Naufal menatap tajam tahanan di hadapannya, seorang pria kurus kering dengan mata yang penuh keputusasaan. 4,2 kilogram narkotika yang ditemukan di mobilnya menjadi bukti yang tak terbantahkan.
"Sumpah, Bang! Saya nggak kenal Maya! Bos saya Robert, Bang!" kata tahanan itu, suaranya gemetar.
Naufal hanya diam, matanya yang tajam tak melepaskan pandangan dari tahanan. Ia sudah terlalu sering mendengar sumpah palsu. Di belakangnya, Aipda Dimas, Anggota yang berpengalaman, berdiri tegap.
"Robert, ya? Aipda Dimas, sudah ada perkembangan soal Robert?" tanya Naufal, suaranya datar, tanpa emosi.
Dimas menggeleng. "Belum ada, Dan. Informasi masih minim. Yang kita tahu hanya nama itu."
Naufal menghela napas. Ia melirik ke arah Aretha yang sedang menginterogasi Natasha, wanita muda dengan kaos baby pink yang kontras dengan suasana suram ruangan itu. Kecantikan Natasha seperti topeng yang menyembunyikan sesuatu yang berbahaya.
"Razak dan Evan masih belum kembali?" tanya Naufal pada Aretha.
"Belum, Bang. Katanya lagi cari rokok," jawab Aretha, suaranya terdengar sedikit ragu.
Naufal kembali ke berkas di meja Aretha. Nama Natasha terpampang jelas. 19 tahun. Cantik. Terlibat jaringan narkoba. Ironis. Ia menatap Natasha, wanita itu tersenyum, matanya berkilat menantang.
"Natasha?" Naufal memulai interogasinya.
"Ya, Bang?" Natasha menjawab, suaranya lembut, hampir menggoda. "Wah... ganteng sekali abang ini."
Naufal mengabaikan rayuannya. Ia tahu, kecantikan itu hanya kamuflase. "Kamu tahu kenapa kamu di sini, Natasha?"
"Tahu, Bang. Salah pergaulan," jawab Natasha, dengan nada santai. "Teman-teman saya memang agak... urakan."
"Urak-urakan sampai terlibat narkoba?" Naufal menaikkan alisnya.
Natasha terdiam sejenak, menggigit bibirnya, terlihat ragu-ragu. "Saya... saya cuma kurir, Bang. Saya nggak tahu apa-apa."
Naufal tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan arti yang dalam. "Kurir? Dengan barang seberat itu? Jangan coba-coba meremehkan saya, Natasha. Saya tahu kamu lebih dari sekadar kurir."
Natasha terdiam, tak berani menatap mata Naufal. Ia tahu, ia telah terjebak.
"Kamu kenal Maya?" Naufal melontarkan pertanyaan yang lebih tajam.
Natasha sedikit terkejut. Ia ragu sejenak sebelum menjawab. "Pernah dengar namanya, tapi tidak kenal, Bang." Suaranya sedikit gemetar.
"Ok.. Kalau Robert?"
"Tidak kenal juga bang."
Naufal memperhatikan setiap detail. Ketegangan di wajah Natasha, keraguan dalam suaranya, semuanya menunjukkan bahwa ia berbohong.
"Jangan berbohong, Natasha," kata Naufal, suaranya berubah lebih tegas. "Kami sudah punya bukti yang cukup untuk mengaitkanmu dengan jaringan Robert. Lebih baik kamu jujur dan bekerjasama, akan lebih baik untukmu."
Natasha tertunduk, air matanya mulai menetes. Ia tahu, ia tidak bisa lagi menyembunyikan kebenaran. Tapi, ia takut. Takut pada Robert, takut pada konsekuensi yang akan ia hadapi.
"Saya... saya takut, Bang," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.
"Takut pada apa?" tanya Naufal, suaranya sedikit melunak. Ia tahu, di balik topeng wanita muda itu, tersimpan cerita yang jauh lebih rumit dan berbahaya.
"Takut pada Robert," jawab Natasha, suaranya semakin terisak. "Dia... dia mengancam keluarga saya."
Naufal terdiam. Ia mengerti. Robert menggunakan keluarga sebagai alat untuk mengendalikan anak buahnya. Ini adalah permainan yang kejam dan berbahaya. Permainan yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
"Ceritakan semuanya, Natasha," kata Naufal, suaranya lembut namun tegas. "Ceritakan semuanya, dan kita akan berusaha untuk melindungimu."
Natasha mengangguk, isakannya semakin keras. Ia mulai menceritakan semuanya, mulai dari keterlibatannya dengan jaringan Robert, ancaman-ancaman yang ia terima.
Pintu ruangan diketuk. Razak dan Evan masuk.
"Eh, datang Dan?" Razak terkejut melihat Naufal. "Bukannya cuti?"
