Dua bulan berlalu. Waktu berdetak cepat, menghitung mundur menuju hari pernikahan Naufal dengan Sinta. Suasana gembira menyelimuti keluarga, namun bayang-bayang ancaman masih membayangi Naufal. Malam itu, sebuah panggilan telepon membuyarkan ketenangannya.
"Hallo.. Ipda Naufal. Apa kabar? Aku mendapati kalau kau sedang sibuk mempersiapkan proses pernikahan dengan putri jendral bintang dua yang cantik itu," suara wanita di seberang terdengar dingin, penuh teka-teki. Suara yang sangat dikenali Naufal, meskipun ia berusaha keras untuk mengingatnya.
Naufal mengerutkan dahi. Ia tahu suara itu. Maya. Target buruan timnya di Satresnarkoba, seorang pengedar narkoba kelas kakap yang licik dan berbahaya. "Kau mau apa, Maya?" tanyanya, nada suaranya tegas, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Bagaimana kau begitu hafal suaraku, Komandan? Apakah suaraku membuatmu rindu?" Maya terkekeh pelan, tawa yang menusuk. Naufal merasakan bulu kuduknya merinding.
"Aku mungkin saat ini belum mendapat titik terang bagaimana kau bisa menghubungiku, tapi aku pastikan, aku akan segera menemukanmu!" Naufal membalas dengan lantang, menantang. Permainan ini harus segera berakhir. Ia tidak akan membiarkan Maya lolos begitu saja.
"Lebih baik ikuti saranku untuk minta mutasi saja. Jangan lagi berada di Satresnarkoba. Jangan lagi berurusan denganku. Daripada nanti istrimu menjadi korban. Sayang kan, pengantin baru harus berakhir dengan mengenaskan. Pikirkan baik-baik. Ajukan mutasi setelah pesta pernikahanmu," peringatan Maya tajam, ancamannya nyata, mengisyaratkan bahaya yang mengintai Sinta. Lalu, sambungan terputus.
Naufal menyandarkan kepala di sofa, pikirannya kalut. Maya, seorang pengedar narkoba yang licik dan berbahaya, mengancamnya. Ancamannya bukan sekadar gertakan. Ia harus berhati-hati, sangat hati-hati. Ini bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang Sinta dan keluarganya.
Langkah kaki terdengar dari pintu. Revan dan Kevin, dua paman Naufal dari pihak ibu, masuk. Mereka sengaja pulang ke kota kelahiran untuk menghadiri pernikahan Naufal. Kehadiran mereka sedikit meredakan ketegangan.
"Kenapa?" tanya Revan, melihat wajah Naufal yang muram. Kevin mengangguk, ikut memperhatikan keponakannya.
Naufal memandang kedua pamannya. Mereka baru saja dari pusat permainan anak bersama Akhzam, keponakan kesayangan mereka.
Akhzam berlari menghampiri Naufal dan langsung duduk di pangkuannya. "Abang, Adek dibelikan Papa Kevin sama Papi Revan mainan, banyak," lapor Akhzam, menunjukkan mainan-mainannya dengan bangga. Kepolosan Akhzam seakan menjadi penyejuk di tengah badai yang menerpa Naufal.
Naufal tersenyum, mencoba mengusir bayang-bayang ancaman. Ia memeluk Akhzam erat. "Terima kasih, Om Revan, Om Kevin," katanya, suaranya lebih tenang.
"Tidak masalah, Nak," jawab Revan, mengacak rambut Akhzam. "Yang penting kamu bahagia. Pernikahanmu tinggal dua hari lagi."
"Tapi…" Naufal ragu untuk menceritakan ancaman Maya. Ia takut membuat pamannya khawatir, namun ia juga tak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi.
Kevin mengamati wajah Naufal yang masih tegang. "Ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Nak?" tanyanya lembut.
Naufal menghela napas panjang. Ia menceritakan semuanya, dari panggilan telepon misterius hingga ancaman Maya, termasuk identitas Maya sebagai target buruannya di Satresnarkoba. Ia tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya.
Revan dan Kevin mendengarkan dengan serius. Mereka saling berpandangan, wajah mereka menunjukkan kekhawatiran. "Kita harus berhati-hati," kata Revan. "Ancaman ini tidak bisa dianggap remeh."
"Aku akan meningkatkan pengamanan," kata Naufal. "Aku tak akan membiarkan apa pun terjadi pada Sinta dan keluarga."
"Itu bagus," kata Kevin. "Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat yang cukup juga penting."
