Urban #Ojol #Taksol

Ratu Pembatal dan Algoritma yang Adil

Penulis djoedo
05 March 2026

Satu juta rupiah.

Angka itu berkedip genit di layar ponsel, tepat di menu riwayat mutasi QRIS. Bukan uang tunai lecek yang bau pasar, bukan recehan yang harus disusun seperti lego. Ini digit digital. Bersih. Suci. Terhormat. Tip dari Pak Ardi tadi bukan sekadar uang; itu adalah transfusi darah untuk dompetku yang sudah masuk ICU.

"Pak, Gendis haus..."

Suara serak dari jok depan memecah lamunanku tentang martabak manis keju spesial. Aku menoleh cepat. Di sana, di kursi penumpang depan, ada gundukan selimut lusuh yang menyamarkan tubuh kecil anakku.

"Sstt, Nduk. Tahan bentar ya. Bentar lagi kita melipir beli air," bisikku sambil membetulkan letak jaket ojol yang menutupi kakinya. "Inget permainannya kan? Kamu sekarang bukan Gendis."

Gendis mengangguk lemah, matanya sayu tapi bibirnya memaksakan senyum. "Aku tas belanjaan. Tas laundry."

"Pinter. Tas laundry mahal. Isinya baju pejabat. Jadi gak boleh bersuara, nanti bajunya bangun."

Ide gila ini muncul karena kepepet. Meninggalkan Gendis sendirian di kontrakan Mpok Hindun yang lembap saat demamnya naik turun sama saja kriminal. Tapi berhenti narik saat saldo baru saja "pecah telor" satu juta perak juga tindakan bunuh diri ekonomi. Solusinya? Penyelundupan manusia di jok depan Calya.

Aplikasi berbunyi. Ting-nong!

PENJEMPUTAN: Terminal 3 Kedatangan Internasional. TUJUAN: Apartemen Senopati Suites. TARIF: Rp 185.000 (Surge Pricing). STATUS: PLATINUM.

Ikan Kakap.

"Oke, Nduk. Tahan napas. Kita mau angkut Nyonya Besar. Jangan gerak, jangan batuk. Anggap aja kita lagi main petak umpet sama satpam."

Mobil meluncur ke area penjemputan yang semrawut. Terminal 3 sore ini adalah definisi neraka yang dipoles marmer. Klakson bersahutan, security meniup peluit seperti wasit pertandingan bola yang rusuh, dan manusia-manusia dengan koper Rimowa berjalan angkuh membelah lautan penjemput lokal.

Targetku berdiri di Pilar 4. Wanita muda, kacamata hitam oversized (padahal mendung), tote bag Dior, dan koper silver yang harganya mungkin bisa buat DP rumah subsidi di Cikarang.

Aku menepi. Kaca turun.

"Mbak Vanya?"

Dia menatap pelat nomor, lalu menatap wajahku, lalu menatap gundukan jaket di kursi depan. Alisnya yang disulam sempurna terangkat satu milimeter.

"Itu apaan di depan?" tanyanya. Suaranya datar, tipikal The Jetlagged Zombie yang nyawanya masih tertinggal di transit Singapura.

"Oh, itu... laundry, Mbak. Punya pelanggan sebelumnya. Ketinggalan, mau saya anterin balik abis ini," jawabku cepat. Bohong demi perut. "Tenang, bersih kok. Udah dicuci pake deterjen anti-bakteri."

Dia mendengus, lalu membuka pintu belakang. Masuk.

Dan seketika itu juga, ekosistem udara di dalam Calya berubah drastis.

Jika sebelumnya mobil ini berbau kombinasi unik antara "Minyak Telon Cap Lang", "Paru-paru Basah", dan "Sisa Bubur Ayam", kini aroma itu tergilas habis. Terjajah.

Wanita ini bukan sekadar memakai parfum. Dia mandi parfum. Aroma Jo Malone English Pear & Freesia (atau tiruannya yang super kuat) meledak di kabin sempit ini. Baunya manis, tajam, dan otoriter. Seolah-olah aroma ini berteriak: "Minggir lo bau miskin! Gue mau lewat!"

Ini bukan wewangian. Ini invasi teritorial.

"AC-nya bisa digedein gak, Mas? Gerah banget Jakarta. Humidity-nya gila," keluhnya sambil mengibaskan tangan di depan hidung. "Dan ini mobil bau apa sih? Kayak... obat gosok nenek-nenek?"

Skakmat. Hidung orang kaya memang punya sensor terpisah untuk mendeteksi kemiskinan.

"Maaf, Mbak. Itu bau... pewangi mobil baru. Varian 'Kearifan Lokal'," jawabku asal sambil menaikkan blower AC ke angka tiga.

Mobil merayap keluar bandara, masuk ke Tol Sedyatmo. Di sinilah perang dingin dimulai.

Mbak Vanya di belakang sibuk dengan iPhone 17 Pro Max-nya, melakukan Voice Note dengan temannya.

"Jujurly, gue shock banget pas landing. Imigrasi antrenya chaos parah. Terus sekarang dapet Gocar yang baunya kayak panti jompo. Literally mau muntah gue."

Aku mencengkeram setir. Sabar, Bams. Sabar. Orang ini bayar pake Gopay, bukan pake doa.

Di sebelahku, gundukan "Tas Laundry" bergerak sedikit. Gendis pasti sesak napas. Kombinasi AC dingin dan serangan gas beracun Freesia ini pasti menyiksa hidung kecilnya yang sedang mampet.

Tiba-tiba, Mbak Vanya menyemprotkan sesuatu dari tasnya. Cres. Cres. Cres.

Kabut halus menyebar. Baunya alkohol campur bunga melati. Hand sanitizer semprot? Atau parfum lagi?

