Hujan turun bukan untuk membasuh Jakarta, tapi untuk menenggelamkannya.
Tetesan air sebesar kelereng menghantam atap Calya dengan brutal, menciptakan simfoni bising yang meredam suara mesin. Kaca depan menderas, wiper bergerak panik di kecepatan maksimal, namun sia-sia. Pemandangan di luar sana hanyalah tirai kelabu tebal.
Aku menepi sejenak di bawah jembatan layang Antasari, menatap layar ponsel yang layarnya retak di ujung. Pesan suara dari Mpok Hindun baru saja masuk. Kutekan tombol putar.
"Bams, lo denger gue bae-bae," suara serak Mpok Hindun mengalahkan deru hujan dari speaker ponsel. "Gendis udah gue kasih obat, sekarang lagi tidur pules kelonan sama guling. Duit kontrakan yang lo transfer tadi udah masuk. Lo fokus aja narik, jangan mati konyol di jalan. Kalo air naik, cari tempat tinggi. Jangan bikin gue repot ngurusin asuransi lo yang gak seberapa itu."
Aku mengembuskan napas panjang. Kabut tipis menempel di kaca dalam. Beban seberat dua ton baru saja terangkat dari pundakku. Gendis aman. Ia berada di benteng paling kokoh di Gang Kelinci, dijaga oleh rentenir berhati emas. Malam ini, aku tidak perlu membagi fokus antara aspal dan suhu tubuh anakku.
Malam ini, aku hanya perlu bertahan hidup.
Kumasukkan tuas persneling ke D. Calya-Kotak Besi sewaan yang argo sewanya terus berjalan menertawakan kemiskinanku-kembali merayap menembus badai.
Kawasan SCBD, yang biasanya memancarkan arogansi lewat lampu-lampu neon bar dan pantulan kaca gedung Treasury Tower, kini tampak seperti kota mati. Genangan air cokelat pekat mulai naik, merendam trotoar tempat para The Laptop Nomad biasanya duduk menyesap latte seharga beras lima liter.
Tuhan Digital di dasbor berteriak kegirangan. Layar aplikasi menyala merah terang. Surge Pricing melonjak gila-gilaan. Tiga kali lipat. Empat kali lipat. Permintaan meledak dari orang-orang berdasi yang mendadak sadar bahwa sepatu pantofel kulit Italia mereka tidak anti-air.
Namun, angka-angka itu hanyalah fatamorgana. Ilusi dalam Society of the Spectacle. Buat apa tarif selangit kalau roda tidak bisa berputar?
Ting! Notifikasi masuk. Pesanan atas nama Richard. Penjemputan di lobi Pacific Place. Tujuan Bintaro. Tarif: Rp 350.000. Baru saja jariku melayang untuk menekan tombol 'Terima', layar berkedip. Pesanan Dibatalkan oleh Penumpang. Alasan: Pengemudi tidak bergerak.
Aku tertawa sumbang. Tawa kering yang menggores tenggorokan.
Ting! Pesanan lain. Atas nama Vina. Tarif Rp 400.000. Tiga detik kemudian. Pesanan Dibatalkan. Alasan: Pengemudi terlalu lama.
Inilah mereka. The Cancel Army. Spesies penumpang yang hidup dalam gelembung Hyperreality, meyakini bahwa dengan menekan layar ponsel, sebuah mobil amfibi akan turun dari langit dan membelah banjir demi menyelamatkan mereka. Mereka tidak peduli jalan raya sudah berubah menjadi anak Sungai Ciliwung. Jika kau tidak tiba dalam tiga menit, kau dipecat dari tugas melayani mereka.
Air bah menerjang aspal. Kedalamannya kini sudah menyentuh setengah ban Calya. Bau petrikor yang biasanya romantis kini bercampur dengan aroma amis selokan, solar bocor, dan limbah ibukota.
Di depanku, sebuah sedan Eropa seharga dua miliar mogok di tengah jalan. Lampu hazard-nya berkedip putus asa. Sang pengemudi-seorang pria berjas rapi-berdiri di atas atap mobilnya, berteriak ke arah ponsel sambil melambai ke langit kosong. Uang tidak bisa membeli insang. Banjir Jakarta sungguh sangat demokratis; ia menenggelamkan si miskin dan si kaya tanpa pandang bulu.
Aku memutar kemudi, mencari elevasi tanah yang sedikit lebih tinggi. Mesin Calya menggeram, memprotes air yang mulai menyentuh bagian bawah chassis.
Dari arah berlawanan, sebuah motor NMAX nekat menerobos arus. Pengendaranya mengenakan jas hujan plastik tembus pandang berkibar seperti jubah pahlawan super murahan. The Flood Hero. Spesies pengendara ojol yang merasa modifikasi knalpot dan doa ibu cukup untuk melawan hukum fisika.
Ia memacu motornya. Air menyibak membentuk gelombang. Sepuluh meter. Dua puluh meter. Lalu, knalpotnya menelan air. Mesin batuk. Tersedak. Mati total.
