Society of the Squeeze
Gelap. Pengap. Mesin mati total.
Toyota Calya hitam ini resmi menjadi peti mati beroda empat. Immobilizer jarak jauh sialan itu bekerja sempurna memutus aliran listrik ke mesin. Layar ponsel di dasbor masih menyala terang, memamerkan status PLATINUM yang baru saja kembali aktif. Ironis. Pangkat jenderal, tapi kudanya mati diracun.
Jalan tikus Blok S malam ini mampat total. Asap sate taichan bercampur karbon monoksida mengambang tebal, mencekik paru-paru siapa saja yang berani membuka kaca jendela. Lampu jalan kuning redup menyorot kap Calya yang kusam, memantulkan rintik gerimis yang kembali turun membasahi Jakarta.
Lampu indikator di dasbor berkedip merah dengan ritme konstan yang menyebalkan. Klik. Klik. Klik. Bunyi sakelar relai yang terputus paksa.
Immobilizer jarak jauh.
Sihir Ko Aseng bekerja. Maju Jaya Rent baru saja mencabut nyawa mobil ini dari balik meja kantor mereka. Seseorang di ruang kendali vendor pasti sedang tersenyum puas menekan tombol kill switch di layar komputernya.
Kutatap layar ponsel yang terpasang di holder magnet. Layar itu gelap. Bukan karena kehabisan baterai, tapi aplikasi berputar tanpa ujung. Loading. Terus berputar seperti gasing yang kehilangan keseimbangan. Jaringan server pusat tumbang. Tuhan Digital sedang koma. Tidak ada peta, tidak ada navigasi, tidak ada surge pricing, tidak ada hyperreality yang selama ini mengatur jam tidur dan isi perutku.
Hanya realitas aspal basah Blok S yang menatapku sinis.
Dari kaca spion tengah, sorot lampu jauh menyilaukan mata, menembus kaca riben enam puluh persen. Dua motor matik bongsor memblokir jalan tepat di belakang bumper Calya. Tiga pria turun tergesa-gesa. Jaket kulit sintetis murah, helm half-face ditarik ke atas, rahang mengeras. Anjing-anjing pelacak Ko Aseng. Mereka pasti melacak titik koordinat terakhir dari GPS Tracker sebelum sinyal mati total.
Napas tercekat di tenggorokan. Dada terasa sesak. Ruang kabin tiba-tiba menyusut drastis. Kotak Besi ini resmi berubah menjadi peti mati berjalan. Terjebak di gang sempit, tanpa mesin, tanpa jalan keluar.
Mataku beralih ke dasbor. Di sana, berjejer tumpukan uang kertas merah dan biru. Uang tunai basah yang sedang kukeringkan di bawah hembusan AC sejak satu jam lalu. Sepuluh juta utuh dari Clarissa, lembaran barunya sedikit melengkung terkena air. Segepok tebal dari Julian, masih menyisakan aroma Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540 yang menempel kuat, mengalahkan bau apek kabin mobil. Ditambah notifikasi m-banking lima belas juta hasil akumulasi transferan Rendra dan Clarissa.
Puluhan juta. Kapital cair yang kudapat dalam satu malam bencana. Angka yang biasanya butuh waktu enam bulan narik tanpa libur, menahan encok dan omelan penumpang, kini tergeletak begitu saja di atas plastik murahan dasbor LCGC. Uang pelicin dari kaum borjuis yang menebus dosa-dosa mereka saat terjebak banjir.
Di luar kaca, kekacauan merajalela. Sistem runtuh, dan Jakarta kembali ke setelan pabrik: hukum rimba.
Di depan sebuah minimarket 24 jam tak jauh dari posisiku, The Panic Buyer saling sikut memperebutkan mi instan, roti tawar, dan air mineral. Seorang wanita berdaster nekat menabrak remaja pria demi memborong sepuluh kaleng sarden. Di sudut perempatan gang, The Offline Rebel-para supir ojol yang mematikan aplikasi jauh sebelum server down-berteriak nyaring menawarkan harga tembak dalam. Mereka mengerumuni pria berjas rapi yang putus asa mencari tumpangan, mematok tarif gila-gilaan tanpa peduli standar argo.
"Dua ratus ribu ke Sudirman! Mau naik, nggak mau tinggal!" teriak seorang supir ojol, menunjuk jok belakang motornya dengan angkuh.
Chaos. Masyarakat himpitan benar-benar pecah malam ini.
Di luar kaca jendela yang tertutup rapat, aroma sate taichan Blok S bercampur dengan bau got mampat menguar tajam. Dua pria berjaket kulit sintetis yang baunya lebih menyengat dari knalpot bajaj terus menggedor kaca pengemudi. Wajah mereka beringas. Lebam di buku jari pria pertama menunjukkan dia terbiasa menagih utang dengan metode prasejarah.
Gedoran keras menghantam kaca jendela kananku. Keras sekali hingga kacanya bergetar.
"Buka, anjing! Turun lo!"
Seorang pria berwajah bopeng dengan bekas luka di pelipis menempelkan wajahnya ke kaca. Tangannya mengepal, bersiap meninju kaca jika aku tidak merespons. Kacaunya tata bahasa orang panik.
