Urban #Ojol #Taksol

Seratus Lima Puluh Ribu: Harga Sebuah Harapan

Penulis djoedo
01 March 2026

Basement P3 Mall Grand Indonesia memiliki ekosistem udaranya sendiri. Bukan oksigen, melainkan campuran partikel karet ban hangus, emisi oktan tinggi, dan hawa lembap yang gagal diserap blower raksasa. Di perut beton ini, kasta sosial ditentukan oleh seberapa dekat moncong kendaraanmu dengan pintu lift.

Toyota Calya hitam bernopol B 1998 UY yang kucopet-maksudku, kusewa-dari Maju Jaya Rent, tampak meringkuk minder. Ia terjepit di antara Alphard putih yang mengilap bak porselen kamar mandi hotel bintang lima, dan BMW Seri 5 yang harga catnya mungkin setara biaya hidup satu kelurahan di Gang Kelinci.

Kumatikan mesin. Hening. Hanya dengung kipas ventilasi yang terdengar seperti napas naga penderita asma.

Ting!

Layar ponsel di holder menyala. Bukan penumpang manusia.

LAYANAN KURIR EKSTRA: Food & Beverages (Large Quantity). Lokasi Ambil: Salad Stop & Go - West Mall Lt. LG. Tujuan: Treasury Tower, SCBD. Catatan: Bawaan banyak. Jangan diguncang. Awas tumpah. Bintang 1 melayang kalau lecet.

Dada sesak seketika. Sejak algoritma memutuskan aku layak naik pangkat menjadi "Mitra Roda Empat", kukira tugasku hanya mengantar pantat-pantat wangi ke lobi kantor. Ternyata, sistem punya selera humor lain: aku merangkap kuli panggul katering elite.

"Oke, Simulacrum," bisikku pada dasbor plastik keras mobil sewaan ini. "Mari kita tengok menu para dewa hari ini."


Melangkah masuk dari parkiran basement ke area mal rasanya seperti melompat antar-dimensi. Pintu kaca otomatis mendesing terbuka. Wush. Udara dingin beraroma vanila bercampur wangi uang baru langsung menampar wajahku yang berminyak.

Cahaya di sini berbeda. Bukan matahari, bukan neon murah kontrakan. Ini ambient light, spektrum cahaya yang didesain khusus oleh psikolog perilaku konsumen supaya dompet siapa pun gatal ingin dibuka. Lantai marmer memantulkan bayanganku: kemeja flanel kotak-kotak, celana bahan hitam, dan sepatu kets pasar loak yang berdecit pelan setiap kali tumit menyentuh ubin.

Cit. Cit. Bunyi kemiskinan yang menyusup di lantai dansa kapitalisme.

Aku berjalan menuju gerai salad. Di sekeliling, ekosistem mal bergerak dalam tarian konsumerisme lambat. Aku memperlambat langkah. Insting sosiolog amatirku menyala. Inilah laboratorium sosial terbaik di Jakarta Pusat. Jean Baudrillard pasti akan tertawa terbahak-bahak melihat ini.

Di meja bundar dekat eskalator, kutemukan spesies pertama: The Healthy Hypocrite.

Seorang wanita dengan legging yoga seharga UMR Jogja duduk menyilangkan kaki. Di hadapannya terhidang mangkuk kayu berisi dedaunan hijau, quinoa, dan potongan alpukat-makanan yang katanya sehat tapi harganya cukup untuk menebus beras sekarung buat Mpok Hindun. Tangan kanannya memegang garpu, tapi tangan kirinya menjepit vape pod berwarna pastel.

Dia menyuap salad, mengunyah pelan, lalu-fuh-mengembuskan uap beraroma cheesecake ke udara. Sehat di piring, racun di paru-paru. Wajahnya tegang, menatap layar iPad sambil memaki seseorang lewat AirPods.

"Saya nggak mau tahu, timeline mundur itu omong kosong! Potong gaji desainernya kalau perlu!"

Aku bergidik. Aura negatifnya lebih pekat daripada saus wijen sangrai di piringnya. Inilah wajah wellness masa kini: tubuh disuplai serat, jiwa digerogoti stres korporat.

Geser sedikit ke antrean kopi mahal, ada spesies lain: The Laptop Nomad.

Mereka membuka MacBook Pro, menyesap Iced Americano yang es batunya lebih banyak dari kopinya, dan memasang wajah serius seolah sedang mengendalikan saham Wall Street. Padahal jika diintip, layarnya cuma menampilkan laman Google kosong atau feed Instagram mantan. Mereka menyewa "citra sibuk" seharga enam puluh ribu perak per gelas.

"Atas nama Bu Felicia?" tanyaku pada pelayan gerai salad yang memakai celemek hijau necis.

Pelayan itu memindaiku dari atas ke bawah. Tatapan scanning standar: Bukan target pasar.

"Ojol ya, Mas? Lewat pintu samping harusnya," katanya ketus tanpa menatap mata.

"Taksol, Mbak. Layanan kurir mobil. Ini orderan bulk. Dua puluh paket. Kalau saya lewat pintu samping yang panas itu, keburu layu seladanya. Nanti Customer komplain, Mbak mau managgung?" jawabku kalem seraya menunjuk layar aplikasi.

Dia mendengus, kalah argumen, lalu menunjuk tumpukan dua kantong kertas raksasa di meja pick-up. "Tuh. Awas jangan miring. Saus truffle-nya mahal."

Aku mengangkat kantong-kantong itu. Berat. Bau truffle-yang bagiku mirip bau gas elpiji bocor dicampur jamur lembap-langsung menyeruak.

