Urban #Ojol #Taksol

Uang Basah dari Senopati

Penulis djoedo
05 March 2026

Dasbor Calya ini layaknya jemuran pasca-kiamat. Lembaran seratus ribu dan lima puluh ribu merah-biru terhampar berjejer, menutupi kisi-kisi AC, menempel di layar head unit, hingga berserakan di karpet bawah. Semuanya basah. Susut. Berbau perpaduan aneh antara lumpur got Ciliwung, sisa petrikor, dan semburat wangi Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540.

Kemarin, Jakarta tenggelam. Dan di tengah laut aspal yang berubah menjadi rawa cokelat pekat itu, mobil sewaan bermesin LCGC ini mendadak naik kasta menjadi bahtera Nuh.

Aku menatap tumpukan uang itu. Napasku masih terasa berat, sisa kelelahan membelah arus air setinggi betis di kawasan Sudirman dua puluh empat jam lalu. Saat mobil-mobil Eropa seharga miliaran mogok dengan sistem kelistrikan mati total, Calya bodong ini terus merayap. Mesinnya mengerang, knalpotnya nyaris terminum air, tapi ia menolak mati.

Tiga penumpang gelap menyelamatkan nyawaku, dan aku menyelamatkan kesombongan mereka.

Pertama, Clarissa. Sosialita Bintaro Sektor sembilan yang menangis histeris bukan karena takut tenggelam, melainkan karena tas Hermes Lindy warna taupe-nya tercelup air bah. Aku menariknya dari atap sebuah taksi premium yang mogok di depan Treasury Tower. Kedua, Rendra. Pemuda crypto-bro dengan lanyard perusahaan rintisan yang memeluk erat MacBook Pro-nya seakan itu bayi sulungnya. Ketiga, Julian. DJ kelab malam Senopati yang terus mengoceh meracau dalam pengaruh alkohol, muntah air Evian di jok belakangku saat kami menerobos genangan di Jalan Suryo.

Mereka panik. Mereka butuh evakuasi. Dan di Jakarta, kepanikan orang kaya adalah komoditas paling mahal.

"Mas, berapa pun. Berapa pun saya bayar asal saya sampai apartemen sekarang!" teriak Clarissa kemarin, maskaranya luntur membentuk jejak hitam di pipi.

Ia menepati janji. Pagi ini, notifikasi m-banking di ponselku meledak. Transferan masuk bertubi-tubi. Rendra mengirim lima juta hanya untuk tumpangan sejauh tiga kilometer. Clarissa mentransfer sepuluh juta utuh tanpa embel-embel, ditambah tumpukan uang tunai basah yang sekarang sedang kukeringkan di dasbor. Julian meninggalkan segepok uang merah di jok belakang sebelum tertatih-tatih masuk ke lobi apartemen mewahnya.

Puluhan juta. Angka yang biasanya butuh waktu enam bulan narik tanpa libur, kini kudapat dalam satu malam bencana.

Ponselku bergetar. Layar menyala. Aplikasi "Tuhan Digital" yang tadinya membekukan akunku-memberi vonis suspend tanpa ampun karena dituduh memanipulasi GPS di tengah banjir-kini menampilkan warna hijau terang.

Status Akun: PLATINUM. Aktif.

Sihir Jakarta bekerja dengan cara yang menjijikkan. Mungkin Clarissa menelepon petinggi aplikasi. Mungkin Rendra meretas sistem keluhan. Atau mungkin, Algoritma yang Adil itu akhirnya menyadari bahwa men-suspend satu-satunya pengemudi yang nekat berenang di Sudirman adalah kerugian bisnis. Bebas jerat. Akunku hidup kembali.

Aku mengusap wajah kasar. Keringat dingin mengucur. Uang ini lebih dari cukup. Aku bisa melunasi tunggakan kontrakan Mpok Hindun setahun penuh. Bisa membelikan Gendis obat penurun panas sirup paling mahal di apotek, lengkap dengan vitamin impor. Bisa menebus sisa utang pinjol. Angin segar berembus di paru-paruku yang sejak kemarin sesak oleh aroma kemiskinan.

Namun, tawa kemenanganku tertahan di tenggorokan.

