Truk derek itu berhenti dengan sentakan kasar yang membuat leherku terasa nyaris patah.
Kami tiba di Bintaro Sektor 9. Kawasan ini memiliki aroma yang berbeda dari sisa Jakarta lainnya. Jika Jakarta Pusat berbau aspal panas dan emisi karbon, dan Jakarta Utara berbau garam serta amis laut, maka Bintaro Sektor 9 berbau campuran aroma tanah basah yang dirawat tukang kebun profesional dan residu lilin aromaterapi dari rumah-rumah gedongan.
Hujan sudah reda, menyisakan gerimis halus yang turun seperti tirai kristal.
"Turun, Bos! Udah sampe istana, nih," seru supir derek sambil menepuk bahuku. Gigi emasnya kembali berkilau, kali ini tampak lebih terang di bawah sorot lampu jalan LED komplek yang putih bersih.
Aku melompat turun dari kabin truk yang tinggi. Kakiku mendarat di paving block yang tersusun rapi, tanpa genangan air sedikit pun. Drainase di sini bekerja lebih baik daripada birokrasi kelurahan tempatku tinggal.
Di depan kami, sebuah rumah bergaya industrial minimalis berdiri angkuh. Dinding beton ekspos, pagar besi hitam setinggi tiga meter, dan garasi yang cukup luas untuk menampung ego pemiliknya.
Wanita itu-si penumpang The Office Dictator-sudah turun lebih dulu. Dia berdiri di samping Calya hitamku yang masih mati suri, mengetik sesuatu di ponselnya dengan jempol yang bergerak secepat kilat. Wajahnya tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun, seolah insiden mogok di tol tadi hanyalah jeda iklan di YouTube yang bisa di-skip.
Si supir derek menghampiri wanita itu, sedikit membungkuk, gestur tubuh yang otomatis muncul saat Prekariat berhadapan dengan The Haves.
"Sudah beres, Bu Bos. Sesuai pesanan. Mulus sampe depan pager."
Wanita itu tidak menoleh. Dia hanya melambaikan tangan kirinya, lalu melempar amplop cokelat kecil ke arah dada si supir.
"Hitung. Pas. Jangan minta lebih."
Supir itu menangkap amplop dengan sigap. Dia mengintip isinya, dan seringainya melebar hingga nyaris menyentuh telinga. "Siap! Berkah dalem, Bu Bos! Kalo butuh derek lagi, panggil Ujang aja!"
Tanpa membuang waktu, si supir derek berlari kembali ke truknya, menyalakan mesin yang batuk-batuk, dan melaju pergi. Meninggalkan jejak asap hitam yang kontras dengan udara bersih kawasan Bintaro.
Kini tinggal aku, wanita itu, dan mobil sewaan yang menjadi bangkai logam.
"Kamu," panggilnya. Nadanya datar.
Aku mendekat, meremas kedua tanganku yang dingin. "Ya, Mbak. Maaf soal tadi. Saya akan coba hubungi rental lagi buat buka kunci mesinnya, tapi mungkin butuh waktu karena..."
"Siapa nama vendor rental kamu?" potongnya.
"Maju Jaya Rent, Mbak."
Alisnya terangkat sebelah. Sebuah senyum tipis-atau lebih tepatnya seringai meremehkan-muncul di sudut bibirnya yang bergincu merah matte.
"Maju Jaya? Punya Ko Aseng yang gudangnya di Fatmawati?"
Aku ternganga. "Mbak... tahu?"
Dia tidak menjawab. Dia menekan satu tombol di layar ponselnya, menempelkan benda pipih itu ke telinga yang tertutup rambut blow sempurna.
"Halo, Seng? Ini gue. Sarah," ucapnya. Nadanya berubah. Bukan lagi marah, tapi akrab dengan intimidasi yang tersembunyi.
Hening sejenak. Aku bisa mendengar suara samar laki-laki dari seberang telepon.
"Gak usah basa-basi. Gue baru aja hampir mati di Tol JORR gara-gara unit lu yang busuk. Calya item. B 1998 UY. Supirnya lu lock mesinnya di tengah jalan. Gila lu ya?"
Jantungku berdegup kencang. Dia menelepon pemilik rental? Langsung?
"Gue gak peduli sistem lu mendeteksi apa. Fraud kek, suspend kek, bodo amat. Gue ada di dalem mobil itu, Seng! Lu mau gue tuntut kelalaian yang membahayakan nyawa? Pengacara gue lagi nganggur nih."
Wanita bernama Sarah itu diam, mendengarkan penjelasan panik dari seberang sana. Dia memutar bola matanya.
"Buka sekarang. Unlock mesinnya. Dan balikin status akun supir ini. Gue gak mau tau. Gue kasih waktu sepuluh detik atau besok izin usaha lu gue suruh orang Dishub buat audit."
