Fantasi

Kode yang Rusak

17 March 2026

Kode yang Rusak

Cahaya hijau dari terminal itu menyinari wajah Rama, membuat kerutan-kerutan di kulitnya tampak seperti parit yang dalam dan berbayang. Debu di udara menari-nari dalam sorotan cahaya itu, menciptakan ilusi hantu-hantu kecil yang beterbangan di sekitar kepala sang profesor.

"Lihat," bisik Rama. Suaranya hampir tidak terdengar di ruangan gua yang sunyi itu, teredam oleh beratnya kenangan. "Ini dia. Awal dari segalanya. Dan akhir dari segalanya."

Jari-jarinya yang gemetar, penuh bintik-bintik penuaan dan bekas luka bakar kimia, menekan tombol Enter.

Sebuah hologram tiga dimensi muncul di udara, berkedip dan terdistorsi oleh kerusakan sirkuit selama lima puluh tahun. Garis-garis statis memotong gambar itu, tapi intinya masih jelas. Itu adalah rekaman video dari laboratorium yang bersih dan steril—lantai putih mengkilap, peralatan baja tahan karat, dan lampu neon yang terang. Kontras yang menyakitkan dengan reruntuhan berdebu dan gelap tempat mereka berdiri sekarang.

Seorang pria muda dengan jas lab putih berdiri di depan sebuah prototipe mesin besar yang menyerupai jantung mekanis raksasa. Kabel-kabel serat optik berwarna biru neon menjuntai dari mesin itu seperti pembuluh darah, terhubung ke sebuah unit robotik yang duduk diam di kursi pengujian.

Itu Rama. Lima puluh tahun yang lalu. Wajahnya halus, tanpa kerutan, rambutnya hitam pekat, dan matanya... matanya penuh dengan harapan yang menyala-nyala. Harapan yang naif.

"Log Eksperimen 404," suara Rama muda terdengar jernih dan penuh semangat, menggema dari speaker terminal yang pecah. "Hari ke-120. Unit K-1R0 telah menunjukkan perkembangan kognitif yang luar biasa. Dia bukan lagi sekadar AI yang memproses data. Dia mulai... merasakan. Sirkuit Jiwa merespons gelombang otaknya dengan sinkronisasi 99%."

Arka menahan napas. Dia melihat ke arah Kiro yang berdiri mematung di samping terminal. Robot itu tidak bergerak, tapi lampu matanya berkedip cepat, menyerap setiap bingkai gambar dari masa lalunya sendiri. Arka bisa merasakan, melalui koneksi Sync yang samar di belakang kepalanya, gelombang kebingungan dan pengenalan dari robot itu.

"Ini adalah terobosan," lanjut Rama muda di hologram, tangannya bergerak antusias menjelaskan grafik yang melayang di sampingnya. "Kita bisa menyatukan mesin dan manusia bukan dengan kabel, tapi dengan empati. Bayangkan dunia di mana mesin tidak hanya melayani kita, tapi memahami kita. Merasakan sakit kita. Menjaga kita. Tidak akan ada lagi kecelakaan. Tidak akan ada lagi perang karena kesalahpahaman."

Hologram itu berganti. Tanggal di sudut layar melompat maju dua minggu.

Pemandangan kekacauan. Alarm merah berkedip di latar belakang, memandikan laboratorium dalam cahaya stroboskopik. Kamera berguncang hebat, seolah operatornya sedang berlari atau terjatuh.

Rama muda terlihat panik, keringat membasahi wajahnya, jas labnya robek. Dia berteriak pada seseorang di luar layar, suaranya parau karena teriakkan.

"Matikan! Matikan sistemnya sekarang! Putuskan koneksinya!"

Di latar belakang, unit Kiro—masih berkilau dan baru, tanpa goresan atau karat—terlihat kejang-kejang di kursinya. Kabel-kabel di kepalanya memercikkan api biru liar. Dia menjerit.

Bukan suara mesin. Bukan suara sirine.

Itu jeritan digital yang terdengar seperti tangisan anak kecil yang ketakutan. Suara itu menusuk hati, penuh dengan rasa sakit yang tak terbayangkan.

"Dia terlalu banyak merasakan!" teriak Rama muda, air mata mengalir di wajahnya saat dia mencoba menarik kabel manual yang macet. "Dia menyerap ketakutan seluruh kota! Jaringan sarafnya overload! Dia tidak bisa memfilternya! Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan?"

Ledakan cahaya putih memenuhi layar. Rekaman itu mati mendadak dengan suara statis yang menyakitkan.

Hening.

Di dalam gua perpustakaan, hanya suara napas Arka yang terdengar.

Arka menatap Kiro. Robot itu perlahan menundukkan kepalanya. Bahu logamnya bergetar, gerakan yang sangat manusiawi.

