Aroma di dalam kabin Calya ini membingungkan.
Ada sisa wangi parfum Jo Malone palsu dari penumpang terakhir-seorang mbak-mbak SCBD yang minta diantar ke Senopati demi oat milk latte seharga UMR harian buruh-bercampur dengan bau apek karpet dasar yang belum dicuci sejak mobil ini keluar dari rahim pabrik. Namun, dominasi aroma sore ini diambil alih oleh minyak telon dan uap balsam.
"Uhuk."
Suara itu kecil, kering, dan menyayat hati.
Aku melirik ke spion tengah. Di jok belakang, Gendis meringkuk seperti udang. Tubuhnya tenggelam dalam hoodie kebesaran-bekas jatah seragam pabrik tekstilku dulu yang sudah kubuang logonya. Wajahnya pucat, kontras dengan jok kulit sintetis hitam yang mulai retak-retak.
"Dingin, Nduk?" tanyaku.
"Enggak, Yah. Enak. Adem," jawabnya lirih. Matanya terpejam.
Bohong. Dia menggigil. Tapi bagi anak yang tumbuh di Gang Kelinci-di mana ventilasi udara adalah kemewahan dan kipas angin berdebu adalah satu-satunya penyelamat-AC mobil sewaan ini adalah surga, meski suhunya kubuat paling rendah demi menghemat bensin.
Aku baru saja menebusnya dari "penjara" Mpok Hindun. Bukan penjara sungguhan, tentu saja. Tapi tatapan Mpok Hindun saat aku menjemput Gendis tadi lebih tajam dari silet cukur tukang pangkas rambut Garut.
"Anak lo panas tinggi, Bams. Lo malah keluyuran demo. Bapak macem apa lo?" semprotnya tadi, sambil menjejali tanganku dengan bungkusan plastik berisi bubur ayam yang sudah dingin. "Gak usah bayar dulu buburnya. Bayar utang kontrakan aja bulan depan. Awas lo!"
Mpok Hindun, rentenir berhati Hello Kitty.
Mobil merayap di Jalan Antasari. Di luar, langit Jakarta berwarna abu-abu kotor. Bukan mendung mau hujan, tapi mendung polusi. Lapisan racun yang menggantung rendah, mencekik paru-paru siapa saja yang berani bernapas gratisan.
Inilah Society of the Squeeze. Kami dihimpit. Di bawah, aspal macet. Di atas, udara beracun. Di tengah-tengah, aku terjebak dalam kotak besi ber-AC, mencoba menjadi The Family Man sambil tetap diperbudak oleh Tuhan Digital.
Tring!
Ponsel di dashboard menyala. Layar menampilkan peta dengan zona merah membara di sekitar Blok M. Surge pricing. Tarif naik dua kali lipat.
[ORDER MASUK: GO-FOOD. Martabak Sultan 88 -> Apartemen Brawijaya. Tunai: Rp 15.000]
Jari telunjukku berkedut. Refleks Pavlov. Lima belas ribu. Itu bisa buat beli bensin dua liter. Atau parasetamol sirup.
Aku menoleh ke belakang. Gendis tertidur, napasnya terdengar berat, ngik-ngik seperti engsel pintu karatan.
Jangan, Bams. Lo lagi bawa nyawa, bisik sisi warasku. Ambil, Boleh. Cuma nganter martabak. Gendis gak bakal bangun, bisik sisi dompetku yang sekarat.
Aku membiarkan lingkaran waktu di layar ponsel habis.
Tuit. Order hilang.
Performaku turun 0.1%. Masa bodoh.
"Yah..." Gendis mengigau.
"Dalem, Nduk. Ayah di sini."
"Nanti... nanti kalo Gendis udah gede, Gendis beliin Ayah mobil yang ada kasurnya. Biar Ayah gak tidur duduk terus."
Tenggorokanku tercekat. Rasanya seperti menelan biji kedondong utuh. Anak ini, dalam demamnya pun, masih memikirkan punggungku yang encok. Dia tahu aku sering tidur di mobil demi mengejar insentif subuh-para The Gacor Hunter menyebutnya 'Ritual Mata Merah'.
