Jantung Mesin
Enklaf Teknologi tidak tidur. Ia berdengung.
Dilihat dari atas bukit di kejauhan, kota benteng itu tampak seperti sirkuit komputer raksasa yang menyala dalam kegelapan. Dinding luarnya setinggi lima puluh meter, terbuat dari beton yang diperkuat polymer dan dilapisi kawat berduri yang dialiri listrik tegangan tinggi. Lampu sorot putih menyapu perimeter setiap tiga puluh detik dengan presisi metronom yang memuakkan. Di tengah-tengahnya, Menara Pusat menjulang setinggi satu kilometer, seperti jarum suntik raksasa yang menusuk langit tembaga, menyedot energi dari badai ionosfer di atasnya.
Arka dan Kiro bersembunyi di balik tumpukan kontainer pengiriman berkarat di Sektor Logistik Utara—satu-satunya titik buta yang teridentifikasi oleh algoritma Kiro. Bau ozon dan pelumas sintetis sangat kuat di sini, menutupi bau organik mereka.
"Sensor gerak inframerah di setiap dua meter," bisik Arka, mengintip melalui celah logam kontainer yang berkarat. Matanya yang tajam menangkap kilatan merah samar di dinding beton. "Dan drone patroli. Mereka menggandakan keamanan sejak kita kabur dari Outpost 7."
Di atas mereka, tiga drone Sentry-V melayang tanpa suara, baling-baling mereka berputar dengan kecepatan ultrasonik. Mata kamera mereka yang bersinar hijau memindai tanah seperti predator mencari tikus.
"Analisis pola: Drone tipe Sentry-V MK-4," Kiro menambahkan, suaranya sangat pelan, hampir tidak terdengar di atas dengungan kota. "Varian upgrade. Mereka memiliki siklus pendingin termal setiap 45 detik. Selama 3,5 detik, sensor inframerah mereka buta karena reboot sistem pendingin. Itu jendela kita."
"Tiga setengah detik?" Arka menelan ludah. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Jantungnya berdetak kencang, dan kristal di dadanya berdenyut seirama, seolah ingin meledak keluar. "Itu gila. Jarak ke pintu akses lima puluh meter. Itu mustahil."
"Kecepatan lari maksimal Anda: 28 km/jam. Waktu tempuh: 6,4 detik," hitung Kiro dingin. "Kesimpulan: Anda akan terdeteksi di tengah jalan. Sistem pertahanan otomatis akan mengaktifkan sentry guns. Probabilitas terminasi: 99%."
Arka memejamkan mata. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dia ingat latihan di Bukit Bisikan. Dia ingat pelajaran di terowongan gelap itu.
Bukan ledakan. Jarum.
"Tidak jika aku mematikan mereka," kata Arka, membuka matanya. Tatapannya tajam. "Bersiap untuk Pulse terarah."
Arka membuka matanya. Dia tidak memanggil kemarahan kali ini. Kemarahan terlalu berisik, terlalu luas, terlalu liar. Dia memanggil... ketenangan. Dia membayangkan aliran air yang tenang di bawah tanah, dingin, stabil, dan tak terhentikan. Dia memvisualisasikan sirkuit di dalam drone-drone itu. Dia bisa merasakannya.
Kristal di dadanya bersinar redup. Bukan ledakan cahaya, tapi getaran frekuensi tinggi yang tak terlihat oleh mata telanjang.
"Sekarang!" desis Arka.
Dia melompat keluar dari persembunyian. Kakinya menghantam aspal.
Satu detik. Dia berlari sepuluh meter.
Dua detik. Drone di atasnya mulai berputar, siklus pendingin mereka berakhir.
Tiga detik. Lampu sensor mereka mulai berubah dari hijau ke merah.
HUMMM...
Arka mengarahkan telapak tangannya ke atas sambil berlari. Sebuah gelombang kejut elektromagnetik—tipis seperti jarum, tajam seperti silet—meluncur dari jarinya. Gelombang itu menghantam sirkuit pengendali penerbangan drone tengah dengan presisi bedah.
Tidak ada ledakan besar. Hanya suara zzzt pelan dan bau hangus sirkuit. Drone itu mati mendadak, kehilangan daya angkat, dan jatuh menimpa dua drone lainnya di bawahnya.
THUD. KLANG.
Ketiga drone itu jatuh ke tanah, menonaktifkan satu sama lain dalam kekacauan kabel dan baling-baling yang patah.
Arka terus berlari. Dia tidak menoleh. Dia mencapai pintu akses dinding tepat saat lampu sorot utama menyapu tempat dia berdiri tadi. Cahaya putih itu hanya menerangi aspal kosong.
"Akses!" teriak Arka, menempelkan multi-tool-nya ke panel.
Kiro menyusul dengan langkah pincangnya yang cepat, menyambungkan kabel datanya ke port di bahu Arka. "Dekripsi kode... Level 5... Akses prioritas... Menggunakan backdoor dari database Rama... Diterima."
Pintu hidrolik mendesis terbuka. Mereka meluncur masuk, dan pintu menutup kembali dengan suara klik solid tepat sebelum alarm perimeter berbunyi.
