Bab 4

Penulis nyiratu
22 September 2025

Wajah Yoyi memerah. Malu dan amarah membaur. Namun, ia teringat tujuannya datang ke tempat itu. Yoyi mengepalkan tangannya, tatapannya menajam ke depan. Ini hanyalah awal. Ia tidak akan menyerah. Dalam hatinya, ia berjanji akan membuktikan pada mereka semua bahwa ia bisa menjadi pria sejati.

Hari-hari berikutnya terasa berat bagi Yoyi. Ejekan, cibiran, dan rasa sakit fisik menjadi bagian dari rutinitasnya. Setiap kali ia kikuk saat latihan bela diri atau tertinggal saat lari, julukan "banci" selalu terdengar. Namun, setiap hinaan itu justru bagai bahan bakar yang menguatkan tekadnya. Ia tidak akan membiarkan mereka mematahkan semangatnya. Yoyi akan terus berjuang, demi Jo, dan demi dirinya sendiri.

"Sabar dan kuat, Satrio," kata sang pelatih, menepuk bahu Yoyi. "Kamu akan sampai pada tujuanmu."

Yoyi menoleh, sorot matanya bertemu dengan tatapan lembut namun tajam milik Pak Roni, pelatihnya.

"Sakit itu hanya di awal," kata Pak Roni dengan suara serak. "Lambat laun, kau akan terbiasa. Setelah terbiasa, kau akan ketagihan. Dari ketagihan, kau akan jatuh cinta pada prosesnya. Kau akan lupa mengapa kau memulai, karena yang kau tahu, kau hanya ingin terus berproses."

Yoyi tersenyum, mengangguk perlahan. Kata-kata itu begitu sederhana, namun memiliki kekuatan luar biasa yang meresap ke dalam hatinya. Saat itu juga, Yoyi bertekad untuk menjadi murid terbaik Pak Roni, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi pria sejati.

Bulan berganti, dan Yoyi perlahan menjelma menjadi Satrio. Fisiknya yang dulu kurus kini kokoh, otot-ototnya terbentuk sempurna. Cara bicaranya kini tegas, bukan lagi lembut dan manja seperti dulu. Julukan "banci" kini jarang terdengar, tergantikan oleh sapaan, "Satrio!"

Satrio belajar banyak hal di tempat pelatihan itu, lebih dari sekadar bela diri. Ia belajar mengendalikan emosi, cara berbicara, mengolah rasa takut, dan menghadapi tantangan. Ia tidak lagi mencari-cari Jo, karena ia sepenuhnya fokus pada dirinya sendiri.

Suatu hari, setelah selesai latihan, teleponnya berdering. Yanti. Nama itu muncul di layar ponselnya.

"Yi, lu di mana?" tanya Yanti.

"Di markas. Kenapa?" jawab Satrio.

"Balik, yuk. Kita kumpul. Lu udah lama banget nggak balik," bujuk Yanti.

"Nanti saja, kalau saya sudah lulus," tolak Satrio.

"Ih, lu mah gitu! Kita semua kangen tahu," ujar Yanti. "Maria juga kangen. Dia mau kasih tahu sesuatu ke lu."

"Besok saya ada ujian," jawab Satrio, menolak dengan tegas.

"Sombong amat, sih!" Yanti menggerutu, sedikit kesal.

"Nanti, saya pulang ke kontrakan," ucap Satrio, lalu memutus sambungan telepon.

Satrio tahu, teman-temannya sudah berubah. Yanti, Amira, Maria, dan Malika kini sibuk dengan pekerjaan mereka sebagai buruh bangunan. Mereka mengamen hanya di hari Sabtu-Minggu, bukan lagi setiap malam. Satrio sangat bangga dengan perubahan itu, dan ia pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Suatu malam, setelah menyelesaikan ujian, Satrio kembali ke kontrakan. Ia memutuskan untuk memberikan kejutan pada teman-temannya. Satrio berjalan kaki menuju perempatan yang dulu sering ia kunjungi, di mana suara kecrek terdengar dari kejauhan. Satrio tersenyum, ia tidak merasa jijik dengan tempat itu, justru merasa rindu.

Di bawah lampu jalan, ia melihat teman-temannya. Yanti bernyanyi, Amira mengiringi dengan kecrek, Maria dan Malika menari dengan riang. Mereka tampak bahagia, dan Satrio merasa haru. Ia tidak ingin mengganggu mereka, hanya ingin melihat dari jauh.

Saat Satrio membalikkan badan, Yanti memanggilnya. "Yi... eh Yo... Satrio!"

Satrio berbalik, kemudian tersenyum saat teman-temannya berlari menghampiri.

