Bab 3

Penulis nyiratu
22 September 2025

Malam itu, dunia Yoyi terasa berhenti berputar. Tatapannya terpaku pada layar televisi yang menayangkan berita kecelakaan. Kemeja abu-coksu, kaus putih, motor sport merah. Semua petunjuk itu mengarah pada satu orang: gadis tomboi pemikat hatinya.

"Yanti, lihat itu! Itu motor dia!" Yoyi berteriak, suaranya parau, jantungnya berdebar tak karuan.

Yanti menoleh, matanya ikut membelalak, menyadari kesamaan yang mencolok. Tanpa pikir panjang, Yoyi langsung berlari keluar kontrakan, tanpa peduli ia hanya memakai kaus oblong dan celana jins. Ia harus memastikan, ia harus tahu yang sebenarnya. Kekhawatiran mencekiknya erat.

Ia berlari sekencang-kencangnya menuju lokasi kecelakaan yang disebutkan di berita. Hatinya seperti digerogoti cemas, kakinya terasa lemas, tetapi ia terus memaksakan diri. Saat tiba di tempat kejadian, suasana sudah ramai. Garis polisi telah terpasang, dan beberapa petugas sibuk mengurus sisa-sisa puing yang berserakan. Yoyi menerobos kerumunan, memohon agar bisa melihat korban yang sudah ditutupi kain putih.

"Mas, jangan lewat!" seorang polisi menghadangnya dengan tegas.

"Tolong, Pak, saya harus lihat!" Yoyi memohon, suaranya bergetar. "Itu... teman saya."

Polisi itu akhirnya luluh, melihat keputusasaan di mata Yoyi, dan mengizinkan Yoyi mendekat. Dengan napas tertahan, Yoyi mendekati kain putih itu. Jantungnya berdebar kencang, setiap detaknya terasa menggelegar di telinganya. Dengan tangan gemetar, ia perlahan membuka kain itu dari bagian wajah.

Dan saat itu juga, Yoyi mengembuskan napas panjang, sebuah kelegaan yang membanjiri seluruh raganya. Wajah yang ia lihat bukanlah wajah Jo. Bukan gadis tomboi yang menolongnya. Hati Yoyi terasa sangat lega. Ia tidak mengenal gadis yang menjadi korban, tetapi Yoyi bersyukur, gadis yang ia cintai masih hidup.

Yoyi kembali ke kontrakan dengan langkah gontai, perasaannya campur aduk antara lega dan lelah. Teman-temannya sudah menunggu di teras dengan wajah cemas, menatapnya penuh harap.

"Gimana, Yi?" tanya Yanti, suaranya penuh kekhawatiran.

"Bukan dia," jawab Yoyi pelan, tatapannya kosong. "Bukan gadis yang nolongin gue."

Yanto, Amira, Maria, dan Malika serentak mengembuskan napas lega. Mereka tidak bersorak, tidak juga merayakan. Mereka hanya bersyukur, demi Yoyi. Meskipun tidak mengenal gadis yang kecelakaan itu, mereka lega karena cinta pertama Yoyi tidak menemui akhir yang tragis. Mereka menyadari, Yoyi telah berubah dan mereka mendukung penuh perubahan Yoyi.

Demi Yoyi, mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan halal di siang hari. Yanti, Amira, Maria, dan Malika kini bekerja sebagai buruh bangunan. Meski lelah dan upahnya pas-pasan, mereka melakukannya demi Yoyi. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka bisa keluar dari stigma. Mereka masih mengamen di malam hari, tetapi niat mereka tidak lagi sama. Mengamen bukan lagi sebuah tujuan, melainkan sebuah jembatan menuju pekerjaan yang lebih baik.

Yoyi juga pergi setiap malam, tetapi tidak untuk mengamen. Ia kembali memakai gaun, riasan, dan sumpelan dada, berharap Jo akan lewat lagi dan mengenalinya. Malam demi malam Yoyi menunggu di perempatan, mengenakan pakaian yang sama saat mereka pertama kali bertemu. Ia berharap Jo akan lewat, melihatnya, dan mengenali Yoyi yang dulu.

Namun, ia tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Ia tidak tahu, saat itu Jo hanya kebetulan lewat dan mampir untuk ngopi. Yoyi tidak tahu, ia sedang menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah kembali.

