Dinikahi Paman Mantan - Selingkuh? - Bab 10

Penulis Nuvola
27 September 2025

Sejak pertengkaran pagi tadi, Lily belum melihat batang hidung Agam lagi. Rasa kesal bercampur kecewa masih menghantuinya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuat Lily tersentak dari lamunannya. Ia menoleh, menunggu siapa yang datang.

“Nyonya, ini saya Bi Yuli. Makan malamnya sudah siap,” ucap Bi Yuli dari balik pintu dengan suara lembut namun ragu.

Lily bangkit, melangkah gontai ke arah pintu. Begitu pintu dibuka, wajahnya menampilkan guratan lelah sekaligus jengkel. “Om Agam belum pulang?” tanyanya dengan nada ketus.

“Belum, Nyonya. Tuan tidak kembali sejak siang. Saya juga tidak mendapat kabar apapun dari asistennya,” jawab Bi Yuli dengan wajah khawatir.

Lily mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Lelaki itu bukannya menyelesaikan masalah, justru menghindar,” gerutunya dengan nada rendah namun tajam.

Belum sempat amarahnya reda, ponselnya tiba-tiba bergetar di meja. “Nanti saya akan turun,” ucap Lily yang kembali masuk ke dalam kamar.

Ia meraih ponsel dan membuka layar. Sebuah pesan dari Emma masuk—dan saat foto terbuka, matanya langsung membelalak.

Foto itu memperlihatkan Agam duduk bersama seorang wanita cantik di restoran mewah. Senyumnya hangat, tubuhnya condong sedikit ke arah wanita itu, seakan-akan tak ada jarak di antara mereka.

“Brengsek?” lirih Lily, rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca oleh rasa marah bercampur sakit hati. Jantungnya berdegup kencang, kepalanya mendidih.

Dengan gerakan cepat, ia meraih jaket, menyampirkannya ke bahu, lalu melangkah keluar kamar.

“Nyonya mau kemana?” Bi Yuli terkejut, berusaha mengikuti langkah Lily.

“Makan di luar, Bi!” bentak Lily tanpa menoleh.

Bagas, yang sejak tadi berada di ruang tengah, langsung berlari kecil mendekati Lily. “Nyonya, biar saya antar,” ucapnya sambil menahan pintu mobil agar Lily tidak buru-buru masuk.

“Minggir!” seru Lily dengan sorot mata tajam.

“Nyonya, izinkan saya yang mengantar. Itu sudah perintah Tuan—saya harus selalu menjaga Anda,” ucap Bagas memohon dengan suara tegas.

Lily menahan nafas, menekan emosinya sejenak. Dengan wajah kesal, akhirnya ia meraih gagang pintu penumpang dan masuk. “Cepat jalankan!”


Restoran itu penuh cahaya hangat dari lampu gantung kristal. Musik jazz lembut mengalun, menciptakan suasana intim. Meja-meja penuh dengan pasangan yang bercakap manis sambil tertawa pelan.

Di salah satu ruang VIP, Agam duduk dengan raut serius di hadapan seorang wanita anggun. Tangannya sesekali bergerak memberi penekanan pada kalimat yang ia ucapkan, wajahnya terlihat tenang, seakan tak terbebani masalah apapun.

Namun sebelum ia sempat menyadari, sebuah bayangan datang mendekat cepat.

Byur!

Segelas air dingin tercurah tepat ke wajahnya. Suara tawa dan percakapan di ruangan langsung terhenti.

“Brengsek!” suaranya lantang, menggema hingga ke sudut ruangan.

Agam terperanjat, buru-buru berdiri. Air menetes dari wajah dan kerah kemejanya. “Lily—”

Namun Lily tak memberinya kesempatan. Tatapannya beralih ke wanita yang duduk di meja. Wanita itu terlihat kaku, wajahnya menegang, namun tetap mencoba menahan ekspresi.

“Wanita murahan! Nggak tahu malu banget kamu berkencan dengan suami orang!” bentak Lily dengan suara bergetar oleh amarah.

Wanita itu terdiam, matanya membesar, seakan tak percaya dituduh demikian.

“Lily, kamu salah paham!” suara Agam berusaha menembus keheningan ruangan yang penuh bisik-bisik para pengunjung.

“Bajingan!” Lily menoleh lagi ke arah Agam, matanya merah menahan tangis. “Aku mau kita cerai!”

Kata itu meluncur begitu saja, tajam menusuk hati.

“Cerai?” sebuah suara wanita membuat semua kepala menoleh. “Siapa yang mau bercerai?”