Tapi aku tidak panik. Tidak lagi.
Tanganku bergerak lambat, mengumpulkan lembaran uang basah di dasbor. Menyatukannya dalam satu genggaman tebal. Tekstur kertas basah itu terasa berat, padat, dan nyata. Ini bukan angka digital di layar aplikasi yang bisa ditahan sistem. Ini kekuatan absolut.
Kuturunkan kaca jendela sepuluh sentimeter. Hawa panas Blok S langsung menyusup masuk, membawa bau keringat asam, asap sate, dan kretek murahan dari pria berjaket kulit di luar.
"Kunci mobil! Lo udah nunggak, bawa lari unit pula! Aseng minta mobil ini ditarik sekarang juga!" Pria itu meludah ke aspal. Tangannya bersiap merogoh gagang pintu dari dalam, mencoba memaksa kunci sentral.
Kutatap matanya datar. "Berapa sisa utang sewa gue?"
"Hah? Bacot lo! Turun!"
"Gue tanya, berapa sisa utang sewa sama penalti gue ke Maju Jaya Rent?" Suaraku meninggi, memotong bentakannya tajam.
Pria itu mengernyit. Otot rahangnya kendur sesaat, bingung melihat ketenanganku. "Delapan juta. Sama denda keterlambatan, biaya derek, tetek bengek. Sepuluh juta pas! Turun nggak lo?!"
Aku membuka pintu dengan kasar, mendorong tubuhnya mundur selangkah. Berdiri tegak berhadapan dengannya di tengah rintik hujan. Kulempar segepok uang tunai-tepat sepuluh juta uang basah dari Clarissa-ke dadanya.
Tumpukan uang seratus ribuan itu menghantam dadanya dengan bunyi buk pelan, lalu berjatuhan. Sebagian mendarat di ujung sepatu botnya, sebagian lagi ditangkapnya dengan panik menggunakan kedua tangan.
"Hitung," desisku dingin. "Lebihnya buat lo beli kopi."
Pria itu melongo. Teman-temannya yang baru turun dari motor ikut mematung. Mata mereka terpaku pada tumpukan uang merah basah di tangan dan di aspal. Nyali preman sewaan mereka mendadak ciut di hadapan lembaran rupiah. Sihir Jakarta bekerja dua arah; uang menyewa mereka, dan uang pula yang membungkam mereka.
"Kunci Calya ada di ignition. STNK di laci dasbor." Aku merapikan kerah jaketku, menatap bergantian ketiga pria itu. "Bawa rongsokan ini pergi dari hadapan gue. Bilang sama Ko Aseng, Bambang Sulistyo udah lunas. Kita putus kontrak malam ini juga."
Pria bopeng itu menelan ludah, mendekap uang basah itu ke dadanya seolah takut aku akan merampasnya kembali. Ia bahkan tidak berani menatap mataku lagi.
Tanpa menoleh, aku melangkah menjauh. Meninggalkan Kotak Besi itu di tengah jalan tikus. Meninggalkan identitas sebagai sapi perah Maju Jaya Rent. Langkahku terasa sangat ringan. Sepatu kets lusuhku menjejak genangan air tanpa ragu, memercikkan air lumpur ke ujung celana jins.
Kemerdekaan ternyata punya harga pasti, dan aku baru saja membayarnya tunai.
Aku berjalan menyusuri trotoar licin menuju Jalan Wolter Monginsidi. Semakin dekat ke jalan protokol, rintik hujan terasa semakin dingin, tapi udara justru terasa semakin panas. Ada gemuruh yang bergetar di telapak kaki, menjalar naik ke tulang kering. Bukan getaran mesin kendaraan, melainkan gemuruh suara manusia.
Di ujung jalan, lautan manusia memblokir aspal. Ribuan motor terparkir sembarangan, melintang di tengah perempatan, menghentikan laju semua kendaraan mewah yang mencoba melintas. Api menyala terang dari tumpukan ban bekas yang dibakar di tengah persimpangan, memuntahkan asap hitam pekat ke langit mendung.
Pasukan Jaket Hijau berdiri merapatkan barisan. Di sebelah mereka, para pengemudi taksol dengan kemeja lusuh ikut turun ke jalan. Tidak ada sekat lagi. Tidak ada kasta Mitra Roda Empat atau Ojol Motor. Malam ini, semua status lebur. Aksi Solidaritas pecah secara organik.
Aplikasi mati. Tuhan Digital kehilangan sinyal. Dan para penyembah yang selama ini ditekan Desperation Index kini memberontak.
"Bams!"
Sebuah suara serak memanggil nyaring dari atas bak mobil pikap L300 yang diparkir melintang, diubah menjadi panggung orasi darurat.
Aku menyipitkan mata menembus asap. Ucup berdiri di sana, memegang pelantang suara warna merah kusam. Wajahnya cemong oleh jelaga asap pembakaran, jaket hijaunya basah kuyup. Di sebelahnya, Dandi melambaikan tangan dengan beringas, memegang bendera hitam bertuliskan 'Matikan Mesin, Hidupkan Nurani'.
