Urban #Ojol #Taksol

Vonis Angka

Penulis djoedo
02 March 2026

Layar ponsel itu menyala. Merah.

Bukan merah mawar yang merekah di kebun bunga Puncak, bukan pula merah wine Merlot yang biasa diteguk para The Haves di balik jendela kaca kafe Senopati di hadapanku. Ini merah peringatan. Merah darah digital.

AKUN ANDA DIBEKUKAN SEMENTARA. Alasan: Terdeteksi Aktivitas Tidak Wajar (Manipulasi GPS). Durasi: 24 Jam.

Hening. Senyap yang terasa memuakkan.

AC Toyota Calya ini mendesis, meniupkan aroma Stella Jeruk yang kini terasa seperti bau formalin. Di luar, Jakarta sedang memamerkan kemewahannya. Lampu-lampu downlight dari restoran fine dining memantul di aspal basah, menciptakan pendaran emas yang menyakitkan mata. Aroma biji kopi Arabika yang digiling halus menyusup masuk lewat celah jendela yang terbuka satu milimeter, mengejek hidungku yang hanya akrab dengan bau jok sintetis dan keringat kering.

Aku tertawa. Kering. Tanpa suara.

Inilah dia. Hyperreality. Jean Baudrillard benar. Realitas tak lagi penting. Yang nyata adalah simulasi yang kulihat di layar 6 inci ini.

Faktanya: Aku terjebak banjir. Roda terendam air keruh setinggi betis. Aku memutar balik demi menyelamatkan mesin-aset majikanku, Maju Jaya Rent-agar tidak water hammer. Itu realitas fisik. Ada lumpur, ada bau got, ada risiko turun mesin.

Namun, bagi Tuhan Digital, manuver putar balik mendadak itu terbaca sebagai "lompatan koordinat". Algoritma-sang entitas tak berwajah, tak berjantung-menerjemahkan upaya penyelamatan diri sebagai kecurangan. Fake GPS. Tuyul.

Di mata sistem, aku bukan manusia yang berusaha bertahan hidup. Aku adalah glitch. Dan glitch harus dibersihkan.

Jari jempolku mengusap layar yang retak di sudut kiri. Aku masuk ke menu performa. Napas tercekat.

Rating: 4.6 (Waspada)

Turun drastis dari 4.9 dalam semalam.

Ini bukan sekadar hukuman. Ini manipulasi. Aku menatap angka itu lekat-lekat. Angka keramat yang menentukan apakah besok aku bisa makan nasi Padang atau cuma roti sobek minimarket.

Penurunan ini terlalu sistematis. Algoritma ini dirancang seperti casino. Saat kau merasa di atas angin, "Bandar" akan menarik tuas, menjatuhkanmu sedikit, cukup untuk membuatmu panik dan bekerja dua kali lebih keras demi mengejar status Mitra Juara yang fana itu. Mereka menciptakan kecemasan, lalu menjual solusinya: "Ambil orderan lebih banyak! Jangan tolak pesanan! Jadilah budak yang baik!"

Mataku beralih ke jalanan Senopati yang padat merayap.

Sebuah Honda HRV hitam melintas cepat, menyalip dari bahu jalan. Di dasbornya terlihat tiga ponsel berjejer menyala terang.

The Surge Predator.

Spesies pengemudi yang hidup dari lonjakan harga. Mereka tidak peduli rambu, tidak peduli etika. Mata mereka merah kurang tidur, memburu zona merah di peta aplikasi seperti hiu mencium darah. Mereka adalah anak emas algoritma. Mereka patuh, agresif, dan tidak banyak tanya.

Sementara aku? Aku hanyalah The Silent Operator yang naif.

Ponselku bergetar. Bukan orderan. Notifikasi tagihan harian sewa mobil dari Maju Jaya Rent.

Rp 180.000,- telah didebit dari Saldo Dompet Tunai.

Saldo minus.

"Bajingan," desisku.

Tuhan Digital tidak peduli akunku mati suri. Argometer utang tetap berjalan. Sewa mobil tidak mengenal istilah suspend. Bagi Maju Jaya Rent, selama kunci ada di tanganku, setoran wajib mengalir.

Aku bersandar pada headrest yang keras. Musik jazz sayup-sayup terdengar dari kafe di seberang. Saxophone yang meratap, seolah mengiringi kejatuhanku.

Di trotoar, sepasang muda-mudi keluar dari butik. Si wanita menenteng paper bag besar, tertawa renyah sambil mengecek ponsel. Wajahnya bersinar di bawah lampu jalan, kontras dengan wajahku yang kusam di spion tengah.

