Gang Kelinci tidak pernah tidur, tapi ia selalu menguap. Bau got yang bercampur dengan aroma bawang goreng dari dapur tetangga menyambutku seperti pelukan bibi yang terlalu erat.
Di depan pintu kontrakan yang cat hijaunya sudah mengelupas seperti kulit terbakar matahari, Mpok Hindun berdiri. Tangannya bersedekap di dada, daster batiknya berkibar pelan ditiup angin kipas angin dari dalam rumah. Wajahnya adalah definisi dari audit keuangan berjalan.
"Gendis udah tidur, Mpok," kataku pelan, menyerahkan kantong kresek berisi bubur ayam dan obat penurun panas. Gendis sudah kumasukkan ke kamar lima menit lalu, kembali ke habitat aslinya setelah petualangan ilegal di jok depan Calya.
"Lo jangan bikin gue jantungan, Bams. Bawa anak sakit keliling Jakarta kayak bawa paket kilat," omel Mpok Hindun, meski tangannya sigap menerima kresek itu. "Kalo tuh bocah kenapa-napa, gue yang repot."
"Tenang, Mpok. Udah aman. Demamnya turun dikit." Aku merogoh saku celana jins, mengeluarkan ponsel. "Cek mutasi, Mpok. Udah saya transfer."
Mpok Hindun mengangkat alis. Ia merogoh saku dasternya, mengeluarkan ponsel Android yang layarnya retak seribu tapi masih berfungsi. Jempolnya menari lincah.
"Hah? Tiga bulan sekaligus?" Matanya membelalak, menatap layar lalu menatapku. "Lo ngerampok money changer, Bams?"
"Rezeki anak soleh yang terzalimi sistem, Mpok. Sisa utang listrik sama air, anggep aja lunas pake bunga persahabatan ya?"
"Enak aje! Bunga persahabatan gundulmu. Tapi ya udahlah, buat beli vitamin si Gendis." Mpok Hindun tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka yang mungkin hanya terjadi saat gerhana matahari. "Udah sana narik lagi. Mumpung muka lo lagi gak kayak kanebo kering."
Aku mengangguk, lalu berbalik menuju mulut gang. Beban di pundak rasanya berkurang dua ton. Utang lunas. Gendis aman (untuk sementara). Setidaknya malam ini, aku bukan buronan ekonomi.
Tol Dalam Kota, pukul tujuh malam.
Ini bukan jalan bebas hambatan. Ini adalah tempat parkir terpanjang di Asia Tenggara yang memungut bayaran.
Di dalam kabin Calya yang kini hening tanpa napas berat Gendis, aku terjebak dalam apa yang disebut Baudrillard sebagai Simulacra. Kita semua bergerak, roda berputar, bensin terbakar, tapi secara geografis kita tidak berpindah. Kita hanya bergeser inci demi inci dalam antrean menuju ketiadaan.
Di sebelah kananku, sebuah Pajero Sport hitam dengan stiker "Keluarga Besar Mabes bla-bla-bla" menyalakan lampu strobo biru. Wiu-wiu bisu. Dia mencoba membelah kemacetan seolah-olah dia adalah Musa yang membelah Laut Merah, padahal di depannya ada truk tinja yang tidak peduli pada pangkat atau jabatan.
Inilah taksonomi jalanan Jakarta malam ini:
Pertama, The Speed Demon. Spesies seperti si Pajero ini. Mereka menganggap bahu jalan adalah jalur pribadi nenek moyang mereka. Pedal gas adalah ekstensi dari ego yang rapuh.
Kedua, The Toll Evader. Mobil-mobil kecil, biasanya LCGC sepertiku atau city car kredit tenor lima tahun, yang zig-zag mencari celah antar truk, mencoba menghemat waktu tiga detik yang sia-sia.
Ketiga, The Resigned Philosopher. Supir-supir truk logistik yang pasrah, merokok kretek dengan tangan menjuntai keluar jendela, menatap kehampaan Jakarta dengan tatapan kosong. Mereka tahu, cepat atau lambat, semua akan sampai di gudang. Atau di akhirat.
Aku masuk kategori mana? Mungkin The Floating Prekariat. Mengapung di antara keinginan untuk cepat pulang dan kebutuhan mengejar insentif poin yang seperti wortel di depan hidung keledai.
Aplikasi di dasbor masih menyala, menampilkan peta Jakarta yang merah membara seperti neraka bocor.
Tiba-tiba, dari kaca spion kiri, sebuah bayangan hitam melesat.
Sebuah sedan mewah-BMW Seri 5 atau sejenisnya-mencoba menyalip dari bahu jalan, memotong masuk ke jalurku secara paksa karena terhalang truk mogok di depan.
"Woy!" teriakku, refleks menginjak rem.
Terlambat.
BRAK!
Bunyi logam beradu dengan plastik keras. Getarannya merambat dari bumper depan sampai ke tulang ekor. Calya berguncang hebat. Ponselku terlempar dari holder magnet.
Hening sejenak. Hanya suara mesin AC yang mendesing canggung.
"Sialan!" umpatku, memukul setir. Baru saja merasa kaya, sekarang harus urusan sama bengkel.
