hari ini," gumamnya, lebih pada diri sendiri.

"Iya, Mbak. Global warming," sahutku asal, mencoba tidak memancing percakapan panjang.

Dia tertawa kecil. Renyah. "Bener. Eh, Pak... lagunya boleh diganti nggak? Jangan jazz. Ada playlist pop Indonesia 2000-an nggak?"

Permintaan yang spesifik. Dulu, kami sering mendengarkan Sheila on 7 lewat earphone yang dibagi dua di angkot.

Tanganku gemetar sedikit saat menyentuh layar head unit Android murah di dasbor. Aku mencari stasiun radio yang memutar lagu-lagu nostalgia.

Lagu "Dan" dari Sheila on 7 mengalun.

Dan... bila esok... datang kembali...

Di spion tengah, aku melihat mata Rina melebar sedikit. Dia menatap punggung kursi depanku.

"Pak..." suaranya berubah. Ragu.

Aku menahan napas. "Ya, Mbak?"

"Boleh tanya sesuatu?"

"Silakan."

"Bapak... dulu pernah kerja di Cikarang nggak?"

Mampus.

Insting lamanya masih tajam. Atau mungkin, cara mengemudiku yang suka ngerem mendadak di polisi tidur mengingatkannya pada boncengan motor bututku dulu.

"Cikarang luas, Mbak. Banyak pabrik," jawabku diplomatis. Mengelak adalah seni bertahan hidup.

"Suara Bapak..." Dia menggantung kalimatnya. Aku bisa merasakan tatapannya menembus belakang kepalaku. "Mirip seseorang."

Aku diam. Lampu merah di perempatan Senopati menyala. Mobil berhenti.

"Namanya Bambang," lanjutnya pelan. Ada nada nostalgia di sana, tapi bukan jenis nostalgia yang menyenangkan. Lebih seperti mengenang penyakit cacar air yang sudah sembuh. "Dia dulu... keras kepala. Idealistis. Suka baca buku tebel yang nggak ada gambarnya."

Aku mencengkeram setir. Buku tebel yang nggak ada gambarnya. Sialan. Koleksi sosiologiku dibilang begitu.

"Mungkin cuma mirip, Mbak. Nama Bambang di Jakarta kan pasaran. Kayak Avanza, di mana-mana ada," kelakarku, mencoba tertawa. Tawa yang terdengar kering dan palsu.

Rina tidak tertawa.

"Bams?" panggilnya.

Satu kata itu meruntuhkan pertahanan Society of the Spectacle-ku. Topeng pengemudi profesional retak.

Aku menatapnya lewat spion. Mata kami bertemu. Dia sudah condong ke depan, menatap bagian mata dan dahiku yang tidak tertutup masker.

Tidak ada gunanya bersembunyi.

Aku menurunkan masker sedikit. "Halo, Rin. Apa kabar?"

Hening.

Dunia di luar mobil terus bergerak. Klakson bersahutan. Orang-orang berjalan tergesa. Tapi di dalam kotak besi ini, waktu berhenti.

"Ya ampun..." Rina menutup mulutnya dengan tangan yang kukunya dipoles manicure rapi. "Beneran kamu? Bams? Jadi... kamu sekarang narik?"

"Ya, beginilah. Freelance," jawabku cepat, menggunakan istilah yang terdengar sedikit lebih elegan daripada 'buruh aplikasi'. "Lagi nyoba peruntungan di logistik transportasi."

"Gila..." Dia menggeleng pelan, kembali menyandar. Tatapannya menyapu interior mobil Calya ini. Dari jok kulit sintetis murah, tisu kotak gratisan dari bengkel, sampai holder HP yang agak miring. Tatapan inspeksi. "Aku denger kabar pabrik tutup dua tahun lalu. Kirain kamu pulang kampung."

"Jakarta terlalu seru buat ditinggalin, Rin," kataku sarkas. "Lagian, Gendis butuh sekolah di sini."

"Gendis? Oh... anak kamu?"

"Iya."

"Sama... Arum?"

"Arum udah nggak ada. Maksudku, udah nggak sama aku. Cerai. Tiga tahun lalu."

"Oh... sorry."

