Wanita yang Gibran cari tengah jongkok di belakang gedung serbaguna itu. Tidak ada orang lain di sana. Tempat itu cukup terpencil dengan banyaknya pohon rambat dan juga rumput liar. Ketika Gibran datang, Arini tengah terisak-isak. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan pria itu.
Sebuah sapu tangan melayang di udara. Arini menoleh, hanya untuk melihat seorang pria tinggi dengan setelan formal tengah memegangi kain kecil berwarna biru laut itu. Sekali melihat, ia tahu kalau Gibran bermaksud memberikan sapu tangan itu kepada Arini.
“Kenapa Bapak ada di sini?” tanya Arini seraya mengambil sapu tangan itu dan mengelap wajahnya. Suaranya sedikit sengau, menandakan bahwa ia masih dalam keadaan yang tidak baik.
Gibran terdiam, memandangi wanita yang tanpa sungkan menggunakan sapu tangannya untuk mengelap ingusnya. Sungguh jorok!
“Bukan maksud saya mendorong tunangan Bapak. Saya gak sengaja. Maaf,” ucap Arini.
“Dia bukan tunangan saya.” Entah mengapa Gibran malah memperjelas hubungan antara dirinya dan Yesi. “Orang tua kami mejodohkan kami. Tapi saya tidak pernah setuju. Saat itu, Yesi meminta saya untuk berpura-pura menerima pertunangan karena dia tidak mau dijodohkan lagi dengan pria lain. Dia sedang menunggu kekasihnya di luar negeri. Satu tahun, dan itu sudah berakhir.”
“Em … sebenarnya Bapak tidak perlu menceritakan semua itu kepada saya.” Arini berkata dengan canggung.
Gibran berdehem. Agaknya ia pun tidak sengaja mengatakan itu. Kenapa? Tidak ada seorang pun yang tahu tentang rahasia antara dirinya dan Yesi. Tapi ia dengan mudahnya menceritakan itu kepada Arini.
“Hari ini pernikahan adik saya,” ucap Arini kemudian.
“Ya, saya tahu,” balas Gibran.
“Bapak tahu? Kenapa bisa tahu?” Sepasang mata berembun milik Arini menatap langsung ke arah Gibran.
Lagi-lagi Gibran tersedak dengan ucapannya sendiri. Apa yang harus ia katakan? Tidak mungkin ‘kan kalau ia mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia telah menguping pembicaraan antara Arini, Yesi, dan juga ibunya?
Tidak mendapatkan jawaban dari Gibran, Arini kembali berkata, “Bapak sebaiknya pergi saja. Tidak enak orang seperti Bapak ada di tempat seperti ini. Saya juga akan pergi sebentar lagi setelah menenangkan diri.”
“Memangnya saya orang seperti apa?” Gibran menaikkan satu alisnya kala menanyakannya.
“Bapak ‘kan orang terhormat, atasan saya,” jawab Arini.
Gibran memasukkan kedua tangannya di saku, kemudian memandang ke depan. Tidak ada pemandangan indah di sana. Hanya ada semak belukar yang sudah meninggi. Entah mengapa tempat itu tidak diurus oleh pengelola gedung. Padahal jika itu dirinya, ia akan membuat taman bermain di sana. Jadi, jika ada pesta pernikahan seperti sekarang, maka anak-anak para tamu bisa bermain di sana.
“Kamu suka anak-anak, Arini?” tanya Gibran tiba-tiba.
Arini terdiam. Ia tidak tahu, mengapa Gibran tiba-tiba menanyakan tentang anak. Sudah lama sejak terakhir kali ia berinteraksi dengan anak-anak. Sejak Azril lahir mungkin? Itu sudah dua puluh tahun yang lalu.
Saat itu ia yang baru masuk sekolah dasar sangat senang dengan makhluk imut yang dibawakan ibunya ke dunia. Rumah jadi ramai dengan tangisan bayi. Ia senang, berharap Azril akan menjadi teman bermainnya jika ia sudah sedikit lebih besar.
Akan tetapi, perkembangannya ternyata tidak seperti itu. Kehadiran Azril justru yang membuatnya merasa terasing dari kasih sayang keluarganya sendiri. Karena Azril adalah anak laki-laki.