Mesin Calya mendengkur tidak wajar. Suaranya kasar, seperti penderita asma akut yang dipaksa lari maraton. Ngelitik. Blok mesin pasti kemasukan air. Karpet dasar mobil basah kuyup, meninggalkan noda cokelat permanen di beludru murahan bawaan pabrik. Bau apek menguar tajam, mengalahkan sisa parfum Baccarat milik Clarissa.

Ponselku bergetar lagi. Bukan notifikasi aplikasi. Pesan WhatsApp masuk.

Ko Aseng (Maju Jaya Rent): Bams. GPS tracker mobil lu nyala mati dari kemaren. Sensor air di mesin ngirim sinyal. Lu bawa berenang tuh mobil? Bawa ke pool sekarang. Kalo mesin jebol, deposit lu hangus, gue denda 20 juta.

Jantungku berdegup kencang. Ulu hati nyeri.

Hukuman itu masih menghantui. Uang puluhan juta di dasbor ini mendadak terasa seperti kertas monopoli. Jika Ko Aseng melihat kondisi interior dan mengecek ruang bakar mesin, uang terima kasih dari para The Haves ini akan langsung berpindah tangan ke laci kasir Maju Jaya Rent. Aku hanya menjadi perantara aliran dana dari orang kaya ke orang kaya lainnya. Middleware berdaging.

Aku memutar setir, membawa Calya menjauh dari pinggiran jalan. Lampu-lampu jalanan kawasan Senopati mulai menyala, memantulkan cahaya jingga di atas aspal yang masih lembap. Kaca jendela kuturunkan sedikit. Alunan musik jazz samar-samar terdengar dari sebuah lounge eksklusif. Deretan mobil mewah-Porsche, Alphard, Range Rover-terparkir rapi di bawah asuhan valet. Pria-pria berjas rapi dan wanita dengan gaun koktail tertawa di balik dinding kaca, memegang gelas wine, menertawakan sisa genangan air di luar sana seolah itu hanya wahana taman hiburan yang baru saja tutup.

Di sinilah aku. Menyusup di jantung gaya hidup kelas atas, membawa mobil rongsok berbau lumpur, dengan kantong penuh uang yang tak bisa kusebut milikku sepenuhnya.

Layar dasbor berkedip. Indikator suhu mesin naik satu strip. Sial.

Aku harus mencari bengkel ketok magic atau salon mobil pinggir jalan yang bisa mengeringkan karpet dan mereset sensor mesin sebelum kembali ke pool Ko Aseng. Waktu berdetak. Cepat atau lambat, tim sweeping Maju Jaya Rent akan melacak koordinat terakhirku. Mereka punya cepu di mana-mana.

Mobil merayap di Jalan Gunawarman. Kemacetan mulai mengular.

Dari spion tengah, mataku menangkap pergerakan ganjil. Sebuah Daihatsu Terios hitam pekat, tanpa pelat nomor depan, bermanuver kasar memotong antrean. Mobil itu terus menempel ketat di bumper belakangku. Jaraknya hanya sejengkal.

Klakson menjerit. Pengemudi Terios itu membunyikan klakson panjang.

Dua pria bertubuh gempal duduk di jok depan Terios. Salah satunya mengenakan jaket windbreaker biru dongker kusam. Seragam lapangan debt collector Maju Jaya Rent. Pasukan pencabut nyawa armada.

Mereka menemukanku.

Napas tercekat. Dada sesak. Kakiku refleks menginjak pedal gas lebih dalam. Calya menggerung protes. RPM naik, tapi tarikan mesin terasa berat, tertahan oleh sisa air di saluran pembuangan.

"Ayo, jalan! Jangan mati sekarang!" rutukku, memukul setir.

Terios hitam itu ikut menambah kecepatan, mengabaikan makian pengemudi LCGC lain di sebelahnya. Pria di kursi penumpang Terios menurunkan kaca, menunjuk ke arah mobilku dengan tongkat besi pendek. Mulutnya bergerak-gerak meneriakkan sesuatu yang tertelan bisingnya jalanan.

Aku membanting setir ke kiri, masuk ke celah sempit antara deretan mobil parkir dan trotoar. Spion kiriku nyaris menyerempet tiang listrik.

Lari. Gelap. Ruang gerak menyempit.

