Pagi sayang..” sapa Sinta lembut, jemarinya menyapu lembut pipi Naufal yang masih terlelap. Cahaya matahari pagi menerobos celah tirai, menari-nari di atas wajah tampan suaminya. “Sayang, katanya hari ini sudah masuk kerja?”
Naufal mengerjapkan matanya. Ia mendongak, tatapannya bertemu dengan mata Sinta yang berbinar. Senyum tipis terukir di bibirnya, masih terkesan mengantuk.
“Ah, cepat sekali waktu berlalu… Sudah habis saja cuti yang ku ambil,” keluh Naufal, suaranya masih berat karena baru bangun tidur. Ia menarik selimut lebih dekat ke tubuhnya, seakan ingin kembali ke alam mimpi. “Rasanya baru kemarin pesta pernikahan kita.”
Sinta tersenyum, senyum yang mampu mencairkan es sekalipun. Ia menarik lengan Naufal dengan lembut, namun cukup kuat untuk membangunkan suaminya dari kenyamanan selimut.
“Angkat tubuhmu, komandan.. Kau berat sekali,” ucap Sinta, suaranya terdengar geli. Naufal memang selalu tampak gagah dan tegap dalam seragam kerjanya, namun di pagi hari, ia hanyalah seorang suami yang manja dan menggemaskan.
Naufal tertawa kecil, ia mengangkat tubuhnya dan duduk di tepi ranjang. Rambutnya yang sedikit berantakan menambah pesona ketampanannya. Ia memeluk Sinta erat, mencium puncak kepalanya.
"Mandilah," Sinta melepaskan pelukan, menatap Naufal dengan senyum manis. "Aku akan siapkan sarapan."
"Terima kasih, Sayang.." Naufal menerima handuk yang diberikan Sinta, lalu beranjak menuju kamar mandi.
Sinta melangkah menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ia membuka kulkas, mengeluarkan beberapa bahan makanan. Nasi goreng menjadi pilihan praktis dan cepat untuk sarapan pagi ini. Sambil memotong bawang dan cabai, pikirannya melayang pada kehidupan barunya sebagai seorang istri. Ia masih merasa seperti mimpi bisa bersanding dengan Naufal, pria yang dicintainya sejak lama.
"Sinta," sapa Adelia, ibu Naufal, yang masuk ke dapur bersama Akhzam, adik Naufal.
"Mama..." sapa Sinta ramah, menyunggingkan senyum. "Hallo, Azam. Apa kabar?"
Akhzam membalas sapaan Sinta. "Baik."
Adelia duduk di meja makan bersama Akhzam. Sinta menghidangkan nasi goreng di atas piring, lengkap dengan telur mata sapi dan kerupuk udang.
"Naufal mana?" tanya Adelia, matanya mencari-cari sosok putranya.
"Mandi, Ma. Hari ini sudah harus ke kantor," jawab Sinta.
"Oya? Apa tidak capek? Kalian baru tadi malam tiba dari Jakarta."
"Bagaimana lagi, Ma. Kan sudah waktunya?" Sinta mengedikkan bahunya, mencoba menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia tahu Naufal pasti lelah setelah perjalanan jauh dan pesta pernikahan yang melelahkan, tapi ia juga mengerti tugas dan tanggung jawab suaminya sebagai seorang abdi negara.
"Iya," jawab Adelia singkat.
"Nanti sore kami mau melihat rumah kami. Mau meletakkan beberapa barang hadiah pernikahan," Sinta melanjutkan, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tapi kalian tidak langsung pindah kesana kan?" tanya Adelia lagi.
"Belum, Ma. Mau renovasi dulu kata Naufal. Sinta juga harus balik ke Jakarta lagi, Ma. Nanti mungkin kalau sudah waktunya libur akhir semester, Sinta balik kesini," jelas Sinta. Ia masih harus menyelesaikan kuliahnya di Jakarta. Mereka harus rela menjalani hubungan jarak jauh untuk sementara waktu.
"Semoga cepat selesai kuliahnya ya?" Adelia menatap Sinta dengan tatapan penuh harap.
"Iya, Ma. Sinta siapkan pakaian Naufal dulu, Ma," Sinta bergegas mengakhiri percakapan.
"Oh, iya," jawab Adelia.
Sinta bergegas kembali ke kamar. Membuka lemari dan mengeluarkan kemeja warna putih dan celana hitam, berikut dasi warna merah. Ia menyusun pakaian tersebut di atas tempat tidur, lalu menyemprotkan sedikit parfum ke kemeja Naufal.
Pintu kamar dibuka, Naufal yang baru selesai mandi melangkah masuk. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke bahunya. Ia memandang Sinta yang sedang merapikan tempat tidur.
