Lobi Pondok Indah Mall 3. Gerbang utama menuju hyperreality Jakarta Selatan.
Di sini, udara berbau uang baru dan hand sanitizer premium. Mobil-mobil mengilap antre seperti peserta kontes kecantikan mesin: Alphard, Vellfire, Rubicon, dan terselip satu Calya hitam-si itik buruk rupa yang sedang menyamar menjadi angsa.
Aku menahan napas. Bukan karena grogi melihat jajaran mobil mewah itu, melainkan karena isi kursi depanku.
"Nduk, tahan ya. Jangan gerak dulu," bisikku.
Di jok kiri depan, teronggok sebuah gundukan yang tertutup jaket hoodie lusuh dan selimut bermotif Hello Kitty. Dari luar, itu tampak seperti tumpukan laundry kiloan atau belanjaan grosir. Padahal di baliknya, ada Gendis yang sedang menggigil, memeluk lutut dengan suhu badan yang bisa merebus telur setengah matang.
"Dingin, Pak..." suara itu lirih, teredam kain tebal.
"Bentar lagi, Nak. Ini jackpot. Kakap merah. Soekarno-Hatta. Dua ratus lima puluh ribu. Cukup buat beli obat paten sama bayar denda Mpok Hindun."
Aplikasi di ponselku berkedip. Argo: Rp254.000. Penumpang: Mr. Ardi.
Seorang pria keluar dari pintu kaca otomatis. Penampilannya sleek. Kemeja linen tanpa kerutan, celana chino potongan slim fit, dan menyeret koper Rimowa aluminium yang harganya mungkin setara dengan harga jual ginjal kiriku. Dia tidak melihat ponsel, melainkan menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong khas kaum urban yang jiwanya tertinggal di zona waktu lain.
Ini dia spesies The Jetlagged Zombie.
Mereka adalah eksekutif muda yang sarapan di Singapura, makan siang di Jakarta, dan meeting di Zoom sambil menahan kantuk. Tubuh mereka ada di Jakarta, tapi jam biologisnya masih di London.
Aku buru-buru turun, membuka bagasi.
"Sore, Pak Ardi," sapaku, mencoba terdengar profesional meski punggungku basah oleh keringat dingin.
Dia hanya mengangguk. Tanpa suara. Dia mengangkat kopernya sendiri-gerakan efisien yang menolak bantuan basa-basi-dan melemparkannya ke bagasi. Brak.
Saat dia masuk ke jok belakang, aroma kabin seketika berubah. Bau apek karpet dasar mobilku kalah telak oleh serangan parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt. Wangi kemewahan yang steril.
"Bandara, Pak. Terminal 3," katanya singkat. Matanya langsung tertuju pada layar iPad Pro yang baru saja dia buka.
"Siap, Pak. Lewat JORR ya?"
"Terserah. Yang penting cepat. Saya flight jam sembilan."
Mobil melaju meninggalkan kemegahan PIM 3, merayap masuk ke arteri Pondok Indah yang padat merayap. Di spion tengah, aku melihat Pak Ardi memasang noise-cancelling headphone merek Sony. Bagus. The Silent Operator. Tipe penumpang favoritku. Tidak banyak tanya, tidak minta jadi DJ dadakan.
Namun, masalah ada di kursi depan.
AC mobil menyembur dingin. Bagi Pak Ardi yang biasa hidup di suhu ruangan server, ini nyaman. Bagi Gendis yang sedang demam tinggi, ini siksaan.
Aku melihat gundukan jaket itu bergetar pelan. Gigi Gendis gemeretuk. Hatiku mencelos. Ingin rasanya kumatikan AC, tapi itu sama saja bunuh diri. Rating bintang satu menanti jika si Bos di belakang merasa gerah sedikit saja.
Inilah dilema Society of the Squeeze. Aku tergencet. Di belakang ada tuntutan kenyamanan kelas menengah, di depan ada realitas kemiskinan yang menggigil.
"Uhuk..."
Suara batuk kecil lolos dari balik selimut Hello Kitty.