Di depanku, sebuah restoran steak mewah sedang sibuk. Petugas valet berlarian memarkirkan mobil tamu. Seorang pria bule turun dari Mercedes S-Class, menghalangi jalur.

Rem ku-injak dalam-dalam. Ban berdecit mencium aspal basah. Calya berhenti mendadak hanya beberapa sentimeter dari kaki petugas valet.

"Woy! Gila lo ya?!" bentak petugas berseragam merah itu, menggebrak kap mesin Calya.

Aku tidak memedulikannya. Mataku terpaku pada spion. Terios hitam itu terhalang oleh antrean Mercedes tadi. Pria berjaket biru dongker melompat turun dari mobilnya, berlari menerobos sela-sela kendaraan, mengacungkan tongkat besinya lurus ke arahku. Wajahnya beringas. Insting predator mengincar mangsa.

Gigi mundur kumasukkan. Pedal gas ku-injak. Calya melesat mundur dengan suara kasar, membuat petugas valet melompat menghindar sambil melempar sumpah serapah.

Banting setir ke kanan. Memasukkan tuas transmisi ke D. Ban depan selip sejenak di genangan air sebelum akhirnya mencengkeram aspal. Mobil melesat masuk ke sebuah gang kecil di samping restoran, meninggalkan kelap-kelip lampu neon Senopati di belakang.

Gang ini sempit, hanya muat satu mobil. Dinding bata di kiri-kanan penuh coretan mural pudar. Bau sampah sisa makanan restoran menyengat hidung, menenggelamkan aroma parfum mahal di kabin.

Aku terus memacu mobil menyusuri gang gelap itu. Tembus ke jalan tikus arah Blok S. Jauh dari pantauan jalan protokol.

Jantungku berdegup kencang bak dentuman drum. Keringat membasahi kerah kemeja seragam ojol yang kukenakan di balik jaket. Uang ratusan ribu di dasbor beterbangan ke lantai mobil akibat manuver kasar tadi. Lembaran merah itu berhamburan, tak lagi terlihat seperti penyelamat, melainkan saksi bisu kebodohanku.

Lolos. Sejenak.

Aku mengurangi kecepatan. Gang mulai melebar. Lampu jalan kuning redup menerangi aspal yang berlubang.

Aman. Mereka kehilangan jejak.

Aku menghela napas panjang, bersandar lemas di jok. Tangan gemetar meraih sebotol air mineral setengah kosong di konsol tengah. Menegaknya rakus.

Tiba-tiba, bunyi nyaring memecah keheningan kabin.

TIIIT!

Lampu indikator di dasbor menyala serentak. Merah menyala. Check Engine. Suhu radiator Overheat. Indikator aki berkedip.

Mesin Calya tersedak hebat. Bunyi logam beradu dari bawah kap terdengar mengerikan. Klotak. Klotak.

Lalu, senyap.

Mesin mati. Lampu depan padam. Power steering terkunci rapat.

Mobil menggelinding pelan karena sisa momentum, lalu berhenti total di tengah jalan tikus yang sepi. Gelap gulita. Hanya cahaya redup dari layar ponselku yang menerangi kabin.

Aku memutar kunci kontak berkali-kali. Kosong. Tidak ada dinamo starter yang merespons. Bukan karena air banjir kemarin.

Ini ulah Immobilizer jarak jauh.

Ko Aseng telah menekan tombol eksekusi dari mejanya yang nyaman. Mematikan kelistrikan mobilku secara paksa lewat satelit. Mengunci tikus di dalam perangkap besi.

Sekujur tubuhku kaku. Nyaliku seketika ciut.

Di kursi penumpang, tumpukan uang dari Clarissa, Rendra, dan Julian tergeletak tak berdaya. Uang yang seharusnya membebaskanku dari cengkeraman kemiskinan. Uang yang seharusnya menjadi tiket keluar dari Society of the Squeeze.

Namun di sinilah aku. Terjebak di dalam Simulacrum rongsok yang tak bisa bergerak. Sendirian di gang gelap. Menunggu algojo Maju Jaya Rent datang menjemput bangkai mobil ini-dan mungkin bangkai pengemudinya sekalian.

Layar ponsel di dasbor menyala terang, membelah kegelapan kabin.

Panggilan masuk.

Nama di layar berkedip lambat, seolah mengejek keputusasaanku.

Ko Aseng.