Mentari telah tenggelam di ufuk barat, meninggalkan langit jingga yang memikat. Aroma masakan lezat memenuhi ruangan, membangkitkan selera makan. Sinta menata meja makan dengan hati-hati. Adelia dan Akhzam sudah duduk manis menunggu. Hanya Naufal yang belum terlihat. Sinta masih canggung, baru seminggu menjadi bagian dari keluarga ini, namun ia berusaha sebaik mungkin untuk beradaptasi. Ia sesekali melirik jam dinding, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Yang..," panggil Sinta, suaranya lembut namun sedikit gugup. "Ayang.."
Ia berdiri. "Sebentar ya, Ma." Adelia tersenyum.
Sinta berjalan masuk ke kamar, langkahnya sedikit ragu. Naufal sedang asyik menelpon, bahu tegang, fokus pada percakapan. Sinta mendekat perlahan, tak ingin mengganggu.
"Yang.." panggil Sinta lagi, lebih pelan kali ini.
Naufal yang sedang menelpon menoleh, "Ya, kenapa?"
"Makan yuk," ajak Sinta, berharap suaminya segera bergabung. Ia masih beradaptasi dengan rutinitas baru sebagai istri, dan sedikit merindukan suasana romantis berdua.
"Sebentar," jawab Naufal, suaranya terdengar sedikit tergesa-gesa. "Aku terima telepon dulu dari Aipda Dimas."
"Nanti langsung ke meja makan ya?" tanya Sinta lagi, memastikan. Ia berusaha bersikap tenang, meski jantungnya berdebar-debar. Kehadiran Aipda Dimas dalam percakapan tersebut sedikit membuatnya khawatir.
"Iya.." jawab Naufal singkat, suaranya masih terdengar sibuk dengan telepon. Ia tampak serius, mengerutkan dahi.
Sinta menghela napas pelan. Ia segera keluar dari kamar, berjalan menuju ruang makan. Adelia dan Akhzam sudah siap menyantap hidangan malam. Akhzam, dengan polosnya, menanyakan keberadaan kakaknya.
"Abang Naufal mana, Ma?" tanya Akhzam, matanya berbinar-binar menanti kedatangan sang kakak. Ia tampak antusias, menunggu untuk bercerita tentang hari-harinya di sekolah.
"Abangmu lagi sibuk, sayang," jawab Adelia lembut, mengelus rambut anaknya. "Kita tunggu sebentar lagi. Nanti setelah makan malam, Adek bisa main dengan Abang."
Sinta duduk di samping Adelia, "Duluan saja, Ma. Nunggu Naufal bicara dengan anggotanya, bisa tidak makan nanti kita semua," usul Sinta, merasa tidak tega melihat ibunya dan adik iparnya menunggu terlalu lama. Ia mencoba bersikap ramah dan pengertian, ingin diterima dengan baik oleh keluarga baru ini.
Adelia tersenyum, memahami situasi. "Kita tunggu sebentar lagi," ulang Adelia, "Naufal pasti segera datang. Dia pasti lapar juga setelah seharian bertugas."
Beberapa menit berlalu, Naufal akhirnya keluar dari kamar. Ia terlihat sedikit lelah, namun senyumnya tetap mampu mencairkan suasana. Sinta merasa sedikit lega melihat suaminya.
"Yang.." panggil Naufal. "Aku keluar ya?"
Sinta memandang Naufal yang meraih kunci mobil. Rasa khawatir kembali muncul, baru seminggu menikah, dan suaminya sudah harus pergi lagi. "Kemana?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ada kerjaan," jawab Naufal, "Jangan ditunggu soalnya tidak tahu pulang jam berapa. Mau penangkapan target. Aku pergi ya, Ma?" pamitnya pada ibunya.
"Hati-hati," ucap Adelia dan Sinta hampir bersamaan, suara mereka dipenuhi kekhawatiran.
Naufal mengangguk, mencium kening istrinya sekilas sebelum bergegas pergi. Sinta kembali duduk, memandang kepergian suaminya. Ia merasa sedikit sedih, baru seminggu menikah, waktu bersama terasa begitu singkat.
"Ma, Naufal sering begini ya?" tanya Sinta, suaranya terdengar sedikit khawatir. Ia mulai memahami tuntutan pekerjaan suaminya.
"Iya," jawab Adelia, "Pekerjaan Naufal memang menuntutnya untuk selalu siap siaga. Tapi kamu tidak usah khawatir, dia selalu pulang dengan selamat. Dia polisi yang bertanggung jawab dan profesional."
Mereka makan malam dalam kesunyian, hanya sesekali terdengar suara Akhzam yang riang bercerita tentang sekolahnya. Sinta sesekali melirik jam dinding, menunggu kepulangan Naufal. Namun, waktu terus berlalu. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Naufal belum juga kembali.
Sinta mulai merasa cemas. Ia mencoba menghubungi Naufal, namun teleponnya tidak diangkat. Kecemasan itu semakin menjadi-jadi. Ia masih sangat baru dalam hal ini, belum terbiasa dengan pekerjaan Naufal. Meskipun ia sudah tahu pekerjaan suaminya, namun Bayangan-bayangan buruk mulai bermunculan di pikirannya.