Aku melirik spion tengah. Pak Ardi tidak bereaksi. Aman. Mungkin fitur noise-cancelling itu benar-benar canggih.
Kami masuk Tol JORR. Hujan mulai turun. Rintik air memukul kaca depan, menciptakan irama yang meninabobokan sekaligus menggelisahkan. Lampu-lampu gedung apartemen di kejauhan tampak kabur, seperti lukisan impresionis yang luntur terkena air.
Di dalam "Kotak Besi" ini, kami bertiga adalah simulasi sosial yang aneh.
Di belakang, ada wakil dari Global Citizen. Manusia yang tidak menjejak tanah. Hidupnya dari bandara ke bandara, dari lounge ke lounge. Jakarta baginya hanyalah transit, sebuah Simulacrum yang terdiri dari lobi hotel dan ruang rapat ber-AC.
Di depan, ada Gendis. Korban nyata dari sistem yang gagal. Anak delapan tahun yang harus berpura-pura menjadi tas belanjaan karena bapaknya tidak punya uang untuk bayar pengasuh, apalagi biaya rumah sakit.
Dan aku? Aku cuma middleware. Perangkat lunak perantara yang menghubungkan si Kaya dengan tujuannya, sambil menyembunyikan si Miskin di balik jaket.
"Mas," suara bariton dari belakang memecah lamunanku.
Jantungku serasa copot. "Y-ya, Pak?"
Pak Ardi melepas headphone-nya. Dia menatap lurus ke gundukan di kursi depan.
"Itu... hidup?" tunjuknya.
Mati aku. Tamat. Suspend permanen. Melanggar SOP. Membawa penumpang tidak terdaftar. Membahayakan kenyamanan konsumen.
"M-maaf, Pak," suaraku bergetar. "Itu... anu... anak saya. Gendis. Dia lagi sakit, Pak. Gak ada yang jaga di rumah. Ibunya... ibunya udah gak ada. Kalau saya tinggal, takut kenapa-napa. Maaf banget, Pak. Maaf banget… Jangan laporin saya ya, Pak."
Hanya keheningan yang menguasai.
Hanya suara wiper yang berdecit. Cit. Cit. Seperti menghitung detik menuju eksekusi.
Pak Ardi menatap gundukan itu, lalu menatapku. Wajahnya yang tadi datar seperti tembok beton, kini retak sedikit. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Bukan marah. Bukan jijik.
"Sakit apa?" tanyanya.
"Demam, Pak. Panas tinggi dari kemarin. Belum sempet ke dokter, nunggu tarikan ini cair."
Dia diam lagi. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan botol air mineral Evian yang masih segel.
"AC-nya kecilin dikit. Atau arahin ke atas. Kasihan dia kedinginan."
Aku ternganga. "Tapi Bapak..."
"Saya nggak apa-apa. Kecilin aja AC-nya."
Aku buru-buru memutar kenop AC. Hembusan angin dingin berkurang. Gendis di balik selimut tampak sedikit lebih tenang, desah napasnya mulai teratur.
"Makasih, Pak. Makasih banyak," ucapku berulang-ulang, seperti kaset rusak.
Pak Ardi tidak menjawab. Dia kembali menatap iPad-nya, tapi kali ini tidak menggulir layar. Dia melihat ke luar jendela, menembus hujan yang semakin deras.
"Kamu tahu kenapa kamu dapet orderan saya?" tanyanya tiba-tiba.
"Rezeki anak soleh mungkin, Pak?" jawabku asal, mencoba mencairkan suasana.
Dia tersenyum miring. Senyum sinis yang menyimpan rahasia dapur.
"Bukan. Itu algoritma. Saya ini mantan VP di salah satu aplikasi kompetitor."
Tanganku mencengkeram setir lebih erat. Si Jetlagged Zombie ternyata bukan sekadar penumpang. Dia adalah salah satu arsitek dari Tuhan Digital.
