Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 8

18 September 2025

Arini mundur beberapa langkah, kemudian kembali bersembunyi di salah satu bilik toilet. Dua wanita di depan pintu jelas tidak tahu kalau subjek yang sedang mereka bicarakan ada di sana, mendengar segalanya. Tapi ia yakin, berita itu tidak akan berhenti sampai di sana. Seluruh karyawan kantor akan tahu. Ya! Tidak lama lagi.

Entah berapa lama Arini berada di bilik toilet. Ia baru bisa keluar saat ia yakin, tidak ada orang lain di sana.

Arini berjalan tergesa menuju ke meja kerjanya yang ada di lantai 3. Ia terus menunduk, tidak ingin berpapasan dengan siapapun. Akan tetapi, lagi-lagi alam seolah tidak bersahabat dengannya. Saat tengah berjalan, tiba-tiba Arini menabrak sesuatu. Ralat! Lebih tepatnya ia menabrak seseorang. Adalah sebidang punggung berotot yang ia tabrak. Dan saat ia mengangkat kepala untuk melihat siapa yang di tabrak, wajah datar Gibran terpampang nyata di sana.

Sepasang mata Arini membola seketika. Entah apa yang terjadi hari ini. Mengapa dari sekian banyaknya karyawan di perusahaan tersebut, Arini terus berurusan dengan pria tanpa senyum itu.

Gibran baru akan membuka mulutnya, tapi Arini gegas meminta maaf. “Maaf, Pak … maaf!” Usai mengatakannya, Arini gegas berbalik kembali ke arah tangga darurat. Baginya, lebih baik naik ke lantai tiga menggunakan tangga darurat saja daripada satu lift dengan Gibran. Ia tidak mau semakin membangkitkan keinginan Gibran untuk memecatnya. Tidak sekarang!

Arini memerlukan usaha ekstra untuk bisa sampai di lantai tiga. Betisnya pegal, dan keringat bercucuran di dahinya. Selain itu, napasnya juga terasa sesak.

“Ya Tuhan … hari ini sungguh hari yang berat.” Arini berkeluh kesah.

Faktanya, hari berat itu belum usai bagi Arini. Hari itu, hujan turun dengan derasnya. Padahal bulan belum menunjukkan musim penghujan. Arini mengenakan jas hujan dan menembus derasnya hujan agar segera sampai ke rumah. Akan tetapi di jalan, motor Arini mogok. Entah apa yang terjadi. Arini hanya bisa menepikan kendaraannya di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.

Badan Arini mulai menggigil karena kedinginan. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya. Akan tetapi, tak seorang pun mau berhenti di tengah hujan yang sedang deras-derasnya.

Arini tidak mempunyai pilihan lain. Sebentar lagi gelap. Ia tidak bisa terus berada di tempat itu sampai malam. Akhirnya, ia memaksakan diri untuk pulang sambil mendorong sepeda motornya dibawah guyuran air hujan.

Setelah menghabiskan seluruh tenaga yang tersisa, akhirnya Arini sampai di halaman rumahnya. Hal yang tidak biasa menyambutnya di teras. Adalah sang ibu yang berdiri di sana dengan memasang wajah cemas. Hati Arini berdesir. Apa ibunya mengkhawatirkannya? Namun, kalimat pertama yang Titin lontarkan berhasil mengempaskan kembali harapan yang sempat terbit itu.

“Sungguh malang kamu, Arini. Lihat! Kamu sangat memprihatinkan! Makanya jangan jadi anak durhaka! Kamu mendapatkan karma dalam sekejap. Rasakan itu!”

Arini tidak menanggapinya. Ia memarkirkan sepeda motornya di garasi, dan membuka jas hujannya. Karena hujan sangat deras, bajunya masih sedikit basah walau sudah memakai pelindung. Ia ingin gegas ke kamar untuk berganti pakaian. Tapi ibunya menghalangi jalannya.

“Di depan ada sales mobil bersama dengan surveyor dari leasing. Kamu cepat temui mereka! Udah lama mereka nunggu kamu!” ucap Titin.

“Aku ganti baju dulu, Bu. Gak enak nemuin orang dalam keadaan kayak gini,” ucap Arini lirih.