Sambil berjalan kembali ke parkiran, rasanya seperti menjadi penyelundup di negeri orang kaya. Membawa makanan seharga setoran sewa mobil seminggu ke Maju Jaya Rent, melewati etalase tas kulit yang harganya bisa dipakai merenovasi atap bocor satu gang.

Ini semua Hyperreality. Mal ini adalah benteng yang melindungi penghuninya dari kenyataan bahwa di luar sana aspal Jakarta sedang mendidih, langit abu-abu oleh polusi, dan orang-orang sepertiku sedang menghitung receh demi bensin.


Treasury Tower, SCBD.

Gedung ini menjulang angkuh, kaca-kacanya memantulkan mendung Jakarta. Aku memarkir Calya di lobi drop-off. Satpam berbadan tegap dengan seragam safari mendekat, tangan sudah siap di peluit, gestur mengusir yang sudah sangat kuhafal.

"Kurir, Pak. Buat lantai 40," sergahku cepat sebelum dia meniup peluitnya.

"Titip di meja resepsionis. Nggak boleh naik. Lift barang lagi penuh," perintahnya tegas.

Aku menurunkan dua kantong raksasa itu di meja marmer resepsionis. Dingin. Steril. Resepsionisnya cantik tapi tatapannya kosong, persis manekin yang diberi nyawa setengah-setengah.

"Atas nama Felicia. Divisi Strategi," kataku pada resepsionis. Aku sempat melirik label di kantong: Lunch Meeting: Efficiency & Cost Reduction.

Ironis. Para Office Dictator di atas sana bicara soal efisiensi biaya sambil memakan salad mahal yang diantar oleh tenaga kerja murah yang terjebak macet satu jam.

Aku menggeser tombol "Selesai Antar" di aplikasi. Tugas selesai. Kembali menjadi hantu di mesin algoritma.

Tiba-tiba, ponsel bergetar panjang.

TING!

Sebuah notifikasi muncul dengan pendaran warna emas yang jarang kulihat.

Anda menerima Tip dari Pelanggan! Nominal: Rp 150.000,- Pesan: Thanks. Taruh aja. Jangan berisik.

Mataku membelalak. Seratus lima puluh ribu? Untuk mengantar salad?

Ini ulah Ghost Customer. Pelanggan hantu. Tak terlihat wujudnya, nihil interaksi, tanpa ucapan "terima kasih" lisan, tapi transferannya nyata. Mungkin ini cara orang kaya menebus rasa bersalah mereka-atau mungkin ini cuma uang kembalian yang mereka malas ambil.

Jantungku berdegup kencang. Ini rezeki nomplok. Pecah telor versi premium. Dengan uang ini, aku bisa mencicil utang ke Mpok Hindun atau membelikan martabak manis spesial buat Gendis nanti malam.

"Alhamdulillah... dasar orang kaya gabut yang budiman," bisikku sambil menyeringai lebar. Rasanya ingin sujud syukur di lantai marmer licin ini, tapi takut diseret sekuriti karena dianggap merusak pemandangan.

Aku berjalan kembali ke mobil dengan langkah ringan. Dunia terasa sedikit lebih cerah. Mungkin sistem ini tidak sejahat itu. Mungkin hari ini dewi fortuna sedang bosan di kahyangan dan iseng main aplikasi.

Aku masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan melaju menuju pintu keluar kawasan SCBD. Di gerbang, kusodorkan tiket parkir ke mesin otomatis.

Bip.

Layar monitor menampilkan angka berwarna merah menyala.

Biaya Parkir: Rp 55.000,- (Durasi: 1 Jam 15 Menit. Tarif Progresif Kawasan Bisnis Terpadu + Surcharge Jam Sibuk + Admin Fee)

Senyumku lenyap seketika.

Lima puluh lima ribu.

Sepertiga lebih dari tip "besar" tadi barusan hangus. Terbakar sia-sia hanya karena mobil sewaan ini diam di atas tanah sengketa yang sudah dipoles aspal dan diberi palang otomatis.

"Bangsat," umpatku pelan.

Kutempelkan kartu e-money dengan tangan gemetar. Saldo tersedot. Palang pintu terbuka lambat, seolah mengejek kemiskinanku yang baru saja diberi harapan palsu lalu dipalak secara legal.

Mobilku merayap keluar dari SCBD, kembali ke jalanan Gatot Subroto yang macet parah.

Di dalam kabin, aroma truffle dari sisa uap makanan tadi masih tertinggal. Baunya mewah, tapi perutku justru mual. Aku lapar. Sangat lapar. Dan ironisnya, kalkulasi di kepalaku berjalan cepat: Tip 150 ribu, dikurangi parkir 55 ribu, dikurangi bensin untuk macet tadi sekitar 20 ribu, dikurangi setoran sewa harian ke Maju Jaya Rent...

Sisa bersihnya tidak cukup untuk membeli satu porsi salad yang tadi kuantar.

Aku menatap gedung-gedung tinggi di spion. Mereka tampak berkilauan, menyembunyikan ribuan Office Dictator dan Healthy Hypocrite di dalamnya.

Tip besar itu bukan hadiah. Itu cuma umpan. Agar aku tetap mau jadi tikus di labirin mereka esok hari, mengira aku sedang untung padahal sedang digerogoti biaya-biaya tak kasat mata. Inilah Gig Economy: kau merasa seperti pengusaha mandiri, padahal kau cuma sapi perah yang harus membeli rumputmu sendiri.

Ponselku berbunyi lagi. Orderan masuk.

Jemput: Lobby Apartemen Senopati Suites. Tujuan: Bandara Soetta.

Aku menginjak gas. Roda berputar. Perut lapar bisa menunggu, tapi setoran sewa mobil tidak kenal kata ampun.