"Mbak, maaf, jangan nyemprot di dalem..."

"Kenapa? Saya gak kuat baunya, Mas. Ini Room & Linen Spray impor. Mahal. Harusnya Mas makasih mobilnya saya wangiin."

Uhuk.

Suara itu kecil, tertahan, tapi jelas. Berasal dari jok depan.

Hening.

Mbak Vanya berhenti main HP. "Itu laundry-nya batuk?"

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Otakku berputar mencari alasan sosiologis yang masuk akal. "Itu... suara knalpot bocor, Mbak. Resonansi ke kabin depan."

"Mas pikir saya bodoh?" Suaranya meninggi satu oktaf. "Itu suara orang! Mas bawa penumpang gelap ya di depan? Ya ampun, jangan-jangan itu mayat?"

"Bukan mayat, Mbak! Sembarangan. Ini anak saya!" Aku menyerah. Sandiwara tamat. Aku membuka sedikit jaket yang menutupi wajah Gendis. Wajah pucatnya terlihat, matanya berair menahan batuk.

"Anak?" Mbak Vanya mundur, menempelkan punggungnya ke pintu seolah Gendis adalah virus berjalan. "Mas bawa anak sakit narik taksi? Gila ya? Kalau saya ketularan gimana? Saya baru balik dari Fashion Week Paris, imun saya lagi turun!"

"Dia cuma demam biasa, Mbak. Gak nular. Lagian dia pake masker..."

"Turunin saya. Sekarang."

"Di tol, Mbak? Gak bisa."

"Saya gak peduli! Ini pelanggaran SOP! Unsanitary condition!" Dia mulai memencet-mencet layar ponselnya dengan beringas. Jari-jarinya yang berkutek merah darah menari di atas layar aplikasi. "Saya laporin kamu. One star. Refund."

Aku melihat spion tengah. Wajahnya merah padam, campuran antara jijik dan panik. Inilah wajah asli The Healthy Hypocrite. Orang yang minum jus kale organik seharga lima puluh ribu demi kesehatan, tapi tidak punya empati pada anak kecil yang sakit.

"Mbak, tolong pengertiannya. Saya single parent, gak ada yang jagain..."

"Bodo amat. Itu derita lo, bukan derita gue. Gue bayar mahal buat kenyamanan, bukan buat jadi relawan sosial."

Cres. Cres. Cres.

Dia menyemprotkan cairan itu lagi, kali ini lebih agresif. Arahnya ke depan, ke arah Gendis.

"Mbak! Jangan disemprot ke anak saya!" bentakku. Refleks, tanganku menepis udara.

"Ini disinfektan! Biar kumannya mati!"

Mobil oleng sedikit. Klakson truk di belakang menggelegar. Aku menyeimbangkan setir kembali. Gendis mulai menangis tanpa suara, air mata meleleh di pipinya yang panas.

Cukup.

Aku menepi ke bahu jalan darurat, tepat di bawah plang "DILARANG BERHENTI KECUALI DARURAT".

"Mbak," kataku, menoleh ke belakang. Suaraku tenang, tapi tanganku gemetar menahan amarah. "Silakan turun."

"Hah? Lo ngusir gue?"

"Iya. Turun. Pesen mobil lain. Saya gak butuh duit Mbak. Saya balikin ongkosnya cash sekarang." Aku merogoh saku, mengeluarkan dua lembar seratus ribu dari uang saku pribadiku (bukan uang Ardi). Melemparnya ke jok belakang.

"Lo gila ya? Gue laporin ke kantor pusat, abis lo! Akun lo bakal di-suspend permanen!"

"Laporin aja. Bilang supirnya lebih mentingin anaknya daripada nyonya besar yang bau parfumnya bikin pusing."

Dia ternganga. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Mungkin shock karena ada kaum prekariat yang berani melawan Queen of SCBD.

Tiba-tiba, notifikasi masuk di ponselku.

LAPORAN PENUMPANG: Kendaraan Bau Tidak Sedap & Membawa Penumpang Lain. STATUS: Investigasi.

Cepat sekali jempolnya.

Tapi kemudian, notifikasi kedua muncul.

SISTEM: Klaim Kompensasi Ditolak. Bukti Tidak Cukup. Riwayat Penumpang Terindikasi Sering Melakukan Pembatalan & Klaim Palsu (The Cancel Queen).

Aku menahan tawa. Algoritma, si Tuhan Digital yang biasanya kejam, kali ini berpihak padaku. Mungkin karena riwayat akun Mbak Vanya ini memang busuk di mata server. Terlalu sering minta refund dengan alasan absurd.

"Mbak," kataku sambil menunjuk layar HP. "Sistem nolak komplain Mbak. Jadi pilihannya dua: Mbak diem, tahan napas, jangan semprot-semprot racun itu lagi sampe Senopati. Atau Mbak turun di sini, nunggu di pinggir tol sama truk pasir. Gratis."

Mbak Vanya menatap layar HP-nya sendiri. Wajahnya pucat. Dia tahu mencari Gocar di bahu jalan tol saat jam sibuk itu mustahil.

Dia mendengus kasar, melipat tangan di dada, dan membuang muka ke jendela.

"Jalan," desisnya. "Awas kalau lambat."

Aku kembali menginjak gas. Calya melaju pelan.

Di jok depan, Gendis menatapku. Tangannya yang kecil dan panas menyentuh lenganku. Aku mengedipkan mata padanya.

Di dalam kotak besi yang melaju membelah Jakarta ini, aroma minyak telon anakku dan parfum jutaan rupiah itu bertarung di udara. Dan untuk hari ini, aroma minyak telon yang menang telak.