Menikahi Istri Kakakku - Rencana Besar - Bab 12

Penulis Yuan_bee
17 September 2025

Fenny menghela napas panjang. Lalu dengan nada serius, ia kembali berbisik, “Kalau begitu, bagaimana kalau kalian menikah secara diam-diam dulu? Supaya semua jelas. Ibu bisa urus semuanya, kamu tinggal jalani.”

Arga terdiam. Saran itu terdengar logis, tapi hatinya berontak. Ia tahu, jika langkah itu benar-benar diambil, Nabila bisa semakin goyah. Gadis itu sudah cukup rapuh dengan kondisi butanya, apalagi jika tahu kebenaran pahit tentang dirinya.

Dengan wajah berat, Arga hanya menggeleng pelan. “Belum saatnya, Bu. Untuk sekarang, biarkan aku teruskan kebohongan ini. Sampai Nabila benar-benar stabil. Kalau menikah diam-diam, dia pasti tahu dan psikisnya bakalan kambuh. Bukannya Ibu pernah bilang, Nabila itu peka?”

Fenny menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah, Nak. Tapi ingat, jangan biarkan Nabila terluka. Itu yang terpenting.”

Arga menunduk, menahan napas. Ia tak bisa menjawab, hanya bisa menahan rasa bersalah yang makin menumpuk di hatinya.

Hingga pada akhirnya, ia pun kembali duduk dan meneruskan makannya. Nabila tak menyadari hal itu karena sedang asyik makan dengan disuapi oleh Bi Wati dengan mengobrol ringan.

Selesai makan, Nabila mengatakan bahwa ia ingin berjalan-jalan merasakan udara pagi di luar. Arga pun setuju dan berusaha mengabulkan keinginan itu.

Arga mendorong kursi roda Nabila menuju teras depan. Nabila tampak menikmati embusan angin pagi yang menyentuh wajahnya, meski matanya tetap kosong tanpa cahaya. Mereka berjalan mengelilingi taman kecil yang ada berbagai bunga. Nabila tak bisa melihat bunga itu, tapi mampu merasakan wanginya, membuat perasaan dalam hatinya semakin rileks.

Beberapa saat kemudian, suara langkah tergesa terdengar dari arah gerbang. Arga menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan raut panik. Ternyata dia adalah Tatik - ibu kandung Nabila datang bersama seorang perempuan muda berpakaian formal rapi. Perempuan muda itu terlihat membawa map tebal di tangannya.

“Nabila, Anakku ....” Tatik langsung menghampiri putrinya, menunduk memeluknya erat. “Bagaimana malammu tadi? Bisa tidur nyenyak?” tanyanya dengan nada penuh cemas.

Nabila tersenyum tipis. “Baik-baik saja, Bu. Dirga menjagaku sepanjang malam. Aku merasa nyaman di sampingnya sampai tidurku lelap.”

Tatik menarik napas lega, lalu menoleh sekilas ke arah Arga, pandangannya seolah meneliti setiap gerak-gerik menantu pura-puranya itu.

Tak lama, Tatik berbalik ke arah Fenny. “Fenny, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu tentang sebuah masalah besar. Bisa kita bicara di dalam?”

Fenny tampak sedikit kaget, tapi segera tersenyum diplomatis. “Baik, kalau begitu. Bi Wati, temani Nabila dulu di sini, ya.”

Bi Wati mengangguk, mendekat menemani Nabila di teras. Arga yang tak tahu apa-apa pun dipaksa mengikuti Fenny dan Tatik masuk ke ruang tamu. Suasana di dalam yang tadinya hangat penuh kekeluargaan, kini langsung berubah tegang.

Perempuan muda berbaju formal itu memperkenalkan diri dengan sopan. “Selamat pagi, Pak Dirga. Saya Lusy, sekretaris di perusahaan tempat Bu Tatik bekerja.” Ia tersenyum hangat, sorot matanya seolah berbinar tiap kali menatap Arga. Ada sesuatu di balik sikap formalnya, yaitu sebuah ketertarikan yang terasa jelas.

Arga membalasnya dengan anggukan canggung. “Pagi juga, Mbak, tapi maaf, aku bukan Kak Dirga ... aku cuma adiknya.”

“Oh iya, mohon maaf, aku sudah tahu semua, tadi sempat memanggil Anda Dirga karena kalian berdua begitu mirip.”

“Tak masalah, Mbak. Memangnya ada apa? Kok sepertinya melibatkanku juga?”

Tatik kemudian menatap semua orang dengan wajah serius, suaranya berat ketika membuka pembicaraan. “Aku minta waktu kalian sebentar. Ada hal penting yang harus segera kita bicarakan, menyangkut masa depan perusahaan.”

