Jalanan Falatehan, Blok M.
Di sini, Jakarta menanggalkan topeng fine dining-nya. Tidak ada aroma truffle atau wine mahal. Yang ada hanya bau amis selokan yang menguap, bercampur aroma arang sate taichan dan parfum murah dari para kupu-kupu malam yang mulai berkerumun di trotoar.
Aku memarkir Calya di deretan gelap, di belakang sebuah ruko kosong bekas tempat karaoke. Di sebelahku, berjejer tiga mobil LCGC lain. Sigra, Ayla, dan satu Mobilio penyok. Mesin mereka mati, tapi kaca jendelanya sedikit terbuka. Asap rokok mengepul keluar dari celah itu, menyatu dengan kabut polusi.
Ini adalah Shelter Bayangan. Terminal tak resmi bagi kami, para Ronin-samurai tak bertuan-yang akunnya sedang anyep atau dibekukan.
Aku mematikan mesin. Sunyi seketika, kecuali suara bass berdebum dari diskotek di ujung jalan. Tanganku meraba saku, mengeluarkan bungkus rokok yang sudah remuk. Kosong. Sial. Bahkan nikotin pun meninggalkanku malam ini.
Tok. Tok.
Kaca jendelaku diketuk.
Sesosok wajah menyembul dari balik kegelapan. Dika. Topi rimba lusuh, rompi Dishub palsu, dan sebatang kretek menyala di bibir.
"Mati gaya lo, Bams?" tanyanya, asap mengepul dari mulutnya saat ia bicara.
Aku menurunkan kaca. "Kena suspend. 24 jam. Manipulasi GPS katanya."
Dika tertawa. Suara tawanya serak, seperti knalpot bocor. Ia menyodorkan bungkus rokoknya. Aku mengambil satu tanpa basa-basi.
"Selamat datang di klub, Bos," Dika menyeringai, memperlihatkan gigi yang kuning karena kopi. "Gue kena tiga hari lalu. Gara-gara nolak The Cancel Queen di Grand Indonesia. Sistem bilang gue 'pilih-pilih order'. Padahal tuh cewek minta dijemput di lobi VVIP padahal posisi gue udah di basement."
Ia menyalakan korek api gas. Api memercik, menerangi wajahnya yang berminyak.
"Terus lo makan apa?" tanyaku, mengisap dalam-dalam. Asap kretek memenuhi paru-paru, memberi sedikit ketenangan palsu.
"Makan ati," jawabnya enteng. "Tapi kalau mau dapur ngebul, ya jangan andalin Tuhan Digital doang. Lo harus main 'Bawah Tanah'."
"Bawah Tanah?"
Dika menunjuk ke arah trotoar di depan M Bloc. Di sana, beberapa wanita dengan pakaian minim berdiri gelisah, melambaikan tangan pada taksi biru yang lewat tapi tak kunjung berhenti. Jam pulang kerja para LC (Lady Companion), atau mungkin karyawan lembur yang kehabisan armada karena hujan mulai turun rintik-rintik.
"Tembak dalam, Bams," bisik Dika. "Offline. Gak pake aplikasi. Gak pake potongan dua puluh persen. Cash keras. Risiko tanggung penumpang."
Aku menelan ludah. Tembak dalam. Istilah untuk mengambil penumpang tanpa aplikasi. Ilegal menurut aturan perusahaan sewa. Ilegal menurut aturan aplikasi. Jika ketahuan, bukan cuma suspend, tapi putus mitra. Blacklist abadi.
"Bahaya, Dik. Kalau ada sweeping Dishub? Kalau penumpangnya cepu?"
"Lebih bahaya mana sama Gendis gak makan besok?" potong Dika tajam. Matanya menatapku lurus. "Lo pikirin. Sewa mobil lo jalan terus. Denda Maju Jaya Rent itu kayak lintah darat. Telat sehari, bunganya nyekek. Lo mau jadi orang bener tapi bangkrut, atau jadi bajingan dikit tapi selamet?"
Kata-kata itu menampar. Society of the Squeeze. Kami dihimpit moralitas dan realitas.
Hujan mulai turun lebih deras. Bau tanah basah menguar dengan tajam, aroma yang dikhianati aspal panas. Di seberang jalan, seorang wanita berbaju terusan hitam terlihat melambaikan tangan dengan panik. Tas bermerek-atau mungkin KW super-didekap di dada untuk melindunginya dari air. Taksi biru melewatinya begitu saja.