Naufal mengangguk. Ia harus tetap tenang dan fokus. Ia harus memastikan keamanan keluarganya. Pernikahannya dengan Sinta tinggal dua hari lagi, dan ia ingin merayakannya dengan bahagia, tanpa bayang-bayang ancaman.
Namun, di balik senyumnya, rasa khawatir masih membayangi. Ia tak tahu kapan dan bagaimana Maya akan bertindak.
Malam itu, Naufal sulit tidur. Bayangan Maya menghantuinya. Ia memikirkan cara mengungkap jaringan Maya dan menghentikan rencananya. Ia harus melindungi keluarganya. Ia harus kuat. Demi Sinta dan keluarganya, ia harus memenangkan pertarungan ini. Dan kali ini, taruhannya jauh lebih besar dari sekedar karirnya.
"Aku akan menemukanmu, Maya," gumam Naufal dalam hati, menatap langit-langit kamar.
Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal. Pesan itu hanya berisi satu kalimat: "Jangan lupa janjimu, Komandan. Aku akan selalu mengawasimu." Naufal mengepalkan tangannya. Permainan ini semakin menegangkan. Ia tahu, ini bukan hanya ancaman, tapi sebuah deklarasi perang.
Dihubunginya nomor ponsel Aipda Dimas.
"Hallo, Dan.." suara Dimas di seberang sana.
"Abang dimana?" tanya Naufal, suaranya terdengar tegang.
"Masih di kantor, Dan. Menginterogasi kelompok Indra."
"Tunggu disana, aku ke kantor sekarang."
"Loh, Dan.. Kan cuti? Dua hari lagi pesta pernikahan," Dimas terdengar ragu, tidak enak hati jika Naufal harus datang ke kantor.
"Tidak apa-apa. Aku OTW."
"Siap, Dan.." ucap Dimas, suaranya terdengar sedikit khawatir.
Naufal bergegas memgenakan jaketnya, diraihnya kunci motor sebelum keluar dari kamar.
"Mau kemana?" tanya Ikhwan, kakeknya, yang duduk bersama Kevin, Revan dan Adelia, ibu Naufal.
"Ke kantor sebentar, Kek," jawab Naufal, suaranya terdengar sedikit terburu-buru.
"Kamu kan cuti, Nak?" Adelia bertanya, suaranya terdengar cemas. "Ini juga sudah malam."
"Ada urusan sedikit, Ma.." jawab Naufal, mencoba meyakinkan ibunya.
"Tidak baik bepergian, pesta pernikahanmu tinggal dua hari lagi, naik apa?" tanya Adelia, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
"Motor," jawab Naufal.
"Jangan naik motor, naik mobil saja," saran Kevin.
"Biar cepat sampai kantor, Om," jelas Naufal. "Makanya pakai motor."
"Naufal, jangan cari masalah! Naik mobil pun tidak lebih baik!" tukas Ikhwan, suaranya tegas, namun menunjukkan kekhawatirannya.
"Om antar saja," Revan menawarkan, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Ayo.."
Revan berdiri, menghampiri Naufal. Ia tahu, keponakannya itu sedang menghadapi sesuatu yang serius. Ia harus memastikan keselamatan Naufal. Pernikahan Naufal tinggal dua hari lagi, namun ancaman Maya masih membayangi. Ia harus memastikan bahwa pernikahan itu berjalan lancar, tanpa gangguan apapun.
"Ayo," kata Revan, nada suaranya tenang namun tegas. Ia membuka pintu mobil dan memberi isyarat pada Naufal untuk masuk.
Naufal masuk ke mobil Revan. Suasana di dalam mobil terasa tegang. Naufal masih memikirkan ancaman Maya, sedangkan Revan tampak fokus mengemudi, sesekali melirik Naufal dari balik kaca spion.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, Naufal memecah kesunyian. "Om, aku khawatir. Ancaman Maya ini bukan isapan jempol."
Revan mengangguk, matanya tetap fokus pada jalan. "Aku tahu, Nak. Maya, entah siapa nama aslinya dan seperti apa wajahnya, pastilah bukan orang sembarangan. Dia licik dan berbahaya. Itu pasti.Tapi jangan khawatir, dia tak akan melakukan hal apapun untuk mengacaukan pesta pernikahanmu. Dia hanya ingin membuat pikiranmu terganggu."
"Ya.."
"Aku sudah pernah berada di satuan ini, aku paham lika liku menghadapi target yang sering mengancam keluarga. Tapi yakin saja. Mereka tak akan menang."