Hening.
Mereka berada di koridor perawatan yang dingin dan steril. Lantainya putih bersih, dindingnya putih bersih. Tidak ada debu. Tidak ada karat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kontras yang menyakitkan dengan dunia di luar yang berantakan dan sekarat.
"Kita di dalam," bisik Arka, tidak percaya. Dia menyentuh dinding itu. Dingin.
"Jangan rayakan dulu," kata Kiro. "Tanda panas terpusat di Lantai Eksekutif Menara Pusat. Sektor Laboratorium Inti. Di sanalah Profesor Rama berada. Jarak vertikal: 800 meter."
Mereka bergerak cepat, menghindari patroli manusia dengan memanfaatkan ventilasi dan koridor teknisi yang sempit. Setiap lantai yang mereka lewati menunjukkan pemandangan yang sama: efisiensi yang mengerikan. Orang-orang di sini berjalan dengan kepala tertunduk, mengenakan seragam abu-abu identik, bekerja seperti semut. Tidak ada tawa. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin dan perintah interkom.
"Ini bukan hidup," gumam Arka, mengintip dari balik kisi ventilasi. "Ini pabrik. Mereka memprogram manusia seperti robot."
Mereka mencapai lobi lift kargo utama. Arka menggunakan trik Pulse kecil lagi untuk mengelabui sensor biometrik lift, membuatnya berpikir Arka adalah petugas kebersihan.
Lift meluncur naik dengan kecepatan tinggi. Lantai 10... 20... 40... 50.
Tekanan udara berubah. Telinga Arka meletup.
Saat pintu lift terbuka di Lantai 50—Lantai Eksekutif—pemandangannya berubah drastis.
Tidak ada lagi koridor putih. Dinding di sini dilapisi Tri-Titanium hitam yang menyerap cahaya. Karpet merah tebal meredam langkah kaki. Dan di ujung lorong, sebuah pintu ganda besar dari logam emas yang dijaga oleh dua Sentry-Turret otomatis yang tertanam di langit-langit.
"Kiro, perisai!"
Turret itu aktif seketika, moncongnya berputar. Sensor geraknya menangkap mereka dalam hitungan milidetik. Peluru plasma menyembur.
Kiro melompat ke depan, mengaktifkan Kinetic Shield-nya. WHUNG! Perisai energi biru menyala, menahan hujan plasma itu. Panasnya terasa sampai ke wajah Arka.
"Arka! Hancurkan mereka! Baterai saya tidak akan bertahan lama!"
Arka tidak perlu disuruh dua kali. Dia berlari di balik perlindungan Kiro, meluncur di lantai licin, dan menembakkan dua Pulse presisi ke arah unit daya turret itu.
BLAM! BLAM!
Kedua mesin pembunuh itu meledak, memuntahkan asap hitam.
Arka berdiri, napasnya memburu. Dia menatap pintu besar di depannya. Di baliknya, Rama menunggunya. Atau apa yang tersisa darinya.
Arka menendang pintu itu hingga terbuka. Kuncinya hancur oleh Pulse-nya.
Ruangan di baliknya adalah mimpi buruk teknologi. Berbentuk lingkaran, ruangan itu didominasi oleh sebuah mesin silinder raksasa di tengahnya yang menjulang hingga ke langit-langit kubah kaca. Cairan pendingin berwarna hijau neon menggelegak di dalam tabung-tabung kaca yang mengelilinginya, memancarkan cahaya yang membuat kulit terlihat sakit.
Di tengah silinder itu, Rama terikat pada kursi logam yang tampak lebih seperti kursi eksekusi. Kabel-kabel serat optik setebal jari tertanam di pelipis, leher, dan tulang belakangnya. Tubuh tuanya yang ringkih kejang-kejang setiap kali mesin itu berdenyut. Mulutnya terbuka dalam jeritan tanpa suara.
Dan di depan panel kontrol holografik yang rumit, berdiri Nayla.
"Kau datang lebih cepat dari perkiraanku, Arka," kata Nayla tanpa menoleh. Tangannya menari di atas konsol, memanipulasi aliran data yang begitu cepat hingga mata manusia tidak bisa mengikutinya. "Dia keras kepala, orang tuamu ini. Otaknya menolak integrasi. Korteks serebralnya mencoba membangun firewall bawah sadar. Mengesankan untuk orang seusianya."
"Lepaskan dia!" teriak Arka. Kristal di dadanya mulai memanas, bereaksi terhadap amarahnya. "Apa yang kau lakukan padanya?!"
Nayla berbalik perlahan. Wajahnya diterangi cahaya hijau mesin, membuatnya terlihat seperti dewi kematian teknologi. Matanya lelah, tapi penuh fanatisme.
"Lepaskan? Arka, kau tidak mengerti. Aku tidak sedang menyiksanya. Aku sedang menyelamatkannya."
"Menyelamatkan? Kau memanggang otaknya! Kau membunuhnya pelan-pelan!"
