Tapi lagi dan lagi, Arini menekan perasaannya. Ia menuntun wanita tua yang sedari tadi ia pegangi itu menuju ke tangga. Mereka menuruninya bersama-sama, dan terus berjalan ke tempat sepeda motor Arini terparkir.
“Neng gak usah nganterin Emak pulang, Emak masih harus pergi ke tempat lain,” ucap wanita tua itu ketika Arini sudah menyalakan sepeda motornya.
“Gak papa, Mak, biar saya anter ke tempat tujuan Emak. Saya lagi gak ada kerjaan kok,” jawab Arini.
“Baiklah kalau begitu,” jawab sang wanita tua seraya tersenyum, “Neng anak yang baik. Kelak, Neng pasti akan mendapatkan banyak kebahagiaan,” lanjutnya.
Arini tersenyum walau orang di depannya jelas tak bisa melihatnya. Namun di dalam hatinya, ia meng-aminkan ucapannya.
Hari sudah sepenuhnya gelap ketika Arini kembali ke rumah. Rupanya, wanita tua yang berprofesi sebagai tukang pijat itu pergi ke tempat yang cukup jauh. Ada langganannya yang minta dipijat di sana.
Saat tiba, Arini mendengar orang berbincang dari arah meja makan. Ibu, adik, dan adik iparnya tengah makan malam. Ralat! Sebenarnya mereka telah selesai makan malam.
“Ngelayap aja kerjaanmu itu, Arini! Kemana aja hah?” tanya sang ibu. “Gara-gara kamu pergi, ibu yang harus ngengetin makanan ini. Sekarang, cepat kamu cuci piring-piring kotor ini!”
Arini memindai isi meja makan. Tidak ada makanan tersisa di sana. Kecuali sepiring nasi dingin yang tampaknya sudah mengeras. Itu adalah nasi yang tadinya akan dia makan, tapi belum terlaksana karena satu dan lain hal.
Ibu, dan pasangan pengantin baru itu pergi begitu saja, meninggalkan Arini dan tumpukan piring kotor di atas meja. Sementara Arini menatap kosong ke arah meja makan. Sampai kemudian, ia berjalan mendekat, mengambil piring berisi nasi dingin, dan mulai memakannya sambil berderaian air mata. Ia lelah, ia juga lapar. Tapi setelah apa yang dilakukannya seharian, ia hanya mendapat nasi dingin sebagai makanannya. Belum lagi, ia masih harus membersihkan piring-piring kotor itu. Mereka menghabiskan semua makanan yang Arini masak. Tidak tahukah mereka kalau Arini bahkan belum makan apa pun sejak ia membuka mata di pagi hari? Tidak! Mereka sama sekali tidak peduli pada Arini.
Beberapa menit kemudian, Arini berhasil menelan semua nasi tanpa lauk itu. Sebenarnya, ia bukan tidak mempunyai stok makanan mentah di lemari es. Ia hanya lelah, tidak ingin memasak apa pun lagi.
Setelah menghabiskan makanannya, Arini lanjut cuci piring, dan naik ke lantai dua untuk beristirahat di kamarnya.
Keesokan harinya, Arini bangun lebih awal. Seperti biasa, ia membersihkan diri, membersihkan rumah, dan memasak. Kali ini, ia memisahkan masakannya ke dalam satu wadah untuk ia makan. Ia tidak mau jika harus mengulangi apa yang ia alami kemarin.
Kotak makan di bawa ke kamarnya. Rencananya, ia akan makan di kantor. Selanjutnya Arini bersiap-siap, dan mematut dirinya di cermin. Wajahnya cantik dengan tubuh yang ideal. Sayang, ia tidak ditakdirkan untuk memiliki kebahagiaannya sendiri.
Ketika Arini keluar dari kamar, rumah masih dalam keadaan sepi. Pun ketika Arini berangkat, tidak seorang pun yang ia lihat. Entah mengapa Arini justru merasa lega. Bukankah semuanya terlihat baik ketika tidak bertemu dengan ibu, Azril, dan Intan?
Suasana hati yang baik membawa senyuman di wajahnya. Sepanjang perjalanan, Arini tak hentinya mengangkat kedua sudut bibirnya. Bahkan ketika ia sampai di kubikelnya, Arini masih dalam suasana hati yang baik.
“Sejak pertama kali kenal kamu, rasanya baru kali ini aku ngeliat kamu begitu bahagia!” ucap Dita.
