Matahari Jakarta pukul dua siang tidak pernah mengajak berunding. Ia menghajar tengkuk tanpa ampun, melelehkan aspal dan kewarasan secara bersamaan. Di depan gerbang kantor operasional aplikasi-sebuah ruko tiga lantai yang dicat hijau neon menyakitkan mata-puluhan jaket hijau dan segelintir pengemudi mobil berkumpul.
Mereka menyebut ini "Aksi Solidaritas". Aku menyebutnya "Society of the Spectacle" versi paket hemat. Sebuah tontonan bagi pejalan kaki yang lewat, konten gratis bagi citizen journalist yang merekam dari balik kaca jendela Transjakarta, dan gangguan kecil bagi algoritma yang tetap berdengung dingin di server antah-berantah.
"Kita bukan mitra! Kita sapi perah!"
Suara itu pecah dari pengeras suara toa yang baterainya sudah sekarat. Di atas bak mobil pikap sewaan, seorang pemuda kurus dengan jaket kedodoran berteriak lantang. Tangannya mengepal ke udara, urat lehernya menonjol seperti kabel tiang listrik yang semrawut.
Inilah spesies baru dalam taksonomi aspal: The Union Dreamer. Dia masih percaya bahwa teriakan manusia bisa menembus firewall perusahaan. Dia percaya bahwa "Mitra" dalam Surat Perjanjian Kemitraan bermakna "Setara", bukan "Sedaerah tapi Tak Sapa".
"Halah," sebuah suara berat menyela di sampingku. Ucup menghembuskan asap kreteknya ke udara, membentuk awan kecil yang langsung buyar dihantam angin panas. "Bocah baru mecah telor sebulan aja lagaknya kayak Che Guevara."
Dan ini spesies lawas: The Cynic Veteran. Ucup sudah melihat semuanya. Dari zaman bonus insentif masih seharga motor baru, sampai zaman sekarang di mana bonus cuma cukup buat beli koyo cabe. Bagi Ucup, demo ini cuma ritual buang-buang bensin.
"Biarin lah, Cup," kataku sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipis. "Namanya juga usaha."
"Usaha itu nyari orderan, Bams. Bukan teriak-teriak di depan gedung kosong," Ucup menunjuk ruko itu dengan dagunya. "Orang kantornya mah udah pada WFH. Yang di dalem paling cuma OB sama satpam. Kita ini lagi demoin tembok."
Aku diam. Ucup benar. Tapi pemuda di atas pikap itu juga tidak salah. Ada kemarahan yang nyata di sini. Kemarahan kaum Prekariat yang sadar bahwa mereka berdiri di atas pasir hisap.
Ponselku bergetar di saku celana bahan-satu-satunya penanda status baruku sebagai pengemudi Layanan Roda Empat.
Mpok Hindun (3 Missed Call). Pesan WhatsApp: "Bams, Gendis badannya makin anget. Tadi muntah lagi. Lu pulang jam berapa?"
Jantungku serasa diremas tangan tak kasat mata. Dilema klasik kelas pekerja: memperjuangkan nasib orang banyak di jalanan, atau menyelamatkan satu nyawa kecil di rumah? Aku baru saja hendak membalas pesan itu ketika suasana berubah kacau.
Sirine meraung. Bukan ambulans.
Dua truk Satpol PP dan satu mobil patroli polisi merangsek masuk ke bahu jalan, memecah kerumunan seperti kapal pemecah es.
"Bubar! Bubar! Tidak ada izin!" Seorang petugas berseragam cokelat turun, tongkat komandonya menunjuk-nunjuk wajah The Union Dreamer.
"Kami punya hak menyampaikan pendapat, Pak!" si pemuda melawan, suaranya bergetar antara takut dan nekat.
"Hak gundulmu! Ini bikin macet! Bubar atau kami angkut!"
Kepanikan menular lebih cepat daripada virus flu. Kerumunan pecah. Motor-motor dinyalakan serentak, raungan knalpot bercampur dengan teriakan makian. Beberapa driver mencoba menyelamatkan spanduk bertuliskan "KEMBALIKAN INSENTIF KAMI" yang mulai ditarik paksa oleh petugas.
"Cabut, Bams!" Ucup menepuk bahuku keras, lalu berlari menuju motor Beat-nya yang terparkir di trotoar.
Aku seharusnya lari. Mobil sewaanku terparkir aman di radius dua ratus meter, di sebuah minimarket. Aku bisa saja berbalik, masuk ke dalam Kotak Besi ber-AC itu, dan meninggalkan kekacauan ini. Aku bukan lagi bagian dari "Pasukan Jaket Hijau". Aku sudah "naik kelas".
Tapi kemudian aku melihatnya.
Si Union Dreamer sedang diseret turun dari pikap oleh dua petugas Satpol PP. Tubuhnya yang kurus melayang, kakinya menendang-nendang udara. Kacamata minusnya terlempar ke aspal dan-krak-terinjak sepatu bot laras panjang.
Ada sesuatu yang mendidih di ulu hatiku. Sesuatu yang naluriah. Solidaritas buruh pabrik yang sudah kututup tirainya bertahun-tahun lalu bangkit kembali.