Dia menjauhkan ponsel dari telinga, menatapku. "Coba nyalain."
Aku ragu-ragu. Kakiku gemetar saat melangkah masuk kembali ke dalam "Kotak Besi". Aroma di dalam masih sama, sisa ketakutan tadi. Aku memasukkan kunci, memutarnya ke posisi ON.
Panel instrumen menyala. Lampu indikator berkedip normal. Tidak ada tanda gembok merah menyala.
Aku memutar kunci lebih jauh.
Greng!
Mesin Calya menderu halus. AC kembali menghembuskan napas dingin. Radio menyala, memutarkan lagu jazz yang ironisnya sangat cocok dengan suasana Bintaro.
Itu sihir.
Bukan sihir Harry Potter. Ini sihir Jakarta. Sihir yang hanya bisa dirapal oleh mereka yang memegang kartu akses ke lantai teratas piramida makanan. Di mana aturan, sistem, dan algoritma Tuhan Digital sekalipun bisa ditekuk lututnya hanya dengan satu panggilan telepon.
Aku keluar dari mobil, menatap wanita itu dengan pandangan tak percaya.
"Sudah nyala, Mbak."
"Bagus," dia menutup telepon tanpa pamit pada Ko Aseng. "Tagihan perjalanan kamu sudah saya bayar lewat aplikasi. Plus tip buat ganti rugi mental."
Ponselku bergetar. Notifikasi masuk.
Akun Anda Telah Aktif Kembali. Pembayaran Diterima: Rp 350.000,- (Termasuk Tip). Rating: Bintang 5.
Aku menelan ludah. Masalah yang tadi terasa seperti kiamat kecil-mobil mati, akun suspend, terjebak di tol-lenyap begitu saja. Seolah tidak pernah terjadi. Hanya karena seorang wanita kaya merasa terganggu kenyamanannya.
"Makasih banyak, Mbak. Saya gak tahu harus bilang apa..."
"Gak usah bilang apa-apa," potongnya dingin. Dia berjalan menuju gerbang rumahnya yang otomatis terbuka perlahan. "Satu saran saya. Kalau mau main di aspal, pastikan kamu yang pegang kendali. Jangan mau disetir sama mesin, atau sama rental abal-abal kayak punya si Aseng."
Dia berbalik sebentar, menatapku dari ujung kaki ke ujung kepala. Tatapan yang menilai, bukan sebagai manusia, tapi sebagai aset yang kurang produktif.
"Dan ganti parfum mobil kamu. Baunya kayak bikin putus asa penumpang."
Gerbang besi hitam itu tertutup rapat. Klik.
Aku berdiri sendiri di depan benteng orang kaya itu. Gerimis kembali turun, membasahi kemeja flanelku yang sudah lecek.
Aku masuk kembali ke dalam mobil. Duduk di balik kemudi. Mesin menyala stasioner. Getarannya merambat ke punggungku.
Malam ini aku belajar satu hal tentang Society of the Spectacle. Bahwa di kota ini, hukum bukanlah panglima. Uang dan koneksi adalah rajanya. Sistem Tuhan Digital yang kuagung-agungkan, yang kutakuti setengah mati, ternyata hanyalah mainan bagi orang-orang seperti Sarah.
Ko Aseng, si pemilik Maju Jaya Rent yang bagiku seperti raksasa penagih utang, ternyata cuma kurcaci kerdil di hadapan wanita itu.
Aku melihat layar ponsel. Peta digital menunjukkan posisi di Bintaro Sektor 9. Zona merah. Permintaan tinggi.
Tiba-tiba, notifikasi masuk lagi.
Ting!
Orderan Baru: Layanan Roda Empat. Jemput: Emerald Bintaro. Tujuan: Bandara Soekarno-Hatta. Tarif: Rp 210.000,-
Jariku melayang di atas layar. Ragu.
Seharusnya aku pulang. Istirahat. Menenangkan jantung yang baru saja diajak roller coaster. Tapi kemudian, bayangan wajah Gendis muncul. Lalu bayangan Mpok Hindun menagih uang sewa.
Sihir Sarah tadi memang menyelamatkan mobilku. Tapi dia tidak menyelamatkan hidupku. Utang deposit masih ada. Setoran rental besok tetap berjalan.
Aku menekan tombol TERIMA.
"Mari kita mulai lagi simulasi ini," bisikku pada dashboard yang bisu.
Aku menginjak gas. Calya hitam bergerak perlahan, meninggalkan rumah mewah itu, kembali menjadi hantu yang bergentayangan mencari mangsa di jalanan basah Jakarta. Parfum Baccarat sisa wanita tadi masih tertinggal samar di jok belakang, bercampur dengan bau keringatku sendiri.
Aroma ironi yang sempurna.