Urban #Ojol #Taksol

The Tip Queen dan Pengamat Bisu

Penulis djoedo
05 March 2026

Hujan di Jakarta tidak pernah turun untuk membasuh luka; ia turun hanya untuk menyamarkan air mata. Atau dalam kasusku malam ini, menyamarkan jejak ban botak Calya sewaan di aspal basah Sudirman.

Gendis tertidur di jok depan. Pulas. Efek obat penurun panas sirup rasa stroberi-satu-satunya hal manis yang bisa kubelikan hari ini-akhirnya bekerja. Jaket ojol bau matahari menutupi tubuh ringkihnya. Dia aman. Setidaknya untuk satu jam ke depan sebelum efek obat habis dan dunia nyata kembali menggigit.

Ting-nong!

Notifikasi masuk. Bukan orderan biasa.

ORDER: Apartemen Senopati Suites -> Hotel Dharmawangsa (Lobby Belakang). CATATAN: Jangan banyak tanya. AC dingin. Saya tip besar. STATUS: PRIORITY.

Spesies baru: The Tip Queen.

Aku memutar kemudi. Ban berdecit memprotes. Kami meluncur menuju menara gading tempat manusia-manusia dengan gaji dollar bersembunyi dari polusi.


Penumpang itu masuk membawa badai aroma. Bukan hujan, melainkan Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540. Wangi safron dan amberwood yang begitu pekat, seolah ia baru saja berendam di bak mandi berisi uang kertas baru.

Wanita muda. Cantik, tapi jenis cantik yang dirakit dengan biaya perawatan setara UMR setahun. Gaun backless hitam, rambut di-blow sempurna, dan mata yang bengkak.

"Jalan, Mas. Dharmawangsa," perintahnya tanpa menoleh. Suaranya retak. Seperti gelas kristal yang diketuk terlalu keras.

"Siap, Mbak. Sesuai aplikasi."

Aku melirik spion tengah. Dia tidak duduk bersandar. Tubuhnya condong ke depan, menatap layar iPhone yang menyala terang. Jari-jarinya gemetar saat mengetik pesan yang kutebak tidak akan pernah terkirim-atau lebih parah, sudah terkirim tapi cuma centang satu.

Inilah tugasku malam ini. Bukan sebagai supir, melainkan The Silent Stalker. Pengamat bisu. Hantu di balik kemudi yang dibayar untuk tidak ada, tidak mendengar, dan tidak peduli.

"Mas, bisa ngebut dikit?"

"Macet, Mbak. Malam minggu. Orang pacaran tumpah ke jalan."

"Pacaran..." Dia mendengus. Tawa kecil yang pahit keluar dari bibirnya yang merah darah. "Iya. Pacaran. Mas punya pacar?"

Pertanyaan jebakan.

"Saya punya anak, Mbak. Itu di depan lagi tidur," jawabku datar, menunjuk gundukan jaket.

Dia menoleh sekilas ke arah Gendis, tapi tatapannya kosong. Tidak ada jijik seperti penumpang sebelumnya, hanya ketidakpedulian dari seseorang yang lukanya sendiri terlalu menganga.

"Baguslah. Punya anak lebih jelas. Kalau pacar... apalagi di kota ini... semuanya fana, Mas."

Ponselnya berdering. Nama kontak di layar terpantul di kaca spion: "MY EVERYTHING (DO NOT ANSWER)".

Ironis. Segalanya, tapi jangan dijawab.

Dia mengangkatnya. Speaker diaktifkan. Mungkin dia butuh saksi, meski saksi itu hanya supir taksol yang sedang menahan lapar.

"Halo? Sayang, kamu di mana? Aku udah di lobi Dharmawangsa," suara pria terdengar. Berat. Berwibawa. Jenis suara yang biasa memberi perintah di ruang rapat Treasury Tower.

"Aku on the way, Mas. Lima menit lagi," jawab wanita itu. Suaranya berubah manis seketika. Topeng terpasang. Society of the Spectacle bekerja sempurna.

"Duh, Yang... maaf banget. Kayaknya kita harus reschedule."

Hening.

Hanya suara wiper menyapu kaca. Slap. Slap.

"Kenapa?" tanyanya pelan.

"Anakku... yang kecil. Demam tinggi. Istriku panik minta dianter ke UGD. Aku nggak bisa tinggalin mereka. Kamu ngerti kan? Kita cari waktu lain ya? Besok aku transfer buat shopping."

Klik. Sambungan putus.

Aku melihat wajahnya di spion. Topeng itu retak, lalu hancur berkeping-keping.

Air mata hitam-maskara luntur-meleleh di pipinya. Dia tidak menjerit. Dia tidak memaki. Dia hanya menatap layar ponsel yang kini gelap, memantulkan wajahnya yang menyedihkan.

"Bohong," bisiknya.