"Sistem itu tahu kamu lagi butuh duit, Mas," lanjutnya, nadanya datar seperti sedang presentasi data. "Pola logaritma akun kamu terdeteksi. Kamu sering online jam tidak wajar, tingkat penolakan order rendah, dan saldo dompet minus. Sistem membaca itu sebagai 'Desperation Index' atau Indeks Keputusasaan."
"Maksudnya, Pak?"
"Saat pengemudi terdeteksi putus asa, algoritma akan melempar orderan 'Kakap'-jarak jauh, tarif besar-tapi dengan risiko tinggi. Macet parah, hujan badai, atau rute yang dihindari driver lain. Mereka tahu kamu gak bakal nolak. Kamu butuh cash. Jadi, kamu dikasih 'tulang' yang masih ada sedikit dagingnya, biar kamu tetep ngejar."
Aku terdiam. Darahku mendidih, tapi juga dingin di saat bersamaan.
Jadi selama ini, saat aku merasa beruntung mendapatkan orderan besar di tengah hujan, itu bukan berkah? Itu adalah eksploitasi terukur? Mereka tahu Gendis sakit? Mereka tahu dompetku kosong?
"Bajingan," gumamku tanpa sadar.
"Memang," sahut Pak Ardi santai. "Itulah kenapa saya resign. Capek ngeliat manusia cuma jadi titik data."
Mobil meluncur masuk ke area keberangkatan Terminal 3. Cahaya lampu bandara yang megah menyinari wajah Gendis yang pucat. Dia masih tertidur, tidak tahu bahwa demamnya telah dikonversi menjadi data statistik oleh mesin di server entah berantah.
Aku menepikan mobil di drop zone.
"Dua ratus lima puluh empat ribu, Pak," kataku, kembali ke mode robot.
Pak Ardi tidak mengeluarkan dompet. Dia mengeluarkan ponsel, memindai kode QRIS yang tergantung di sandaran kepala.
Ting. Notifikasi masuk.
Aku mengecek layar ponselku. Mataku membelalak.
Dana masuk: Rp1.000.000.
"Pak, ini kelebihan banyak banget! Kembaliannya..."
Pak Ardi sudah di luar, bagasi sudah terbuka. Dia menahan pintu penumpang depan sejenak, menatap gundukan selimut Hello Kitty itu.
"Beli obat yang bagus. Jangan obat warung. Sisa-nya buat beli martabak atau apalah biar anakmu seneng," katanya.
"Tapi Pak..."
"Anggap aja itu bug bounty. Hadiah karena kamu nemuin celah kemanusiaan di sistem yang rusak."
Dia menutup pintu. Tanpa menoleh lagi, dia menyeret koper Rimowa-nya masuk ke dalam terminal, menghilang di antara kerumunan The Influencer Poser yang sibuk live Instagram di depan pintu keberangkatan.
Aku masih mematung di belakang kemudi. Ponselku bergetar lagi. Notifikasi dari aplikasi.
Selamat! Anda mendapatkan tip Rp0. Performa Anda di bawah rata-rata. Harap tingkatkan kebersihan kendaraan.
Aku tertawa. Tawa kering yang perih.
Tuhan Digital tidak mencatat transfer manual via QRIS pribadi. Bagi aplikasi, aku baru saja menyelesaikan orderan tanpa bonus. Tapi di saku digital pribadiku, ada sejuta rupiah yang nyata.
Aku mengelus kepala Gendis yang masih tertutup jaket.
"Bangun, Nduk. Kita pulang. Bapak beli obat sekarang."
Gendis menggeliat, mata sayunya terbuka sedikit. "Udah sampe, Pak?"
"Udah. Kita menang hari ini, Nduk. Kita menang lawan mesin."
Aku memasukkan gigi, menginjak gas, meninggalkan bandara yang megah itu. Hujan sudah reda, menyisakan aroma tanah basah yang bercampur dengan sisa wangi Jo Malone yang tertinggal di jok belakang.
Malam ini, Jakarta sedikit lebih ramah. Tapi aku tahu, besok pagi, Desperation Index-ku akan di-reset ulang. Dan perburuan akan dimulai kembali.