“Ya udah sana cepet!” Titin mendengus, kemudian berlalu pergi.

Arini memandangi ibunya cukup lama. Perasaannya tidak nyaman. Setelah apa yang dilakukan ibunya di cafe siang tadi, tidak inginkah ibunya itu membahasnya? Hah … rasanya percuma saja mengharapkan hal itu dari sang ibu. Sepertinya Titin tidak mau tahu, apakah perbuatannya itu merusak reputasi ananya atau tidak.


Butuh waktu setidaknya 15 menit sampai Arini menemui sang tamu. Itu pun setelah panggilan Titin setiap lima menit sekali. Arini benar-benar tidak bisa mandi dengan baik.

Kedua pria yang tengah duduk di sofa itu tersenyum ramah kala melihat Arini. Kemudian, setelah Arini duduk, ia mengeluarkan kontrak yang harus Arini tandatangani.

“Kebetulan ibu sudah menyiapkan semua dokumen persyaratannya. Tinggal Mbak Arini yang tandatangani kontrak ini, tentunya bersama ibu juga sebagai penjamin,” ucap pria berkacamata tanpa bingkai yang duduk paling dekat dengan Arini.

“Kok saya penjaminnya?” tanya Titin tampak tak suka.

“Karena Mbak Arini belum menikah, maka penjaminnya orangtuanya, Bu. Itu sudah ketentuan dari kantor.” Pria berkacamata menjelaskan dengan sabar.

“Tapi nanti Arini yang bayar cicilannya!” Titin menegaskan.

“Iya, Bu, saya paham,” balas pria yang sama.

Akhirnya, proses penandatanganan selesai kurang dari 30 menit.

“Mbak Arini, ini berkasnya saya bawa dulu ke kantor ya. Kalau pengajuan kreditnya di-acc, nanti saya kabari. Tapi kalau dilihat dari persyaratan sih sepertinya tidak ada masalah ya. Biasanya cicilan itu tidak boleh lebih dari 30 persen dari penghasilan. Mudah-mudahan di-acc ya, Mbak.”

Arini tersenyum formal mendengarnya. Tidak ada kebahagiaan atau harapan sama sekali. Yang ada, ia malah merasa tertekan karena hal itu. Tidak bisakah pengajuannya di tolak saja? Ah … entah mengapa Arini sangat ingin pengajuan kredit itu ditolak.

Kedua tamu itu pulang usai berpamitan. Titin mengantarnya sampai ke teras, sementara Arini masih duduk dengan linglung di tempat yang sama.

“Ngapain ngelamun di sana? Cepet masak! Ibu laper, belum makan dari pagi!” ucap Titin seraya menatap jengkel ke arah Arini.

Arini menatap Titin dengan pandangan sedikit kosong. Andai ibunya tahu, ia bahkan belum memasukkan apa pun ke dalam mulutnya hari ini selain angin. Tapi entah mengapa, ia sama sekali tidak merasa lapar.


Malam itu hujan masih belum mereda. Arini sedang berbaring di kamarnya, mencoba memejamkan mata. Tapi tubuhnya terasa tidak nyaman. Kepalanya pusing, dan badannya juga menggigil. Ia kemudian mengangkat tangannya untuk menyentuh dahinya, panas! Rupanya ia demam.

“Bu ….” Arini memanggil sang ibu. Namun tidak ada jawaban.

Arini merasakan kerongkongannya panas. Ia butuh air, tapi tidak ada siapapun yang bisa ia mintai tolong.

“Ril ….” Walaupun tidak yakin adiknya itu akan datang, Arini tetap memanggilnya. Dan seperti dugaan, pemuda itu juga tidak datang.

Dengan tangan gemetar, Arini mengambil ponselnya, bermaksud untuk menghubungi nomor Azril. Ia ingin diambilkan air minum juga obat demam di kotak obat yang ada di lantai bawah. Namun, alam bawah sadar Arini malah mencari nomor Adi yang sudah diblokirnya. Gerakan tangannya terhenti seketika, memandangi nama sang mantan kekasih. Detik berikutnya, ia tersenyum miris. Ternyata, alam bawah sadarnya juga tahu kalau Adi adalah satu-satunya orang yang selalu ada untuknya di kala ia susah.