The Flood Hero itu kehilangan keseimbangan. Motornya miring, lalu ambruk ditelan arus cokelat. Ia meronta, terseret beberapa meter sebelum berhasil berpegangan pada tiang lampu jalan. Kotak pesanannya mengambang, hanyut membawa entah croissant atau sushi mahal pesanan seseorang yang sedang duduk kering di lantai empat puluh.
Aku menginjak rem. Mobil berhenti.
Dilema moral menghantam dadaku lebih keras dari rintik hujan. Logika Prekariat berteriak: Tinggalkan dia, Bams! Calya ini aset sewaan! Kalau air masuk ke kabin, Ko Aseng bakal narik deposit dan nuntut ganti rugi jutaan!
Namun, mataku menangkap warna jaket pria yang memeluk tiang itu. Hijau terang. Pasukan Jaket Hijau. Saudara seaspal.
Di seberang jalan, dekat halte bus yang hampir tenggelam, sekelompok orang berkerumun. Ibu-ibu menggendong anak, pekerja kantoran yang sepatunya sudah dilepas, dan beberapa pengemudi ojol motor yang kuda besinya sudah tewas tenggelam. Mereka terjebak. Air terus naik.
Aku menatap setir mobil. Tanganku mencengkeram lapisan kulit sintetisnya.
Persetan dengan algoritma. Persetan dengan Ko Aseng.
Kuinjak pedal gas. Calya melaju perlahan, membelah air dengan kecepatan konstan agar ombak tidak masuk ke saluran udara. Aku mengarahkan mobil melintang, memblokir arus air utama, menciptakan semacam tanggul besi sementara untuk melindungi kerumunan di halte.
Kuturunkan kaca jendela sekilas. Angin bercampur air langsung menampar wajahku.
"Woy! Naik!" teriakku, suaraku nyaris hilang ditelan badai. "Ke dalem! Semuanya!"
Orang-orang di halte itu ragu sejenak, menatap mobil LCGC-ku seolah aku menawarkan tumpangan ke neraka.
"Naik, sialan! Air makin tinggi!" Aku membunyikan klakson panjang.
Insting mantan mandor pabrikku mengambil alih. Dulu aku mengatur ratusan buruh di jalur perakitan yang panas; sekarang aku mengatur evakuasi di tengah lautan beton.
Pintu kiri belakang terbuka paksa. The Flood Hero yang tadi memeluk tiang berhasil merangkak masuk, membawa serta bau lumpur dan keringat dingin. Air menetes dari rambutnya, membasahi jok sintetis Calya.
"Makasih, Bang... Makasih..." napasnya tersengal. Giginya gemeretak.
"Buka pintu depan! Tarik ibu yang bawa anak itu!" perintahku tajam.
Pemuda ojol itu mengangguk cepat. Ia mencondongkan tubuh, membuka pintu depan kiri. Seorang ibu dengan pakaian basah kuyup masuk, mendekap balita yang menangis kencang. Disusul dua pekerja kantoran yang berdesakan di jok belakang, memangku tas ransel mereka seolah itu pelampung.
Kabin Kotak Besi ini seketika berubah. Aroma pengharum ruangan rasa lemon murahan kalah telak oleh bau manusia basah, kepanikan, dan lumpur got. Kaca mobil berembun total. Oksigen menipis.
"Bang, mobil lo gak bakal kuat," kata salah satu pekerja kantoran di belakang, suaranya bergetar menahan dingin. "Airnya makin gila."
"Pegang pegangan yang kenceng," balasku datar. Mataku menyipit, mencari celah di antara deretan mobil mewah yang mati kutu.
Tujuanku hanya satu: Shelter Ojol 'Maju Jaya' di dekat pintu masuk tol. Tempat itu berada di lahan gusuran yang elevasinya lebih tinggi dari jalan raya. Biasanya jadi tempat mangkal The Anyep Club, tapi malam ini, itu adalah Gunung Ararat kami.
Kumasukkan gigi satu. Kaki kananku menahan pedal gas di putaran mesin yang stabil. Kaki kiriku bermain di pedal kopling. Jika aku berhenti, air akan masuk lewat knalpot. Jika aku terlalu cepat, air akan menyapu mesin depan.
Calya merayap. Bumper depan mendorong air cokelat kotor, menyingkirkan sampah plastik, styrofoam, dan ranting pohon. Terdengar bunyi gesekan mengerikan dari bawah mobil. Sesuatu menyangkut di kolong.
Terus jalan. Jangan berhenti.
"Kanan, Bang! Awas ada lubang galian kabel!" teriak The Flood Hero dari jok depan, wajahnya menempel di kaca jendela yang berembun, bertindak sebagai navigator dadakan.
Aku membanting setir ke kanan. Ban kiri depan terperosok sedikit, mobil miring. Ibu di sebelahku menjerit tertahan, mendekap erat anaknya. Jantungku berdegup kencang hingga terasa di pangkal leher. Kutarik gas lebih dalam. Ban berdecit, mencari traksi di aspal yang tertutup lumpur licin.