Dika menyenggol bahuku. "Tuh. Ikan kakap. Keliatannya orang kantoran Treasury Tower yang nyasar atau abis meeting di Melawai. Duitnya pasti ready. Sikat, Bams. Sebelum disamber The Gacor Hunter lain."
Jantungku berdegup. Bukan karena asmara, tapi adrenalin putus asa.
Aku memutar kunci kontak. Mesin Calya menderu halus. Lampu depan menyala, menyorot genangan air di aspal yang mulai meninggi.
"Hati-hati, Bams," pesan Dika sambil mundur. "Jangan nyalain aplikasi. Matiin data kalau perlu. Biar lo jadi hantu. Gak kelacak."
Aku mengangguk kaku. Mobil meluncur pelan keluar dari persembunyian, membelah hujan, mendekati wanita itu.
Aku menurunkan kaca jendela penumpang setengah.
"Butuh tumpangan, Mbak?"
Wanita itu menoleh. Wajahnya lelah. Make-up tebalnya sedikit luntur di ujung mata. Usianya mungkin akhir dua puluhan. Bau parfum Chanel-atau tiruannya-menyeruak masuk, bercampur bau hujan.
"Aplikasi lagi error semua, Mas," keluhnya, suaranya serak. "Taksi gak ada yang mau berhenti."
"Mau ke mana?"
"Bintaro. Sektor Sembilan."
Jauh. Tapi itu berarti tarif besar. Kalau pakai aplikasi, mungkin sekitar seratus lima puluh ribu. Potong komisi, sisa seratus dua puluh. Bensin dua puluh ribu. Bersih seratus.
"Dua ratus ribu, Mbak. Flat. Tol Mbak yang bayar," tembakku langsung. Tanpa basa-basi. Tanpa sopan santun standar operasional prosedur "Selamat Pagi, Kak".
Dia menatapku, menilai. Mungkin dia melihat mobilku yang bersih (setidaknya dari luar), atau mungkin dia terlalu lelah untuk menawar.
"Oke. Tapi lewat tol ya. Saya buru-buru."
Pintu dibuka. Dia masuk. Aroma AC mobilku seketika kalah oleh wangi tubuhnya.
"Siap."
Aku menginjak gas. Mobil melaju. Aku mematikan data seluler di ponselku. Layar menjadi gelap. Tuhan Digital buta sekarang. Aku bebas. Aku adalah nahkoda kapal bajak laut di lautan beton Jakarta.
Hujan semakin deras, memukul atap mobil seperti ribuan kerikil. Wiper bergerak ritmis, menghapus jejak air yang mengaburkan pandangan. Swish. Swish.
"Mas, AC-nya bisa digedein dikit? Gerah," pinta wanita itu. Dia adalah tipe The Climate Controller.
"Siap, Mbak." Aku memutar kenop AC. Angin dingin berhembus lebih kencang, membuat kaca jendela mulai berembun.
Suasana hening. Hanya ada suara ban melindas aspal basah dan desis AC. Penumpangku sibuk dengan ponselnya, mengetik cepat. Cahaya layar menerangi wajahnya yang tegang. Sesekali ia mendesah kasar.
Aku melirik spion tengah. Dia bukan wanita sembarangan. Pakaiannya rapi, blazer mahal. Tapi kenapa sendirian di Melawai jam segini? Ah, persetan. Yang penting dua ratus ribu di tangan. Cukup untuk bayar sewa hari ini dan beli martabak buat Gendis.
Kami masuk Tol JORR. Jalanan lengang. Aku memacu Calya hingga 80 km/jam. Terasa ringan. Beban di pundakku sedikit terangkat. Ternyata semudah ini menjadi "jahat". Menjadi hantu.
Tiba-tiba, lampu indikator di dashboard berkedip.
Bukan indikator bensin. Bukan indikator mesin.
Itu lampu indikator keamanan tambahan. Lampu merah kecil di bawah setir yang biasanya mati.
Bip. Bip. Bip.
Suara buzzer lirih terdengar dari bawah kursi pengemudi.
Jantungku berhenti sesaat. Aku tahu suara itu. Itu bukan suara mobil. Itu suara kotak hitam GPS Tracker milik vendor Maju Jaya Rent.
Kenapa berbunyi? Aku sudah mematikan data ponsel. Mereka tidak bisa melacakku lewat aplikasi.
