Mesin Toyota Calya ini berdengung halus. Getarannya merambat samar dari aspal Senopati ke tulang ekorku, diredam oleh suspensi empuk yang belum genap sebulan keluar dari pabrik. AC menyembur di level satu. Cukup untuk menjaga kaca tidak berembun, namun terlalu dingin untuk tengkukku yang terbiasa disengat matahari Jakarta.
Aku baru saja menurunkan penumpang-seorang mbak-mbak SCBD dengan lanyard Coach menggantung di leher-di depan sebuah kafe yang fasadnya didominasi kaca dan tanaman monstera. Namanya "Kopi Senja & Rasa". Tipikal tempat di mana harga segelas latte setara dengan iuran BPJS kelas tiga.
"Makasih ya, Pak," gumamnya tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar iPhone 17 Pro Max. Pintu ditutup. Blam.
Hening.
Di dalam "Kotak Besi" sewaan Maju Jaya Rent ini, sunyi adalah musuh utamaku. Tidak ada debu jalanan yang menampar wajah. Tidak ada raungan dari puluhan knalpot motor matic yang memekakkan telinga. Hanya ada aku, jok sintetis berbau plastik baru, dan aroma Stella Jeruk yang menusuk hidung. Wangi artifisial ini konon simbol kemapanan bagi kami, para Mitra Roda Empat, tapi bagiku baunya persis seperti muntahan jeruk nipis yang dicampur bahan kimia pembersih lantai.
Aku menatap keluar jendela. Di trotoar, seorang Starling sedang mengayuh sepedanya dengan lincah, menyalip antrean Pajero yang terjebak macet. Ia tertawa lepas saat menyapa satpam gedung. Ada interaksi. Ada kehidupan di sana.
Sementara aku? Aku terkurung dalam akuarium berjalan ini. Kaca film enam puluh persen memisahkan duniaku dengan dunia nyata. Orang-orang di luar sana-para pejalan kaki, pedagang asongan, bahkan polisi cepek-tampak seperti film bisu. Gerak bibir mereka terlihat, tapi suaranya tak sampai ke telingaku.
Jean Baudrillard benar. Ini Simulacrum. Aku tidak sedang mengemudi di Jakarta; aku sedang mengemudi dalam simulasi kenyamanan yang rapuh.
Tanganku meraba dasbor. Plastik keras. Murahan. Tapi inilah singgasana baruku. Singgasana yang kudapat dengan menggadaikan kebebasan pada Maju Jaya Rent dan Tuhan Digital.
Ponsel di holder magnetik berkedip. Belum ada orderan masuk. Algoritma sepertinya sedang menghukumku karena menolak pesanan ke Tangerang tadi pagi. Atau mungkin, sistem sedang memprioritaskan The Newbie yang masih polos dan mau disuruh menjemput di gang sempit yang lebarnya cuma muat satu spion.
Mataku terpejam sejenak. Aroma Stella Jeruk itu memudar, tergantikan oleh bau oli mesin dan debu kapas yang mengendap di ingatan.
Cikarang, 2019.
Dug-dug-dug-tak. Dug-dug-dug-tak.
Irama itu bukan musik. Itu detak jantung raksasa. Ribuan mesin tenun bekerja serentak, menciptakan simfoni mekanis yang memekakkan telinga namun menenangkan bagi kami yang hidup darinya.
Aku berdiri di ujung line produksi. Seragam biru muda, papan jalan di tangan kiri, pulpen di saku dada. Bambang Sulistyo. Mandor Shift 2.
Dulu, aku punya nama. Aku punya wujud.
"Woy, Bams! Kopi dulu, ngapa! Mesin nggak bakal lari!" teriak Jarwo dari balik tumpukan benang polyester.
Aku menoleh, melempar seringai. "Kalau target meleset, lo yang gue giling jadi benang, Wo!"
Gelak tawa pecah. Di sana, di antara debu serat kain yang beterbangan seperti salju tropis, kami adalah organisme hidup. Keringat kami nyata. Keluhan kami tentang mandor besar yang pelit juga nyata. Saat jam istirahat, kami duduk melingkar di kantin, berbagi gorengan dingin dan rokok kretek, merayakan nasib sebagai sekrup kecil yang memutar roda industri tekstil nasional.
Solidaritas itu kental. Lebih kental dari oli mesin. Jika satu orang sakit, satu line patungan. Jika THR disunat, satu pabrik mogok. Kami The Fallen Factory Workers sebelum kami jatuh. Kami punya martabat.
Lalu, surat itu datang. Putih, bersih, tajam.
"Efisiensi," kata Manajer HRD yang dasinya terlalu licin. "Otomasi."
Mesin-mesin baru dari Tiongkok tiba dua minggu kemudian. Lengan-lengan robot oranye yang bergerak presisi, cepat, dan-yang paling penting bagi perusahaan-tidak butuh cuti hamil, tidak butuh jatah makan siang, dan tidak pernah mengeluh sakit pinggang.