Aku memutar setir, membelokkan mobil ke arah apotek di pinggir jalan Fatmawati. Lampu neon apotek itu berkedip-kedip, seolah mengejek isi dompetku.
Parkir di bahu jalan. Aku merogoh saku.
Dua lembar uang dua puluh ribu. Lecek. Bau keringat. Satu lembar sepuluh ribu. Dan beberapa koin lima ratusan. Total lima puluh dua ribu lima ratus rupiah.
Sisa modal setelah bayar setoran harian ke Maju Jaya Rent.
Aku menatap Gendis lagi. Dia adalah The Silent Passenger paling berharga yang pernah kubawa. Tidak rewel minta ganti lagu, tidak minta AC digedein, tidak minta lewat jalan tikus. Dia hanya minta sehat. Permintaan paling mahal di Jakarta tahun 2026.
Aku turun dari mobil, mengunci pintu. Udara luar langsung menampar wajahku. Panas, lengket, dan bau asap dari knalpot mobil-mobil yang nggak lolos uji emisi.
Di dalam apotek, dinginnya berbeda. Steril. Bau obat-obatan yang mengintimidasi.
"Cari apa, Pak?" Apoteker muda itu tidak memandangku. Sibuk dengan ponselnya, mungkin sedang scroll TikTok melihat joget flexing anak pejabat.
"Obat batuk anak, Mbak. Yang bagus."
Dia menunjuk rak di belakangnya. Botol-botol kemasan lucu dengan gambar beruang dan stroberi. Harganya terpampang jelas: Rp 75.000.
Mati aku.
"Yang... yang biasa aja ada, Mbak? Yang generik?"
Apoteker itu akhirnya mendongak. Matanya memindai penampilanku: jaket bomber lusuh, celana jeans yang mulai tipis di lutut, dan wajah kurang tidur. Tatapan scanning yang sudah biasa kuterima. Tatapan yang mengklasifikasikanku sebagai 'Bukan Target Market'.
"Di rak bawah, Pak. Sebelah sana."
Aku berjongkok. Mengambil botol kaca kecil dengan label sederhana. Obat Batuk Hitam. Dua belas ribu rupiah. Di sebelahnya, penurun panas sirup. Delapan ribu rupiah. Total dua puluh ribu. Masih sisa buat beli bubur ayam lagi kalau Gendis lapar nanti.
"Sama masker anak, Mbak. Satu pack," tambahku saat di kasir.
"Tiga puluh ribu."
Pas. Sisa dua ribu lima ratus perak. Cukup buat bayar parkir.
Keluar dari apotek, aku merasa seperti baru saja merampok bank, tapi akulah yang dirampok. Dirampok oleh sistem kesehatan yang mewajibkan orang miskin untuk tidak boleh sakit.
Aku kembali ke mobil. Gendis sudah bangun, duduk bersandar di pintu, menatap keluar jendela. Menatap lalu lintas Jakarta yang semrawut.
"Ayah beli apa?" suaranya parau.
"Beli permen cair. Biar tenggorokan Gendis enak." Aku membuka segel obat, menuangkannya ke sendok plastik yang kuminta dari apotek tadi. "Aaaa..."
Gendis menurut. Wajahnya meringis menahan pahit. "Pahit, Yah."
"Obat emang pahit, Nduk. Kalo manis itu janji caleg pas kampanye."
Dia tertawa kecil. Tawa yang berakhir dengan batuk lagi.
Aku menyalakan mesin. Indikator bensin berkedip satu bar. Lampu kuning keramat.
"Kita mau ke mana, Yah? Pulang?"
Aku menatap jalanan di depan. Pulang ke Gang Kelinci berarti kembali ke udara pengap dan lembap yang memperparah paru-parunya. Tapi berputar-putar di jalanan berarti membakar bensin yang tak terbeli.
Dilema Prekariat.