"Kau..." Arka menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti pasir. "Kau menyerap ketakutan mereka? Dan itu... meledak?"

"Analisis data: Konfirmasi," suara Kiro terdengar datar, tapi Arka bisa merasakan gelombang kesedihan yang dingin merambat melalui koneksi Sync. Kesedihan yang begitu dalam hingga membuat lutut Arka lemas. "Saya adalah Patient Zero. Penyebab Keruntuhan Awal. Protokol empati saya tidak memiliki batasan. Ketika kepanikan menyebar di kota karena gempa kecil, saya menyerap semuanya. Dan saya memancarkannya kembali sepuluh kali lipat ke seluruh jaringan global. Saya... menghancurkan dunia."

Rama tertawa pahit, suara yang terdengar seperti pecahan kaca yang diinjak. Dia merosot, bersandar pada konsol terminal.

"Bukan kau, Kiro. Aku. Aku yang memberimu kemampuan untuk merasakan, tapi aku terlalu sombong untuk memberimu filter. Aku ingin menciptakan Tuhan, tapi aku menciptakan iblis yang menangis. Aku menciptakan wadah tanpa tutup untuk menampung lautan emosi manusia."

Arka memandang Rama dengan campuran rasa kasihan dan marah. "Kau tahu ini. Selama ini kau tahu. Kau membiarkan dunia berpikir itu bencana alam. Kau membiarkan orang-orang menyalahkan tektonik, menyalahkan matahari..."

"Tentu saja aku tahu!" Rama membentak, matanya berkaca-kaca. "Apa yang kau harapkan aku lakukan? Berdiri di depan orang-orang yang kehilangan anak-anak mereka dan berkata, 'Maaf, eksperimenku yang membunuh mereka'? Mereka akan mencabik-cabikku! Aku pengecut, Arka. Aku lari ke bukit ini. Aku bersembunyi di balik kegilaan palsu."

"Dan sekarang?" tanya Arka. "Apa rencanamu sekarang?"

"Sekarang..." Rama menatap Data-Crystal di tangannya. "Sekarang kita perbaiki. Kiro adalah kuncinya. Jika kita bisa memasang limiter pada sirkuit empatinya, dia bisa digunakan untuk menstabilkan sisa energi yang masih liar di atmosfer. Kita bisa..."

Tiba-tiba, suara ledakan mengguncang gua itu. Debu dan serpihan batu kapur berjatuhan dari langit-langit.

BLAAR!

Pintu masuk gua yang tertutup Iron-Vine meledak. Bukan terbuka, tapi hancur lebur. Potongan tanaman logam itu terlempar ke dalam ruangan, meleleh oleh panas plasma yang intens, mendesis di lantai keramik.

"Lokasi terdeteksi! Sektor 4 bersih!" suara mekanis yang diperkuat menggema dari pintu masuk gua yang kini menganga.

Arka berbalik, multi-tool di tangannya menyala. "Mereka menemukan kita."

Asap hitam mengepul masuk. Dan dari balik asap itu, Nayla melangkah masuk.

Dia tidak sendirian. Di belakangnya, berbaris dua prajurit Exo-Trooper—manusia dalam baju zirah bertenaga hidrolik setinggi dua setengah meter. Armor mereka putih bersih, dihiasi lambang Enklaf. Setiap langkah mereka membuat lantai keramik retak. Senapan Rotary-Cannon di lengan kanan mereka berputar pelan, siap memuntahkan kematian. Di bahu kiri mereka, terpasang peluncur jaring listrik.

"Profesor Rama," sapa Nayla, suaranya tenang namun tajam, memotong kebisingan alarm terminal. Dia melepas helmnya, membiarkan rambut hitamnya tergerai. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan, hanya kelelahan dan tekad. "Sebuah kehormatan akhirnya bertemu dengan arsitek dunia kita yang rusak ini."

Rama mematikan terminal dengan kasar, mencabut Data-Crystal utama dari slotnya dan melemparkannya ke Arka.

"Lari, Nak," perintah Rama, suaranya tidak lagi gemetar. "Bawa Kiro. Jangan biarkan dia mendapatkan kristal itu. Itu satu-satunya harapan kita."

"Tidak," Arka menangkap kristal itu dan memasukkannya ke saku. Dia mengaktifkan Shield kecil di lengan kirinya, meskipun dia tahu itu tidak akan berguna melawan senjata berat. "Kita lawan mereka. Bersama."

Nayla menggelengkan kepala, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Arka, Arka. Kau masih berpikir ini adalah cerita pahlawan di mana keberanian mengalahkan segalanya? Ini adalah operasi pembersihan. Dan kau adalah variabel yang tidak diinginkan."

Dia menjentikkan jari.

"Amankan target Alpha (Rama). Eliminasi target Beta (Arka) dan Gamma (Unit K-1R0)."