"Ya ampun, Yoyi sekarang gagah banget," kata Malika sambil memegang otot tangan Satrio, yang tercetak jelas karena kaus ketat yang dipakainya.

"Kamu hebat, Yo." Amira memukul lengan Satrio.

"Hebat apanya? Saya belum jadi apa-apa," kata Satrio.

"Kamu udah jadi laki-laki sejati. Cara ngomongnya aja udah beda," sahut Malika. "Kamu bener-bener udah berubah." Malika tersenyum bangga sambil mengacungkan jempolnya.

"Seseorang yang udah berhasil membalikkan hidupnya, yang berani menjadi diri sendiri, adalah yang terbaik. Enggak ada yang lebih baik dari itu," kata Yanti."

"Kenapa tiba-tiba jadi Yanto?" Amira terbahak mendengar suara Yanti yang berubah menjadi Yanto.

"Ayo kita balik ke kontrakan," ajak Yanto sambil melepas rambut palsunya.

"Saya tidak punya banyak waktu," kata Satrio, suaranya terdengar buru-buru. "Nanti setelah saya lulus, saya akan pulang ke kontrakan."

Yanto menghela napas, sorot kecewa terlihat jelas. "Yah...." Dia kembali memasang rambut palsu yang tadi sempat dilepas. Rambut palsu itu terlihat sedikit miring. "Bantuin dong, Mir," kata Yanto sambil menyikut lengan Amira yang berdiri di sampingnya.

Amira hanya diam, belum sempat menanggapi. Satrio yang melihat itu langsung mengambil alih. "Biar saya yang bantu," kata Satrio sambil meraih rambut palsu Yanto dan memperbaikinya. Gerakannya lembut, penuh perhatian. "Sudah kembali cantik," lanjutnya sambil tersenyum.

"Ntar lu jatuh cinta sama Yanti," canda Yanto, matanya mengerling menggoda Satrio.

Satrio hanya tertawa kecil. Namun, saat Maria mulai berbicara tentang Jo, senyum di wajahnya memudar. Wajahnya berubah serius, pandangannya menerawang jauh.

"Yo, lu masih nyari Jo?" tanya Maria.

Satrio menggeleng perlahan. "Kalau dia memang jodoh saya, pasti akan dipertemukan," katanya, mencoba terdengar yakin.

"Lu udah nyerah?" tanya Amira, suaranya terdengar sedih. Ia tahu betapa berartinya sosok Jo bagi Satrio.

"Tidak. Saya akan terus mencarinya," jawab Satrio, kali ini suaranya penuh tekad. "Dia adalah motivasi terbesar saya. Dia segalanya. Mana mungkin saya melupakannya."

"Lu yang sabar, Yo. Gue yakin suatu saat nanti lu dan Jo akan bertemu." Yanti menyemangati, berusaha memberikan kekuatan kepada Satrio.

"Kalau dia udah punya pasangan gimana?" tanya Malika, menatap Satrio lekat-lekat. Pertanyaan itu menggantung di udara, membuat suasana menjadi hening.

Satrio menelan ludah. Wajahnya sempat pias, tapi dia segera menguasai diri. "Saya tidak akan mengganggunya. Saya hanya akan berterima kasih karena sudah menjadi pahlawan dalam hidup saya."

"Kamu memang laki-laki sejati," ujar Yanto, nadanya tulus. Semua orang menatap Satrio dengan penuh kekaguman.

Satrio menghela napas panjang. Ia tersenyum tipis, sorot matanya kembali cerah, seolah baru saja menemukan kembali pemicu semangatnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir tengah malam. Waktunya untuk pamit.

"Saya harus pulang," katanya, suaranya kembali ke nada yang lebih tegas. "Pagi-pagi sekali saya harus sudah siap untuk berlatih."

"Yah, padahal baru aja ketemu." Maria merengut.

"Nanti, setelah saya lulus, saya janji akan meluangkan waktu lebih banyak untuk kalian." Janji Satrio.

Amira mengangguk mengerti. "Iya, Yo. Kami tahu lo lagi berjuang. Kami dukung dari sini."

"Hati-hati, Yo," kata Malika.

Yanti hanya tersenyum, sorot matanya penuh kebanggaan.

Satrio membalas senyuman mereka. Ia menepuk pundak Yanti, memeluk Amira sekilas, dan melambaikan tangan kepada Maria dan Malika. "Sampai nanti," ucapnya, lalu membalikkan badan dan berjalan menjauh.

Satrio menghentikan langkahnya, menoleh dan tersenyum. Lalu, berkata, "Selamat tinggal, Yoyi. Selamat datang, Satrio."