Indonesia Tetap Cantik dengan Ragam Dialeknya yang Menarik
Dua buah koper besar dinaikkan ke bagasi mobil, disusul dengan ransel merah yang menggendut dan beberapa buah kardus yang sudah tertutup isolasi. Setelah rapi tertata, pintu bagasi diturunkan, ditutup rapat oleh seorang lelaki setengah baya yang tampak kasual dalam balutan kaus polo dan jemas sebatas lutut.
"Uwis kabeh apa[1], Di?" Lelaki itu bertanya seraya melongok ke depan pintu rumah yang tengah dikunci sang istri.
Aldi, si pemilik nama mengangguk riang. Remaja itu lalu menghampiri sang ayah setelah ibunya sampai di depan pekarangan rumah.
Dengan satu ransel yang tidak tampak padat isi, Aldi memasuki mobil dan memilih duduk di tengah. Sang ayah duduk di kursi kemudi, sementara ibunya duduk di kursi samping sang suami.
"Awak dewe arep pindah nyang endi[2], Pak?" tanya Aldi ketika roda empat yang mengangkut keluarga kecil itu mulai meninggalkan pekarangan.
Rumah minimalis berlantai dua yang menaungi keluarga Aldi sejak kecil itu kini makin memgecil dari pandangan ketika mobil makin menjauh. Meski meninggalkan bangunan penuh kenangan, akan tetapi memori dari kenangan itu sendiri tetap akan teraimpan rapi dalam sanubari.
"Bapak olih mutasi tugas nang Jakarta[3], Di. Dadi mulai esuk, kowe karo si Ibu urus pindah sekolah[4]." Sang ayah menjawab tenang. Mata teduhnya sesekali melirik Aldi lewat kaca spion depan.
"Nyong pengin sekolah nang SMA Negeri yo[5], Pak?" Aldi kembali mengajukan tanya.
"Ora arep nang SMK bae[6], Di?" Ibunya yang kali ini menimpali.
Aldi diam sejenak. Satu alis tebalnya terangkat dengan bola mata yang bergerak pelan ke atas dan ke samping. Ia tengah memikirkan pertimbangan masuk SMK atau SMA Negeri seperti sekolahnya sebelum ini.
Kemudian karena ia juga mempertimbangkan jurusan IPS yang diambil sampai kelas XI sekarang ini, Aldi tak mau repot-repot lagi menyesuaikan diri dengan jurusan baru jika harus masuk ke SMK.
"Ora lah, Bu. Nyong tetep pengin nang SMA Negeri bae[7]," jawabnya.
Obrolan-obrolan ringan terus mengudara di antara Aldi dan bapak ibunya. Entah tentang perlengkapan dan kebutuhan yang dibawa, wacana-wacana saat hari libur tiba, rencana ketika selesai membereakan rumah baru, atau persiapan lain-lain yang akan mereka lakukan setelah kepindahan rumah ini.
Avanza putih tersebut terus melaju, membelah jalanan saat matahari di atas kepala dan mulai meninggalkan kawasan Kota Tegal yang terkenal dengan sebutan kota bahari itu. Tugas pemutasian ke Jakarta yang diturunkan pada ayah Aldi sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil membuat ia harus membawa serta keluarga ke luar kota juga.
Aldi anteng dalam duduknya. Sesekali ia ikut fokus ke jalanan lewat kaca depan, sesekali juga kepalanya mengamati potret perumahan dari jendela samping yang tampak berlari ke arah berlawanan. Namun, kini Aldi hanya melamun dalam diam. Dalam kepalanya ia memikirkan suasana sekolah baru, lingkungan baru, dan teman-teman baru juga.
Sekolah di Jakarta apakah akan sekeren dan semenarik yang ada di tayangan sinetron televisi dan konten media sosial TikTok? Atau justru ada hal lain yang sengaja tidak ditunjukkan semuanya ke ranah publik? Aldi berpikir begitu.
Seiring puluhan kilometer roda empat itu menggilas jalanan, Aldi sudah lelap dalam tidurnya. Namun, saat ia membuka mata setelah beberapa jam kemudian, pandangannya langsung disuguhi gedung-gedung tinggi yang berjajar secara acak.
