Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 10

18 September 2025

Dibutuhkan waktu setidaknya satu jam perjalanan dari rumah Arini ke rumah Gibran. Tentu saja termasuk mampir ke kantor untuk mengambil file yang Gibran minta. Berkas itu cukup tebal. Arini menyimpannya di dalam ransel di belakang punggungnya.

Lokasi rumah Gibran berada di perumahan elit, tak jauh dari pusat kota. Arini taksir, rumah-rumah di sana pasti berharga belasan atau puluhan milyar. Satu hal lagi yang dapatkan tentang Gibran, bahwa bosnya itu ternyata sangatlah kaya. Ayahnya saja dulu yang menjabat sebagai manajer umum di perusahaan multinasional tidak memilki rumah semewah itu. Tapi Gibran ….

Sepertinya Gibran mempunyai warisan dari orang tuanya. Ya! Untuk sementara, begitulah pemikiran Arini.

Seperti layaknya perumahan elit pada umumnya, tembok-tembok tinggi mengelilingi setiap rumah. Sepanjang perjalanan mencari rumah Gibran, Arini hampir tidak menemui seorang pun. Hanya ada seorang pria yang sedang memotong rumput.

Akan tetapi, keadaan berbeda saat ia melewati sebuah rumah. Ralat! Rumah itu adalah rumah tujuan Arini. Ada keributan kecil di sana. Seorang wanita tampak sedang marah-marah kepada entah siapa yang tampaknya ada di dalam rumah itu. Arini menghentikan laju sepeda motornya, dan gegas menghubungi Gibran. Ia tidak mau terlibat dalam apa pun yang berkaitan dengan wanita yang tampak gila itu.

Dalam satu kali deringan, Gibran mengangkatnya. Ia mengatakan akan segera turun dan menemui Arini di bawah. Sebegitu pentingnya isi file yang Arini bawa, bahkan Gibran tidak memercayakan asisten rumah tangganya untuk mengambilkannya. Ia ingin, file itu tidak banyak berpindah tangan. Dalam hal ini, kinerja Gibran patut diacungi jempol.

Tepat saat Gibran muncul di balik pintu, wanita yang sedari tadi berteriak-teriak di depan rumah gegas menghampiri. Tangannya sudah terulur untuk menyentuh tangan Gibran. Namun, pria itu hanya mengabaikannya. Ia melewati wanita itu begitu saja, dan berjalan luruh ke arah Arini yang masih duduk di atas sepeda motornya, meninggalkan wanita itu dengan wajah sedihnya.

“Gibran …,” ucapnya lirih.

Arini melirik wanita itu dengan ekor matanya. Namun ia tidak menduga kalau wanita itu juga tengah menatapnya. Sepertinya ia baru sadar kalau ada Arini di sana. Tapi … apa itu? Mengapa wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan?

Pandangan Arini kemudian beralih pada Gibran yang tengah berjalan ke arahnya. Tunggu! Siapa? Itu Gibran? Arini terpana sesaat. Mengapa Gibran yang tengah berjalan ke arahnya kini tampak berbeda dibandingkan dengan Gibran kaku yang biasa ia lihat di kantor.

Saat ini, Gibran tengah mengenakan pakaian non formal. Kaos pendek, dipadukan dengan celana panjang khas rumahan. Terlihat seperti lebih friendly!

Ketika jarak Gibran hanya tersisa satu meter, Arini gegas mengeluarkan file yang ada di dalam ranselnya. Pun dengan Gibran yang langsung mengulurkan tangan untuk mengambil file tersebut. Namun, belum sempat Gibran menyentuhnya, sebuah tangan lain yang lebih kecil mengambil paksa benda itu. Kemudian, dengan ia melemparkan file itu ke udara hingga kertas-kertas di dalamnya berceceran di atas tanah.

Gibran dan Arini sontak menoleh ke arah sang pelaku.

Wanita berwajah sedih itu kini sudah merubah mimiknya menjadi wanita berwajah marah. Entah apa yang membuatnya begitu impulsif hingga berani melemparkan file yang sangat dianggap penting oleh Gibran.

“Jadi gara-gara wanita itu kamu ninggalin aku?” teriak wanita berwajah marah itu. “Siapa dia? Wanita baru kamu?”

“Yesi, sebaiknya kamu segera pergi dari sini sebelum kesabaranku hilang sepenuhnya!” desis Gibran.