Aku membuka pintu, melangkah keluar ke aspal tol yang panas. Di depan, sedan mewah itu juga berhenti. Pintu pengemudinya terbuka.
Keluar seorang pria muda, kemeja putih licin, celana bahan slim fit, dan sepatu pantofel yang lebih mengilap dari masa depanku. Rambutnya klimis, disisir ke belakang dengan pomade mahal. Tipe-tipe SCBD Prince yang kalau makan siang di Senopati habis setengah UMR Jakarta.
Dia melihat bumper belakang mobilnya. Lecet sedikit. Lalu dia melihat bumper depan Calya-ku. Ringsek di bagian sudut kiri. Lampu kabut pecah.
"Lo bisa nyetir gak sih?!" bentaknya, langsung ngegas. "Liat nih mobil gue! Baret!"
Darahku mendidih. "Mas yang motong dari bahu jalan! Itu jalur darurat, bukan jalur nenek moyang!"
"Alah, miskin banyak bacot! Lo yang gak jaga jarak! Tau gak ini mobil harganya berapa? Jual ginjal lo juga gak bakal cukup buat ngecat ulang!" Dia menunjuk-nunjuk wajahku dengan kunci mobil yang gantungan kuncinya kulit asli.
Klakson-klakson di belakang mulai bersahutan. Simfoni kemarahan warga Jakarta yang terhambat pulang.
Aku menarik napas panjang. Bau aspal, knalpot, dan emosi.
"Oke, kita tunggu polisi PJR aja kalau gitu," kataku tenang, melipat tangan di dada. "Ada CCTV tol kok. Kita liat siapa yang salah. Motong dari bahu jalan itu pasalnya berlapis, Mas. Belum lagi kalau Mas buru-buru... jangan-jangan plat nomornya palsu biar ganjil-genap tembus?"
Wajah si Prince berubah. Matanya melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangan kiri, lalu melirik ke arah spion, seolah takut ada yang mengejar. Dia gelisah. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya yang halus.
Dia bukan takut polisi. Dia takut waktu. Atau mungkin takut ketahuan siapa yang ada di dalam mobil bersamanya-kaca filmnya gelap total, tapi sekilas aku melihat siluet rambut panjang di kursi penumpang.
"Gue gak punya waktu buat ngeladenin supir taksol kayak lo," desisnya. Dia merogoh saku belakang, mengeluarkan dompet kulit tebal. Bukan dompet lipat biasa, tapi long wallet yang isinya kartu-kartu prioritas.
Dia menarik beberapa lembar uang merah. Bukan satu, bukan dua. Lima lembar.
"Nih!" Dia melempar uang itu ke dadaku. Lembaran Soekarno-Hatta melayang jatuh ke aspal kotor. "Ambil. Benerin tuh rongsokan lo. Jangan halangin jalan gue."
Aku menatap uang yang berserakan di dekat sepatu kets-ku yang solnya mulai tipis. Harga diriku rasanya dicubit. Tapi logika ekonomi di otakku-logika mantan mandor pabrik yang pragmatis-berteriak lebih keras.
Ambil, Bams. Bumper Calya bisa diketok magic cuma abis tiga ratus ribu. Sisanya buat beli susu Gendis.
Aku menunduk, memungut uang itu satu per satu dengan gerakan lambat yang sengaja kubuat dramatis.
"Makasih, Bos," kataku datar, menatap matanya tajam. "Hati-hati di jalan. Aspal gak kenal saldo rekening."
Dia mendengus, masuk kembali ke dalam kepompong mewahnya, dan membanting pintu. Sedetik kemudian, mesin Jerman itu menderu, melesat lagi memotong jalur kanan, meninggalkan asap tipis yang baunya seperti pembakaran sempurna uang pertamax turbo.
Aku berdiri di pinggir tol, menggenggam lima ratus ribu rupiah yang hangat.
Mobilku penyok. Harga diriku sedikit lecet. Tapi dompetku menebal.
Di Jakarta, kemenangan tidak selalu berbentuk piala. Kadang, kemenangan hanyalah berhasil memeras sedikit kompensasi dari mereka yang menganggap waktu mereka lebih mahal daripada nyawa kita.
Aku kembali masuk ke dalam Calya. Menyalakan mesin. Getaran mesin terasa sedikit lebih kasar, mungkin bracket bumpernya patah.
Di luar kaca depan, langit Jakarta mulai berubah warna. Bukan jingga senja yang romantis, tapi abu-abu gelap yang menggulung rendah. Awan Cumulonimbus raksasa menggantung di atas gedung-gedung Sudirman, seperti perut yang kekenyangan air dan siap muntah.
Angin kencang tiba-tiba menerpa, menggoyangkan mobil-mobil di jalan layang.
Aroma tanah basah yang samar menyusup masuk lewat ventilasi AC yang kututup rapat. Bau hujan besar. Aroma banjir.
Alam sedang bersiap menagih utangnya pada kota yang terlalu banyak beton ini. Dan kami, para tikus di dalam kotak besi, tidak punya tempat untuk lari.