Potret Kota Tegal yang terhampar di bagian utara Provinsi Jawa Tengah amat jauh gambarannya secara visual dengan ibu kota Jakarta yang terkenal dengan sebutan kota megapolitan ini. Modernitas amat kental terasa bahkan hanya saat dinikmati dengan mata.
"Uwis anjog ta?[8]" tanya Aldi setelah bangun dari tidur panjangnya.
Rasanya waktu sudah tidak relevan baginya. Tadi ia masih terjaga saat memasuki perbatasan Kota Cirebon. Akan tetapi kemudian saat terbangun, ia tidak tahu jika sudah menginjak tanah Jakarta.
Sang ibu tersenyum manis saat menoleh pada putra semata wayangnya. Hal itu cukup mengonfirmasi pertanyaannya. Namun, meskipun dibenarkan ibunya jika sudah sampai, si putih beroda empat itu masih melaju dengan kecepatan sedang.
Beberapa saat setelah meninggalkan jalanan bebas hambatan, mobil mulai memasuki kompleks perumahan yang jika dilihat secara keseluruhan rumah-rumah yang berjejer dalam barisan rapi di kiri kanannya, merupakan sebuah kompleks perumahan yang elite.
Ayah Aldi mulai memelankan laju saat memasuki pekarangan yang cukup luas di depan sebuah rumah di urutan ke sekian dari pos satpam depan.
Sang ayah turun lebih dulu untuk membuka bagasi. Ibunya turun kedua dan langsung memutar anak kunci pada pada pintu utama kemudian membukanya. Aldi turun, lalu menyusul sang ayah dan membantu untuk menurunkan barang-barang dari bagasi.
Hari pertama kaki memijakkan kaki di rumah baru mereka, langsung diisi kegiatan berbenah setelah beristirahat untuk makan dan berleha-leha sebentar. Barang-barang bawaan kecil seperti koper baju, perlengkapan dapur, peralatan mandi, serta barang yang lainnya langsung ditata pada tempatnya. Rumah yang sebelumnya sudah siap huni itu menjadi semakin cantik dan tertata.
Hari yang menggelap membuat mereka kembali beristirahat untuk makan malam. Selepasnya, keluarga kecil itu bersantai di ruang tengah dengan layar televisi menyala, menanyangkan acara vaerity show.
"Surat-surat kelengkapan pindahanmu uwis kabih[9], Di?" Ayahnya bertanya ketika Aldi tengah sibuk menyelami dunia dalam ponselnya.
"Sampun[10], Pak," jawabnya sopan, meski setelahnya ia kembali menunduk memperhatikan video-video yang lewat beranda sosial medianya.
Matahari yang bersinar lembut di tanah Jakarta bagian selatan membuat semangat penduduknya tersulut untuk memulai hari. Aldi tengah bersiap memyambut Senin pagi dalam balutan seragam putih abu-abunya.
Setelah menyisir rambut cepaknya dan merapikan dasi yang melingkar di kerah seragam, lelaki berpostur tinggi itu lalu memasukkan beberapa buku dan alat tulis ke dalam ransel. Setelah itu, ia menyampirkan ke punggung dan berjalan menuruni anak tangga untuk menyusul dan bergabung kedua orang tuanya di meja makan.
Tak butuh waktu lama, selepas sarapan di jam tujuh pagi, semua yang sudah rapi lekas bersiap pergi. Ayah Aldi ke kantor barunya, sementara Aldi akan diantar sang ibu ke sekolah barunya.
Hanya perlu ditempuh dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai di sekolah baru pilihan Aldi. Bangunan sekolah yang tampak elite karena luas dan berdiri bertingkat-tingkat, membuat Aldi sempat terkagum-kagum karena kemegahannya.
Selepas mencium tangan sang kepala keluarga, Aldi ditemani ibunya memasuki sekolah yang tampak tenang dalam barisan upacara. Kedua ibu dan anak itu lalu diarahkan seorang guru untuk memasuki ruang kepala sekolah dan diminta menunggu sampai upacara bendera selesai.