Arini menoleh ke arah Gibran, sedikit mendongak karena pria itu tengah berdiri. Kemudian, secara tidak sadar ia bertanya, “anak laki-laki atau perempuan, Pak?”
Gibran menurunkan pandangannya. Kini dua pasang mata itu bertemu. Entah mengapa jantungnya terasa tidak nyaman. Ia kembali memalingkan wajah. “Ini sudah zaman modern, kenapa kamu masih bias gender? Bukankah anak laki-laki maupun perempuan sama saja?”
Entah mengapa Arini meneteskan air mata mendengarnya. Hatinya terasa dicubit. Bukan! Bukan karena ia terluka atas jawaban Gibran. Tapi, ia begitu terharu, orang seperti Gibran ternyata tidak bias terhadap gender seperti keluarganya yang patriarki. Alangkah bahagianya jika terlahir sebagai anak perempuan di keluarga Gibran.
Mendengar isakan dari wanita di bawahnya, Gibran kembali menoleh. Wanita itu sudah tidak lagi memandangnya. Ia menundukkan kepala, membenamkannya di antara lututnya. Melihatnya, entah mengapa Gibran merasa, kehidupan Arini tidak baik.
“Ibuku selalu mengutamakan kepentingan Azril di atas segalanya, hanya karena dia terlahir sebagai anak laki-laki. Sejak kecil, aku yang akan dimarahi kalau Azril menangis. Bahkan sampai besar pun, aku yang tetap dimarahi ketika Azril membuat kesalahan. Mengapa? Apa anak perempuan begitu tidak berharga di mata ibu? Tapi bukan aku yang meminta untuk terlahir sebagai anak perempuan! Aku tidak memintanya!” Deraian air mata itu kian deras. Seolah Arini tengah mengeluarkan semua unek-unek di hatinya. “Aku sudah memberikan segalanya, menjadi tulang punggung keluarga setelah ayah tiada. Tapi dia bilang, aku ini malas! Aku bahkan sudah mengorbankan kebahagiaanku. Pria yang aku cintai dan mencintaiku pergi karena aku menolak menikah dengannya.”
Gibran merasa tidak nyaman setelah mendengar kalimat terakhir Arini. Kata-kata ‘pria yang aku cintai dan mencintaiku’ mengganggunya. Ada apa sebenarnya dengan dirinya?
Sementara itu, Arini yang baru saja tersadar segera meminta maaf. Ia sudah tidak sopan. Ia bahkan berani berbicara tidak formal dengan Gibran. Dan sekarang Gibran diam saja? Apakah pria itu marah?
Diam-diam Arini mengangkat kepalanya. Ia terkejut mendapati Gibran tengah menatapnya. Bukan! Bukan tatapan kebencian seperti yang ia takutkan. Tapi … entahlah, Arini tidak bisa mendeskripsikannya.
“Tidak masalah untuk berbicara tidak formal di luar kantor,” ucap Gibran, “dan ya, masa lalu tidak bisa diubah. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga mana. Tapi, bukankah kita masih bisa memperbaiki masa depan?” lanjutnya tanpa sadar.
“Masa depan? Apakah aku punya masa depan? Kalaupun ada, mungkin aku sudah terlalu tua untuk menikmatinya.” Arini mengembuskan napas lelah sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ibuku sudah menyiapkan utang yang sangat banyak untuk aku lunasi hingga beberapa tahun ke depan. Mungkin barulah setelah itu, aku bisa menikmati hidupku sendiri.Tapi, bukankah aku sudah terlalu tua saat itu? Keponakanku mungkin sudah SD, atau justru akan ada keponakan lainnya?”
Arini terkejut dengan ucapannya sendiri. Mengapa ia mengatakan semua omong kosong itu? Terlebih lagi, mengapa ia mengatakannya kepada Gibran? Sejauh ini, hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Mereka tidak pernah berbicara tentang hal pribadi.
“Kalau ada orang yang membantumu keluar dari permasalahanmu, apakah kamu mau?” tanya Gibran.
Arini menatap pria tinggi itu. Untuk sesaat, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia sungguh bingung. Apa ada orang yang begitu dermawannya hingga melakukan semua itu? Tidak! Seharusnya, tidak ada yang gratis di dunia ini bukan?
“Apa imbalan yang harus aku berikan?” tanya Arini tanpa sadar.