Merekalah The No Thank You.

Spesies penumpang yang dengan ringan jari menekan tombol "Batal" hanya karena mobilku Calya, bukan Innova Zenix. Atau mereka yang memberi bintang tiga dengan alasan "Sopir kurang ramah" padahal mereka sendiri sibuk dengan AirPods dan tidak menjawab sapaanku. Mereka tidak sadar, satu ketukan jari mereka di layar kaca itu bisa memutus aliran susu untuk anak orang lain.

Bagi mereka, aku hanyalah NPC. Non-Playable Character. Figuran yang tugasnya mengantar dari titik A ke titik B, lalu lenyap. Tidak boleh punya emosi, tidak boleh punya masalah, dan haram hukumnya punya alibi saat banjir.

Aku merogoh saku celana bahan yang mulai tipis di bagian paha. Mengeluarkan dompet. Kosong. Hanya ada struk bensin dan kartu ATM yang saldonya bahkan tidak cukup untuk biaya administrasi penarikan.

Rasa lapar mulai menggerogoti lambung. Asam lambung naik, membawa rasa pahit ke pangkal lidah. Tapi yang lebih perih adalah rasa tidak berdaya ini.

Aku teringat Gendis. Wajah polosnya saat aku pamit tadi pagi. "Yah, nanti pulang bawa martabak, ya?"

Martabak.

Bagaimana aku bisa pulang membawa martabak jika akunku diborgol oleh kode biner? Bagaimana aku menjelaskan pada anak delapan tahun bahwa ayahnya dihukum oleh robot karena mencoba menyelamatkan mobil sewaan?

"Sialan," umpatku lagi. Kali ini lebih keras, memecah hening kabin.

Aku memukul setir. Klakson berbunyi pendek. Din!

Beberapa kepala The Laptop Nomad di kafe kaca itu menoleh. Tatapan mereka terganggu. Tatapan yang menghakimi: Kenapa ada taksi online kumuh berisik di kawasan elit ini?

Aku menunduk, menyembunyikan wajah di balik kemudi. Malu. Marah.

Di sini, di dalam Kotak Besi ini, aku bukan lagi manusia bebas. Aku adalah data yang dimanipulasi. Aku adalah buruh digital yang diperas keringatnya tanpa pernah menyentuh alat produksinya. Aplikasi ini bukan alat bantu kerja. Ini adalah Panopticon modern. Penjara tanpa jeruji di mana pengawasnya tidak terlihat, tapi hukumannya nyata.

Rating anjlok ini bukan kebetulan. Ini pesan.

Kau milik kami, Bams. Kau tidak bisa lari.

Ponsel di kursi penumpang kembali menyala. Bukan notifikasi pembukaan suspen. Melainkan email otomatis dari sistem dukungan mitra:

"Kami mendeteksi pola perjalanan yang tidak sesuai. Silakan ajukan banding dengan menyertakan bukti foto dan kronologi. Proses verifikasi memakan waktu 3x24 jam."

Tiga hari.

Tiga hari tanpa penghasilan. Tiga hari setoran sewa mobil tetap jalan. Tiga hari Gendis makan apa?

Tanganku gemetar meraih tuas persneling. Bukan karena dingin AC, tapi karena amarah yang mendidih di ulu hati. Aku harus bergerak. Diam di sini hanya akan membuatku gila atau mati kelaparan.

Mobil kumasukkan ke gigi satu. Kaki kiri mengangkat kopling dengan kasar. Calya ini menyentak, seolah ikut protes. Aku melaju pelan meninggalkan gemerlap Senopati yang menyakitkan. Meninggalkan aroma parfum mahal dan truffle fries yang tak akan pernah bisa kubeli.

Aku butuh solusi. Bukan solusi digital. Aku butuh solusi jalanan.

Jika Tuhan Digital menutup pintu, mungkin sudah saatnya aku mengetuk pintu setan jalanan. Atau setidaknya, pintu seseorang yang tahu bagaimana cara mengakali sistem yang curang ini.

Bayangan wajah Ucup melintas, tapi segera kutepis. Ucup akan tertawa. "Kan gue udah bilang, Bams. Enakan di motor." Tidak. Aku tidak bisa menghadapi "Saya sudah bilang" dari Ucup sekarang.

Mobil berbelok ke arah Blok M. Menjauh dari cahaya, menuju bayang-bayang kota. Di mana aturan bisa sedikit dibengkokkan, dan rating hanyalah angka yang bisa diatur-jika kau tahu bagaimana caranya.