Percakapan mati lagi. Canggung. Dinding kaca yang tadi memisahkanku dengan dunia luar, kini muncul di antara jok depan dan jok belakang. Dinding kelas sosial yang tebal dan tak kasat mata.

Rina yang dulu makan mie ayam pinggir jalan bersamaku, kini adalah wanita karier yang khawatir soal budget perusahaan. Dan aku? Aku adalah orang yang mengantarnya pulang, mengharapkan bintang lima darinya agar akunku tidak anyep.

"Kamu... kelihatan sukses, Rin," kataku, mencoba memecah kebekuan saat mobil berbelok masuk ke pelataran apartemen mewah Senopati Suites.

"Biasa aja, Bams. Capek. Kerja di agensi tuh pressure-nya gila. Burnout mulu," keluhnya. Keluhan orang sukses. Keluhan yang terdengar mewah di telingaku.

Mobil berhenti di lobi marmer yang berkilauan. Doorman berseragam safari sudah siap membukakan pintu.

Rina merogoh tasnya. Mengeluarkan dompet panjang.

"Nggak usah, Rin. Pake Gopay kan tadi?" tolakku halus. Harga diriku yang tersisa melarangku menerima uang tunai darinya.

"Nggak, ini... buat Gendis," katanya, menyelipkan selembar uang merah-seratus ribu-ke sela-sela console box di dekat rem tangan. "Beliin es krim atau apa kek."

"Rin, nggak usah..."

"Ambil aja, Bams. Please." Dia menatapku. Tatapan kasihan. Itu yang paling kubenci. Tatapan seorang The Haves kepada The Have-Nots.

Pintu dibuka oleh doorman.

"Duluan ya, Bams. Take care," ucapnya, lalu turun.

Aroma parfumnya tertinggal. Wangi bunga dan kesuksesan yang menyesakkan dada.

Aku melihat punggungnya menjauh, masuk ke dalam lobi kaca yang dingin, ditelan oleh kemewahan yang tidak akan pernah bisa kumasuki kecuali sebagai pengantar paket atau sopir.

Aku melirik uang seratus ribu di dekat rem tangan. Gambar Soekarno-Hatta tersenyum ironis padaku.

Di aplikasi, notifikasi muncul.

Perjalanan Selesai. Tarif: Rp 18.000.

Dan sedetik kemudian, bintang lima masuk. Tanpa komentar.

Aku menghela napas, menyandarkan kepala ke jok. AC mobil masih menderu, tapi entah kenapa, rasanya panas. Panas oleh rasa malu yang membakar dari dalam.

Tiba-tiba, aku sadar sesuatu. Rina meninggalkan sesuatu di jok belakang.

Bukan barang. Tapi jejak.

Ada noda lipstik tipis di tisu yang dia pakai untuk mengelap keringat tadi, tergeletak di karpet mobil. Dan yang lebih parah, aroma parfumnya menempel di kain jok. Kuat sekali.

Kalau nanti aku menjemput penumpang lain, atau-Tuhan melarang-Gendis masuk ke mobil ini, baunya akan memicu pertanyaan.

"Ayah, wangi banget? Wangi Tante siapa?"

Aku tertawa getir. Sendirian di lobi apartemen orang kaya.

"Wangi masa lalu, Nduk," bisikku pada dasbor. "Wangi kekalahan."

Aku menginjak gas. Meninggalkan Senopati. Meninggalkan Rina dengan kehidupan high-class-nya.

Kembali ke jalanan. Kembali menjadi hantu di balik kemudi.

Namun, pertemuan tadi membuka luka lama yang kupikir sudah kering. Bahwa di kota ini, jarak terjauh bukanlah antara Jakarta Utara dan Jakarta Selatan. Melainkan antara jok depan dan jok belakang.

Dan hari ini, jarak itu terasa sejauh satu juta tahun cahaya.

Lampu indikator bensin berkedip satu bar. Realitas memanggil lagi. Aku butuh orderan selanjutnya. Ah, persetan dengan nostalgia. Nostalgia tidak bisa dipakai buat beli bensin.

TING!

Orderan masuk.

Jemput: Dr. Tirta (Bukan Dokter Seleb). Lokasi: RS Pusat Pertamina.

Aku menekan tombol "Terima". Roda kehidupan-dan roda Calya-harus terus berputar.