Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 13

20 September 2025

“Menikah dengannya, dan lahirkan anak untuknya,” jawab Gibran.

Arini menggeleng. “Itu bukan solusi. Kalaupun aku bersedia, ibuku tidak akan melepaskanku. Aku tidak mau membawa masalah ke dalam keluarga pria itu.”

“Ibumu tidak akan mengganggumu lagi,” jawab Gibran yakin.

Arini masih diam, tidak menanggapi ucapan Gibran yang menurutnya tidak masuk akal.Lagipula, kalaupun ia akan menikah, itu mungkin dengan Adi. Tapi kini Adi sudah pergi jauh darinya. Keinginan untuk menikah itu juga sirna. Ia hanya akan menjalani kehidupannya seperti sekarang, sampai meninggal.


Pesta pernikahan itu berakhir ketika hari sudah sore. Azril dan Titin langsung memboyong Intan ke rumah mereka. Dan tentu saja, Arini yang sudah berada di rumah sejak siang hari harus menyambut mereka.

Aneka makanan sudah tersaji di meja. Arini yang menyiapkannya sejak ia pulang. Begitu melihat ketiganya datang, ia langsung tersenyum dan mengatakan kalau makanan sudah siap.

“Aku capek, pengen istirahat dulu.” Intan berkata kepada Azril yang masih memegangi tangannya sejak mereka turun dari mobil.

Azril mengangguk, kemudian membawa Intan ke kamarnya, sepenuhnya mengabaikan Arini yang sudah berusaha bersikap ramah pada adik iparnya itu.

Ibu mendengus, kemudian ikut berlalu. Wanita paruh baya itu terlihat sangat lelah setelah wara-wiri dalam pesta seharian.

Arini sendiri tidak memedulikannya. Ia menutup pintu, kemudian berbalik dan menuju ke meja makan. Biarlah orang-orang tidak mau makan. Ia akan makan sendiri, karena perutnya sudah lapar, belum diisi makanan sejak pagi.

Akan tetapi, baru saja Arini mengisi piringnya dengan nasi, sebuah teriakan dari lantai dua menghentikan gerakan tangannya. Adalah suara suara sang ibu yang memanggilnya. Ia gegas berjalan manaiki anak tangga, dan menghampiri ibunya yang tengah berada di kamar Azril.

“Ada apa, Bu?” tanya Arini menatap satu persatu orang-orang yang ada di dalam kamar.

“Kaki Intan pegal karena berdiri seharian. Kasihan, dia sedang hamil. Kamu pijitin kakinya sampai merasa baikan!” titah sang ibu.

Arini tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia terpaku sejenak. Tunggu! Ibunya memintanya untuk memijat kaki adik iparnya? Apakah itu tidak keterlaluan?

“Kenapa diam saja? Sana cepat!” Titin mendorong bahu Arini hingga ia terhuyung. “Dasar lelet! Awas aja kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi dalam kandungannya!”

Apa lagi ini? Sekarang Arini harus bertanggungjawab untuk menjaga bayi dalam kandungan Intan?

Walaupun banyak ketidaksetujuan di hatinya, Arini tetap bergerak juga, memijat kaki Intan yang katanya pegal setelah berdiri seharian. Ibu hamil itu tampak menikmati sentuhan tangan Arini di kakinya. Tidak ada rasa sungkan ataupun malu. Ia menerima begitu saja perlakuan spesial ibu mertuanya.

“Agak kencengan pas pergelangan kakinya, Mbak!” Intan berkomentar.

Arini menambah kekuatannya di tempat yang Intan minta. Tapi, wanita muda itu malah mengaduh. “Mbak sengaja mau patahin kaki aku ya?”

“Apa–” Belum sempat Arini menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan mendorongnya hingga ia terjengkang, dan berakhir menyedihkan di atas lantai.

Arini mengangkat kepalanya, hanya untuk melihat wajah marah Azril. Kenapa? Apa sungguh Azril berpikir tangannya mampu mematahkan tulang istrinya?

“Dasar gak berguna! Sebaiknya panggilin aja tukang pijet ke sini!” usir Azril.

Wajah Arini merah padam. Ada rasa kesal yang memenuhi hatinya. Tapi lagi dan lagi, ia harus menahan semuanya. Tanpa banyak kata, ia berdiri dan pergi meninggalkan kamar itu.