"Kemeja kamu sudah aku siapkan," kata Sinta sambil kembali merapikan bedcover.
Naufal tersenyum, menghampiri Sinta dan memeluknya dari belakang. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri terbaik," bisiknya di telinga Sinta.
Sinta tersenyum, merasakan kehangatan pelukan Naufal. "Sudah sana, pakai bajumu. Nanti terlambat," ujarnya.
Naufal melepaskan pelukannya dan mulai mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Sinta. Sambil mengenakan dasi, ia menatap Sinta yang sedang mematut dirinya di depan cermin.
"Kamu cantik sekali," puji Naufal tiba-tiba.
Sinta tersipu malu. "Gombal," jawabnya sambil tersenyum.
"Beneran, Sayang. Kamu selalu cantik di mataku," Naufal mendekat dan mencium pipi Sinta. "Sarapannya sudah siap?"
"Sudah. Mama dan Azam juga sudah di dapur," jawab Sinta.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju dapur. Aroma nasi goreng langsung menyambut mereka begitu memasuki ruangan.
"Wah, aromanya menggugah selera," kata Naufal sambil menarik kursi di meja makan.
"Silakan dinikmati," Sinta mempersilakan.
Mereka berempat menikmati sarapan pagi dengan suasana yang hangat dan penuh keakraban. Sesekali terdengar canda tawa dari Akhzam yang selalu berhasil mencairkan suasana.
Setelah sarapan, Naufal berpamitan kepada ibu dan adiknya. Ia mencium tangan Adelia dan menepuk bahu Akhzam.
"Hati-hati di jalan," pesan Adelia.
"Siap, Ma," jawab Naufal.
Naufal dan Sinta berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Naufal membuka pintu, lalu masuk ke kursi pengemudi.
"Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Naufal sebelum menyalakan mesin mobil.
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan. Jangan ngebut," balas Sinta.
Naufal mencium kening Sinta sekilas, lalu mulai menjalankan mobilnya. Sinta melambaikan tangan hingga mobil Naufal menghilang dari pandangan.
Setelah mengantar Naufal, Sinta kembali ke rumah. Ia membantu Adelia membereskan sisa sarapan dan mencuci piring.
"Sinta istirahat saja. Biar Mama yang kerjakan," kata Adelia.
"Tidak apa-apa, Ma. Sinta bantu sedikit saja," jawab Sinta. Ia merasa tidak enak jika hanya berdiam diri sementara ibu mertuanya bekerja.
Sore harinya, setelah beristirahat sejenak, Sinta mengajak Naufal untuk melihat rumah baru mereka. Rumah itu sebuah bangunan minimalis dengan taman kecil di depannya. Masih belum banyak penghuni di perumahan itu.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Naufal sambil merangkul Sinta.
Sinta mengangguk antusias. "Suka sekali! Rumahnya bagus, tamannya juga. Aku sudah membayangkan akan menanam bunga-bunga kesukaanku di sini," jawabnya.
Naufal tersenyum melihat antusiasme Sinta. "Nanti kita renovasi sedikit ya, biar lebih nyaman," ujarnya.
Pintu rumah di hadapan rumah mereka terbuka. Seorang wanita yang mengenakan mini dress warna pink keluar dari dalam rumah itu. Wajahnya cantik dengan rambut sebatas punggung.
Ia tersenyum pada Naufal dan Sinta.
"Eh, tetangga baru. Yang membeli rumahnya bang Arifin ya?" suaranya terdengar renyah di kuping.
"Iya," jawab Naufal.
"Saya safira.." wanita itu memperkenalkan diri.
"Naufal, ini istri saya.. Sinta," Naufal memperkenalkan diri.
Sinta mengulurkan tangannya menjabat tangan Safira.
"Senang punya tetangga yang sepertinya seumuran, iya kan sayang?" Ia menggandeng lengan Naufal.
"Sebentar, Yang.. Ada yang telpon," ucap Naufal sambil melepaskan tangan Sinta, ia masuk ke dalam rumah.
Safira memandang Naufal dan tersenyum.
"Suami kerja dimana?" tanya Safira.
"Polresta.."
"Oh, polisi. Bagian apa?"
"RESKRIM, Narkoba."
Safira tersenyum.
"Kalau kamu?"
"Aku masih kuliah, semester akhir. Kamu sendiri?"
"Aku.. bisnis kuliner," ucap Safira.
"Oh. Aku masuk dulu ya?" pamit Sinta.
"Ya.."
Safira memandang Sinta hingga hilang dari pandangan. Ia tersenyum.
"Tampan dan keren sekali kamu, Naufal.." gumam Safira.