“Aku gak akan pergi sebelum kamu jelasin, siapa wanita itu!” Yesi menunjuk langsung ke arah Arini.

Apa ini? Apa sejenis pertengkaran rumah tangga?

“Siapa dia bukan urusanmu! Kita sudah selesai!” ucap Gibran.

Merasa tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan dari Gibran, Yesi langsung berbalik ke arah Arini. Tangannya sudah terulur, hendak memukul wajah Arini. Namun, sebuah tangan besar menahannya.

“Aku masih menghormatimu atas nama persahabatan orang tua kita. Tapi, apa kamu pikir aku akan diam saja ketika kamu melakukan perbuatan amoral di hadapanku?” Gibran mengempaskan tangan wanita yang dipeganginya itu ke samping. “Sebaiknya kamu pergi, sebelum terjadi hal-hal yang mungkin kamu akan sesali.”

Yesi menggertakan gigi, menatap marah ke arah Arini sebelum benar-benar pergi dari sana.

Usai kepergian Yesi, Arini menatap Gibran, kemudian tanpa sadar bertanya, “Pak … dia ….”

“Bukan urusanmu!” sela Gibran. “kumpulkan kertas yang berceceran itu, jangan sampai ada yang terlewat!”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arini gegas mengumpulkan kertas-kertas di atas tanah. Ia menyusunnya seperti sebelumnya. Kesal? Tentu saja! Gara-gara pertengkaran rumah tangga, pekerjaannya bertambah banyak. Tapi tentu saja ia tidak mengatakannya di permukaan.


Sepulangnya dari rumah Gibran, Arini melewati jalan berbeda. Dan tanpa rencana, ia melewati kampusnya dulu, tempat di mana ia menimba ilmu, juga … tempat ia bertemu dengan Adi. Huh! Di usianya sekarang, sudah bukan waktunya untuk bersikap melankolis bukan? Tapi mengapa alam seolah mengajak Arini napak tilas di tempat penuh kenangan itu?

Sebenarnya, sejak kapan kemalangan ini bermula? Mungkin semenjak ayahnya meninggal. Sebelumnya, walaupun orang tuanya tidak menunjukkan kasih sayangnya secara langsung, tapi hidupnya rasanya bahagia-bahagia saja. Kebutuhannya tercukupi, dan tidak kata-kata dari ibunya yang menyakiti hatinya. Tapi kini, terutama sejak ibu tahu akan mempunyai cucu laki-laki, semua sikap ‘biasa’ ibunya menjadi … jahat! Bolehkah Arini mengatakan kalau ibunya jahat? Apakah ia akan dicap sebagai anak durhaka?

Alam bawah sadar Arini membawanya yang sedang berkendara menuju cafe di dekat gerbang kampus. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat nama cafe tersebut, dan mengejanya di dalam benaknya.

“Adi … malam itu, kamu nungguin aku di sini ya? Maaf, aku terlambat membaca pesanmu.” Tapi, kalaupun Arini membacanya lebih awal, ia memang tidak akan datang. Ia takut, kekuatan hatinya akan runtuh. Mungkin memang semua yang terjadi sudah sesuai dengan alur yang ditetapkan sang pencipta.

Arini mengembuskan napas berat. Ia harus meninggalkan semua kenangan di sini. Kelak, di masa depan, ia tidak akan membawa apa pun di hatinya. Entah itu cinta, maupun keluhan. Ia harus menerima takdirnya. Ia dilahirkan untuk membantu ibu dan adiknya. Ya! Mungkin memang sebaiknya begitu. Tak lama, Arini pergi meninggalkan tempat itu.

Yang tidak Arini ketahui adalah, sesosok pria tinggi berlari keluar begitu melihat punggung Arini. Matanya mengembun. Ya! Dia adalah Adi.

Hari itu, Adi memutuskan untuk pergi ke cafe itu untuk yang terakir kalinya sebelum ia pergi jauh. Namun, yang tidak ia duga adalah, ia melihat Arini. Haruskah Adi mengejarnya?

Detik berikutnya, langkah kaki Adi terhenti. Tidak! Antara dirinya dan Arini sudah tidak ada apa-apa lagi. Semuanya sudah berakhir. Memikirkannya, ia berbalik, kemudian pergi ke sisi lain cafe.