“Ya Tuhan … betapa mewahnya hidup kamu di luar, Arini. Lihat! Kopi yang kamu minum itu bisa untuk membeli dua kilo beras untuk ibu makan berhari-hari. Tapi kamu lebih memilih menghabiskan uangmu untuk kesenanganmu sendiri, daripada memberi ibu makan. Kamu keterlaluan, Arini!” teriak Titin.
Arini tidak tahan lagi. Ia berlari meninggalkan tempat itu, dan menyebrang jalan, meninggalkan sang ibu dan sahabatnya di tempat yang sama.
Dita menatap marah ke arah wanita tua tak tahu malu di hadapannya itu. Ia kemudian gegas menyusul Arini yang tengah berlari menyebrangi jalan.
Suasana di dalam cafe berangsur kondusif. Para pengunjung yang kepo itu menatap kasihan ke arah Titin sebelum memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi orang lain.
Yang tidak Arini ketahui adalah, sepasang mata tengah menatapnya dari atas tangga. Wajahnya datar, tidak mencerminkan ekspresi apapun. Ia hanya menyaksikan drama yang baru saja terjadi di lantai bawah.
Titin sendiri langsung pergi usai meluapkan kemarahannya kepada Arini. Ia menyetop taksi dan langsung mengatakan destinasinya kepada sang sopir.
“Ke TSM ya, Pak,” ucap Titin.
“Baik, Bu,” jawab sang sopir.
Marah-marah kepada Arini membuat Titin lelah. Ia ingin membeli beberapa barang di Mal sebelum pulang.
Arini menangis pilu di tangga darurat tempat kerjanya. Tidak ada siapa pun yang lewat saat itu. Hanya ada dirinya dan juga Dita yang duduk di sampingnya sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
“Aku malu, Ta,” ucap Arini di sela tangisnya.
“Aku tahu,” balas Dita. Ia tidak bermaksud untuk menambahkan bahan bakar ke dalam api. Tapi dilihat dari sudut pandang manapun, apa yang dilakukan ibunya Arini memang sungguh keterlaluan.
“Kenapa ibu melakukan itu? Uang yang aku hasilkan selama ini selalu diberikan kepada ibu. Aku hanya menyisihkan sedikit untuk keperluan pribadiku, termasuk bensin untuk pergi bekerja. Tapi kenapa ibu melakukan ini padaku, Ta ….” Tangis Arini semakin pilu. Siapapun yang mendengarnya akan merasa kasihan.
Dita tidak menjawab. Ia juga tidak paham, mengapa ada seorang ibu seperti ibunya Arini. Ia pikir, semua ibu adalah sepertinya ibunya yang lembut dan penuh kasih sayang. Ya! Dita memang berasal dari keluarga harmonis. Kedua orang tuanya, jangankan meminta uang hasil kerja keras Dita, bahkan saat Dita memaksa memberi mereka pun, mereka akan mengembalikannya dalam bentuk lain.
“Rin, kamu mau aku beri saran?” tanya Dita setelah berpikir panjang.
Arini mengangkat kepalanya, bersiap mendengarkan saran dari Dita. “Bagaimana kalau kamu ngekost aja?”
“Apa itu sebuah solusi? Kamu tahu sendiri ‘kan, bagaimana ibuku berteriak tadi di cafe? Apa menurutmu ibu gak akan datang ke kostan aku dan melakukan hal yang sama di sana?” ucap Arini lirih.
“Kalau begitu, kenapa kamu gak nikah aja? Kamu udah punya pacar ‘kan? Siapa namanya? Adi? Kalian udah bersama cukup lama. Udah saatnya kamu mengajaknya menikah. Kalau dia menunda, bilang aja kamu mau putus. Kalau dia bener-bener cinta sama kamu, dia pasti akan mengusahakannya agar enggak kehilangan kamu.” Sepasang mata Dita menatap langsung ke arah Arini. Ia pikir, idenya sungguh sangat bagus.
Akan tetapi, raut wajah Arini sangat berbanding terbalik dengan wajah Dita. Ia menunduk dalam, kemudian bergumam, “aku sudah putus, Ta.”
“Apa? Kenapa?” tanya Dita.