Arini tidak menjawabnya. Ia hanya memutar bola matanya, sebelum membuka kotak bekalnya.
“Hei! Apa ada seorang pria?” Dita bertanya seraya menaik turunkan alisnya.
“Apa kebahagiaan itu hanya berasal dari seorang pria?” Arini menggelengkan kepala, kemudian mulai memakan sarapannya. “Aku hanya senang karena pagi ini begitu damai.”
“Kemana mereka?” Dita mendorong kursinya, dan mendekat ke arah Arini. Sepertinya ia akan mendengar gosip menyenangkan pagi ini.
Akan tetapi, Arini hanya mengangkat bahunya sebagai tanggapan. “Aku gak tahu.”
Hanya itu? Ah itu sungguh tidak sesuai dengan ekspektasi Dita. “Oh iya, Rin. Gimana dengan adik iparmu?” tanyanya kemudian.
Arini mengembuskan napas, kemudian berkata, “aku gak mau mengatakannya. Hariku akan buruk kalau menceritakan tentang dia.”
“Apa? Jangan bilang dia membullymu?” tebak Dita.
“Ya, bisa dibilang gitu,” jawab Arini. Ia kemudian menceritakan insiden tukang pijat, hingga dirinya yang harus makan nasi dingin.
“Kedatangan adik iparmu itu malah menambah kesusahanmu, Rin. Kamu beneran gak mau ngikutin ideku untuk ngekost?” tanya Dita.
Arini menggeleng. “Jangan katakan itu lagi. Udah aku bilang, itu bukan solusi.”
Deringan ponsel menyela perbincangan dua sahabat itu. Nama ‘ibu’ tertera sebagai pemanggil. Arini dan Dita sontak saling memandang. Bukankah barusan Arini mengatakan jika mengatakan tentang adik iparnya, maka harinya akan buruk? Apakah ini pertanda awal mulanya?
Arini menyimpan sendok di tangan, kemudian mengangkat panggilan itu.
“Kamu tidak meninggalkan uang, Arini?” tanya Titin di seberang sana.
“Uang? Untuk apa, Bu?” Seingatnya, ia sudah masak sebelum berangkat ke kantor. Kalaupun ibunya itu ingin makan yang lain, bahan mentah masih banyak di lemari es. Bukan waktunya belanja mingguan.
“Intan mau makan soto bandung. Ini Azril mau beli, tapi gak ada uang!” jawab Titin.
“Soto bandung? Bukankah itu gak nyampe lima puluh ribu, Bu? Ibu gak ada uang segitu?” Lagipula, kenapa adik iparnya itu rewel sekali soal makanan.
Ah … ia lupa! Adik iparnya itu sedang hamil. Mungkin itu yang namanya ngidam. Entah mengapa Arini bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di rumahnya saat ini. Ibu hamil itu pasti sedang merajuk kepada suaminya, dan tentu saja Azril akan memaksa ibunya untuk memberikan apa yang Intan minta, dengan alasan Intan sedang hamil anak laki-laki.
“Soto Bandung memang cuma dua puluh ribu. Tapi Azril mau sekalian ke minimarket buat membeli camilan untuk Intan. Belum lagi beli susu ibu hamil. Pokoknya kamu tidak akan mengerti. Berikan saja uangnya, nanti biar Azril yang atur, apa-apa saja yang Intan ingin beli.” Titin berkata panjang dan lebar. Arini memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. “Bu, aku gak ada lagi uang simpanan.”
“Ya kamu pikirkanlah uangnya dari mana! Dasar pemalas!” hardik Titin.
Hati Arini kembali sakit mendengar ucapan sang ibu. Mengapa harus selalu dirinya yang disalahkan? Bukankah seharusnya ibu meminta Azril untuk mencari pekerjaan? Intan adalah istrinya, tanggung jawabnya.
“Udah gini aja. Soto bandungnya biar ibu yang beli. Nanti daftar belanjaan lainnya ibu kirim pesan sama kamu. Kamu belikan nanti pulang kerja.”
“Bu, aku udah bilang, aku gak ada lagi uang simpanan. Aku hanya–”
“Jangan membantah, Arini! Kamu lupa, kalau bukan karena ibu, kamu tidak akan ada di dunia ini! Apa salahnya balas budi sedikit saja? Lagian kerja tiap hari kok masih bilang gak punya uang.”