Drama #crime #drama

Antara Tugas dan Sebuh Janji

Penulis sanzfy
16 March 2026

Ruang interogasi Satresnarkoba itu terasa dingin dan sunyi. Hanya detak jam dinding antik dan suara deru kendaraan dari jalan raya yang memecah kesunyian. Dimas, polisi senior bertubuh tegap dengan rahang tegas, memecah keheningan. Suaranya berat, berwibawa, menembus keheningan yang mencekam.

"Pak Naufal kemana, Nu?" tanyanya, pandangannya tajam menyapu ruangan. Di sampingnya berdiri seorang tahanan kurus kering, wajahnya pucat pasi, tangan diborgol di depan dada. Tahanan itu hanya menunduk, menghindari tatapan tajam Dimas.

Wishnu, polisi muda yang baru beberapa bulan bertugas di Satresnarkoba, tampak gelisah. Jari-jarinya memainkan pulpen di atas meja, sebuah kebiasaan yang ia lakukan saat gugup. "Izin, Bang," jawabnya, suaranya sedikit gemetar. "Katanya mengurus berkas nikah."

Razak, polisi senior yang dikenal karena ketegasan dan kewibawaannya, mengangkat sebelah alis. Ia masuk bersama Dimas, matanya mengamati ruangan yang tampak kosong. Kursi Aretha, polisi wanita yang dikenal handal dan tangguh, kosong. Ketiadaan Aretha menambah kejanggalan suasana. "Aretha mana?" tanyanya, suaranya datar namun berwibawa.

"Izin tidak masuk, Bang," jawab Wishnu, suaranya hampir tak terdengar. Ia merasa terpojok, seakan-akan ketiadaan dua orang itu—Naufal dan Aretha—adalah kesalahannya.

Dimas menyeringai, sebuah senyuman tipis yang menyimpan arti terselubung. "Mengurus berkas nikah juga? Hm… Jangan-jangan mereka mau menikah tapi belum cerita ke kita," ucapnya, nada suaranya menggoda. Ia meletakkan berkas di atas meja, lalu duduk di kursi berputar, memutar-mutar tubuhnya dengan santai.

Wishnu mencoba melepaskan ketegangan dengan tertawa kecil, namun tawanya terdengar canggung di ruangan yang sunyi. "Bukan, Bang. Aretha sakit. Lagian, Pak Naufal bukannya sudah punya pacar?"

Razak mengerutkan kening. Ia mengenal Aretha dengan baik. Wanita itu tangguh, jarang sakit, dan selalu disiplin. "Sakit? Sakit apa?" tanyanya, nadanya berubah serius. Kecurigaan mulai muncul di benaknya. "Sakit karena mendengar Pak Naufal mengurus berkas nikah?"

"Demam tinggi, katanya," jawab Wishnu, berusaha menjelaskan. "Dia menelepon pagi tadi, minta izin tidak masuk."

Dimas kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Ia seolah menikmati situasi yang penuh teka-teki ini. "Wah, ini menarik. Cinta segitiga di kantor polisi? Kayaknya seru nih ceritanya," katanya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Belakangan ini kulihat Ipda Naufal sering jalan dengan dokter cantik bernama Clara. Ku pikir akan menikah dengan dokter itu. Ternyata masih setia pada yang nun jauh di sana," ucap Dimas, matanya berkilat-kilat penuh arti. Ia menambahkan bumbu-bumbu gosip yang membuat suasana semakin menarik.

"Kalau tidak salah, Pacarnya Bang Naufal anaknya jendral bintang 2, Bang," timpal Wishnu, menambahkan informasi yang membuat Dimas terkesiap. Informasi ini menambah dimensi baru pada cerita yang sedang mereka bicarakan.

Dimas mengangguk, pikirannya melayang. Ia mengalihkan pandangan pada tahanan di depan Wishnu. "Catat pengakuannya," perintahnya. "Aku mau istirahat sebentar, mumpung komandan kita disibukkan dengan urusan persiapan pernikahannya. Mau remuk rasanya badanku."

Suasana kembali hening, hanya suara Wishnu yang menginterogasi tahanan terdengar. Pertanyaan-pertanyaan tajam dilontarkan, diselingi tangisan dan desahan dari tahanan tersebut. Ketegangan di ruangan itu semakin terasa, dibumbui aroma misteri yang belum terpecahkan.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Naufal melangkah masuk. Kehadirannya langsung mengubah suasana tegang menjadi lebih kaku. Dimas langsung mengubah posisi duduknya, bersiap menghadapi atasannya itu.

"Komandan," sapa Dimas, suaranya hormat. "Cepat sekali balik ke kantor, Dan?"