Titin menyusul Arini, dan menghentikannya tepat ketika Arini akan menuruni tangga. “Kalau udah panggil tukang pijet, langsung ke kamar ibu. Ibu juga pegel-pegel, pengen dipijit.”

“Iya, Bu,” jawab Arini. Ada nada lelah dalam suaranya.

Detik berikutnya, ia berbalik dan pergi secepat mungkin.

Butuh waktu setidaknya 15 menit untuk Arini membawa tukang pijat itu ke rumah. Adalah seorang wanita tua tuna netra yang Arini bawa untuk memijat adik iparnya. Wanita yang terkenal dengan pijatan tangannya yang nyaman dan melegakan. Ia membimbingnya untuk masuk ke kamar Azril. Barulah saat ia memastikan tukang pijat itu melakukan pekerjaannya, ia berbalik dan berjalan menuruni tangga untuk menuju kamar sang ibu. Ibunya mengatakan butuh pijatan juga bukan?

Ketika Arini mengetuk pintu, ibunya langsung menyuruh Arini masuk. Wanita itu tengah berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata.

“Cepetan dikit, Arini. Badan ibu sudah pegal-pegal semua!” titah Titin.

Arini mendekat, duduk di atas tempat tidur sang ibu, dan mulai memijatnya. Sepasang mata tua itu masih terpejam. Namun kini, ada kilatan kenyaman di antara alisnya. Arini terus memandanginya. Terdapat beberapa kerutan di sudut matanya. Ibunya sudah tidak muda lagi. Andai saja hubungan mereka harmonis, Arini akan dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya kepada sang ibu. Ia akan merawatnya sampai tua. Dalam hal ini, Arini menyesali, mengapa ibunya harus tidak adil padanya. Hal itu juga yang membuat Arini merasa sulit untuk ikhlas merawatnya.

Arini mendesah pelan. Ia tiba-tiba teringat sepiring nasi di atas meja makan. Nasi itu pastilah sudah dingin saat ini. Tapi ia lapar, tapi sekarang, lapar itu memang sudah tidak terasa lagi. Ia hanya sedikit lelah.

Suasana di kamar itu semakin hening. Hal itu membuat pikiran Arini berkeliaran ke mana-mana. Saat masa kecilnya, masa remajanya, hingga ayahnya meninggal. Ia juga bahkan mengingat ucapan Gibran saat di belakang gedung tadi. Entah mengapa, ada suara di dalam hatinya yang menyarankan agar Arini menerima tawaran itu. Tapi … benarkah itu yang diinginkannya? Pergi dari rumah, yang artinya juga memutuskan segala hubungannya dengan keluarganya?

Arini kemudian menggeleng. Ia pikir, hal baik apa yang bisa ia terima dari seorang pria yang hanya menginginkan anak darinya? Bukankah sama saja dengan keluar dari kandang harimau dan masuk ke kandang buaya? Bagaimana kalau setelah melahirkan anak ia diusir dan berakhir terlunta-lunta di jalan dengan gelar janda yang tak diinginkan? Bukankah itu masih akhir yang buruk baginya? Arini kembali menggeleng, mengenyahkan segala pemikiran buruk itu.

Entah berapa lama Arini berada di kamar sang ibu. Ia akhirnya keluar setelah memastikan ibunya itu terlelap.

Arini berjalan begitu pelan, tidak ingin membangunkan sang ibu yang sepertinya memang sangat lelah itu. Namun begitu ia keluar, ia dikejutkan dengan adanya seorang wanita tua yang tampak kebingungan di lantai dua. Ia gegas menghampiri, dan memegang tangannya.

“Emak udah selesai?” tanya Arini.

“Udah, Neng. Ini Emak lagi nyari jalan keluar,” jawab wanita tua itu.

Hati Arini mencelos. Tanpa sadar ia menatap pintu kamar Azril. Ia pikir, Azril pasti tahu tukang pijat itu tuna netra. Tapi mengapa ia membiarkannya keluar kamar seorang diri? Bagaimana kalau wanita tua itu terjatuh dari tangga dan terluka? Dan lagi, bukankah seharusnya ia berinisiatif untuk mengantarnya pulang? Bagaimana pun, wanita tua itu datang untuk istrinya sendiri.