"Aku penasaran apakah mereka ini terhubung pada Maya. Kalian sudah dapat info tentang Robert?"
"Belum ada info signifikan, Dan. Cuma nama itu yang beredar."
"Kalian yakin?" desak Naufal.
Evan, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kami sudah coba cari info, Dan. Tapi Robert ini licin sekali. Tidak ada jejak yang ditinggalkan."
"Cari informasi lagi," perintah Naufal.
"Siap, Dan."
"Sudah, Malam, Dan. Harus istirahat. Ingat 2 hari lagi acara pernikahan," Dimas mengingatkan.
"Antar mereka ke sel," ucap Naufal pada Evan dan Wisnu.
"Siap, Dan."
Evan dan Wisnu segera membawa Natasha dan Andre keluar.
"Aku pulang, kabari nanti ya?" pamit Naufal.
"Siap, Dan!" jawab Dimas.
Naufal keluar ruangan. Dilihatnya Revan menunggu di luar ruangan itu.
"Om.." sapa Naufal.
"Sudah?"
"Sudah, Om."
"Ayo," Revan merangkul bahu keponakannya meninggalkan tempat itu.
Sementara di dalam ruangan, Dimas memandang Aretha yang termenung.
"Ret," panggil Dimas.
Aretha menoleh.
"Kenapa?"
"Capek, Bang."
"Sudah.. Jangan dipikirkan, sebentar lagi sudah punya gandengan dia, mungkin bukan jodohmu. Madih ada Evan dan Wisnu," ucap Razak.
Aretha tersenyum tipis. "Siap, Bang."
Pesta pernikahan Naufal dan Sinta berlangsung sangat meriah. Ballroom hotel mewah di pusat kota dipenuhi tamu undangan yang berdatangan tanpa henti hingga acara resepsi selesai. Suasana gemerlap lampu, Acara Pedang Pora yang sakral, tawa bahagia, dan aroma harum hidangan mewah masih terasa saat Naufal dan Sinta meninggalkan ballroom, meninggalkan jejak kemegahan sebuah ikatan suci yang baru saja mereka jalin. Sebelas bulan lamanya Naufal membina hubungan dengan Sinta, dan malam ini, di penghujung ucapan ijab kabul yang sakral, mereka resmi menjadi suami istri.
Kamar pengantin di hotel telah disiapkan dengan begitu indah. Bunga-bunga segar menghiasi ruangan, lampu-lampu temaram menciptakan suasana romantis, dan ranjang berbalut kain sutra putih sepasang pengantin baru. Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari saat ponsel Naufal yang diletakkan di atas meja kecil bergetar. Naufal meraihnya, matanya masih mengantuk. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Sinta membuka matanya, merasakan getaran ponsel suaminya. "Siapa, Yang?" tanyanya dengan suara lembut, masih terngiang-ngiang kelelahan dan euforia pesta pernikahan.
"Tidak tahu," jawab Naufal, suaranya masih parau karena kelelahan, sambil mengangkat panggilan tersebut. "Hallo..."
"Selamat malam, Ipda Naufal..." Suara itu, dingin dan menusuk. Suara Maya, target buruannya, pengedar narkoba yang selama ini licik menghilang dari kejarannya.
"Kamu?" Naufal terperanjat. Ia tak menyangka Maya akan menghubunginya, apalagi di saat seperti ini.
"Sudah selesai upacara pernikahanmu kan? Sudah kau nikmati juga pastinya malam pertamamu dengan istrimu yang cantik itu," ejek Maya, suaranya terdengar puas dan sedikit mengejek. "Kau harus berterimakasih, aku biarkan kau menikmati kebahagiaanmu. Tapi pukul dua itu sudah masuk hari baru. Batas hari bahagiamu sudah habis."
"Apa maksudmu?" tanya Naufal, berusaha menjaga suaranya tetap tenang, meskipun di dalam hatinya ia sudah waspada.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu, Naufal. Aku akan mengajakmu bermain hide and seek."
"Kau sudah tahu tentang pernikahan ini?" tanya Naufal, mencoba menggali informasi lebih lanjut.
"Tentu saja. Aku selalu tahu apa yang kau lakukan. Aku memiliki mata dan telinga di mana-mana," jawab Maya dengan percaya diri. "Dan aku tahu, kau tidak akan pernah bisa menangkapku."
"Jangan sombong, Maya. Aku akan tetap memburu sampai kau berhasil ditangkap," sahut Naufal, suaranya tegas. Ia tidak akan menyerah begitu saja.
"Kita lihat saja siapa yang akan menang. Tapi ingat, kebahagiaanmu sekarang hanya sementara. Aku akan kembali, dan aku akan menghancurkan semuanya," ancam Maya sebelum memutuskan sambungan telepon.