Adelia melihat gelagat Sinta. Ia mengelus tangan menantunya, mencoba menenangkan. "Sabar, Sinta. Naufal pasti baik-baik saja. Mungkin saja ada halangan di jalan."
Sinta mengangguk, mencoba menenangkan diri. Adelia tersenyum, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oya, tadi kalian melihat rumah kalian kan? Bagaimana?" ia bertanya, mencoba mengalihkan pikiran Sinta.
"Iya, Ma. Sebenarnya sudah bisa ditempati. Rumahnya bagus, luas, dan nyaman. Dekat juga dengan kantor Naufal bertugas. Tapi nanti saja, waktu Sinta balik ke sini libur semester baru kami tinggal disana. Minggu depan Sinta harus balik ke Jakarta. Ada kuliah."
"Kalian.. Akan membawa Raisa?" tanya Adelia.
Sinta menoleh.
"Maaf jika keputusan yang diambil Naufal menyakiti Mama.."
"Tidak apa-apa. Raisa tidak salah. Dan bagaimana pun ia adalah adik kandung Naufal. Sudah 3 bulan ia tinggal dengan dokter itu. Rasanya, sudah cukup merepotkannya. Dia bukan siapa-siapa."
Sinta merenung.
"Perempuan itu.. Dokter yang menjaga Raisa, apakah cantik?" tanya Sinta.
"Mama belum sekalipun pernah bertemu dia dan Raisa. Tidak tahu juga mereka tinggal dimana. Raisa hanya terhubung dengan Naufal karena kakek serta Omnya Naufal tak mengizinkan Raisa masuk ke keluarga ini."
"Naufal sudah cerita. Karena itu Sinta meminta agar kami menikah saja. Agar Raisa bisa tinggal dengan kami."
"Terimakasih, Nak.. Kamu sangat baik. Sudah malam, ayo kita istirahat."
"Ya, Ma.."
Pukul 01.30 dini hari, Naufal melangkah pelan memasuki kamar, cahaya lampu tidur remang-remang menerangi ruangan. Ia melihat Sinta tertidur pulas di ranjang, tubuhnya terbungkus selimut tipis, rambutnya terurai di atas bantal. Senyum tipis terukir di bibir Naufal, melihat istrinya yang tampak begitu tenang dalam tidurnya. Ia melepas jaket dengan hati-hati, mencoba tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Sinta.
Ia mendekati ranjang, dengan perlahan merebahkan tubuhnya di samping Sinta. Dengan lembut, ia mengelus rambut Sinta, merasakan kelembutannya. Sentuhannya begitu hati-hati, tak ingin membangunkan istrinya yang sedang terlelap dalam mimpi. Setelah memastikan Sinta tidur nyenyak, Naufal meraih ponselnya dari saku celana. Layar ponselnya menyala, menunjukkan pesan dari nomor tak dikenal yang masih belum terbaca. Ia membuka pesan tersebut, membaca kembali kata-kata yang membuatnya sedikit resah:
"Selamat Malam Ipda. Naufal. Masih memburu pengedar Narkoba? Ayolah… Jika kau tak sayang pada nyawamu, coba pikirkan istrimu yang baru seminggu merasakan indahnya pernikahan. Jangan membuang kenikmatan dunia."
Ancaman terselubung dalam pesan itu membuat Naufal menghela napas panjang. Ini bukan sekadar peringatan, ini terasa seperti ancaman nyata. Ia melirik Sinta yang masih tertidur lelap, merasakan tanggung jawab yang begitu besar untuk melindungi keluarganya.
Tiba-tiba, Sinta bergerak dan membuka matanya. "Sudah pulang, Yang?" suaranya masih parau karena kantuk.
Naufal tersenyum, "Baru saja. Maaf, aku membangunkanmu?"
Sinta menggeleng, "Tidak apa-apa. Aku sudah lama menunggu." Ia melingkarkan lengannya di perut Naufal, mencari kehangatan. "Akhirnya aku bisa tidur nyenyak," bisiknya, menyangga kepalanya di dada Naufal.
Naufal membalas pelukan Sinta, merasakan kelembutan dan kehangatan tubuh istrinya. Ia memeluknya erat, mencoba menenangkan dirinya dan juga Sinta. "Bagaimana tugasmu malam ini?" tanya Sinta.
Naufal menghela napas pelan, "Malam yang panjang, Sayang. Penangkapannya cukup menegangkan, tapi Alhamdulillah semuanya berjalan lancar." Ia sengaja tidak menceritakan detailnya, tak ingin membuat Sinta khawatir. Ia hanya ingin memberikan ketenangan pada istrinya.
"Aku khawatir," ucap Sinta lirih, "Aku masih belum terbiasa dengan pekerjaanmu. Maksudku.. Aku tahu pekerjaanmu sejak dulu, tapi dulu itu kita belum menikah."
Naufal mencium puncak kepala Sinta, "Aku mengerti, Sayang. Aku janji akan selalu berhati-hati. Keamananmu adalah prioritasku." Ia berusaha meyakinkan Sinta, memberikan rasa aman dan perlindungan.
Sinta memeluk Naufal lebih erat, mencari perlindungan di pelukan suaminya. Kehangatan tubuh Naufal, aroma khas parfumnya yang menenangkan, membuatnya merasa aman dan terlindungi.
"Selamat malam, sayang.." bisik Naufal di telinga Sinta