Kami dibuang. Ratusan seragam biru dilucuti. Seperti sekrup karatan yang diganti sparepart baru. Tidak ada upacara perpisahan. Hanya pesangon yang habis dalam tiga bulan untuk bayar utang, dan tendangan keras ke aspal panas ibu kota.
Jakarta Selatan, 2026.
Mataku terbuka. Lamunan itu buyar oleh klakson panjang dari Alphard di belakangku.
"Sabar, Bos!" gerutuku, refleks melihat spion tengah.
Tanganku mencengkeram setir. Telapak tangan ini dulu kasar, penuh kapalan dan noda oli yang susah hilang meski digosok sabun colek. Kini, kapalan itu mulai menipis. Kulitku memucat karena jarang terkena matahari langsung, digantikan rasa pegal yang aneh di pergelangan tangan-sindrom carpal tunnel akibat terlalu lama memegang ponsel dan setir.
Aku menatap pantulan wajahku di kaca spion. Ada lingkaran hitam di bawah mata.
"Lo siapa, Bams?" bisikku. "Lo Mitra Juara? Atau cuma sopir yang kesepian?"
Aku rindu suara tawa Jarwo. Aku rindu umpatan kasar tapi jenaka dari Ucup. Sejak aku "naik kelas" ke mobil, sejak aku resmi menjadi bagian dari Layanan Roda Empat, ada dinding kaca tebal yang tumbuh di antara aku dan teman-teman Paguyuban Aspal.
Terakhir kali aku mampir ke pangkalan dengan motor Beat, Ucup memandangku beda. Ada jarak. Sekarang, dengan mobil ini? Aku mungkin sudah dianggap alien. Atau lebih parah: pengkhianat kelas.
Tapi persetan. Rasa sepi ini mencekik. Aku butuh interaksi manusia yang bukan sekadar "Sesuai aplikasi ya, Pak" atau "AC-nya tolong digedein". Aku butuh teman-teman-ku.
Jari telunjukku menekan tombol Go Offline. Persetan dengan insentif jam sibuk. Tuhan Digital bisa menunggu.
Aku memutar kemudi, meninggalkan gemerlap Senopati yang penuh kepalsuan The Haves, mengarahkan moncong Calya menuju daerah yang lebih "membumi". Ke sebuah lahan sisa gusuran di balik gedung-gedung tinggi Kuningan.
Shelter Ojol 'Pojok Aspal'.
Mobilku merayap pelan memasuki area tanah merah yang belum diaspal. Ban Calya melindas genangan sisa hujan semalam, memercikkan lumpur cokelat ke bodi mobil yang baru saja kucuci tadi pagi. Biarlah.
Pemandangan di depan sana kontras sekali. Di bawah terpal biru yang disangga bambu seadanya, berjejer puluhan motor. Honda Beat, Vario, Mio, semuanya kusam, penuh stiker komunitas, dan berdebu. Di tengah-tengahnya, asap putih mengepul dari gerobak gorengan.
Saat Calya hitamku berhenti, obrolan di bawah tenda itu mendadak surut.
Aku bisa melihat mereka. Ucup, Dika, Pak Haji. Mereka menoleh serempak. Tatapan mereka bukan tatapan menyambut kawan lama, melainkan tatapan waspada singa melihat seekor hiena nyasar masuk wilayahnya.
Aku mematikan mesin. Hening sejenak. Jantungku berdegup lebih kencang daripada saat menghadapi debt collector Mpok Hindun.
Kuraih bungkusan di kursi penumpang depan. Martabak Sultan 88. Spesial keju jagung susu. Ini bukan sogokan, ini... ah, sebut saja tiket masuk diplomatik.
Pintu kubuka. Hawa panas Jakarta langsung menampar wajah, bercampur aroma selokan dan rokok kretek. Aroma rumah.
"Assalamualaikum!" seruku, berusaha terdengar seceria mungkin.
Pak Haji yang pertama menjawab, nadanya datar. "Waalaikumsalam. Kirain siapa. Kirain tamu agung dari Treasury Tower nyasar kemari."
Aku tertawa garing. Kakiku melangkah mendekat, sepatu kets-ku langsung kotor terkena debu merah.
"Tamu agung gundulmu, Pak Haji. Ini Bams. Masih doyan gorengan juga." Aku meletakkan kotak martabak di atas meja kayu reyot yang permukaannya penuh lingkaran bekas gelas kopi. "Nih, buat ganjel perut. Rezeki narik orang mabok kemarin."
Ucup, yang sedang duduk di atas jok motornya sambil merokok, membuang asap ke udara. Matanya menyipit menatap mobilku, lalu beralih ke wajahku.
"Wih, Martabak Sultan," sindir Ucup, tapi tangannya tetap menyambar satu potong. "Emang beda ya rezeki Mitra Roda Empat. Kalau kita mah boro-boro martabak sultan, martabak manis pinggir jalan aja mikir dua kali."
"Ah, sama aja, Cup," elakku, mengambil posisi duduk di bangku panjang. "Potongannya gede. Sewa mobilnya nyekek leher. Dapet gede, keluarnya juga gede. Society of the Squeeze, bro. Kita sama-sama kejepit."