"Kita jalan-jalan bentar ya, Nduk. Cari udara... eh, cari pemandangan."
Aku melajukan mobil pelan ke arah Pondok Indah. Kawasan The Haves. Di sana pohonnya rindang. Udaranya mungkin sedikit lebih bersih karena disaring oleh pagar-pagar rumah setinggi benteng Majapahit.
Kami melewati deretan rumah mewah. Mobil-mobil Eropa mengkilap terparkir di carport. Gendis menempelkan hidungnya di kaca jendela.
"Rumahnya gede banget, Yah. Itu yang tinggal raksasa?"
"Bukan, Nduk. Itu yang tinggal Office Dictator sama The Healthy Hypocrite," jawabku asal. "Orang-orang yang kalo makan nasi merah, tapi gajinya dari meres keringat orang kayak Ayah."
Gendis tidak paham, tapi dia mengangguk.
Tiba-tiba, Tuhan Digital berbunyi lagi. Kali ini suaranya berbeda. Bukan ting-ting biasa. Tapi notification panjang yang bergetar hebat.
[ORDERAN KAKAP: PREMIUM. Penjemputan: Pondok Indah Mall 3. Tujuan: Bandara Soetta. Estimasi Tarif: Rp 250.000. Ambil Sekarang?]
Dua ratus lima puluh ribu.
Jantungku melompat. Itu uang besar. Cukup buat isi bensin full tank, beli makan enak buat Gendis, dan nyicil utang ke Mpok Hindun.
Tapi... Bandara. Macet. Bisa dua jam perjalanan.
Aku melirik Gendis. Dia mulai terkantuk-kantuk lagi. Kalau aku ambil, dia harus ikut. Menjadi penumpang gelap di mobil bapaknya sendiri. Apakah penumpang Premium ini akan keberatan ada anak kecil sakit di jok depan?
Biasanya, penumpang Premium adalah spesies The Backseat Dictator. Mereka menuntut kesunyian, bau lavender, dan supir yang tidak terlihat. Membawa anak sakit adalah pelanggaran kode etik tak tertulis. Bisa bintang satu. Bisa suspend.
Tapi dua ratus lima puluh ribu...
"Yah?" Gendis menatapku, melihat kegelisahan di mataku. "Ayah mau kerja?"
"Enggak, Nduk. Ayah cuma..."
"Kerja aja, Yah. Gendis janji diem kok. Gendis bobo di depan. Gak bakal batuk."
Kalimat itu menampar pipiku lebih keras dari tangan Satpol PP kemarin. Anak delapan tahun ini, dia sudah mengerti Society of the Squeeze. Dia tahu dia harus mengecilkan eksistensinya agar bapaknya bisa bertahan hidup. Dia rela menahan batuk agar aku dapat bintang lima.
Jariku gemetar di atas layar ponsel.
Detik mundur di aplikasi berjalan. 10... 9... 8...
Ambil. Risiko diomelin penumpang. Abaikan. Risiko besok gak makan.
Aku menatap Gendis. Dia tersenyum, senyum yang dipaksakan di bibir yang kering.
"Ambil aja, Yah. Buat beli obat yang gambar beruang."
Persetan.
Aku menekan tombol TERIMA.
"Oke, Nduk. Kita main petak umpet ya. Nanti ada Tante atau Om yang masuk. Gendis pura-pura jadi tas belanjaan di jok depan, oke? Pake selimut. Jangan bersuara."
"Siap, Komandan." Dia menarik hoodie-nya menutupi kepala, meringkuk di jok depan sebelah kiri, mencoba menjadi benda mati.
Aku memutar balik mobil menuju lobi PIM 3. Jantungku berdegup kencang, bukan karena asmara, tapi karena teror rating.
Tuhan Digital tidak peduli anakmu sakit. Dia hanya peduli kau sampai di titik penjemputan dalam lima menit.
Dan aku, Bambang Sulistyo, baru saja mempertaruhkan sisa harga diriku di atas aspal Pondok Indah.