Dia membuka galeri foto. Men-zoom sebuah foto yang sepertinya baru saja dikirim oleh temannya-seorang cepu di lapangan. Foto seorang pria sedang makan malam romantis di sebuah restoran steak di Gunawarman. Bukan di UGD. Dan wanita di sebelahnya bukan istrinya, melainkan perempuan lain yang jauh lebih muda.

Jadi, penumpangku ini bukan istri yang sah. Dia juga bukan satu-satunya simpanan. Dia hanyalah satu dari sekian banyak opsi di menu prasmanan nafsu pria itu.

The Secret Girlfriend. Kekasih gelap yang ternyata masih kurang gelap, karena masih ada yang lebih tersembunyi di dalam bayangan.

"Mas," panggilnya.

"Ya, Mbak?"

"Gak jadi ke Dharmawangsa. Putar balik. Ke Senopati lagi. Kita lewatin Gunawarman."

"Mbak yakin? Macet parah di sana."

"Saya bayar Mas tiga kali lipat. Jalan."

Uang bicara. Logika minggir.

Aku memutar setir di putaran Semanggi. Calya hitam ini membelah hujan, membawa satu hati yang patah dan satu anak yang demam. Dua jenis penderitaan yang berbeda, disatukan dalam satu kotak besi ber-AC.

Kami merayap di Gunawarman. Restoran-restoran mewah dengan kaca besar memamerkan isinya: manusia-manusia sukses yang tertawa, makan daging impor, dan minum wine mahal. Etalase kebahagiaan semu.

"Pelan-pelan, Mas," perintahnya.

Mobil merayap di depan sebuah steakhouse ternama.

"Itu," tunjuknya. Jarinya menempel di kaca jendela yang dingin.

Di meja dekat jendela, pria itu ada di sana. Tertawa lebar. Memegang tangan perempuan muda berbaju merah. Tidak ada anak sakit. Tidak ada istri panik. Hanya kebohongan yang dirayakan dengan medium rare wagyu.

Penumpangku menatap pemandangan itu seperti menonton film horor. Tanpa suara. Napasnya memburu, membuat kaca jendela berembun.

Aku menunggu instruksi. Apakah dia akan turun? Melabrak? Menyiram air keras? Atau minimal melempar sepatu hak tingginya ke kaca restoran?

Satu menit berlalu.

Dua menit.

Gendis menggeliat dalam tidurnya, merintih pelan. "Pak... haus..."

Suara Gendis memecahkan mantra.

Wanita itu tersentak. Dia menarik diri dari jendela, kembali bersandar di jok kulit sintetis yang keras. Dia menghapus air matanya kasar, menyisakan noda hitam di punggung tangannya yang putih pucat.

"Jalan, Mas. Pulang."

"Gak jadi turun, Mbak?"

"Buat apa?" Dia tertawa hambar. "Saya cuma mau memastikan kalau saya memang semurah itu harganya. Ternyata benar."

Dia membuka tas Dior-nya. Mengeluarkan dompet panjang. Menarik lima lembar uang seratus ribu. Merah. Menyala.

"Ini buat Mas. Dan buat beli obat anak Mas." Dia melempar uang itu ke jok depan, tepat di samping kaki Gendis. "Jangan kayak laki-laki itu ya, Mas. Kalau punya anak, dijaga. Jangan dijadikan alasan buat bohong."

"Makasih, Mbak."

Aku melajukan mobil meninggalkan Gunawarman. Meninggalkan pria itu dengan kebahagiaan palsunya.

Di kursi belakang, wanita itu kembali memperbaiki make-up-nya. Mengoleskan lipstik merah menyala, menutupi bibirnya yang pucat. Menyemprotkan Baccarat lagi ke lehernya. Membangun kembali benteng pertahanannya.

Dalam hitungan menit, dia sudah kembali menjadi The Tip Queen. Angkuh. Dingin. Tak tersentuh. Seolah lima menit yang lalu dia tidak hancur lebur di kursi belakang taksi online sewaan.

"Jakarta itu panggung sandiwara, Mas," gumamnya saat turun di lobi apartemen. "Dan akting saya malam ini buruk sekali."

Pintu tertutup.

Aku menatap lima lembar uang merah di samping Gendis. Bau parfum mahal itu masih tertinggal, bercampur dengan bau minyak telon.

Ilusi. Semuanya ilusi. Cinta di aspal Jakarta hanyalah transaksi yang belum jatuh tempo.

Aku mengambil uang itu, menyimpannya di saku. Setidaknya, uang ini nyata. Cukup nyata untuk membeli bensin dan bubur ayam besok pagi.

"Tidur lagi, Nduk," bisikku sambil mengelus kepala Gendis. "Jangan cepet gede. Dunia orang dewasa itu isinya cuma bohong yang dibungkus kertas kado mahal."