Keheningan yang mematikan.
Di luar, dunia meraung. Ban truk tronton melindas aspal basah, menciptakan cipratan air kotor yang menghantam kaca jendela Calya seperti peluru cair. Di dalam, senyap. Mesin mati. AC mati. Hanya napas kami berdua yang memburu, berebut oksigen di kabin yang mulai terasa lembap.
Lampu indikator di dashboard padam total. Immobilizer sialan itu bukan cuma memutus aliran bahan bakar, tapi juga mematikan kelistrikan. Kami adalah peti mati logam yang terdampar di bahu jalan Tol JORR KM 21. Gelap gulita. Tanpa lampu hazard.
"Kenapa diam?" Suara wanita di jok belakang memecah kebisuan. Nadanya bukan lagi bertanya, tapi menuntut. "Nyalain lagi! Saya ada conference call sepuluh menit lagi!"
Aku mencengkeram setir. Karet pembungkusnya terasa licin oleh keringat dingin. "Gak bisa, Mbak. Dikunci dari pusat."
"Maksudnya?"
"Rental. Mereka matiin mesin jarak jauh."
"Gila!" Pekikan itu melengking, menembus gendang telinga. Aroma parfum Baccarat-nya yang tadi elegan, kini terasa menyengat, bercampur dengan bau apek keringat ketakutan yang mulai menguap dari tubuhku. "Kamu kriminal? Kamu buronan? Kenapa mereka matiin mesin pas bawa penumpang?"
BLAM!
Sebuah bus malam melesat di lajur kiri, klaksonnya menjerit panjang. Angin hempasannya mengguncang bodi Calya yang ringkih. Mobil bergoyang hebat. Wanita itu menjerit, tubuhnya terlempar ke sandaran kursi depan.
"Keluarin saya!" Dia memukul-mukul punggung kursiku. "Saya gak mau mati konyol gara-gara supir taksi online abal-abal!"
Aku menelan ludah yang terasa pahit. "Jangan keluar, Mbak. Di luar gelap. Bahaya. Kita gak ada lampu hazard. Kalau Mbak buka pintu, bisa disambar mobil yang nyalip dari kiri."
"Terus kita nunggu ditabrak truk dari belakang?"
Skakmat. Dia benar. Posisi kami tanggung. Bahu jalan ini sempit. Tanpa lampu penanda, bagi pengemudi truk yang mengantuk, mobil hitam di malam gelap ini sama saja dengan lubang hitam. Tak terlihat sampai terlambat.
Aku meraba saku celana. Ponselku. Layarnya retak, tapi masih menyala redup. Sinyal satu bar. Baterai 15%.
"Saya coba telpon derek Jasa Marga," kataku, jari gemetar menekan tombol.
"Kelamaan!" Wanita itu menyela, mengeluarkan iPhone 17 Pro Max miliknya. Cahaya layarnya begitu terang hingga menyilaukan mata yang terbiasa gelap. "Saya panggil jemputan kantor. Sebutin koordinat."
"KM 21. Arah Bintaro. Sebelum gerbang Pondok Ranji."
Dia menempelkan ponsel ke telinga, bicara dengan bahasa Inggris yang fasih dan cepat. Nada bicaranya berubah total. Otoriter. The Office Dictator.
"Yes, emergency. Unit is dead. Send the Alphard now. No, I don't care about the flood. Just get here."
Dia menutup telepon, lalu menatapku lewat spion tengah. Tatapannya tajam, menelanjangi harga diriku yang sudah telanjang bulat. "Sepuluh menit. Security kantor saya di TB Simatupang lagi meluncur."
Aku hanya mengangguk. Hujan semakin deras, memukul atap seng mobil seperti drum perang. Udara di dalam kabin mulai panas. Kaca berembun. Aku menurunkan kaca jendelaku satu sentimeter. Bau aspal basah, solar bakar, dan petrikor yang tercemar polusi menyeruak masuk.
Tiba-tiba, sorot lampu kuning berputar-putar memantul di spion kanan. Silau.
Bukan lampu biru polisi. Bukan lampu oranye Jasa Marga.
Kuning pudar. Lampu rotari murahan.
Sebuah truk derek tua-kepalanya bekas truk engkel tahun 90-an yang dimodifikasi kasar-mundur perlahan ke arah kami. Bodinya penuh karat dan stiker-stiker pudar. Di pintu samping tertulis cat semprot: DEREK RESMI 24 JAM (kata 'resmi' ditulis dengan font yang mencurigakan).
Ini dia. Hyena jalan tol. Derek Liar.
Mereka adalah predator yang memakan bangkai mobil mogok. Muncul entah dari mana, memaksa menderek dengan tarif mencekik, atau kadang, setengah mengancam.
"Itu jemputan kamu?" tanya wanita itu sinis.
"Bukan."
Seorang pria melompat turun dari truk. Tubuhnya gempal, memakai rompi oranye kusam tanpa logo instansi. Wajahnya keras, tipikal wajah yang ditempa panas aspal dan kerasnya terminal. Dia mengetuk kaca jendelaku dengan kunci inggris.
Tok. Tok.
Aku menurunkan kaca setengah.