Rasa putus asa mulai menyelimuti Yoyi. Malam demi malam ia lalui dengan sia-sia, duduk di tempat yang sama, dengan harapan yang kian menipis. Yoyi akhirnya menyadari sesuatu yang lebih penting daripada mencari gadis itu: ia harus berubah, bukan untuk Jo, tetapi untuk dirinya sendiri.

Suatu malam, setelah kembali dari perempatan, Yoyi memutuskan untuk tidak memakai riasan dan gaun lagi. Ia menghapus riasan di wajahnya, membersihkan sumpelan di dadanya, dan duduk di depan cermin. Yoyi menatap pantulan dirinya, seorang laki-laki. Saat itu, Yoyi sadar, ia tidak bisa terus mencari Jo dalam wujudnya yang sekarang. Janji yang diucapkan Jo, "cari saya kalau Abang sudah tobat," menggema di benaknya. Yoyi menyadari ia harus menepati janjinya, bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan tindakan.

"Lu kenapa?" tanya Maria, melihat Yoyi yang duduk diam di depan cermin, tampak serius dan berbeda dari biasanya.

"Gue... gue mau berhenti jadi banci," kata Yoyi, matanya menatap pantulannya sendiri dengan tekad yang membara.

"Hah?" Maria terkejut. "Lu serius?"

"Gue nggak bisa nyari dia kalau gue masih kayak gini. Gue harus berubah, gue harus jadi laki-laki sejati, kayak yang dia mau," jawab Yoyi dengan tekad bulat, suaranya mantap.

Teman-temannya terdiam, mencerna perkataan Yoyi. Mereka melihat keseriusan di mata Yoyi. Setelah beberapa saat, Malika angkat bicara.

"Lu beneran mau berubah, Yi?" tanya Malika. Yoyi mengangguk, meyakinkan.

"Gue punya ide," lanjut Malika, matanya berbinar penuh semangat. "Gue ada kenalan, dia punya tempat pelatihan bodyguard. Tempat itu bisa ngubah lu jadi laki-laki sejati."

"Pelatihan bodyguard?" Yoyi mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan ide itu.

"Iya, di sana lu bisa belajar bela diri, fisik lu bakal dilatih, dan lu bakal diajarin gimana jadi laki-laki yang tangguh. Cocok buat lu, Yi, biar lu makin gagah," kata Malika, tersenyum optimis.

Yanti, Amira, dan Maria mengangguk setuju. "Betul, Yi. Itu cara terbaik. Lu harus jadi laki-laki seutuhnya, baru lu cari dia lagi," kata Yanti, memberikan dukungan penuh.

Mendengar dukungan teman-temannya, Yoyi merasa semangatnya kembali membara. Jalan di depannya tidak akan mudah. Ia harus menghadapi keraguan, cibiran, dan juga rasa sakit. Tapi ia tidak peduli. Yoyi tidak lagi sendirian. Ia punya teman-teman yang mendukungnya. Ia punya tujuan yang jelas.

Yoyi tersenyum, menatap cermin di depannya. Ia akan berhenti mencari Jo untuk sementara, fokus pada dirinya sendiri, menjadi versi terbaik dari dirinya. Ia akan menjadi pria sejati yang pantas untuk gadis itu. Dan ketika telah siap, ia akan kembali mencarinya, bukan sebagai Yoyi sang banci, melainkan sebagai Satrio, pria yang tegar dan penuh harapan.

Beberapa minggu kemudian, Yoyi tiba di tempat pelatihan bodyguard yang dimaksud Malika. Udara pagi yang dingin menyambutnya, bercampur dengan bau keringat dan semangat yang menggebu dari para peserta lain. Yoyi merasa canggung di antara laki-laki berbadan kekar dengan potongan rambut cepak dan sorot mata tajam. Ia mencoba meniru gaya mereka, tapi gerakannya masih terlalu luwes, ucapannya masih terlalu lembut.

"Baik, semuanya! Sepuluh putaran!" teriak pelatih bertubuh tinggi besar, suaranya menggelegar memecah udara pagi.

Yoyi berusaha mengikuti, tapi napasnya cepat terengah. Kakinya terasa berat, seakan diseret beban. Ia tertinggal jauh di belakang, sementara beberapa peserta lain meliriknya dengan senyum mengejek.

"Cepat, banci!" teriak salah satu dari mereka, mengundang tawa dari yang lain.