"Sama apanya?" Dika, si Gacor Hunter yang matanya selalu merah kurang tidur, menimpali. "Lo kejepit di jok empuk ber-AC. Kita kejepit di aspal panas. Keringet lo wangi Stella, keringet kita bau asep Kopaja."
Kalimat itu menohok. Telak. Tidak ada metafora sosiologi yang bisa membantah fakta fisik itu.
Aku mencoba mencari celah. "Yaelah, Dik. Gue juga baru seminggu pegang ginian. Masih kaku. Tadi aja gue hampir nyerempet trotoar pas mau parkir di lobi."
"Hati-hati, Bams," kata Ucup, mulutnya penuh keju martabak. "Lecet dikit, deposit melayang. Itu mobil bukan punya nenek moyang lo. Itu punya Maju Jaya Rent. Lo cuma jongos yang dikasih seragam bagus."
Aku terdiam. Niat hati ingin mencari kawan, malah dapat kuliah realita. Tapi anehnya, cacian mereka terasa lebih hangat daripada pujian bintang lima di aplikasi. Ini jujur. Ini organik.
"Gimana si Sandi?" tanyaku, mencoba mengalihkan topik.
"Si Sandi?" Ucup mendengus. "Udah lupa daratan dia. Kemarin ketemu di lampu merah Kuningan, gue klaksonin, boro-boro nengok. Kaca ditutup rapet. Takut kali ketularan miskin kalau buka kaca."
Ucup menatapku tajam. Tatapan yang menembus sampai ke ulu hati. "Lo jangan kayak dia, Bams. Mentang-mentang udah naik Calya, temen lama dianggap NPC."
"Kagak bakal, Cup," jawabku cepat. "Gue tetep Bams. Cuma wahana mainnya aja beda."
"Kita liat aja," gumam Pak Haji sambil menyeruput kopi hitamnya. "Besi bisa karatan, manusia bisa berubah."
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara kunyahan martabak dan deru kendaraan dari jalan raya. Aku mengambil sepotong bakwan dingin, menggigitnya. Rasanya berminyak, alot, tapi nikmat.
Baru saja aku merasa sedikit rileks, saku celanaku bergetar hebat.
Bukan getaran pesan WhatsApp. Ini getaran panjang, ritmis, menuntut.
Aku merogoh ponsel. Layar menyala terang. Notifikasi dari aplikasi Mitra Juara.
"PERINGATAN: Posisi Anda berada di area Rendah Permintaan (Low Demand Area). Segera bergerak menuju Area Kuningan untuk potensi order tinggi. Diam di tempat lebih dari 10 menit akan mempengaruhi Skor Aktivitas."
Sialan.
Ucup melirik layar ponselku yang menyala. Dia bisa membaca notifikasi itu meski terbalik.
Dia tersenyum miring. Senyum yang penuh kemenangan pahit.
"Tuh kan," kata Ucup pelan, menunjuk ponselku dengan dagunya. "Majikan lo udah manggil. Tali kekangnya ditarik."
Aku menatap layar itu, lalu menatap wajah teman-temanku. Aku ingin mematikan ponsel itu. Aku ingin bilang "Persetan" dan lanjut makan bakwan. Tapi bayangan wajah Mpok Hindun menagih uang sewa, bayangan wajah Gendis yang butuh sepatu baru, dan bayangan deposit Maju Jaya Rent yang tertahan, semuanya menahan jempolku.
Aku bukan lagi mandor yang bisa mengatur waktu istirahat. Aku adalah budak algoritma dengan fasilitas AC.
Pelan-pelan, aku berdiri. Martabak di meja masih setengah penuh.
"Gue... gue harus gerak, Cuy," kataku, suaraku terdengar kecil dan menyedihkan di telingaku sendiri. "Sistemnya rewel."
Ucup tidak menjawab. Dia hanya kembali menyalakan rokoknya, memalingkan wajah ke jalanan. Pak Haji mengangguk samar, tatapannya penuh rasa kasihan yang membuatku ingin muntah.
"Ati-ati di jalan, Bos," kata Dika, nadanya datar tanpa emosi.
Aku berjalan mundur menuju mobil. Masuk ke dalam kabin Calya, menutup pintu. Bummm.
Suara dunia luar seketika terputus. Hening kembali menyergap. AC menyembur dingin, membekukan keringat di dahiku. Aku melihat mereka dari balik kaca film gelap. Mereka tertawa lagi, Ucup menepuk bahu Dika. Mereka masih satu suku.
Dan aku?
Aku menyalakan mesin, menekan pedal gas pelan-pelan, meninggalkan Shelter Pojok Aspal dengan perasaan kalah yang lebih perih daripada saat di-PHK pabrik. Mobil ini bukan hanya mengantarku mencari nafkah, dia pelan-pelan mengantarku menjauh dari satu-satunya hal yang membuatku tetap waras: kemanusiaan.
Di layar ponsel, peta digital menunjukkan zona merah di Kuningan. Tuhan Digital lapar. Dan aku harus memberinya makan.