"Mogok, Bos?" tanyanya. Suaranya berat, bersaing dengan deru hujan. Matanya menyapu kabin, berhenti sejenak di sosok wanita di belakang, lalu kembali padaku. Dia menyeringai. Gigi emasnya berkilau di tengah kegelapan.
"Mesin mati, Bang," jawabku singkat.
"Bahaya nih posisi. Tikungan cilukba. Truk kontainer sering bablas di sini," dia menunjuk ke belakang dengan dagu. "Gas lah. Gue tarik sampe pintu keluar terdekat. Pondok Ranji."
"Berapa?"
"Biasa. Tujuh setengah."
Tujuh ratus lima puluh ribu. Gila. Tarif resmi Jasa Marga gratis sampai gerbang tol terdekat.
"Mahal amat, Bang. Resmi aja gratis."
Pria itu tertawa. "Ya tungguin aja yang resmi. Paling dua jam lagi nyampe. Keburu jadi perkedel lo dilindas tronton." Dia menepuk atap mobilku keras. "Lagi banjir di mana-mana, Bos. Armada resmi sibuk ngurusin mobil mewah yang kerendam di Kemang. Cuma gue yang standby."
Dia benar. Dan dia tahu aku tahu dia benar.
"Dua ratus, Bang. Cuma ada segitu," tawarku putus asa.
Wajahnya berubah masam. "Dua ratus buat beli solar aja kurang. Lima ratus. Harga temen. Cepetan, tuh liat belakang."
Di kejauhan, sorot lampu dua truk besar tampak beriringan, melaju kencang di lajur kiri. Klakson mereka saling bersahutan. Getaran aspal merambat naik ke kakiku.
"Gak ada duitnya, Bang..."
"Minggir!"
Suara dari jok belakang memotong negosiasi kami. Wanita itu mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya tepat di samping telingaku. Dia tidak bicara padaku, tapi pada si supir derek.
"Tarik mobil ini ke Bintaro Sektor Sembilan. Sekarang," perintahnya dingin.
Si supir derek melongo sebentar, lalu menyeringai lebih lebar. Ikan kakap. "Waduh, Neng. Bintaro jauh. Keluar rute. Harus nambah..."
Wanita itu melempar sesuatu ke pangkuanku. Dua lembar uang merah. Dan sebuah kartu nama tebal dengan emboss emas.
"Itu DP. Dua ratus ribu. Sisanya, satu juta, saya bayar cash begitu sampai rumah. Kalau kamu berani macem-macem, liat kartu nama itu. Suami saya kenal Dirlantas Polda."
Si supir derek mengambil kartu nama itu dengan tangan kotornya, menyipitkan mata membaca di bawah sorot lampu kabin truknya. Ekspresinya berubah. Dari predator menjadi pelayan.
"Siap, Bu Bos. Laksanakan."
Dia berlari ke belakang truknya, menarik rantai besi dengan cekatan. Bunyi logam beradu dengan logam. Klang. Klang.
Aku masih mematung. Dua lembar Soekarno-Hatta di pangkuanku terasa panas. Satu juta dua ratus ribu rupiah untuk sekali derek. Itu setara target setoran tiga hari. Bagi wanita ini, itu hanya biaya kenyamanan agar tidak basah terkena hujan.
"Kamu," wanita itu menunjukku. "Pindah ke depan. Duduk sama supir derek. Saya gak mau satu mobil sama kamu pas diderek. Bau rokok."
"Tapi, Mbak..."
"Mobil kamu dikunci setirnya kan? Gak perlu dikemudiin. Tinggal ditarik. Sana!"
Aku terusir dari "Kotak Besi"-ku sendiri.
Dengan canggung, aku membuka pintu, menerobos hujan, dan memanjat naik ke kabin truk derek yang tinggi. Aroma di dalamnya berbeda. Bukan parfum mahal atau Stella Jeruk. Tapi bau solar, kretek murah, dan keringat laki-laki yang bekerja kasar.
Supir derek itu masuk, membanting pintu. Dia menyodorkan sebatang rokok Magnum padaku.
"Rezeki nomplok, Bos," kekehnya sambil memutar setir, membawa truk dan Calya-ku yang mati suri kembali ke jalan. "Penumpang lo galak bener. Orang The Haves mah beda ya, duit kayak daun."
Aku menyalakan rokok dengan tangan gemetar. Asap tebal memenuhi paru-paru. Truk berguncang kasar saat melindas sambungan jembatan. Di spion kiri, aku melihat mobil sewaanku terombang-ambing ditarik rantai besi. Seperti bangkai hewan buruan yang diseret pulang.
Di dalam sana, wanita itu mungkin sedang membalas email atau menelepon suaminya, tetap kering, tetap dingin, tetap berkuasa. Sementara aku, di sini, di kabin truk bau apek ini, baru saja menyadari sesuatu.
Malam ini aku selamat dari tabrakan truk. Tapi aku tidak selamat dari kenyataan.
Bahwa di Jakarta, keselamatan pun punya label harga. Dan malam ini, harga nyawaku dibayar oleh kembalian belanja orang lain.
"Ke Bintaro kita, Bos!" seru supir derek, menginjak gas.
Truk menderu, membelah hujan. Calya hitam di belakang mengikuti pasrah. Sebuah prosesi pemakaman harga diri menuju sektor elite di pinggiran Jakarta.