Arini terdiam, tidak ingin berdebat lagi dengan sang ibu.
Tak lama, panggilan itu terputus. Adalah Titin yang memutuskannya secara sepihak, tidak memberikan kesempatan kepada Arini untuk membantahnya lagi.
“Kenapa?” tanya Dita. Ia tahu, Arini sedang tidak baik-baik saja.
Belum sempat Arini menjawab, sebuah pesan masuk dari sang ibu. Pesan itu tentu saja berisi daftar belanjaan yang harus Arini beli untuk menantu kesayangan ibunya itu.
Dita yang berada di samping Arini turut mencondongkan tubuhnya untuk ikut membaca pesan itu karena memang Arini sendiri seperti tidak ingin menyembunyikannya sama sekali.
“Susu ibu hamil, sabun aroma terapi, pewangi ruangan, camilan ….” Dita melafalkan deretan tulisan yang ada di layar ponsel Arini. Itu belum seberapa. Masih ada beberapa jenis lagi di bawahnya. Ia menoleh ke arah Arini. Wajah sang sahabat terlihat muram.
“Padahal aku udah bilang sama ibu, aku gak punya uang lagi, Ta. Aku hanya menyimpan beberapa untuk bensin sampai gajian nanti. Semua uang simpanan sudah aku habiskan untuk biaya pernikahan Azril. Tapi ibu tetap gak mau tahu. Apa yang harus aku lakukan, Ta?” tanya Arini lirih.
“Kalau soal uang, aku bisa aja pinjemin kamu, Rin.”
Arini menggeleng. “Itu bukan solusi, Ta. Yang ada, utangku malah akan semakin banyak.”
Dita terdiam, menatap iba ke arah Arini. Saat itu ia sadar, Arini sepertinya semakin kurus saja setiap harinya. Ia benar-benar bekerja sangat keras untuk keluarganya. Tapi keluarganya tidak pernah menghargai setiap usaha yang Arini lakukan.
“Ta, tolong carikan aku pekejaan sambilan,” ucap Arini tiba-tiba.
“Pekerjaan sambilan apa?” tanya Dita.
“Apa saja yang bisa menghasilkan uang dengan cepat. Dan tentunya, bisa dilakukan di luar jam kerja.”
Dita menatap sepasang mata Arini dalam-dalam. Hatinya tiba-tiba terasa masam. Ia ingin menangis, tapi tidak ada air mata yang keluar.
“Jangan merasa sedih untukku, Ta. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Arini seraya meraih tangan Dita.
“Jangan bohong, Rin! Aku tahu semuanya gak akan baik-baik saja. Kamu bahkan gak bisa mengurus dirimu sendiri. Lihat! Betapa kurusnya kamu sekarang. Apalagi kalau kamu menambah pekerjaan sampingan. Kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri! Kamu mau mati cepat?!” Bibir Dita bergetar, ia sangat sedih, tapi masih tidak ada air mata yang keluar. Mungkin ia sudah lupa caranya menangis, karena sudah lama ia tidak melakukannya.
“Mungkin itu lebih baik,” jawab Arini tanpa sadar.
“Arini! Aku gak suka ya kamu ngomong kayak gitu!” Dita marah. Ia mendorong kursinya dan kembali ke kubikelnya. Ia tidak mau berbicara dengan Arini lagi untuk sementara waktu.
Arini menatap punggung sang sahabat yang kini sudah tak terlihat lagi. Ia tersenyum miris. Benar, Dita sepenuhnya benar. Ia mungkin sedang menyiksa dirinya sendiri. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak mempunyai pilihan lain.
Hari itu, di waktu senggang, Arini membuka laman pencarian untuk mencari lowongan kerja sambilan. Ada beberapa lowongan di sana. Kebanyakan lowongan menjadi sales. Entah itu sales mobil, motor, atau elektronik. Ada juga beberapa lowongan menjadi agen properti. Semuanya menjanjikan. Hanya saja, itu butuh proses. Berapa banyak orang yang membeli mobil, motor, elektronik? Apalagi properti! Arini butuh uang dengan cepat.
“Kamu tidak makan siang?” Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Arini. Ia mengangkat kepalanya hanya untuk melihat wajah tampan Gibran. Tapi … mengapa Arini merasa ada yang sedikit berbeda? Ah … ya! Gibran kini terlihat lebih santai daripada sebelumnya.
Gibran melirik layar komputer Arini. Ada beberapa lowongan pekerjaan di sana. “Kamu mau mencari pekerjaan baru?” tanyanya.
