Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 11

20 September 2025

Pesta pernikahan Azril dan Intan berlangsung meriah. Adalah sebuah gedung serbaguna di sebuah perusahaan yang menjadi tempat dilangsungkan acara sakral tersebut. Dekorasi cantik didominasi warna merah, warna kesukaan Intan. Pun dengan pasangan pengantin yang tampan dan cantik di atas panggung yang berhasil menarik perhatian para tamu. Tidak akan ada yang menyangka, kalau wanita yang sudah dirias sedemikian rupa itu tengah berbadan dua. Mungkin karena kehamilannya yang masih muda, jadi tidak terlalu terlihat.

Sebenarnya, menikah di gedung itu bukan keinginan Intan. Sebelumnya, ia ingin pernikahannya dilaksanakan di hotel bintang lima. Namun Azril berhasil membujuk Intan, mengatakan kalau mereka tidak bisa mem-booking ballroom hotel bintang lima secara mendadak. Perlu setidaknya satu bulan untuk bisa mendapatkan jadwal yang sesuai. Jadi, mau tidak mau, Intan menyetujuinya.

Ucapan selamat terus berdatangan hingga tengah hari. Semua tamu didominasi teman-teman Azril dan Intan. Selain itu, ada beberapa para orang tua yang merupakan tamu dari keluarga Intan. Dan hanya sebagian kecil tamu yang datang dari pihak keluarga Azril. Hingga karena tidak banyak mengenal orang-orang di sana, Arini memutuskan untuk keluar mencari angin segar.

Hal yang tidak Arini duga adalah, kedatangan seorang wanita yang pernah ia temui di rumah Gibran. Yesi! Entah siapa yang mengundangnya, yang jelas ia tengah berjalan menuju ke arah Arini berada.

Tidak ingin berpapasan dengan wanita itu, Arini berbalik. Namun, langkahnya yang tergesa justru menarik perhatian Yesi. Wanita bergaun merah itu mempercepat langkah kakinya, dan berdiri di depan Arini.

“Aku gak nyangka kita ketemu lagi di sini,” ucap Yesi.

“Apa kita saling mengenal?” tanya Arini.

Yesi berdecak, kemudian berkata, “aku adalah wanita yang tunangannya kamu rebut, ingat?”

“Kamu salah mengenali orang!” ucap Arini. Oh ayolah! Beberapa hari terakhir sudah cukup membuat Arini kesulitan. Ia sungguh tidak mempunyai energi lagi untuk berdebat dengan siapa pun! “Aku tidak merebut tunangan siapa pun!”

“Mau menyangkal, huh? Kamu pikir, berapa lama kamu bisa membohongi orang-orang? Dasar pelakor!” Kali ini, nada suara Yesi meningkat berkali-kali lipat, hingga mengundang perhatian dari beberapa tamu di sekitar mereka.

“Tolong jangan membuat keributan di sini. Ini pernikahan adikku! Dan kalaupun kamu punya keluhan, silakan bicarakan langsung dengan Pak Gibran. Aku tidak ada hubungan lain dengannya selain hubungan kerja.” Arini berbalik, ingin pergi. Tapi tangannya dicekal oleh Yesi.

“Siapa bilang kamu bisa pergi? Aku belum selesai ngomong!” Yesi mencengkram lengan Arini hingga kulit putih itu sedikit memerah. “Kamu … jadi kamu ini kakak dari suami Intan?”

Arini terdiam, tapi wajahnya menyiratkan kata ‘iya’.

“Oh … jadi kamu si perawan tua itu?” Yesi mencibir.

Bola mata Arini membulat, menatap tajam ke arah wanita bermulut kasar di depannya itu. Mengapa ada kata-kata ‘perawan tua’ dari mulutnya? Darimana ia mendapatkan berita itu?Apakah dari Azril? Kalau iya, itu sungguh keterlaluan!

“Jadi benar kamu si perawan tua kakaknya Azril? Dan karena kamu kepepet nikah setelah didahului adik kamu, makanya kamu ambil jalan singkat dengan merebut tunangan orang lain gitu? Aku gak nyangka, gara-gara sampah kayak kamu, Gibran ninggalin aku.”

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Yesi. Jejak tangan Arini menempel di sana. Panas, dan sakit.