"Woy! Jangan kasar dong, Pak!" Teriakanku keluar begitu saja, tanpa melewati filter otak.
Aku maju, menembus barikade petugas, mencoba meraih lengan anak itu. "Dia cuma ngomong! Gak bawa senjata!"
"Mundur kamu!" Seorang petugas mendorong dadaku kasar.
"Bapak yang mundur! Ini negara demokrasi, bukan negara preman!"
Kesalahan fatal. Di Jakarta, seragam adalah hukum, dan mulut yang terlalu vokal adalah pelanggaran pasal karet.
Sebuah tangan kekar mencengkeram kerah kemejaku dari belakang. Duniaku berputar. Bau keringat apek aparat menyergap hidung. Sebelum aku sadar apa yang terjadi, tanganku sudah dipelintir ke belakang.
"Banyak omong! Masukin truk!"
"Tunggu, Pak! Saya cuma..."
Klik.
Bukan bunyi borgol besi, tapi zip tie-kabel ties plastik putih yang menjerat kedua pergelangan tanganku. Murah, efisien, dan menyakitkan. Simbol penahanan massal yang ekonomis.
Aku didorong naik ke bak truk terbuka bersama si Union Dreamer dan tiga driver sial lainnya. Truk berguncang, lalu melaju meninggalkan lokasi demo yang kini tinggal sisa sampah gelas plastik dan spanduk robek.
Di kejauhan, aku melihat Ucup di atas motornya, menatapku dengan mulut terbuka. Rokoknya jatuh dari bibir. Tatapannya seolah berkata: Goblok lu, Bams. Udah jadi orang mobil malah main gulat sama aparat.
Kantor kecamatan itu berbau karbol murahan dan birokrasi yang lamban. Kami berlima duduk berjejer di bangku panjang kayu jati yang sudah rompal, seperti anak SD yang menunggu giliran disuntik cacar.
Si Union Dreamer-namanya ternyata Dandi-menangis sesenggukan. Hidungnya berdarah sedikit. Mimpinya tentang revolusi buruh digital kandas di lantai keramik kecamatan yang pecah-pecah.
"Udah, jangan nangis. Air mata lo gak bakal bikin mereka iba," bisikku, mencoba terdengar tegar meski nyaliku sebenarnya sudah ciut memikirkan nasib akun taksol-ku. Kalau vendor rental tahu aku ditangkap, habis sudah.
Seorang petugas berperut buncit datang membawa tumpukan kertas buram.
"Kalian ini, bikin susah aja. Panas-panas bukannya nyari duit, malah teriak-teriak," omelnya sambil melempar pulpen ke meja. "Tanda tangan ini. Surat Pernyataan Tidak Mengulangi Perbuatan."
"Cuma tanda tangan, Pak? Gak dipenjara?" tanya Dandi polos.
"Heh, penjara penuh! Males saya ngurusin kroco kayak kalian. Tanda tangan, terus pulang. Tapi inget, data kalian sudah kami catat. Sekali lagi bikin rusuh, SKCK kalian merah seumur hidup."
Aku meraih pulpen itu dengan tangan yang masih pegal bekas ikatan kabel ties. Membaca sekilas isinya. Standar. Janji manis di atas materai imajiner. Aku membubuhkan tanda tangan: Bambang Sulistyo.
Tanda tangan yang sama yang kugunakan saat menyewa mobil, saat melamar kerja di pabrik, dan saat menerima surat PHK. Tanda tangan orang kalah.
"Sana bubar!" usir petugas itu.
Kami berjalan keluar dari kantor kecamatan dengan langkah gontai. Matahari sudah condong ke barat, menciptakan bayangan panjang yang terlihat menyedihkan di aspal.
Dandi menyalami tanganku erat-erat. "Makasih ya, Bang. Abang tadi berani banget belain saya. Abang pahlawan."
Aku tersenyum kecut. Pahlawan gundulmu. Aku cuma orang bodoh yang lupa kalau dirinya masih punya cicilan.
"Pulang sana, Dan. Kompres tuh hidung," kataku.
Begitu Dandi pergi, aku merogoh saku. Ponselku. Layarnya retak baru di bagian pojok, kenang-kenangan saat didorong naik truk tadi.
Lima belas panggilan tak terjawab dari Mpok Hindun.
Dan satu pesan baru yang membuat darahku berhenti mengalir sesaat.
Mpok Hindun: "Bams, Gendis kejang. Gue bawa ke Puskesmas sekarang. Lu di mana sih, setan?!"
Langit Jakarta di atasku mendadak terasa runtuh. Solidaritas? Perjuangan kelas? Persetan semuanya.
Aku berlari sekencang-kencangnya menuju tempat mobilku diparkir. Napasku memburu, bukan karena lelah, tapi karena ketakutan yang jauh lebih besar daripada menghadapi satu kompi Satpol PP.
Anakku.
Dan di saku celanaku, dompetku hanya berisi uang receh sisa kembalian dan selembar dua ribu rupiah yang lecek. Cukup untuk bayar parkir, tapi entah cukup untuk menebus nyawa atau tidak.