Arini menggeleng. “Lebih tepatnya pekerjaan tambahan, Pak,” jawab Arini jujur.
“Saya sebelumnya sudah menawarkan solusi untuk kamu.” Gibran mengingatkan.
Arini menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapapun di ruangan besar itu kecuali dirinya dan Gibran. “Pak … itu … saya rasa bukan solusi. Saya pikir, bagaimana mungkin saya bisa mempercayai pria yang hanya menginginkan anak dari saya? Bagaimana kalau setelah melahirkan anak, pria itu mengusir saya. Lalu saya terlunta-lunta di jalan tanpa pekerjaan dan status. Hidup saya akan lebih sulit dari sebelumnya.” Arini sangat berhati-hati dalam berbicara. Ia bahkan sudah kembali ke penggunaan kata formalnya.
“Kenapa kamu berpikir kalau pria itu akan mengusirmu?” tanya Gibran.
“Kenapa tidak? Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia tidak memerlukan saya lagi.”
“Bagaimana kalau saya bisa menjamin pria itu tidak akan pernah mengusirmu, kecuali kamu sendiri yang menginginkan pergi?”
Arini menatap bingung ke arah pria yang masih berdiri di sampingnya itu. “Kenapa Bapak seakan tahu betul apa yang diinginkan pria itu?”
Gibran diam, menatap Arini dengan bingung. Ia rasa, Arini sangatlah bodoh. Begitu banyak clue diberikan, tapi Arini masih bertanya hal tidak masuk akal itu? “Kalau kamu berubah pikiran, kamu tahu harus mencari siapa.” Usai mengatakannya, Gibran berbalik dan pergi, meninggalkan Arini dengan segala kebingungannya.
Arini terpaku sejenak. Tapi kemudian, ia kembali mencari lowongan kerja sambilan untuk dirinya.
Menit demi menit berlalu. Satu persatu orang datang ke ruangan. Jam istirahat makan siang telah usai. Para karyawan kembali untuk bekerja. Termasuk Dita.
Walaupun wanita itu masih tampak kesal karena Arini, ia tetap mendekat. “Aku tahu kamu belum makan, jadi aku belikan roti sama minuman ini.” Dita menyimpan roti dan minuman botol di atas meja kerja Arini, kemudian memberikan selembar kartu nama di sampingnya seraya berkata, “dia butuh orang untuk mengajari anaknya les renang. Kalau kamu bersedia, kamu bisa menghubungi nomor itu.”
“Les renang?” tanya Arini seraya menoleh ke arah Dita yang kini sudah duduk di kursinya.
“Heem. Aku ingat, kamu sangat mahir berenang. Kamu sempat memenangkan lomba renang ‘kan saat SMA?”
“Itu sudah sangat lama.” Arini menunduk, seolah mengingat kembali masa-masa itu. Ya! Dulu Arini sangat suka berenang. Bahkan saat kuliah pun, ia masih aktif berenang. Tapi hobinya itu harus terhenti karena ia harus bekerja setelah ayahnya tiada. “Aku rasa aku gak bisa nerima kerjaan ini, Ta.”
“Aku tahu kamu akan mengatakan itu. Aku juga udah bilang sama orang yang ngasih kartu nama itu. Tapi dia bilang, dia hanya butuh orang untuk mengajari anaknya berenang, bukan untuk keperluan olimpiade. Anak itu sedikit pemalu. Dia gak mau teman-temannya tahu, kalau dia gak bisa berenang. Jadi, dia mau diam-diam belajar.”
Arini terdiam beberapa saat.
“Aku tahu kamu sangat butuh uang. Dia menawarkan bayaran yang lumayan untuk satu kali pertemuannya. Kamu pikir-pikir aja dulu.” Dita menutup ucapannya, lalu kembali fokus pada layar komputer di hadapannya. “Aku gak habis pikir, Rin. Bukankah seharusnya yang pontang-panting nyari kerja itu adik kamu ya? Dia yang mau jadi bapak, kamu yang susah. Enaknya aja gak ngajak-ngajak, susahnya pengen bagi-bagi.”
Arini terdiam, masih mencerna ucapan ketus sang sahabat. Tapi ia tahu, Dita bukan sedang kesal padanya, tapi pada Azril.
Pandangan Arini kemudian beralih pada kartu nama di tangannya. Ia harus memikirkannya dengan baik, apakah akan mengambil pekerjaan itu atau tidak.