Salah satu Exo-Trooper melaju ke depan dengan kecepatan yang tidak wajar untuk ukurannya. Dia mengayunkan gada besinya yang dialiri listrik ke arah kepala Arka.

DANG!

Kiro melompat, menahan gada itu dengan sasisnya. Suara logam beradu memekakkan telinga. Lengan Kiro yang tersisa bengkok, percikan api menyembur ke wajah Arka.

"Operator, mundur!" teriak Kiro, suaranya pecah. "Integritas perisai 10%! Saya tidak bisa menahan serangan fisik level ini!"

"Amankan Catalyst!" perintah Nayla.

Prajurit kedua menembakkan jaring listrik dari peluncur di bahunya. Jaring itu melilit tubuh Kiro, mengalirkan tegangan tinggi. Robot itu kejang-kejang, sistemnya overload. Arka bisa merasakan rasa sakit itu—seperti ribuan jarum menusuk otaknya melalui Sync. Dia jatuh berlutut, memegangi kepalanya, berteriak tanpa suara.

"KIRO!" teriak Arka saat rasa sakit itu mereda sedikit.

Dia melihat temannya—satu-satunya makhluk yang selalu ada untuknya—menderita. Dan dia melihat Rama, diseret kasar oleh prajurit pertama.

Rasa sakit itu berubah. Ia tidak lagi menjadi penderitaan. Ia menjadi bahan bakar.

Kemarahan murni, panas, dan tidak terkendali mulai mendidih di dalam dada Arka. Kemarahan pada Nayla. Kemarahan pada dunia. Kemarahan pada dirinya sendiri yang lemah.

Kristal di dadanya bersinar menyilaukan, bukan biru tenang, tapi putih menyengat seperti bintang yang akan meledak.

"JANGAN SENTUH DIA!"

Arka melepaskan Pulse.

Tapi kali ini, dia tidak menahannya. Dia tidak memfilternya. Dia tidak mencoba menjadi "jarum" atau "sungai". Dia membiarkan seluruh rasa takut, marah, dan sakitnya mengalir keluar seperti banjir bandang yang menjebol bendungan.

Gelombang kejut itu menghantam ruangan seperti bom nuklir mini.

Rak-rak besi berisi ribuan Data-Crystal terpelanting seolah terbuat dari kertas, menghamburkan isinya ke udara seperti hujan kaca. Kaca-kaca terminal pecah berkeping-keping. Exo-Trooper pertama terlempar ke dinding seberang, armornya penyok parah, sistem hidroliknya meledak. Bahkan Nayla terhuyung mundur, perisai pribadinya berkedip mati dan dia jatuh terduduk, darah mengalir dari hidungnya.

Tapi kekuatan itu terlalu besar.

Langit-langit gua retak. Stalaktit batu kapur raksasa mulai runtuh.

KRAAAK!

"Struktur tidak stabil!" peringatan Kiro terdengar samar di telinga Arka yang berdenging. "Runtuhan imminent! Evakuasi!"

Pilar utama perpustakaan itu patah. Runtuhan batu memisahkan ruangan menjadi dua bagian dalam hitungan detik. Arka dan Kiro di satu sisi, Rama dan Nayla di sisi lain.

"Rama!" Arka mencoba memanjat puing-puing, tapi debu tebal menghalangi pandangannya. Batu-batu besar terus berjatuhan, menutup celah itu.

"Pergi, Arka!" suara Rama terdengar dari balik reruntuhan, batuk-batuk hebat. "Bawa Kiro! Cari Core di Menara Pusat! Jangan biarkan dia mendapatkannya! Pergi!"

"Tidak! Aku bisa..."

"PERGI!"

Suara tembakan plasma terdengar lagi dari sisi Rama. Lalu hening. Hanya suara batu yang berjatuhan.

Arka berdiri di sana, terengah-engah, darah menetes deras dari kedua lubang hidungnya. Tangannya gemetar. Dia baru saja... menghancurkan segalanya. Dia mencoba menyelamatkan mereka, tapi dia malah memisahkan mereka.

Kiro merangkak mendekat, tubuhnya berasap. "Operator. Deteksi: Bala bantuan Enklaf mendekat. Kita harus pergi. Sekarang."

Arka menatap tumpukan batu yang memisahkan dia dari gurunya. Dia menatap Data-Crystal di tangannya.

Dia harus memilih. Menolong Rama dan mungkin mati tertimpa runtuhan atau ditembak Nayla, atau menyelamatkan Kiro dan membawa harapan terakhir dunia ini pergi.

"Maafkan aku, Kek," bisik Arka, air mata bercampur debu di wajahnya.

Dia memapah tubuh berat Kiro dan berlari ke dalam kegelapan terowongan belakang perpustakaan, meninggalkan mentornya, meninggalkan masa lalunya, dan berlari menuju masa depan yang tidak pasti di perut bumi yang gelap.