“Adi ngajak nikah, dan aku gak bisa. Kamu tahu sendiri, banyak hal di keluarga aku yang perlu di selesaikan. Aku gak mau membawa masalah di pernikahan aku, Ta. Aku pengen, saat kami nikah, aku udah gak punya tanggungan utang dan lainnya. Dan lagi … Azril ….” Tanpa Arini melanjutkan kalimatnya, Dita sudah memahami segalanya.
Dita tidak bisa berkata apa-apa. Ia sendiri adalah wanita yang anti romantic. Ia sudah memutuskan tidak akan menikah selamanya. Ia ingin menjadi wanita karier yang membersamai kedua orang tuanya selama-lamanya. Tentu saja kedua orang tuanya tidak mengetahui rencana di dalam hati Dita. Mereka selalu berharap Dita menemukan seseorang yang Dita cintai dan bisa menemaninya menua bersama.
“Apa ibumu ingin kamu menjadi sapi perah sampe tua dan gak berguna?” Dita berbicara tanpa sadar.
Arini menoleh, tapi tidak mengatakan apa-apa. Tapi ia bisa melihat raut wajah Dita yang tampak kesal. Mengapa Dita lebih kesal daripada dirinya?
Sapi perah? Apa memang ada yang seperti itu? Apa ibunya sungguh berpikir demikian? Apa ibunya tidak mempunyai rasa sayang terhadap anaknya sendiri? Tidak! Jika demikian, bagaimana ia menjelaskan sikap ibunya terhadap Azril? Ibunya jelas sangat menyayangi Azril. Mengingatnya, jelas hati ibunya tidak sekeras batu.
“Ta, apa aku bukan anak kandung kedua orang tuaku?” Arini berbicara tanpa sadar.
Dita memandangi sahabatnya itu dengan tatapan entah.
“Bisa jadi ‘kan, aku anak yang mereka pungut di tempat sampah. Atau justru, aku adalah anak yang diculik orang gila, dan ditinggalkan di depan rumah. Atau anak diluar nikah yang dibuang di depan rumah.”
“Hentikan omong kosongmu itu, Arini! Bukannya kamu memiliki akta lahir di rumah? Sudah jelas ‘kan kedua orang tuamu itu siapa? Kamu terlalu banyak berpikir!” Dita menahan kata-kata yang ia ingin ucapkan selanjutnya kala melihat wajah gelap Arini. Ia mengubahnya ke arah sebaliknya. “Ya! Bisa jadi kamu benar. Kamu adalah anak konglomerat yang diculik waktu kecil. Jadi, mari kita cari orang tua kandungmu! Bisa jadi, mereka sudah mempersiapkan warisan untukmu!”
Arini menatap Dita dengan tatapan bingung. Melihat wajah jenaka sang sahabat, ia tertawa. Pun dengan Dita yang ikut menertawakan kalimat yang diucapkannya sendiri.
“Merasa lebih baik?” tanya Dita.
Arini tersenyum kecil, tanpa jawaban.
“Oke, sebaiknya kita kembali. Bentar lagi jam istrirahat berakhir. Kamu gak mau ‘kan mendapat masalah lagi dari Pak Gibran?” Dita menarik tangan Arini untuk segera meninggalkan tempat itu.
“Kamu duluan aja, Ta. Aku mau ke toilet dulu, mau cuci muka,” balas Arini.
Dita menangguk, kemudian segera pergi dari sana. Sementara Arini berjalan ke arah sebaliknya, menuju ke toilet.
Arini sudah siap kembali kerja usai mencuci mukanya. Walaupun matanya agak sembab, setidaknya penampilannya tidak menyedihkan seperti sebelumnya.
Arini baru akan membuka pintu toilet kala mendengar suara dua orang wanita yang tengah berbincang di depan wastafel. Awalnya ia tidak ingin memedulikannya, tapi ketika mereka menyebut namanya, mau tidak mau ia menguping juga.
“Kamu yakin itu anak karyawan sini?”
“Yakin lah, aku pernah beberapa kali ketemu. Dia adalah staff keuangan!”
“Idih! Malu-maluin aja! Kalo tadi di cafe ada yang ngambil video, pasti udah viral tuh orang! Judulnya ‘anak durhaka’!”
“Alah … paling nanti juga bikin video klarifikasi, minta maaf, terus apa? Dia nanti malah jadi terkenal karena diundang di podcast-podcast! Udah paling bener orang kayak gitu gak usah dikasih panggung! Abaikan aja!”