Brak! Mobil melompat kecil, berhasil keluar dari jebakan galian.
Di luar sana, Society of the Squeeze sedang menunjukkan wujud aslinya. Orang-orang saling sikut di trotoar sempit yang belum tenggelam. Sebuah Alphard hitam mencoba menerobos dari lajur kanan, menyipratkan air kotor ke arah pejalan kaki tanpa rasa bersalah. Sang Office Dictator di dalamnya pasti merasa aman di balik kaca riben tebal.
Namun, karma bekerja sangat cepat malam ini. Tiga meter di depan kami, Alphard itu tiba-tiba berhenti. Mesinnya mati mendadak. Air merendam kap depan. Pintu otomatisnya bahkan tidak bisa terbuka karena korsleting listrik. Sang raksasa jalanan takluk oleh genangan.
Aku mengarahkan Calya melewati Alphard malang itu. Dari balik kaca, kulihat wajah panik pengemudinya memukul-mukul jendela. Aku tidak berhenti. Mobilku sudah kelebihan muatan. Bahtera kecil ini punya batasnya.
"Bang, di depan itu tanjakan shelter!" tunjuk si navigator berjaket hijau.
Benar saja. Di ujung jalan yang temaram, terlihat tenda terpal biru besar berkibar ditiup angin badai. Beberapa motor ojol sudah diparkir berjejalan di sana, aman dari jangkauan air. Belasan orang berdiri di pinggiran, menyorotkan senter ponsel ke arah jalan raya.
Kuarahkan moncong mobil ke tanjakan curam yang terbuat dari sisa puing beton. Calya mengerang. Mesin bergetar hebat. Ban depan kehilangan traksi, berputar di tempat, mencipratkan kerikil dan lumpur ke belakang.
"Ayo... ayo, rongsokan Jepang, naik!" geramku, mencengkeram setir hingga buku-buku jariku memutih.
"Bantu dorong! Kita bantu dorong!" teriak pekerja kantoran di belakang. Ia dan The Flood Hero nekat membuka pintu, melompat ke genangan air setinggi betis, lalu mendorong bagian belakang mobil sekuat tenaga.
Kaki kananku menginjak gas maksimal. Terdengar raungan mesin yang memekakkan telinga. Perlahan, ban depan menggigit beton. Calya merangkak naik. Inci demi inci. Meninggalkan lautan cokelat di bawah sana.
Sampai akhirnya, keempat ban menyentuh tanah datar yang kering di bawah terpal biru.
Mesin kumatikan seketika. Hening menyergap kabin, hanya menyisakan suara deru napas kami yang memburu dan tangisan kecil balita.
Aku membuka pintu, melangkah keluar. Kakiku gemetar hebat saat menyentuh tanah padat. Udara dingin menusuk tulang.
Orang-orang di shelter langsung berhamburan mendekat, membantu ibu dan anak itu keluar dari mobil. Beberapa menyodorkan teh hangat dalam gelas plastik. The Flood Hero menepuk bahuku keras-keras, wajahnya pucat tapi tersenyum lebar.
"Gila lo, Bang. Sopir taksol paling nekat yang pernah gue temuin," katanya, mengusap wajahnya yang basah.
Aku hanya mengangguk tipis, bersandar pada kap mobil yang terasa panas. Kutarik sebatang kretek dari saku kemeja yang lembap, menyalakannya dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Asap tembakau bercampur dengan aroma petrikor dan keringat, menciptakan wangi kemenangan kecil kaum Prekariat.
Dari ketinggian shelter ini, aku menatap ke bawah. Jakarta benar-benar lumpuh. Lampu-lampu jalan berkedip mati satu per satu akibat pemadaman gardu listrik. Gedung-gedung pencakar langit SCBD berdiri seperti nisan raksasa di tengah danau keruh. Sistem algoritma yang biasanya mendikte hidup kami, malam ini tenggelam bersama arogansi kota.
Kurogoh saku celana. Ponselku bergetar hebat.
Layar menyala, menampilkan notifikasi dari Tuhan Digital. Peringatan: Akun Anda terdeteksi melakukan penyimpangan rute yang ekstrem. Status Prioritas PLATINUM ditangguhkan sementara menunggu peninjauan.
Aku mendengus sinis. Mengusap layar untuk menutup notifikasi sampah itu.
Namun, getaran tidak berhenti. Panggilan masuk. Nama yang tertera di layar membuat sisa kehangatan di tubuhku menguap seketika.
Ko Aseng - Maju Jaya Rent.
Aku menatap layar yang berkedip-kedip itu. Di bawah sana, kota sedang tenggelam. Di sini, di atas bukit puing ini, badai lain baru saja mengetuk pintuku.
Aku membiarkan ponsel itu terus bergetar di tanganku. Sinyal GPS tracker di mobil ini pasti sudah melaporkan bahwa Calya-nya baru saja dipakai berenang.
Hujan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Gelap malam semakin pekat. Dan aku tahu, saat matahari terbit besok, tagihan dari lautan beton ini akan jauh lebih mahal dari yang bisa kubayar.