Arga tercekat, telapak tangannya terasa dingin. Sementara Fenny menatap balik Tatik dengan wajah waspada. Lusy di sisi lain hanya menunduk sopan, tapi sesekali melirik Arga dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Tatik menghela napas panjang sebelum bicara, suaranya bergetar menahan emosi. “Perusahaan sedang dalam masalah besar. Kas perusahaan menipis drastis, sementara laporan pengeluaran tidak sesuai dengan realitas. Ada kebocoran, tapi tidak ada satu pun data resmi yang bisa menunjukkan ke mana uang itu mengalir.”

Arga mengernyit, hatinya mulai tak enak. Ia belum benar-benar tahu urusan bisnis keluarga, tapi nada Tatik menunjukkan masalah itu bukan lah hal kecil.

Lusy, yang sejak tadi memegang map, menambahkan dengan suara tenang, tapi penuh tekanan. “Betul, Bu. Para staf keuangan bahkan tidak bisa mengakses detailnya. Data yang mereka miliki seperti sudah diacak-acak. Belum ada yang tahu siapa pelakunya. Tapi satu hal pasti, perusahaan merugi dan itu makin lama makin parah.”

Fenny terdiam kaku. Matanya meredup, mengingat kembali sejarah panjang perusahaan itu. “Perusahaan itu dulu dibangun Dirga dengan keringat dan kerja kerasnya. Aku melihat sendiri bagaimana anakku berjuang siang malam demi membesarkan usaha itu.” Suaranya tercekat, jemari tangannya meremas erat kain kebayanya. “Dan kini setelah diambil alih oleh kedua keluarga karena kesepakatan pernikahan, masalah seperti ini muncul. Aku tak bisa membayangkan, kalau perusahaan sampai bangkrut.”

“Tapi, Maaf, Bu. Anda jangan menuduh kami biang masalahnya, kami pun tak tahu dengan semua itu,” sela Tatik.

“Iya, enggak apa-apa. Aku tahu, anak sulungku banyak saingan. Kurasa, kematian itu bukanlah kebetulan juga, tapi ada seseorang yang iri dengan yang ia raih.”

Pernyataan Fenny tadi membuat mereka bertiga tersentak.

‘Benar kata ibu, pasti saingan kakak yang tega membunuhnya dan berusaha menghancurkan perusahaannya,’ batin Arga dalam hati.

Suasana ruang tamu mendadak hening. Hanya detik jam dinding yang terdengar.

Arga menelan ludah. Ia masih mencoba menenangkan pikirannya, tapi ada satu hal yang ia rasakan, yaitu sorot mata Lusy yang tak hanya menyimpan profesionalisme, tapi juga seperti mengukur dirinya. Seolah-olah Arga akan punya peran penting dalam masalah tersebut.

Arga terperanjat mendengar penjelasan itu, matanya membesar. Ia memang tidak pernah benar-benar menyentuh urusan bisnis kakaknya, tapi berita yang ia dengar itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. ‘Kalau perusahaan ini hancur, bagaimana nasib semua karyawan?’ pikirnya dalam hati.

Pelan-pelan, Arga menarik napas panjang lalu berkata, “Kalau begitu, kita tidak bisa hanya menunggu laporan resmi. Kurasa kita harus turun langsung, mengamati, mencari tahu siapa yang bermain di belakang semua ini. Aku bersedia membantu, Bu. Tapi tentu saya tidak bisa melakukannya sendirian.”

Tatapannya kemudian beralih pada Lusy, yang masih memegang map. “Mungkin, aku bisa bekerja sama dengan Bu Lusy. Dia tahu alur administrasi perusahaan lebih dalam daripada aku. Bersama-sama, kita bisa mencari pola pengeluaran yang mencurigakan. Kalau perlu, aku bisa langsung mengawasi orang-orang yang patut dicurigai.”

Lusy tersenyum tipis, matanya menatap Arga penuh penghargaan. “Ide bagus. Dengan cara itu, kita bisa menemukan dalang sesungguhnya sebelum semuanya semakin terlambat.”

Fenny mengangguk mantap, meski wajahnya tetap muram. “Arga … aku tahu, kau masih kuliah. Tapi aku percaya, kalau kau mampu mengatasi masalah ini. Anggap saja ini latihan sebelum kau benar-benar menggantikan posisi kakakmu suatu saat nanti.”

Kalimat itu membuat dada Arga terasa sesak. Ia bukan Dirga, tapi kini semua orang seolah menaruh harapan besar padanya. Meski begitu, ia mengangguk perlahan. “Baiklah, Bu. Aku akan coba lakukan yang terbaik.”

“Jadi, apa rencanamu, Mas?” tanya Lusy ....