Tapi kini, pria itu tidak ada lagi. Arini telah mengusirnya dari kehidupannya. Mengingatnya, Arini tidak bisa mengendalikan rasa sedih di hatinya yang tiba-tiba muncul.
Pandangan Arini kemudian beralih pada popup pesan masuk dari nomor asing. Ia kemudian membuka pesan itu, dan membaca pesannya perlahan.
[Rin, ini aku. Aku tahu kamu sudah memblokir nomorku, jadi aku terpaksa membeli nomor baru untuk mengirimimu pesan. Aku gak nyangka hubungan kita akan berakhir begitu saja. Jujur aku sakit hati, Rin. Aku butuh penjelasan. Pulang kerja nanti, tolong datang ke cafe tempat kita biasa makan saat kuliah dulu. Tempat aku menyatakan cinta padamu bertahun-tahun yang lalu. Jika semuanya dimulai di sana, biar tempat itu juga yang akan menjadi saksi berakhirnya hubungan kita. Tolong datang, demi hari-hari yang telah kita lewati bersama.]
Sudah lima jam berlalu dari saat Adi mengirimkan pesan itu. Apakah pria itu masih menunggu Arini?
Karena khawatir, tanpa sadar Arini duduk dan bersiap membalas pesan itu. Namun, belum selesai ia mengetik, sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama.
[Aku gak nyangka kamu bener-bener gak dateng, Rin. Apakah aku gak berharga sedikitpun di matamu? Bukan sehari dua hari kita bersama. Apa gak ada kenangan satupun di hatimu tentang kita, Rin? Aku pulang. Aku hanya mau bilang, ibuku menjodohkanku dengan anak temannya. Itu sudah lama, tapi aku selalu menolaknya, karena di hatiku hanya ada kamu. Tapi sekarang, aku tahu, aku telah memperjuangkan cinta yang salah. Aku sudah bilang pada ibuku kalau aku menerima perjodohan itu.]
Setetes air mata menbasahi pipi Arini. Ia tahu, ia yang memutuskan hubungannya dengan Adi. Tapi, entah mengapa, saat mengetahui Adi akan menikah dengan wanita lain, hatinya sakit. Rasa cinta itu masih ada.
[Semoga bahagia, Di] Akhirnya, tiga kata itu Arini kirimkan ke nomor Adi. Setelah memastikan pesan itu dibaca, Arini melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Hati sungguh sakit, sakit sekali!
Sementara di dalam rumah Arini tengah menangis dalam diam, di luar, seorang pria tengah berdiri di bawah guyuran sisa-sisa hujan sambil memandangi ponsel di tangannya. Walaupun hujan sudah tidak sederas sebelumnya, tapi karena berdiri di tempat yang sama dalam waktu yang lama, bagian atas kemejanya basah juga.
“Semoga bahagia, Di.” Pria itu membaca pesan yang baru saja ia terima. Sebuah senyum miris terbit dari sudut bibirnya. Itukah yang wanita berhati batu itu katakan saat ia mengatakan akan menikahi wanita lain? Sungguh diluar ekspektasinya!
Bohong! Adi berbohong saat mengatakan akan menikahi wanita lain pilihan ibunya. Ia hanya ingin melihat, bagaimana tanggapan Arini kala ia mengatakan itu. Tapi apa yang didapatnya? Ucapan selamat?
Adi menggenggam ponselnya erat-erat. Pandangannya kemudian beralih pada rumah dua lantai di hadapannya. Ia tahu, Arini ada di dalamnya. Tapi dinding itu seolah menjadi penghalang besar di antara mereka.
“Oke, kamu bilang semuanya berakhir ‘kan? Sesuai keinginanmu!” Adi membuka slot simcard, dan mengeluarkan benda kecil di dalamnya. Itu adalah simcard baru yang ia beli untuk menghubungi Arini. Sekarang, tidak ada gunanya lagi. Ia melemparkan benda itu dengan sembarang arah. Setelahnya, ia gegas masuk ke dalam mobilnya, dan pergi meninggalkan tempat itu.