"Aku mengunggahnya," koreksi Nayla dingin. "Tubuh Rama sedang sekarat. Kanker paru-paru stadium akhir akibat debu tembaga. Dia punya waktu seminggu, paling lama. Paru-parunya sudah hancur. Tapi pikirannya... pengetahuannya tentang arsitektur Sirkuit... itu terlalu berharga untuk hilang bersama daging yang membusuk."
Arka terdiam, terhuyung selangkah. Kanker? Rama tidak pernah bilang. Orang tua itu selalu batuk, tapi Arka pikir itu hanya karena usia.
"Enklaf butuh itu," lanjut Nayla, suaranya melembut, hampir memohon. Dia melangkah maju, tangannya terulur. "Reaktor Atmosfer kita gagal. Filter udara kita akan habis dalam enam bulan. Jika kita tidak bisa menyalakan ulang sistem pembersihan planet ini, umat manusia punah. Rama adalah satu-satunya yang tahu kodenya. Aku harus menyatukan kesadarannya dengan Mainframe untuk menyelamatkan kita semua. Ini bukan pembunuhan, Arka. Ini keabadian."
Arka melihat ke arah Rama. Pria tua itu membuka matanya yang sayu. Mata itu merah, pecah pembuluh darahnya. Dia menatap Arka.
"Jangan... dengarkan dia," rintih Rama, suaranya pecah dan lemah, disiarkan melalui speaker ruangan. "Dia tidak ingin... perbaikan. Dia ingin... kendali mutlak. Kode itu... bukan untuk mesin. Kode itu untuk... membebaskan..."
"Diam!" bentak Nayla. Wajahnya kembali keras. Dia berbalik ke konsol dan menekan tombol merah. "Inisiasi Upload Paksa. Abaikan protokol keselamatan. Prioritaskan ekstraksi data."
Mesin itu menderu keras, suaranya naik menjadi jeritan turbin. Rama melengkungkan punggungnya, urat-urat lehernya menonjol saat arus data membanjiri otaknya.
"TIDAK!"
Arka tidak berpikir. Dia tidak menghitung peluang. Dia melompat ke depan.
"Operator! Tingkat bahaya fatal!" peringatkan Kiro.
Arka mengabaikannya. Dia mengarahkan kedua tangannya ke tabung kaca yang menahan Rama. Dia memusatkan seluruh energinya. Bukan jarum. Bukan sungai. Kali ini, dia butuh palu. Dia butuh badai.
"HENTIKAN!"
BOOOOM!
Gelombang kejut Pulse menghantam tabung kaca itu. Kaca yang diperkuat poly-glass itu retak, lalu pecah berkeping-keping. Cairan hijau tumpah membanjiri lantai, mendesis saat menyentuh kabel-kabel yang telanjang.
Kabel-kabel di kepala Rama terputus dengan percikan api liar. Tubuh orang tua itu jatuh terkulai ke lantai yang basah, seperti boneka yang tali-talinya dipotong.
Mesin itu mati. Lampu ruangan berkedip, lalu berubah menjadi merah darah.
"Kau bodoh!" jerit Nayla. Wajahnya yang biasanya tenang kini terdistorsi oleh kemarahan murni. Dia menatap mesin yang hancur itu dengan horor. "Kau baru saja menghancurkan satu-satunya kesempatan kita untuk bertahan hidup! Kau membunuh kita semua!"
Arka berlari ke sisi Rama, mengangkat kepala gurunya. Napas Rama lemah, tapi ada. Dia masih hidup.
Alarm darurat berbunyi. Suara sirene meraung di seluruh gedung.
"Peringatan: Protokol Pembasmian Diaktifkan. Ancaman Level Omega terdeteksi di Sektor Inti."
Dinding di belakang Nayla bergeser terbuka. Uap hidrolik menyembur keluar.
Keluar dari sana, bukan Exo-Trooper.
Dua War-Mech setinggi tiga meter melangkah keluar. Langkah kaki mereka menggetarkan lantai. Robot tempur berat berwarna hitam legam, dengan satu lengan berupa meriam Rotary-Cannon dan lengan lainnya berupa cakar hidrolik raksasa. Lampu mata mereka menyala merah menyala.
Nayla mundur ke belakang barisan robot itu. Dia menatap Arka dengan tatapan yang menjanjikan kematian. Air mata kemarahan mengalir di pipinya.
"Bunuh mereka," perintahnya dingin. "Dan ambil Shard-nya dari mayat anak itu. Kita akan cari cara lain."
Arka memapah tubuh Rama, menyeretnya ke belakang pilar beton. Kiro berdiri di depan mereka, perisai kinetiknya aktif, berkedip lemah.
"Operator," kata Kiro tenang, meskipun situasi di sekeliling mereka adalah neraka. "Peluang bertahan hidup: 0,02%."
Arka menatap monster-monster baja yang mendekat. Dia merasakan darah Rama di tangannya. Dia merasakan getaran lantai. Dan dia merasakan Shard di dadanya, panas membara, siap untuk pertempuran terakhir.
"Kalau begitu," kata Arka, matanya menyala biru. "Kita buat peluang kita sendiri."