"Naik lo ke sini, Bams!" teriak Ucup. Suaranya pecah menembus deru klakson dan yel-yel massa. "Sini lo! Naik!"
Aku ragu sejenak. Berdiri di tepi trotoar, menatap lautan amarah di depanku.
"Kita butuh orang yang bisa ngomong!" Dandi ikut berteriak, mencondongkan tubuhnya dari pinggir bak pikap. "Lo mantan mandor! Lo tahu cara ngadepin bos-bos di atas sana! Sistem lagi down, Bams! Momennya sekarang!"
Massa di sekitarku mulai menoleh. Ratusan pasang mata menatap lurus ke arahku. Mata-mata merah kurang tidur akibat Ritual Mata Merah. Wajah-wajah lelah kaum Prekariat yang terhimpit Society of the Squeeze. Mereka bukan lagi sekadar angka analitik di layar dasbor petinggi perusahaan. Mereka manusia yang marah, lapar, dan menuntut kedaulatan atas waktu mereka sendiri.
Kakiku bergerak mendahului rasionalitas. Berjalan membelah kerumunan. Bau karet terbakar menyengat hidung, memicu adrenalin yang sudah lama terkubur sejak pabrik tekstilku ditutup tujuh tahun lalu.
Seseorang menepuk pundakku. Seseorang yang lain membuka jalan. Saat aku tiba di sisi pikap, Dandi dan dua supir taksol mengulurkan tangan, menarik tubuhku naik ke atas kap mobil. Besi kap itu terasa hangat.
Kurebut pelantang suara dari tangan Ucup. Genggamanku erat. Plastik keras megafon itu terasa pas di telapak tangan, menggantikan kemudi setir yang membelengguku berbulan-bulan.
Cahaya merah dari nyala api menyinari lautan jaket hijau dan wajah-wajah tegang di bawahku. Udara bergetar menunggu suaraku. Mataku menyapu ujung jalan, melihat lampu strobo polisi mulai berkedip dari kejauhan. Waktu berdetak cepat.
Malam ini, Jakarta tidak dikendalikan oleh algoritma. Malam ini, kami yang memegang kendali. Kutarik napas dalam, menempelkan pelantang suara ke bibir.
"Woy! Dengerin gue!" Suara Bams menggelegar, serak namun penuh tenaga. Insting memimpin line produksi keluar seutuhnya.
Beberapa kepala menoleh. Suara klakson di sekitar LCGC itu perlahan mereda.
"Kalian teriak-teriak di sini mau ngapain?! Minta aplikasi nyala lagi biar kalian bisa balik narik dapet argo gocap?!" Bams menunjuk ke arah Treasury Tower, markas besar perusahaan aplikasi yang lampunya masih menyala terang di lantai teratas.
"Malam ini sistem mereka hancur! Algoritma yang selama ini nentuin kita makan atau kelaparan, mati! Kalian mau nunggu mereka restart server lalu balik jadi sapi perah?!"
Kerumunan mulai hening. Ratusan mata kini menatap Bams.
"Gue baru aja buang kunci mobil sewaan gue!" Bams mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Gue muak disetir sama mesin! Kita di sini bukan Mitra! Kita ini tameng daging! Firewall yang nahan hujan, nahan macet, nahan makian penumpang, sementara mereka duduk di ruangan ber-AC ngatur Desperation Index kita!"
Gemuruh persetujuan mulai terdengar. Kepalan tangan teracung ke udara.
"Malam ini, kita gak minta aplikasi nyala!" Bams menarik napas dalam-dalam, menatap lautan wajah lelah di bawahnya. "Kita jalan ke kantor pusat. Kita paksa mereka buka data! Hapus Biaya Layanan Mitra Terpadu yang gak jelas larinya ke mana! Hapus sistem suspend sepihak!"
"Betulll!!!" Ucup berteriak paling keras dari bawah.
"Kalau mereka anggap kita cuma NPC, malam ini NPC bakal ngambil alih server!" Bams menunjuk lurus ke arah gerbang masuk kawasan perkantoran mewah itu. "Rapatkan barisan! Motor di depan, mobil blokir jalan belakang! Kita maju!"
Sorak sorai meledak. Raungan mesin motor diputar habis-habisan hingga knalpotnya memuntahkan asap hitam. Aksi Solidaritas yang tadinya hanya sekumpulan orang frustrasi kini berubah menjadi barisan rapi yang bergerak dengan satu tujuan.
Bams melompat turun dari kap mobil. Kakinya menapak mantap di aspal. Ia berjalan di barisan paling depan, memimpin Pasukan Jaket Hijau membelah jantung distrik bisnis Jakarta.
Taruhannya kini bukan lagi sekadar akun Platinum atau setoran mobil. Taruhannya adalah kedaulatan atas sisa hidupnya. Dan musuh mereka tidak lagi bersembunyi di balik kode biner. Musuh mereka ada di lantai empat puluh, sedang panik melihat lautan manusia mengepung benteng kaca mereka.
Perang baru saja dimulai. Tepat di saat hujan besar mulai turun, menyapu bersih sisa-sisa ilusi kota ini.