Berakhir … kini hubungan Arini dan Adi sudah berakhir. Namun begitu, kehidupan masih terus berlanjut bukan? Arini harus tetap menjalani kehidupannya yang biasa. Bedanya, kini lebih sulit karena banyak cicilan, dan tidak ada yang seseorang yang menguatkannya di samping. Arini benar-benar sendirian.
Mobil yang tidak Arini harapkan datang begitu cepat. Hanya satu minggu setelah dari survey, kendaraan beroda empat itu sudah terparkir di halaman. Warnanya merah, sesuai keinginan Intan. Arini mendengus seraya berlalu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengagumi benda itu. Lain halnya dengan Titin dan Azril yang sibuk berkeliling di halaman.
Sejak hari itu, rumah semakin sibuk. Orang-orang datang dan pergi dari rumah. Banyak tamu mengunjungi Titin. Entah itu orang bank, WO, atau catering. Sepintas terlihat seperti kemewahan. Tapi di mata Arini, semuanya terlihat seperti utang yang harus ia bayar.
“Mobil, perhiasan, uang ….” Titin sedang mengabsen daftar mahar kala Arini lewat ke depan kamarnya. Ada Azril juga di sana. Mereka terlihat sangat serius hingga tak menyadari kalau Arini lewat, hendak ke dapur.
Arini duduk di meja makan, menuangkan air, dan meminum obatnya. Sudah seminggu ini Arini harus mengkonsumsi obat pasca demamnya minggu lalu. Mungkin karena ditambah banyak pikiran, penyakitnya tak kunjung sembuh. Ada beberapa butir vitamin lagi yang harus dihabiskannya.
Arini masih duduk di tempat yang sama kala ponsel di atas meja tiba-tiba berdering. Nama ‘Bos’ tertera sebagai identitas pemanggil. Arini mengembuskan napas kasar. Entah mengapa, sejak ia tanpa sengaja mengajukan proposal pernikahan kepada Gibran, pria itu semakin sering menyulitkannya. Tak jarang, ia meminta Arini untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu yang bukan jobdesk-nya. Dan kali ini, entah apa lagi yang akan dimintanya.
Tak menunggu waktu lama, Arini mengangkat panggilan telepon itu. Namun, belum sempat ia mengatakan sepatahkata pun, pria di seberang sana gegas berkata, “Arini file yang tadi kamu berikan di kantor tertinggal. Bisa kamu ambilkan dan antar ke rumah saya? Saya akan memeriksanya malam ini.”
“Ah itu … sebenarnya saya sudah mengajukan cuti untuk dua hari ke depan, Pak. Adik saya akan menikah,” jawab Arini.
“Oh … selamat! Tolong antarkan file-nya cepat ya. Nanti alamat rumahnya saya kirim via chat!” ucap Gibran.
Arini memandangi layar ponselnya. Mengapa Gibran mengatakan itu? Bukankah ia tadi jelas mengatakan kalau ia akan cuti? Haruskah merepotkannya di jam seperti ini? Dan mengapa Gibran memintanya mengirim langsung ke rumahnya? Bukankah lebih mudah untuk meminta security kantor yang mengirimnya?
Benar! File yang Gibran minta berisi rahasia keuangan perusahaan terkait dana yang dikorupsi mantan manajer keuangan sebelumnya. Gibran pasti tidak ingin banyak orang terlibat dengan file itu. Tentu saja untuk menghindari kesalahan yang tidak perlu.
“Arini?” Suara Gibran kembali terdengar. Rupanya Arini tidak sadar kalau ia sampai melamun sambil memandangi ponselnya.
“Iya, Pak. Saya segera ke sana,” jawab Arini pada akhirnya.
Tidak ada kalimat apa pun lagi usai Arini mengatakan itu. Gibran menutup panggilan itu begitu saja. Dan pada detik berikutnya, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama. Gibran mengirimi Arini alamat rumahnya. Arini membacanya perlahan hanya untuk mengetahui kalau rumah Gibran dan lokasi kantor berbeda arah.
Dibutuhkan waktu setidaknya satu jam perjalanan dari rumah Arini ke rumah Gibran. Tentu saja termasuk mampir ke kantor untuk mengambil file yang Gibran minta. Berkas itu cukup tebal. Arini menyimpannya di dalam ransel di belakang punggungnya.