Bab 5

Penulis nyiratu
22 September 2025

Di bawah rembulan, bayangan Satrio terlihat semakin kokoh. Setiap langkahnya penuh keyakinan. Ia meninggalkan perempatan itu bukan lagi sebagai Yoyi yang dulu, melainkan sebagai Satrio, seorang pria sejati yang sudah menemukan jalannya sendiri.

Tekadnya kini semakin kuat, bukan lagi hanya demi Jo, tetapi juga untuk dirinya sendiri, untuk membuktikan bahwa proses menyakitkan yang ia lalui telah benar-benar mengubah dirinya.

Di ujung jalan, bayangan Satrio perlahan menipis, diserap oleh pekatnya malam. Teman-temannya masih berdiri di tempat yang sama, tak beranjak, menyaksikan sosok itu menghilang. Hening sejenak, hanya suara deru motor yang lewat sesekali memecah kebisuan.

Yanti memandang Amira, Maria, dan Malika. "Gue bangga sama dia," katanya pelan. "Dia beneran berhasil."

Maria mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Gue nggak nyangka, Yi... eh, Yo, bisa sekuat itu."

"Kalian ingat, waktu dia bilang mau latihan bela diri?" kenang Malika. "Gue pikir cuma mau coba-coba karena sedang jatuh cinta."

"Dia memang laki-laki sejati, cintanya kepada Jo sangat besar. Gadis itu benar-benar membawa pengaruh besar dalam hidup Yoyi." Yanti memandang jauh ke depan.

"Satrio, Ti," ucap Amira, "Yoyi udah dikubur dalam-dalam sama Jo," lanjutnya sambil terkekeh.

Yanti melepas rambut palsunya. "Gue juga mau berubah."

"Berubah jadi apa lu?" tanya Malika.

"Berubah jadi satria baja hitam," lanjut Amira sambil terbahak.

"Jadi Yanto lah!" Yanti mengelap lipstik di bibirnya. "Satrio bisa, gue juga bisa."

"Kita semua bisa." Maria juga bertekad akan mengubah dirinya menjadi laki-laki seutuhnya.

Yanto tersenyum, lalu kembali menatap ke arah jalan yang kini kosong. "Dia udah nemuin jalannya. Udah tahu mau jadi apa. Tugas kita sekarang mendukungnya, biar dia nggak goyah."

"Dengan cara menjadi laki-laki sejati seperti dia!" ucap Maria dan Malika serempak.

Mereka pun berbalik, bersiap untuk membubarkan diri. Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram, mereka merasa sedikit lebih utuh. Kepergian Satrio bukanlah sebuah perpisahan, melainkan sebuah awal dari cerita baru yang penuh harapan. Satrio telah menemukan jalannya, dan mereka, teman-temannya, telah menjadi saksi bisu dari lahirnya seorang pria sejati.

Sementara itu, Satrio berjalan menyusuri jalanan yang sunyi, ditemani derap langkahnya sendiri. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia tidak lagi merasa kosong, tidak lagi mencari-cari arti dari keberadaannya. Ia kini tahu siapa dirinya.

Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, ke saat ia masih Yoyi, sosok yang rapuh dan penuh ketakutan. Ia teringat bagaimana orang-orang memanggilnya dengan sebutan yang menyakitkan. Teringat bagaimana ia berusaha menjadi sosok yang disukai orang lain, agar Jo bisa menerima kehadirannya.

Sesampainya di asrama, Satrio langsung merebahkan diri di kasur. Ia menatap langit-langit, tersenyum kecil. Ada rasa lega dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan.

Pagi itu, udara dingin menyelimuti asrama. Satrio sudah bangun jauh lebih awal. Berdiri di depan cermin, ia melihat pantulan dirinya. Ada Yoyi di sana, sosok yang penuh luka dan ketakutan. Tapi ada juga Satrio, sosok yang kini kuat dan penuh tekad. Ia menatap dirinya, lalu perlahan mengikat tali sepatu. Tidak ada lagi keraguan di matanya. Hanya ada fokus dan kesiapan.

Dengan langkah mantap, ia berjalan keluar dari kamar. Berbeda dari biasanya, ia tidak lagi berjalan menunduk. Ia berjalan dengan tegap, kepala terangkat, seolah setiap langkahnya adalah pernyataan. Tidak ada lagi ketakutan akan penilaian orang lain. Ia kini tahu bahwa ia berhak berdiri sama tinggi dengan yang lain.