Mata Aldi masih mengitari sekeliling. Dari tempatnya duduk di sofa empuk di ruang kepala sekolah, ia bisa melihat barisan para siswa-siswi dalam posisi istirahat di tempat mendengarkan amanat dari sang kepala sekolah sebagai pembina upacara. Kemudian, tak lama setelah penyampaian amanat, lelaki bertubuh gempal undur diri.
"Lihat, ada siapa di sini?" Begitu kalimat sapaan yang terlontar dengan ramah dari sang kepala sekolah saat memasuki ruangannya.
Aldi dan ibunya kontan berdiri sambil tersenyum ramah dan menyalami lelaki yang kemudian mendudukkan diri di single sofa di dekat mereka.
Ibu Aldi menyampaikan maksud kedatangannya ke sana, sementara sang kepala sekolah menyimak sambil sesekali manggut-manggut saat mendengarkannya.
"Kamu dari jurusan IPS kan, sebelumnya ya?" Sang kepala sekolah bertanya pada Aldi.
Aldi mengangguk ringan. "Iya, Pak," jawabnya.
"Oke. Kalau begitu nanti sama ibu wali kelas kamu sudah bisa ikut masuk, ya," tutur kepala sekolah lagi. "Good luck!"
Ibu Aldi berdiri dan berpamitan pulang. Aldi ikut mengantar sampai depan kantor kepala. Sang ibu tidak lupa meninggalkan pesan pada putranya untuk baik-baik di sekolah dan tidak membuat kegaduhan di hari pertama. Namun, seperginya sang ibu, Aldi kebingungan mencari wali kelas yang tadi dimaksudkan oleh kepala sekolah. Alhasil, ia kembali masuk dan menghampiri kepala sekolah.
"Nuwun sewu, permisi, Pak. Saya tidak tahu ibu wali kelas yang mana dan harus ke mana," tutur Aldi pada kepala sekolah yang masih tenang dalam duduknya.
"Oh, kalau begitu saya yang antar saja. Ayo." Lelaki dalam balutan kemeja dan celana bahan yang rapi itu lalu memimpin jalan, diikuti Aldi di belakangnya. Dua langkah kaki itu menyusuri lorong-lorong depan kelas.
Pak Yani, sang kepala sekolah lalu berhenti di depan kelas yang terdengar gaduh dari luar, kemudian mendadak senyap saat ia membuka pintunya.
“Kenapa ribut? Jam siapa ini?” tanya Pak Yani.
“Jamnya Pak Lutfi, Pak. Udah ada tugas, kok.” Salah seorang siswi menjawab.
“Ya sudah, kalau begitu kenalkan. Ini teman baru kalian, namanya Aldi, dia pindahan dari Tegal,” tutur Pak Yani. "Silakan, Aldi."
“Nama nyong, eh, nama saya Aldi Pratama, asli Tegal. Usia ya sama lah sama teman-teman di sini. Hobi saya bal-balan. Maksudnya sepak bola,” jawab Aldi sedikit tersendat-sendat yang langsung mendapatkan sambutan riuh dari teman-temannya.
“Aduh, Aldi, lo kayak ubi, medok banget.” Salah satu anak laki-laki menimpali dengan tertawa. Gelak tawanya langsung menular pada yang lain juga.
“Sudah, sekarang semuanya tenang." Pak Yani memberi instruksi. "Aldi, kamu bisa duduk di bangku yang kosong, sebentar lagi guru pasti masuk kelas.”
Selepas mengantar Aldi sampai perkenalan itu, Pak Yani pamit undur diri dari kelas XI, kelas baru Aldi. Namun, guru yang dimaksud sudah memberi tugas tadi, ternyata tidak menampakkan diri juga sampai bel istirahat berbunyi.
Seorang anak lelaki berhidung mancung menghampiri kursi Aldi. " Kenalin, gue Barrack," katanya seraya mengukurkan tangan yang kemudian disambut hangat oleh Aldi.