Dari pintu masuk, Diana melangkah masuk dengan tenang. Dress simpel berwarna biru tua membalut tubuhnya dengan anggun, membuat pesonanya tetap terpancar meski usianya tak lagi muda. Aura kewibawaan langsung terasa begitu ia hadir.

“Ibu,” Lily hampir berlari menghampirinya. Mata yang semula penuh amarah kini berkaca-kaca, hampir pecah menjadi tangis. “Lihatlah Om Agam, dia selingkuh!” Suaranya lirih, penuh luka.

Diana menatap putrinya dalam-dalam, lalu mengusap lembut tangan Lily. “Tenang dulu, Nak,” ucapnya menenangkan.

“Ibu mau membela Om Agam?” Lily terisak tertahan, hatinya terbelah antara marah dan kecewa.

Agam melangkah maju, mencoba mendekati Lily. “Dengarkan dulu penjelasanku—” suaranya lebih lembut, penuh kesabaran.

“Apa yang perlu aku dengar? Apa Om akan mengatakan jika hubungan kalian lebih dulu terjalin jauh sebelum kita menikah?” potong Lily dengan sinis. “Apa keluarga kalian memang senang mempermainkanku?!” seru Lily yang tidak lagi bisa menahan amarah dan rasa kecewanya.

Diana meraih bahu Lily dengan genggaman yang cukup kuat, seolah ingin menghentikan badai emosi yang sudah terlanjur meledak. Suaranya tegas, tapi tetap dipenuhi kasih sayang seorang ibu. “Lily, tenang sayang. Dengarkan Ibu bicara dulu,” ucapnya lirih namun mantap.

Tatapannya lalu beralih ke arah wanita yang duduk di meja makan, sebelum kembali menatap Lily yang matanya masih menyala penuh amarah. “Agam nggak selingkuh. Itu Bella, sepupunya Agam… keponakan Ibu.”

Nama itu membuat langkah Lily terhenti seketika. Tubuhnya seakan membeku di tempat, nafasnya tercekat di tenggorokan. Ia memandang ke arah wanita yang sejak tadi dituduhnya dengan kata-kata kasar. Wanita itu—Bella—balik menatapnya, dengan sorot mata yang bercampur antara keterkejutan, sakit hati, dan getir.

Keheningan menelan ruangan. Detik terasa berjalan begitu lambat. Lily merasakan jantungnya berdentum keras, seperti ingin menerobos keluar dari dadanya. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Barulah ia sadar, emosinya telah menjerumuskannya pada kesalahpahaman yang begitu besar.

Diana berusaha memecah hening yang menyesakkan itu. Suaranya terdengar sedikit geram saat menoleh ke arah putranya.

“Lily, lihatlah ini suami Bella,” jelasnya sambil menunjuk seorang pria yang berdiri dibelakang mereka. Lily tidak menyadarinya sejak tadi jika Diana datang bersama seorang pria.

“Ibu yang mengajak mereka makan malam di sini. Dan entah kenapa anak kurang ajar ini,” Diana menepuk keras lengan Agam, “Justru nggak bilang apa-apa sama kamu.”

Wajah Lily kini memerah bukan lagi karena marah, melainkan malu. Rasa bersalah menelusup dalam dirinya, mengingat kembali ucapan pedas yang baru saja ia lontarkan. Pandangannya beralih pada Bella yang masih menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun, dan rasa sesak itu semakin menguasai dadanya.

Agam, yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju. Dengan lembut ia melingkarkan lengannya di pinggang Lily, seolah ingin melindungi sekaligus menenangkan istrinya yang gemetar menahan malu.

“Aku minta maaf,” ucapnya dengan suara rendah, matanya menatap dalam pada Lily. “Ini salahku. Aku yang tidak bilang dari awal, sampai bikin kamu salah paham.”

Ia lalu menoleh pada semua orang yang masih terpaku di meja makan, mencoba mencairkan suasana yang kaku. “Karena semuanya sudah datang, ayo kita duduk… kita makan malam bersama,” ajaknya, meski terdengar sedikit canggung.

Namun Lily justru menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Perasaan malu, dan bersalah bercampur jadi satu. Ia menggeleng pelan, lalu mundur selangkah.

“Kebetulan aku sudah makan,” katanya dengan suara parau, hampir berbisik. “Jadi aku pamit.”

Sebelum siapapun sempat menahannya, Lily berbalik dan berlari keluar dari ruangan. Suara kursi berderit dan panggilan dari Agam maupun Diana terdengar jelas di belakangnya, namun Lily tak lagi peduli. Ia hanya ingin keluar, menjauh, dan menyembunyikan wajahnya yang terbakar oleh rasa malu..