Ia tiba di area latihan. Anggota tim lain sudah berkumpul, mata mereka tertuju pada Satrio yang datang dengan sorot mata baru. Ada bisik-bisik, tapi Satrio tidak peduli. Ia hanya menatap ke depan, ke arah lapangan tempat ia akan membuktikan dirinya.

Pelatihan akhir dimulai. Suara teriakan pelatih menggema di setiap penjuru lapangan. Satrio berlari dengan cepat, lompatannya tangkas, dan setiap pukulannya begitu kuat. Ia tidak lagi terbebani oleh ketakutan, ia hanya fokus pada tujuan. Setiap gerakan yang ia lakukan, setiap keringat yang mengalir, adalah bukti dari transformasinya.

Pelatih menatapnya, ada sorot mata kagum di sana. Saat melangkah maju untuk berhadapan dengan lawannya, adalah puncak dari perjalanannya. Ia tidak lagi melihat lawannya sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin yang menunjukkan betapa jauh ia telah melangkah. Apa pun hasil dari pelatihan ini, ia telah menang. Satrio telah menemukan kembali dirinya.

"Kau sudah menunjukkan banyak kemajuan," kata Pak Roni dengan suara berat, tatapannya lekat pada Satrio. "Bukan hanya fisikmu yang kuat, tapi juga mentalmu."

Satrio, tersenyum bangga. "Terima kasih, Pak."

"Jangan terlalu bangga dulu," potong Pak Roni sambil menyeringai. "Hari ini ada ujian tambahan. Kalau kau lulus, ada pekerjaan menunggumu."

"Pekerjaan?" Satrio mengernyitkan dahi.

"Iya. Sebagai pengawal pribadi. Kliennya seorang pengusaha muda, wanita karir. Prestasi dan asetnya banyak, tapi hidupnya juga penuh ancaman. Tugasmu melindunginya 24 jam."

Yoyi terdiam, berpikir sejenak. "Saya siap, Pak."

"Bagus," kata Pak Roni. "Sekarang, ikuti saya."

Ujian terakhir Yoyi adalah sebuah simulasi. Ia harus menghadapi dua penyerang sekaligus, yang diperankan oleh dua instruktur senior. Keduanya menyerang Yoyi secara brutal, tanpa ampun. Yoyi berusaha menangkis, membalas, dan bertahan. Ia menerima beberapa pukulan, tetapi tidak jatuh. Ia teringat semua latihan yang dijalani, semua ejekan yang ia terima, semua harapan teman-temannya. Satrio akhirnya berhasil melumpuhkan kedua penyerang itu dengan teknik yang bersih dan cepat.

Pak Roni mengangguk puas. "Selamat, Satrio. Kau lulus. Sekarang bersiaplah, besok pagi kau sudah harus mulai bekerja."

Keesokan paginya, Satrio sudah rapi dengan setelan jas hitam. Pak Roni menunggunya di depan asrama. Sebuah mobil mewah sudah terparkir di sana.

"Satrio," sapa Pak Roni, "kau sudah siap?"

Satrio mengangguk mantap. "Siap, Pak."

Di dalam mobil, Satrio masih penasaran. "Pak, boleh saya tanya?"

"Tanya apa?"

"Klien saya itu... orangnya seperti apa?"

Pak Roni tersenyum tipis, menoleh ke arah Satrio. "Dia... pengusaha muda yang sangat sukses. Cerdas, visioner, dan sangat fokus pada pekerjaannya."

Mobil terus melaju, meninggalkan jalanan yang sudah familiar bagi Satrio. Setiap meter yang ditempuh terasa seperti jarak yang memisahkan dirinya dari masa lalunya. Satrio tiba di sebuah gedung pencakar langit yang megah.

Satrio mengikuti Pak Roni masuk ke dalam gedung. Mereka naik lift dan berhenti di lantai paling atas. Ia mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuh kekarnya. Rambutnya yang dipotong rapi menambah kesan gagah pada penampilannya.

Ia diantar menuju sebuah ruangan luas, tempat bos barunya berada. Ketika pintu terbuka, seorang wanita cantik dengan setelan kerja yang pas di tubuhnya berdiri di sana. Ia terlihat berkarisma.

'Wajahnya sangat mirip dengan....apakah dia?'