"Gue Demon," celetuk salah seorang lagi. Tampilannya rupawan dengan seragam yang super-rapi. "Kuy, kantin bareng kita," ajaknya.
“Gue yang punya sekolah. Jody.” Satu siswa berambut cepak turut memperkenalkan diri. Sontak perkataan Jodi membuat kedua temannya berdecak malas karena kesombongan itu.
Setelah setuju meniyakan ajakan mereka, Aldi bersama tiga akawan barunya menuju kantin. Suara berisik oleh teriakan atau candaan ada di sepanjang jalan.
“Barrack!" Seorang gadis dengan pita ungu mengjias rambut panjangnya tiba-tiba berteriak dan bergabung begitu saja di samping Barrack. "Sorry, gue kemarin lagi hectic jadi nggak bisa ngabarin lo."
“Kita udah obrolon ini, Ren. I don't care,” jawab Barrack seraya mengendikkan bahu.
“Please, Barrack, gue tahu lo udah so mindfulness ke gue. But, ada beberapa masalah yang emang nggak bisa ditinggalin," jelas gadis itu lagi. "Ya udah, deh. Basicly gue udah jelasin. Whatever lo mau percaya atau enggak."
Setelah mengatakannya, gadis itu melangkah gontai meninggalkan Barrack dan kawan-kawan.
“Barrack, lo nggak bisa gitu, dong. Renata udah coba jelasin. Lo jangan bikin dia burn out,” sahut Demon menasehati temannya.
“Benar tuh, kata Demon. Better lo minta maaf duluan, Bar.” Jodi menimpali.
“Lagian kalau Amanda pergi, siapa yang mau jadi crush lo?” imbuh Jody yang disambut tawa Demon.
Wajah Barrack terlihat bingung. Sesaat kemudian dia mengangguk. Sementara Aldi hanya diam saja menyimak obrolan teman-temannya. Ia cukup bingung dengan gaya bahasa yang campuran begitu meskipun ia sedikit tahu kosakata dasar berbahasa Inggris, tapi tetap saja masih belum familier di telinganya.
“Ya udah, ntar gue say sorry ama dia. Thanks, gue seneng kita kayak gini, saling support. Anyway, lo mau pesen apa, Aldi? Dari tadi gue lihat lo bengong aja, roaming lo?” tanya Barrack.
Aldi hanya menggeleng sambil merenung dalam hatinya. Sekolah di Jakarta sepertinya harus keren seperti mereka yang bicaranya keren juga. Aldi berpikir kalau ia pun harus bisa menyamai teman-temannya.
Gue sebagai ganti inyong, dan lo sebagai gantinya kowe. Setiap kalimat untuk mengobrol, harus diselipi bahasa Inggris. Sementara logat ngapak yang ia bawa justru sempat ditertawakan di awal. Mungkin memang kelihatan ndeso jika berada di tengah-tengah kota besar macam Jakarta. Aldi mencatat itu dalam otaknya.
Semuanya tenggelam dalam obrolan-obrolan di tengah menikmati jam istirahat dengan macam-macam pesanan makan dan camilan. Sampai tak terasa bel tanda masuk pun terdengar mengudara.
“Udah bel. Ayo masuk ndishit[11],” kata Aldi.
“Santai, Bro. The point is kita tetep bisa ikut next mapel. Aman." Barrack menjelaskan.
“Ya wis, nyong melebu ndhisit, yak."
Usai mengatakannya, Aldi bangkit dari kursi dan meninggalkan ketiga temannya masih tertawa-tawa melihat wajah polosnya.
Sepanjang sisa jam sekolah di hari pertamanya, Aldi termenung mendalami kosa kata sehari-hari di sini. Telinganya lebih fokus menangkap kata demi kata yang terlontar dari lisan teman-temannya. Ia mempelajari itu sampai bel tanda pulang, barulah ia buyar fokusnya.
"Assalamu'alaikum, Bu, Pak," salam Aldi sesampainya ia di rumah.
Ada jawaban yang menggaung dari ibunya.
