‘Oh, jadi begitu perlakuan kakakku padanya. Sedikit demi sedikit akan aku lakukan seperti yang dilakukan kakakku dulu, dan sampai tiba waktunya, kebenaran tentang siapa yang membunuh kakakku akan terungkap.’
Arga hanya bisa tertawa pelan. Saat itu, ia bertekad satu hal, yaitu menjaga Nabila sebisa mungkin, tanpa sekalipun melangkahi batas yang seharusnya tidak ia langkahi.
Setelah tubuh Nabila selesai dikeringkan, Arga membantunya mengenakan piyama yang tadi dipilih. Tangannya kaku, tapi ia berusaha setenang mungkin, memasangkan kancing satu per satu. Selesai berpakaian, ia membuka kotak kecil berisi perlengkapan harian Nabila, mencoba mendandaninya seadanya. Menyisir rambut panjangnya perlahan, lalu mengoleskan sedikit krim pelembap ke wajah Nabila.
Akan tetapi, aroma wangi lembut dari krim itu justru membuat hidung Arga gatal. “Hhh-achiuuu!” Ia tak tahan, bersin cukup keras sampai membuat Nabila kaget.
Sejenak hening, lalu tawa renyah Nabila pecah. “Hahaha, Dirga … masa mencium aroma krim aku aja sampai bersin segala?”
Pipi Arga memerah. “Heh, jangan ketawa gitu dong. Bau krimnya terlalu wangi, jadi ya ....”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Nabila bergerak pelan, meraba meja kecil, lalu berhasil menemukan wadah krim. Dengan senyum nakal, ia mencolek sedikit krim itu, lalu dengan percaya diri mengarahkannya ke wajah Arga.
“Eh, jangan! Jangan, Nabila ....” Arga refleks menunduk, tapi terlambat.
“Cesss!” ujung jari Nabila yang lembut tepat menyentuh hidungnya. Seketika Arga kaget, lalu tak bisa menahan tawa kecil. Ia heran, bagaimana mungkin Nabila yang tak bisa melihat itu bisa tepat mengenai hidungnya. Hingga pada akhirnya, ia bersin untuk kedua kalinya.
“Aku tahu di mana hidungmu,” ucap Nabila sambil tersenyum manis. “Meski aku nggak bisa lihat, aku bisa ngerasain. Feelingku nggak pernah salah.”
Arga terdiam, senyum Nabila yang polos membuat dadanya kembali bergetar, tapi ia buru-buru mengalihkan pandangan, tak ingin larut terlalu dalam pada perasaan yang seharusnya tidak boleh tumbuh.
Suasana kamar perlahan mencair. Tawa kecil mereka berdua memenuhi ruangan, seolah beban berat yang sempat menekan hati masing-masing hilang untuk sesaat. Nabila beberapa kali iseng menggodanya dengan krim wajah, sementara Arga menanggapinya dengan pura-pura kesal. Rasanya seperti dua remaja yang baru jatuh cinta, larut dalam candaan sederhana.
Akan tetapi, di balik semua itu, hati Arga mulai bergetar tak terkendali. Ia sadar, semakin lama kebersamaan itu membuatnya benar-benar menyukai Nabila. Bukan lagi sekadar rasa kasihan, melainkan perasaan hangat yang tumbuh pelan-pelan, meski ia tahu, seharusnya itu tidak terjadi.
“Nggak kerasa … aku ngantuk banget,” ucap Nabila sambil menguap kecil, tubuhnya rebah di ranjang. Ia menoleh ke arah Arga, meski matanya tak bisa melihat. Dengan suara manja ia berbisik, “Sebelum aku tidur, cium aku dulu, ya. Biar mimpi indah.”
Arga tercekat, tubuhnya menegang. Hatinya bergumam sambil menggeleng pelan, ‘ini salah. Ini nggak boleh.’ Namun, saat Nabila menunggu dengan wajah begitu pasrah dan percaya, pertahanan Arga runtuh. Dengan penuh rasa bersalah bercampur rindu yang tak bisa ia jelaskan, Arga mendekat lalu mengecup bibir Nabila dengan mesra, lembut, tanpa kata.
Tak lama, Nabila terlelap dengan napas teratur, senyum kecil masih tersisa di wajahnya. Arga hanya bisa menatapnya lama dengan napas di dada yang cukup sesak. ‘Apa yang sebenarnya aku lakukan, Kak? Aku jaga dia, tapi hatiku justru terguncang begini?’
Ia lalu menarik selimut, merapikan posisi tidur Nabila agar lebih nyaman. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Arga menunduk, menghela napas panjang, lalu menatap ranjang itu dengan berat hati.
Ia tahu, tak pantas baginya untuk tidur di samping Nabila. Maka dengan perasaan bercampur aduk, ia mengambil kasur tipis dan meletakkannya di lantai, tepat di bawah ranjang. Ia berbaring sambil menatap langit-langit, Arga terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Antara cinta yang tumbuh diam-diam dan kenyataan pahit bahwa wanita itu bukan miliknya. Ia pun berusaha melupakan hal itu dan mulai memejamkan mata hingga bermimpi.