Naufal, dengan raut wajah lelah namun tetap tegas, menjawab, "Masih ada urusan yang harus segera kita selesaikan. Ini tersangka yang tadi malam kita tangkap?" Pertanyaan Naufal tertuju pada tahanan yang sedang diinterogasi Wishnu.

"Siap, benar," Razak yang menjawab.

"Bagaimana pemeriksaannya?" tanya Naufal sambil melihat berkas di meja.

"Pengakuannya masih simpang siur, Dan," jawab Dimas. "Kami akan terus melakukan pemeriksaan."

Naufal mengangguk. Ia mengamati tahanan dengan tajam, kemudian beralih ke Wishnu. "Ada laporan lain?"

"Tidak ada laporan penting, Pak," jawab Wishnu, lega karena perhatian Naufal beralih dari dirinya.

"Baiklah," kata Naufal. "Lanjutkan pemeriksaan. Saya akan ke ruangan saya dulu."

"Siap," Dimas mewakili.

Naufal meninggalkan ruangan, menuju ruangannya sendiri. Ia duduk di kursinya, kepala disandarkan, kelelahan tampak jelas di wajahnya. Tekanan pekerjaan dan masalah pribadinya seakan-akan menghantamnya secara bersamaan.

Sebuah panggilan masuk di ponselnya. Dari Clara. Naufal ragu sejenak sebelum mengangkatnya.

"Hallo…"

"Abang…" suara kecil milik Raisa terdengar di seberang sana. Sepertinya ia meminjam ponsel Clara untuk menghubungi Naufal.

"Ya, ada apa Raisa?"

"Abang kok ga melihat Echa?" tanya bocah lima tahun itu, suaranya sedikit bergetar.

Naufal menghela nafas panjang. Sudah satu minggu ini ia tak pernah datang ke rumah Clara untuk melihat Raisa. Kesibukannya di kantor dan mempersiapkan semua urusan pernikahan menyita waktunya.

"Abang sedang banyak kerjaan," ucap Naufal, suaranya terdengar berat.

"Nanti ke sini ya?" Pinta Raisa, suaranya penuh harap.

"Iya…" janji Naufal, suaranya terdengar sedikit ragu.

"Bye, Abang…" Raisa menutup teleponnya. Naufal menatap ponselnya, perasaan bersalah memenuhi hatinya. Ia tahu, ia telah mengabaikan Raisa, membebani clara. Dilema antara tanggung jawabnya sebagai polisi dan hubungan darahnya dengan Raisa.

Naufal menghela nafas. Di pandanginya foto Raisa di galeri ponselnya. Raisa yang 2 bulan lalu masih terlihat sering menangis sejak kematian Chintya ibunya, sekarang sudah mendapatkan kembali keceriannya. Senyum Raisa dalam foto itu mengingatkannya pada janjinya untuk selalu ada bagi gadis kecil itu.

Ponsel Naufal kembali berdering. Nama Sinta terpampang di layar ponselnya. Sinta, wanita yang akan ia nikahi.

Naufal segera mengangkatnya.

"Hallo, calon istri…" sapa Naufal, suaranya terdengar lebih ringan. Sebuah senyuman tipis mengembang di bibirnya. Ia merasa beban di pundaknya sedikit berkurang. Ia telah membuat keputusan. Ia akan menikahi Sinta, perempuan yang sudah ia pacari hampir 9 bulan terakhir. Pernikahannya dengan Sinta, bukan hanya sebuah ikatan resmi, tetapi juga sebuah awal dari babak baru dalam hidupnya, sebuah babak di mana ia bisa fokus pada tanggung jawabnya sebagai seorang polisi dan juga sebagai kakak lelaki Raisa yang harus menggantikan figur ayah yang hilang dalam hidup Raisa. Menemani Raisa berjuang melawan sakit yang ia derita. Sinta yang meminta Naufal mengambil keputusan untuk segera menikah agar bisa menjaga Raisa. Sinta pun berjanji akan membantu Naufal menjaga anak malang itu.

"Kamu sudah selesai?" tanya Sinta, suaranya lembut namun tegas. Ia tahu Naufal sedang banyak pikiran.

"Hampir, Sayang," jawab Naufal. "Tapi ada kasus yang cukup rumit yang menanti sepulang dari mengurus berkas izin menikah. Ada apa, Nta?"

"Oh, Mami menanyakan tentang detail resepsi."

Naufal menghela nafas. "Maaf, Sayang. Aku benar-benar kewalahan akhir-akhir ini. Banyak sekali kasus yang harus ditangani. Nanti sepulang dari kantor. Nanti malam kita bicarakan dengan Mami. Aku akan mengajak mama juga."

"Ok. Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Aku mau ke kampus."

"Ok."

"Bye, sayang.." Sinta mengakhiri pembicaraan.

Naufal tersenyum.

"Terimakasih sayang untuk mendukung apa yang aku lakukan."