“Kepriben sekolahe[12]?” Ibunya bertanya sembari mendudukkan diri di sofa ruang tengah. Aldi ikut berbaur dan duduk di samping sang ibu.
“Enak, Bu. Cuma Aldi bingung nemen[13], asli! Wong kota ari ngomong kayak disingkat-singkat[14]. Nyong masa kudu buka kamus dhisit[15]? Aldi kayak wong goblok!” keluhnya dengan helaan napas panjang. "But, ya ... Aldi bisa ngikutin."
Ibunya mengernyit mendengar celotehan Aldi. Ia sendiri juga merasakan perbedaan bahasa yang sangat kentara saat berbelanja di minimarket tadi. Dialog anak muda, hingga orang dewasa, semuanya harus dipahami pelan-pelan supaya tahu artinya.
“Kenapa, Bu?” Ayah Aldi yang batu keluar kamar menimpali.
"Oh iya, Pak, Bu. First day Aldi sekolah langsung dikasih tugas yang confuse banget. But, I look my friends ada yang so ambitious and yang tipe lazy student juga ada. Yang bikin melongo, di sekolah pada keren dan fashionable semua. Aldi jadi merasa kalah keren di sana," ungkap Aldi lagi.
Ayah dan ibunya sama-sama mengerutkan dahi. Baru pertama sekolah, gaya bicara Aldi sudah mulai luntur ngapaknya dan mulai tercampur dati pergaulan.
"Di, Bapak mau ngomong," kata sang ayah tiba-tiba dengan nada yang dalam. "Kalau kamu malu karena kalah keren sebab datang dari desa, jangan seperti itu," nasihatnya.
Aldi diam mendengarkan.
"Bahasa Indonesia itu bagus. Belajar bahasa asing seperti bahasa Inggris juga perlu. Tapi jangan sampai kita lupa identitas asli kita dari mana, jati diri kita asalnya di mana. Kamu nggak perlu berbahasa begitu biar kelihatan keren dan merasa malu dengan bahasa asli kita. Berbahasa Indo-lah karena memang kita mencintainya." Ayah Aldi menambahkan.
"Bukan begitu caranya. Perbedaan dialek bukan berarti kamu harus merasa rendah diri dan takut tidak diterima lingkunganmu. Yang namanya Indonesia itu beragam budaya, beragam bahasa, semua bisa saling menghormati.”
Aldi terpekur. Mendadak ia sudah seperti menghilangkan pribadinya yang berasal dari kota Tegal. Harusnya ia tak perlu merasa malu dengan dialeknya. Ia membenarkan kata sang ayah kalau Indonesia justru memiliki aura yang cantik karena keberagamannya, termasuk bahasa dan dialeknya dari berbagai derah. Dan bahasa daerah tetap tidak boleh mati dan harus tetap lestari.
Saat masuk sekolah baru itu dia memang merasa malu karena berasal dari kampung. Seluruh omongannya ditirukan oleh teman sekelasnya, dan dia merasa menjadi bahan tertawaan. Namun, ia merasa ayahnya benar. Seharusnya ia tidak perlu sok-sokan ikut berkamuflase dengan bahasa yang terpaksa. Indonesia tetap indah dengan keberagamannya. Termasuk bahasa.
Nama : Putri Jutiami
Usia : 33 Tahun
Nomor WhatsApp : 085883064435
-
Apa sudah semua. ↑
-
Kita mau ke mana. ↑
-
Bapak dapat tugas mutasi di Jakarata. ↑
-
Jadi mulai besok, kamu sama ibu urus pindah sekolah. ↑
-
Aku mau sekolah di SMA Negeri, ya. ↑
-
Nggak mau di SMK saja? ↑
-
Nggak lah, Bu. Aku tetap mau di SMA Negeri saja. ↑
-
Sudah sampai kah? ↑
-
Sudah semua? ↑
-
Sudah. ↑
-
Dulu. ↑
-
Gimana sekolahnya? ↑
-
Bingung sekali. ↑
-
Orang kota kalau ngomong seperti disingkat-singkat. ↑
-
Aku masa haru buka kamus dulu? ↑