“Beraninya!” teriak Yesi. Detik berikutnya, Yesi menarik rambut Arini yang sudah ditata sedemikian rupa hingga berantakan. “Dasar pelakor gak tahu malu! Kamu itu terlalu kasar, jadi gak ada yang mau sama kamu! Tapi bukannya sadar diri, kamu malah merebut tunangan orang! Apa yang kamu tawarkan pada Gibran, huh? Apakah tubuh kamu?”

Arini yang terkejut karena aksi nekat Yesi, tidak membiarkan wanita itu berbuat semena-mena lebih lama lagi. Ia mencengkram tangan Yesi hingga wanita itu mengaduh, dan melepaskan jambakannya di rambut Arini. Dan begitu Arini terbebas, ia mengempaskan tangan itu ke sembarang arah. Mungkin karena kekuatan Arini terlalu besar, dan kaki Yesi yang tidak seimbang, wanita yang mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah itu terjatuh.

Arini juga terkejut melihatnya. Ia tidak menyangka, Yesi akan terjatuh dengan posisi yang begitu memalukan. Namun begitu, walaupun kesal, Arini tetap bergerak untuk membantu Yesi bangun. Tapi, belum sempat tangan itu menyentuh Yesi, sebuah tangan lain memeganginya. Arini menoleh, dan mendapati sang ibu yang tengah berwajah murka di hadapannya.

“Ikut!” ucap Titin dengan wajah merah padam. Ia menarik tangan Arini dengan kekuatan penuh, berjalan menjauhi lokasi dan baru berhenti di pojok yang cukup sepi. “Apa yang kamu lakukan, Arini? Membuat kehebohan dengan begitu meriahnya. Kamu mau mengalahkan pesta pernikahan adikmu begitu? Sengaja kamu, iya?” tanyanya seraya melepas tangan Arini.

Arini menunduk seraya mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa sakit.

“Kenapa diam? Tuli kamu? Atau bisu?” bentak Titin.

“Apa ibu akan percaya padaku kalau aku bilang itu bukan salahku?” Arini mengangkat kepalanya, dan menatap langsung ke arah sang ibu.

“Kamu pikir ibu buta? Ibu lihat sendiri, kamu yang mendorong dia!” sela Titin.

Arini tidak menjawab lagi. Ia menaikkan satu sudut bibirnya dan mendengus. Percuma! Percuma ia membela diri, ibunya tidak akan percaya. Jadi, biarlah semua seperti apa yangdipikirkannya saja.

“Aku pergi dulu, Bu.” Arini pergi begitu saja tanpa memedulikan ekspresi sang ibu.

“Ya! Pergi saja kamu, daripada di sini hanya membuat malu!” Titin berteriak di belakang punggung Arini.

Arini mempercepat langkah kakinya meninggalkan sang ibu yang masih berdiri di tempat yang sama. Kedua matanya mulai mengembun, dan detik berikutnya, air mata mulai menetes satu persatu. Rasa sakit yang diakibatkan ucapan sang ibu lebih menyakitinya daripada apa yang Yesi lakukan padanya sebelumnya. Arini marah pada dirinya sendiri, mengapa ia begitu lemah hingga sangat mudah menangis. Padahal ia tahu, itu bukan kata-kata pedas ibunya yang pertama kalinya.

Di tempat yang sama, tak jauh dari tempat yang baru saja Arini tinggalkan, berdiri seorang pria yang tampak fokus menatap ke depan, ke arah ruang kosong yang baru saja ditinggalkan oleh sepasang ibu dan anak.

Deringan ponsel membuat pria itu sadar dari lamunan. Nama ‘mama’ tertera sebagai pemanggil. Dan pada detik berikutnya, ia mengangkat panggilan itu.

“Kak, kamu udah di lokasi ‘kan?” tanya si penelepon.

“Ah … maaf, Ma. Sepertinya aku gak bisa nemenin Yesi ke pesta pernikahan sepupunya, aku tiba-tiba ada urusan kantor yang gak bisa ditunda,” jawab pria itu.

“Oh seperti itu. Baiklah, biar mama yang hubungi mamanya.”

“Ya.”

Gibran mengembuskan napas lega. Sebelumnya, sang mama mengatakan agar dirinya menemani Yesi ke pesta pernikahan sepupunya. Tapi, begitu datang, ia melihat wanita itu tengah bertengkar dengan seseorang yang ternyata adalah staff-nya di kantor. Dan hal-hal yang terjadi berikutnya membuat Gibran memutuskan untuk tidak menemani Yesi ke pesta itu. Entah mengapa, ia sangat ingin menemui Arini saat ini.