**
Pagi harinya, cahaya lembut menembus tirai jendela kamar. Arga sudah terbangun lebih dulu. Ia bangkit dari kasur tipis di lantai, lalu menoleh ke arah ranjang. Nabila masih terlelap dengan wajah tenang, tapi pandangan Arga mendadak terhenti. Ia melihat dua kancing piyama bagian atas Nabila terbuka, memperlihatkan bagian yang seharusnya tertutup. Sebuah garis tengah indah dengan dua gundukan putih yang menawan terlihat jelas.
Arga tertegun, jantungnya langsung berdegup cepat. “Astaga…” gumamnya pelan, lalu menelan ludah.
‘Sepertinya, aku tak bisa menahannya lagi. Nabila, kecantikanmu, kemulusan kulitmu, sungguh membuatku terpesona. Maafkan aku, Kak, jika mengotori istri sahmu.’
Dengan hati-hati, ia mendekat, berusaha menutup kembali kancing itu agar hasratnya tak semakin menggebu tanpa membangunkan Nabila.
Akan tetapi, baru saja jari-jarinya menyentuh kain, kelopak mata Nabila bergerak. Ia terbangun perlahan, lalu berkata dengan suara serak, “Dirga … kau mau apa?”
Arga tersentak, wajahnya langsung memucat. “Aku … bukan … bukan apa-apa,” jawabnya gugup.
Nabila mengerutkan kening, lalu mengingat sesuatu. “Bukannya tadi malam aku sudah menyuruhmu untuk melakukannya saja? Tapi kenapa, di saat aku tidur, kamu malah mencari kesempatan?” Suaranya terdengar getir, seolah menuduh.
Arga panik. Ia menggeleng cepat, kepalanya menunduk, dan mulutnya mengeluarkan suara yang terbata. “Bukan gitu, Nabila. Aku nggak macam-macam. Piyamamu tadi berantakan, kancingnya terbuka. Aku cuma mau membetulkan, biar kamu nggak masuk angin.”
Keheningan sejenak menyelimuti kamar. Nabila menarik napas dalam, lalu menggigit bibirnya. Sulit baginya membedakan mana yang benar, karena ia tak bisa melihat. Namun, nada tulus Arga membuat hatinya sedikit luluh.
“Benarkah begitu?” tanyanya pelan, masih dengan nada ragu.
Arga mengangguk tegas. “Iya, aku janji. Aku nggak akan pernah ambil kesempatan pas kamu nggak sadar.”
Nabila terdiam, lalu tersenyum tipis. “Kalau begitu … maaf. Aku cuma takut. Karena aku nggak bisa lihat, aku cuma bisa percaya sama kata-katamu.”
Arga merasakan dadanya terhimpit. Sekali lagi, beban berat itu kembali menekannya, yaitu beban menjaga kepercayaan seorang perempuan yang mengira ia adalah orang lain.
Arga lalu menuntun Nabila keluar kamar agar dia bisa menghirup udara pagi, setelah pintu terbuka, ia langsung dipanggil oleh ibunya.
“Kalian berdua, ayo ke sini, sarapannya sudah siap.”
“Baik, Ma,” jawab mereka bersahutan, seolah semakin kompak.
Di ruangan itu, meja makan sudah tertata rapi. Aroma sayur hangat dan teh manis tercium, menambah suasana rumah yang hangat. Nabila duduk di kursi dengan bantuan Arga, sementara Ibu Fenny dan Bi Wati sibuk menyiapkan hidangan terakhir.
“Silakan dimakan, Nabila. Ini sayur kesukaanmu,” ujar Fenny lembut sambil menyuapkan nasi ke piring menantunya.
Nabila tersenyum tipis. “Terima kasih, Ma ... selalu perhatian sama aku.”
Bi Wati ikut menimpali dengan canda, “Wajar, kan kamu menantunya, Non. Lagian sekarang jadi ratu kecil di rumah ini.” Semua tertawa, membuat suasana terasa penuh kekeluargaan.
Arga duduk di samping Nabila, berusaha tenang meski pikirannya masih kacau sejak kejadian tadi pagi. Ia menunduk, fokus pada makanannya, ketika tiba-tiba Fenny menarik lengannya agar sedikit menjauh, lalu mencondongkan tubuh, berbisik ke telinga Arga, meski sebenarnya Arga masih belum selesai makan.
“Ga … apa tadi malam kamu sudah melakukannya sama Nabila?”
Arga tersedak, hampir saja nasi yang dikunyahnya keluar. “A-apaa, Bu?! Melakukan apa?”
Fenny tersenyum samar, menepuk bahunya. “Sebenarnya, aku sudah berubah pikiran, setelah aku pertimbangkan semalam, Ibu ingin cepat menimang cucu. Kalian kan sudah saling dekat. Jadi, wajar kalau Ibu berharap.”
Arga memalingkan wajah, berbisik balik dengan suara tertahan, “Mana mungkin, Bu. Aku sama dia belum resmi. Aku nggak mungkin bisa melakukannya.”
Fenny menghela napas panjang. Lalu dengan nada serius, ia kembali berbisik, “Kalau begitu, bagaimana kalau kalian menikah secara diam-diam dulu ...?”