Kecuali...
Kecuali mereka melacak fisik mobil.
Vendor rental punya sistem sendiri. Mereka memasang GPS tersembunyi yang terhubung langsung ke aki mobil. Alat itu memantau pergerakan armada 24 jam.
Dan sekarang, pukul sebelas malam, mobil dengan status suspend (tidak boleh narik) sedang melaju kencang di jalan tol menuju luar kota.
Algoritma Maju Jaya Rent mendeteksi anomali.
"Mas, kok bunyi-bunyi?" tanya penumpangku. Nada suaranya mulai panik.
"Gak apa-apa, Mbak. Sensor sabuk pengaman mungkin," bohongku. Keringat dingin mulai menetes di pelipis, meski AC menyembur dingin.
Ponselku-yang datanya mati-tiba-tiba menyala. Panggilan masuk via seluler biasa (GSM).
Kantor Maju Jaya Rent
Aku mengabaikannya.
Ponsel berdering lagi.
"Angkat aja, Mas. Berisik," ketus wanita di belakang.
Aku mengangkatnya, menjepit ponsel di antara telinga dan bahu.
"Halo?"
"Woy, Bams! Ngapain lo di JORR?" Suara di seberang sana berat, kasar. Itu suara Bang Tigor, kepala divisi keamanan aset rental. "Akun lo suspend. Lo gak boleh narik. Lo mau bawa kabur unit?"
"Enggak, Bang. Ini... ini gue mau pulang. Ke rumah saudara di Bintaro," elakku. Suaraku bergetar.
"Bohong! Pola jalan lo kenceng. Lo bawa penumpang gelap ya? Lo mau main curang pake aset gue?"
"Sumpah, Bang-"
"Gue gak butuh sumpah lo. Puter balik sekarang ke pool. Atau gue matiin mesin lo dari sini."
Darahku mendesir. Immobilizer jarak jauh. Fitur terkutuk yang dipasang di mobil-mobil sewaan untuk mencegah pencurian.
"Jangan, Bang! Gue di tengah tol! Bahaya!" teriakku.
"Bodo amat. Lo langgar kontrak. Lo main belakang. Gue itung sampe tiga."
"Bang, tolong Bang! Ada nyawa orang ini!"
"Satu."
Aku menginjak gas lebih dalam, berharap bisa keluar di pintu tol terdekat. Pondok Ranji masih dua kilometer lagi.
"Dua."
Wanita di belakang mulai sadar ada yang tidak beres. "Mas! Ada apa ini? Mas mau culik saya?!"
"Tiga."
KLIK.
Sensasi itu datang tiba-tiba. Tenaga mesin hilang. Jarum RPM jatuh ke angka nol. Setir yang tadinya ringan mendadak berat, terkunci sistem power steering yang mati. Rem menjadi keras seperti batu.
Mobil meluncur hanya dengan sisa momentum, menjadi sebongkah besi mati seberat satu ton di tengah lajur cepat Tol JORR yang basah.
"Bangsat!" teriakku.
Di kaca spion, sorot lampu truk kontainer mendekat dengan cepat. Klakson kapal memekakkan telinga.
TEEEET!
"Mas! Awas!" jerit penumpangku.
Aku membanting setir sekuat tenaga ke kiri dengan otot yang serasa mau putus, membiarkan mobil meluncur liar memotong lajur tengah, menuju bahu jalan. Ban berdecit memecah genangan air.
Cahaya lampu truk menyapu kabin, menyilaukan, sebelum akhirnya mobil berhenti dengan sentakan kasar di bahu jalan yang gelap.
Hening.
Hanya suara napas kami berdua yang memburu, dan deru truk kontainer yang baru saja melewati kami dengan jarak beberapa sentimeter, menggoyangkan bodi mobil yang kini tak lebih dari rongsokan logam.
Mesin mati total. Lampu kabin mati. AC mati.
Hanya hujan yang setia memukul atap.
"Keluar," bisik wanita itu. Suaranya gemetar hebat. "Keluarin saya dari sini!"
Aku mencoba memutar kunci kontak. Senyap. Maju Jaya Rent telah membunuh mobil ini. Aku terjebak. Di tengah tol, di tengah hujan, dengan penumpang ilegal, dan utang yang kini pasti bertambah dengan biaya derek dan penalti pelanggaran kontrak.
Bukan cuma akunku yang mati. Malam ini, nasibku tamat.